KAHANAN

KAHANAN
CH 87 - BENANG MERAH PART II


__ADS_3

"Tidak!"


"Tidak!"


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan!"


Suara kegaduhan terjadi diluar ruangan balai pengobatan banjar Manguntur. Suara teriakan dan diselingi isak tangis membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan samping balai pengobatan bertanya-tanya.


"Apa yang terjadi diluar?"


"Sepertinya ada keributan, mari kita tengok tuan-tuan." ujar Balian Kanta pada ketiga orang di ruangan tersebut.


Sejurus kemudian keempatnya keluar dan bergegas ke ruangan tengah balai pengobatan banjar Manguntur. Terlihat seorang lelaki meronta dan menangis diantara para prajurit Bhayangkara dan para Pecalang yang memeganginya.


"Lepaskan aku!"


"Lepaskan!" lelaki itu masih berteriak.


"Lepaskan pemuda itu!" seru Balian Kanta dari arah samping balai pengobatan diikuti oleh tuan Sirkun, Jero Pecalang dan Prawira Utama Bhayangkara.


"Lepaskan dia!" kembali Balian Kanta berseru pada para Bhayangkara dan Pecalang yang memegangi sang pemuda.


"Biarkan aku masuk, Jero Balian!"


"Aku ingin melihat kakakku." seru sang pemuda pada Balian Kanta, tangannya merengkuh pundak tabib tua itu dan mengguncang-guncangkannya.


Lelaki tua itu dengan tatapan nanar berkata pada pemuda dihadapannya,


"Tenangkan dirimu, Nak Bagus!"


"Aku tau ini tak mudah bagimu."


"Semua yang terjadi ini sungguh melukai seluruh warga Manguntur, bukan dirimu saja."


"Kendalikan dirimu." pungkas Balian Kanta pada pemuda dihadapannya, lelaki tua itu memeluk tubuh sang pemuda erat-erat seakan-akan turut merasakan apa yang dirasa pemuda tersebut.


Dengan sesenggukan sang pemuda jatuh terduduk diatas lantai dengan deraian tangisan nya. Semua mata melihat pemandangan itu turut merasa iba. Bagaimana pun kejadian pembantaian dan pembakaran rumah keluarga Jero Perbekel dan Muhibbin diluar rasa kemanusiaan dan hal itu sangat melukai perasaan warga desa Batubulan terutama banjar Manguntur.


"Tabahkan hatimu, Nak Mas!" kini Jero Pecalang ikut angkat bicara, lelaki itu mendekati sang pemuda dan memapahnya duduk di bangku yang ada disudut ruangan itu.


Muhibbin masih sesenggukan diantara tangisannya, peristiwa yang terjadi itu sangat memilukan dimana ibu, kakak, dan ayah angkatnya tewas dengan kondisi mengenaskan dan adik angkatnya Sekar tergelatak tak berdaya bersama sang keponakan Raya Suci dengan luka-luka yang tak kalah menyedihkan, wajah-wajah tertunduk dan tangisan yang hadir di ruangan itu pun pecah melihat penderitaan yang dialami pemuda dihadapan mereka sedemikian beratnya.


"Kami sudah merawat jenazah kakakmu, Nak Bagus."


"Kini terserah pada dirimu,"


"Alangkah lebih baiknya kita segera persiapkan pemakamannya."


"Kasihan jenazah Ni Mas Cahaya jika terlalu lama didiamkan seperti ini."

__ADS_1


"Kakakmu layak mendapat penghormatan terakhir dan aku berjanji padamu akan membantumu mengungkap siapa dalang dan pelaku kekejian ini." ujar Jero Pecalang kembali pada Muhibbin, lelaki itu berkaca-kaca tatkala merangkul pundak pemuda disampingnya.


Muhibbin tak bergeming dan tetap menangis meratapi kepergian orang-orang yang sangat dicintainya.


tuan Sirkun dan Prawira Utama mendekati pemuda itu dan mengucapkan rasa belasungkawa atas semua yang dialaminya tak terkecuali semua yang ada di ruangan itu.


Waktu seakan terhenti, derita demi derita beruntun dialami Muhubbin, wajahnya yang terlihat sembab dengan tetesan air mata terangkat dan memandang orang-orang disekelilingnya, matanya berubah menyalang dengan pandangan penuh duka.


"Antarkan aku melihat jazad kakakku, paman." ujar Muhibbin pada Jero Pecalang. Pemuda itu bangkit dari tempatnya duduk dan melangkah kearah pintu ruangan dimana jazad Cahaya disemayamkan yang masih dijaga oleh para Bhayangkara dan Pecalang.


Jero Pecalang menganggukkan kepalanya ke arah Balian Kanta dan tuan Sirkun memberikan isyarat untuk mengikuti pemuda itu.


Para Bhayangkara dan Pecalang memberikan jalan pada Muhibbin dan orang-orang itu memasuki ruangan dimana jenazah Cahaya berada, pintu pun terbuka dan terlihat sosok gadis dengan kondisi mengenaskan terbaring diatas sebuah ranjang bambu dengan kain jarik menutupi tubuhnya.


Dengan tangan gemetar Muhibbin menyingkap kain yang menutupi wajah sang kakak. Wajah lebam kebiruan dengan Luka lebar di salah satu pelipis dan masih mengeluarkan darah segar sedangkan disekujur tubuhnya terlihat luka bekas cambukan dan sayatan benda tajam membuat pemuda itu semakin terpukul. Kakinya pun bergetar tak kuasa menopang tubuhnya, diapun terduduk diatas lantai kembali.


