KAHANAN

KAHANAN
CH 71 - MELARIKAN DIRI PART II


__ADS_3

Pemuda itu duduk diantara akar pohon bunut yang menyembul kokoh di antara tanah dan bebatuan sudut pura Melanting. Muhibbin tetap terdiam, pikirannya yang berkecamuk mengingat perkataan papi Sariwati pada ibunya.


"Kenapa kau diam dan mengacuhkanku, Bin?"


"Makilah aku, kalau perlu tamparlah aku!"


"Untuk melampiaskan kekesalanmu atas semua yang dikatakan Papi." Sariwati semakin histeris dan di rengkuhnya tangan Muhiibbin serta diarahkan ke wajahnya agar menampar dirinya. Muhibbin menarik tangannya, pemuda itu bangkit dari tempat duduknya diam seribu bahasa dan  melangkah membelakangi Sariwati.


"Ibbin!"


"Berhenti, bajing*an!" teriak Sariwati semakin tak terkendali, di pungutnya batu yang tak jauh dari kakinya berdiri dan di lemparnya punggung sang kekasih.


Muhibbin membalikkan badannya sambil meringis kesakitan akibat lemparan Sariwati, tatapan matanya tajam penuh amarah melihat Sariwati di depannya, di lengkuhnya kuat-kuat nafasnya dengan wajah memerah dan geraham yang gemeretak menandakan puncak amarahnya sudah tak tertahan, tangannya mengepal kuat-kuat dengan bola mata semakin membesar.


"Apa?"


"Kau mau memukulku?"


"Pukul aku!"


"Lebih baik kau pukul aku, dari pada kau diamkan seperti ini."


suara Sariwati semakin berat, air matanya semakin deras mengalir memandang lekat lelaki dihadapannya.


"Kenapa kau diam, bajing*an!"


"Ayo pukul aku!"


"Pukul aku!" kini Sariwati mendekat, gadis itu menampar wajah Muhibbin kembali, tangannya terus memukul dada Muhibbin namun pemuda itu tetap tak bergeming membisu dengan tatapan mata masih menyimpan amarah.


"Kau membuatku gila, Bin!"


"Bajing*an, Kau." kini Sariwati terduduk di hadapan Muhibbin, dengan  isakan tangis gadis itu bersimpuh, mata semakin sembab, nafasnya memburu menyiratkan keletihan dan beban berat yang di alaminya. Pemuda di depannya masih tak bergeming.


Gadis itu sesenggukan, namun tiba-tiba Sariwati merasakan mual, kejadian dalam beberapa pekan ini kerap menghampirinya dan itu sering terjadi tatkala emosinya tak stabil.


"Huek"


"Huek"


Gadis itu tertunduk, wajahnya pucat pasi menahan sakit, hanya cairan liur yang keluar dari mulutnya dan dia muntahkan. Melihat kejadian yang di alami Sariwati di hadapannya, Muhibbin jongkok dan merengkuh pundak kekasihnya,


"Kau kenapa, apa yang kau rasakan?"


"Kenapa kau muntah, Wati?"


"Apakah kau sakit?" tanya Muhibbin dengan pandangan yang awalnya penuh amarah kini berubah  penuh kecemasan melihat yang dialami kekasihnya.


"Apa pedulimu?"


"Kau tak perlu menghawatirkanku." Sariwati menepis tangan Muhibbin yang ada di pundaknya, gadis itu masih terisak dan meronta ketika Muhibbin mendekapnya.


"Cukup, Wati!"


"Cukup!"


"Hentikan!" suara Muhibbin meninggi melihat reaksi Sariwati, di cengkramnya erat-erat kedua tangan kekasihnya itu yang terus berontak. Sariwati mulai lunglai, pandangan matanya nanar menatap Muhibbin di hadapannya,


"Apa yang terjadi padamu, Wati?"


"Wajahmu terlihat pucat sekali."


"Pakailah ini." tangan Muhibbin mengambil surban yang selalu melingkar di lehernya dan di kenakannya pada Sariwati untuk menutupi tubuh gadis itu dari rasa dingin dan terlihat semakin lemas di hadapannya."


"Katakan Wati, apa yang terjadi padamu?" pemuda itu semakin cemas melihat kondisi kekasinya, di peluknya tubuh Sariwati yang menggigil.


Dengan pelan Sariwati hanya menggeleng,

__ADS_1


"Maafkan aku, Bin."


"Semua ini bukan keinginanku." ujarnya lirih, isakan tangis Sariwati masih terdengar.


"Bawa aku pergi, Bin!"


"Bawa aku pergi!" iba gadis itu kembali pada Muhibbin.


Dipeluknya erat-erat lelaki didepannya itu.


Suara Muhibbin pun terdengar berat menahan keharuan.


"Tapi bagaimana dengan keluargamu, Wati?"


"Pasti mereka akan mencarimu." ujar Muhibbin.


Mendengar jawaban pemuda didepannya itu, kekesalan dan emosi Sariwati timbul kembali.


"Kau ini bodoh atau bagaimana, Bin?"


"Apakah kau tak ingin hidup denganku dan memperjungkan cinta kita?"


"Dari dulu kau tak pernah peka dengan apa yang kurasakan." sungut Sariwati pada Muhibbin dan mendorong pemuda itu untuk melepaskan pelukannya.


Muhibbin tersontak dengan reaksi Sariwati.


"Bukan begitu maksudku, Wati."


"Aku hanya tak ingin memperumit dan memperkeruh keadaan,"


"Bagaimana bingungnya keluargamu bila tau kau pergi tanpa pamit, kasihan mereka."


"Walaupun aku sangat kecewa dengan perlakuan Papimu pada Emakku." ujar pemuda itu.


Sariwati mulai naik pitam kembali mendengar perkataan Muhibbin, gadis itu keheranan dengan jalan pikiran kekasihnya,


"Kau ini terlalu baik atau memang benar-benar bodoh, Bin?"


"Sekarang bukan saatnya kau pikirkan orang lain, pikirkan dirimu dan perjuangkan yang menjadi keyakinanmu."


"Sekarang antar aku menemui Emak dan Mbak yu Cahaya, aku akan minta maaf pada mereka atas semua perlakuan Papi."


"Setelah itu terserah padamu, aku tak akan memaksamu berjuang demi cinta kita, yang jelas aku tak akan kembali kerumah dan tak sudi menikah dengan orang yang tak kukenal dan kucintai."


Sariwati melangkah menuju ke kereta anginnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Muhibbin mengekor dibelakang kekasihnya, pemuda itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sariwati, dia tau bagaimana keras kepalanya gadis itu bila sudah memutuskan sesuatu tak akan ada yang bisa menahan keinginan yang di yakininya benar.


***


Dua kereta angin melaju menembus pekatnya Manguntur, temaramnya langit tak menghalangi deru roda yang berderik. Sejurus kemudian keduanya pun berhenti di sebuah rumah yang hanya di terangi temaramnya obor di setiap sudut sengkernya.


"Kita sudah sampai. Ayo masuk!" ujar salah seorang pengendara kereta angin itu, orang satunya lagi hanya menganggukkan kepala ringan. Keduanya mulai  memasuki pekarangan rumah, tiba-tiba dari arah balai Delod sebuah suara menyapa kedua orang itu.


"Kau baru pulang, Gus?"


"Siapa yang kau ajak pulang itu?" seseorang melangkah menghampiri keduanya, namun alangkah terkejutnya orang itu.


"Ni Mas Sariwati?"


"Mengapa kau kemari?" tatapan mata pak Nengah tertuju pada Sariwati.


"Gus, apa yang kamu lakukan ini?"


"Kenapa Ni Mas Sariwati bisa bersamamu?" ujar orang itu kembali. Pandangannya tajam mengarah pada Muhibbin yang masih berdiri dihadapannya. Pemuda itu menjawab pertanyaan ayah angkatnya,


"Begini, Jik-" jawab Muhibbin yang segera di potong oleh Sariwati.


"Selamat pagi, pak Jero."

__ADS_1


"Maafkan kelancangan saya ini, semua ini bukan salah Muhibbin."


"Saya yang memintanya mengantarkan ke rumah ini." Sariwati mencoba menjelaskan kedatangannya pada Jero Mekel Nengah Wirata.


Lelaki tua itu memicingkan matanya dan mengerutkan dahinya tanda belum memahami maksud perkataan Sariwati.


"Duduklah dulu, tolong jelaskan padaku mengapa kalian bisa bersama datang kemari?" ujar pak Nengah kembali, pandangan lelaki paruh baya itu menelisik ke arah Muhibbin dan Sariwati yang ada di depannya.


Kedua sejoli itupun duduk di hadapan pak Nengah yang masih di liputi tanda tanya. Sariwati menyadari kehadirannya pasti akan menimbulkan pertanyaan dan keheranan, dia segera menjawab pak Nengah yang ada di depannya,


"Kedatangan saya ini atas kemauan saya sendiri, pak Jero."


"Saya kemari ingin meminta maaf dan meluruskan semuanya pada anda terutama pada keluarga Ibbin atas perlakuan keluarga saya tadi sore." gadis itu terlihat menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya.