Tangannya mengepal dan memukul-mukul lantai dibarengi isakan tangisnya melihat kondisi sang kakak.


"Aaahhhhhh!"


"Aaaahhhhh!" teriak Muhibbin melampiaskan suasana batinnya sebelum kehilangan kesadaran dan roboh diatas lantai ubin.


"Cepat tolong dia!"


"Angkat tubuhnya ke atas ranjang bambu." pekik Balian Kanta tatkala melihat tubuh pemuda itu pingsan tak sadarkan diri.


Jero Pecalang dan Prawira Utama Bhayangkara segera mengangkat tubuh Muhibbin dari atas lantai.


Melihat muridnya tergopoh-gopoh, Balian Kanta berkata,


"Ada apa kamu kemari, Suta?" tanya Balian Kanta pada muridnya.


"Ni Mas Raya Sudah mulai sadarkan diri, guru."


"Gadis kecil itupun juga sudah melewati masa kritisnya." ujar Suta pada gurunya. Mendengar hal itu lelaki tua tersebut segera melangkah keluar menuju ruangan dimana Sekar dan Raya di rawat.


"Astungkara, segala puja pada Dewata yang agung."


"Cepat-cepat, periksa keadaannya!" ujar Balian Kanta tatkala berada diruangan itu. Tangan tuanya dengan terampil memeriksa dan memastikan kondisi Raya Suci.


"Pak Lik!"


"Bu Lik!"


"Mbah Uti!"


"Sakit!" suara desahan keluar dari bibir Raya Suci.


Gadis kecil itu merintih kesakitan dan berusaha membuka kedua matanya namun karena dampak terbakarnya sebagian wajahnya, dia terlihat kesulitan membukanya dan merasakan kesakitan.


"Dimana Mbah Uti?"

__ADS_1


"Aduh, sakit!" erang Raya Suci kembali. Gadis kecil itu menangis mencari keberadaan keluarganya.


"Sabar ya, Ning!"


"Mbah Uti dan Bu Lik mu ada."


"Pak Lik mu juga ada disini." bisik Balian Kanta di sebelah telinga Raya Suci.


"Dimana Mbah Uti, Kek?"


"Ada yang mengunci kamar kami sebelum kebakaran itu, Kek."


"Mbah Uti dimana sekarang?" isak Raya kembali.


"Mbah Uti mu ada, Ning."


"Kamu istirahat dulu ya!"


"Kakek akan obati luka-luka mu." ujar Balian Kanta kembali, kini mata lelaki tua itu berkaca-kaca dan diambilnya beberapa tanaman obat di dalam tasnya, pria itu meminta pada cantriknya untuk mengolah bahan obat tersebut sesuai dengan arahannya.


***


Diluar ruangan balai pengobatan Manguntur, kembali terjadi sedikit perdebatan sengit.


"Apa kau tak tau, pemuda itu masih dalam masa berkabung, tuan Prawira Utama?"


"Tega-teganya dirimu akan membawa Muhibbin dan memprosesnya, sementara kesalahannya pun belum diketahui!" ujar Jero Pecalang dengan suara lantang.


"Lebih baik kau selidiki keterlibatan Bhayangkara dalam penyerangan terhadap Jero Perbekel dan keluarganya."


"Jangan malah mengalihkan perhatian dari penyebab kekejaman ini!" imbuh Jero Pecalang.


Pimpinan keamanan desa Batubulan itu bersikeras menolak keinginan Prawira Utama Bhayangkara yang akan membawa Muhibbin menghadap tuan Timoti dan memprosesnya sebagai penyebab menghilangnya Sariwati putri sang gubernur Negeri Pantai.


"Kau jangan menghalangi aparat negara, Jero Pecalang!"


"Kami hanya menjalankan tugas dan biarkan tuan gubernur yang akan memutuskan bersalah atau tidaknya pemuda itu." seru Prawira Utama Bhayangkara tak kalah gusar dengan sikap Jero Pecalang.


"Setidaknya kau biarkan Muhibbin menguburkan kakaknya terlebih dahulu, bagaimana pun dia patut mengantarkan perjalanan terakhir keluarganya."


"Jangan lupa, atas keterangan Ni Mas Sekar semua ini ulah para Bhayangkara yang menyerang mereka dan aku sebagai perwakilan warga Manguntur meminta kesetaraan dalam proses penegakan keadilan ini!" kembali Jero Pecalang menyanggah Prawira Utama Bhayangkara.


"Yang dikatakan Jero Pecalang itu ada benarnya, tuan."


"Sebaiknya kita beri kesempatan pemuda itu menguburkan jenazah kakaknya."


"Bagaimana pun ini menyangkut rasa kemanusiaan dan saya harap tuan memberikan kebijaksanaan dalam hal ini."


"Saya yang akan menjamin pemuda itu dan setelah semuanya selesai silahkan anda beserta para Bhayangkara membawanya menghadap tuan gubernur untuk dimintai keterangan seputar menghilangnya putri beliau." ujar tuan Sirkun menengahi perdebatan Prawira Utama Bhayangkara dan Jero Pecalang.


*****

__ADS_1


__ADS_2