"Saya sadar sikap Papi pada keluarga ini keterlaluan dan saya sendiri pun tak menyangka semuanya  bisa seperti ini."


"Maafkan keluarga saya, pak Jero." ujar Sariwati lirih, gadis itu mulai terisak dan menceritakan apa yang telah terjadi di internal keluarganya.


Wajah Jero Perbekel datar dan pandangannya pun terus menatap tajam ke arah Sariwati.


"Saya tau, Ni Mas."


"Dan semua yang telah dikatakan orang tua Ni Mas pada kami sudah jelas, tak ada lagi yang perlu diluruskan."


"Justru kedatangan Ni Mas Wati kemari akan menambah masalah baru bagi Ibbin dan keluarganya."


"Saya tak ingin anak saya Muhibbin di anggap melarikan Ni Mas." ujar pak Negah pada Sariwati, ada kekhawatiran di wajah  lelaki paruh baya itu.


"Dan Kau, Gus."


"Apa kau tak sadar dengan siapa kau berhadapan sekarang?"


"Keluarga Ni Mas Wati ini adalah orang-orang berpengaruh di negeri ini."


"Apa kau ingin mengobarkan masalah dengan mereka?" kini tatapan pak Nengah tertuju pada Muhibbin yang sedari tadi hanya diam tertunduk tanpa keberanian untuk menyela perkataan ayah angkatnya.


Pemuda itu sadar bahwa yang dilakukannya saat ini sangat berbahaya, di akui ataupun tidak keluarga Sariwati dapat melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan pengaruh dan kekuasaan yang masih menggurita di seluruh negeri kerajaan Zamrud, apalagi saat ini Sariwati meninggalkan rumah tanpa pamit bersama dirinya.


Suara riuh di balai Dangin membuat seisi rumah itupun terjaga, dari balai Dauh keluarlah seorang gadis dan melangkah mendekati ke tiga orang itu. Wanita itu masih mengenakan kain putih yang menutupi tubuhnya, rupanya gadis itu baru saja melaksanakan sembahyang subuh, dan memang langit manguntur masih terlihat pekat walaupun di ufuk timur mulai nampak semburat kekuningan menandakan fajar telah menyingsing.


"Ada apa pak Jero, tumben pagi-pagi sudah ramai." tanya wanita itu pada pak Nengah.


"Le, kau baru pulang?" ujar gadis itu kembali yang tak lain adalah Cahaya.


"Siapa dia, Bin?" imbuhnya  dan  tatapan menyelidik Cahaya mengarah pada Sariwati yang ada di samping adiknya.


"Adikmu bermain api Ni Mas." jawab pak Nengah singkat.


"Duduklah kemari." ujarnya pada Cahaya. Gadis itu duduk di sebelah pak Nengah berhadapan dengan Muhibbin dan Sariwati di depannya.


"Ada apa ini, Bin? Siapa gadis ini?" tanya Cahaya pada adiknya.


Pemuda itu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan kakaknya, di tatapnya wajah sang kakak dengan perasaan bersalah,


"Dia ini Sariwati, Mbak Yu." ujar pemuda itu singkat. Mendengar nama itu disebutkan adiknya, sontak mata Cahaya terbelalak kaget. Wajah geram penuh kecewa tak bisa ditutupinya. Gadis itu menatap lekat Sariwati di depannya dengan pandangan mengintimidasi.


"Apa kau gila, Bin!"


"Otakmu di taruh dimana? pekik Cahaya penuh kegeraman, gadis itu tak bisa menahan amarahnya, dia bangkit dan menampar wajah adiknya dengan sajadah yang ada di pundaknya.


"Apa kau ingin memuat Mbak Yu mu ini mati berdiri, hah?"


"Apa kau ingin membuat Emak semakin sakit akibat ulahmu ini?


"Dan kau! apa tak cukup kau menyakiti adikku dan keluargaku dengan perlakuan keluargamu yang terhormat itu?" ujar Cahaya penuh emosi pada Sariwati dihadapannya.


"Maafkan kami, Mbak Yu." sela Muhibbin pada kakaknya namun Cahaya semakin naik pitam melihat adik bungsunya itu.

__ADS_1


"Diam kau! belum saatnya kau bicara."


"Aku bertanya pada perempuan mu itu dan jangan pernah potong perkataanku." amarah Cahaya semakin menjadi-jadi, pak Nengah yang ada di sampingnya hanya menggelengkan kepala. Lelaki paruh baya itu sadar dan masgul dengan kemarahan Cahaya.


__ADS_2