
"Cantrik ... cantrik!" suara lelaki tua memanggil penjaga ruang pemujaan.
Tak berapa lama seorang pemuda berusia belasan tahun membuka pintu sanggar pamujan dan membungkukkan badan memberi hormat pada lelaki tua berpakaian putih yang masih duduk bersila dengan mata terpejam.
"Kakiang memanggil saya?" ujar Cantrik itu dengan sopan.
"Tolong kau panggilkan Putra adikku kemari, ada hal yang perlu aku sampaikan padanya." pinta lelaki tua itu yang tak lain sang Resi Giri Waja pemilik asram Manuaba.
"Baik, Kakiang." Jawab Cantrik itu kembali memberi hormat dan sambil berlalu keluar dari ruangan pemujaan itu.
Tak selang berapa lama, pria paruh baya bergegas ke arah sanggar pamujan dimana Resi Giri Waja Berada. Suara pintu diketuk dari arah luar ruangan.
"Masuklah, Putra." suara sang Resi terdengar dari dalam dan seolah tau siapa yang datang.
Gus Aji Putra mendorong pintu ruangan samadi sang Resi dan melangkah masuk,
"Kemarilah, Putra."
"Duduklah di dekatku." ujar sang Resi sambil membalikkan badan menghadap ke arah Gus Aji Putra.
"Hal gerangan apa yang akan kakak sampaikan." tanya Gus Aji Putra setelah mendekat ke arah sang Resi.
Resi Giri Waja yang terkenal waskita nampak menghela nafas dan sesekali tangannya membelai janggut putihnya, matanya menerawang memandang langit-langit ruang pemujaan itu.
"Langsung saja, Putra."
"Aku akan menyampaikan sesuatu yang penting mengenai pemuda itu setelah mendapat petunjuk dalam samadiku." ucap Resi Giri Waja memulai perbincangan, sementara Gus Aji Putra dengan seksama menyimak apa yang disampaikan oleh kakak tertuanya.
"Kita harus meminta keluarga Bendowo terutama anak perempuannya untuk datang ke tempat ini."
"Ini demi kebaikan semua." sang Resi menatap wajah Gus Aji Putra yang nampak bingung.
"Aku tau, dimasa lalu dirimu memiliki pengalaman buruk dengan keturunan mendiang raja Harsuto itu."
"Namun untuk kali ini aku meminta padamu untuk menyampingkan masalahmu terlebih dahulu." ucap sang Resi kembali.
"Apakah kakak yakin akan mengundangnya ke asram ini demi menyelamatkan Muhibbin?" tanya Gus Aji Putra.
Dengan anggukan dan seulas senyum, sang Resi menjawab pertanyaan adik semata wayangnya.
"Semua ini bukan dari aku sendiri, Putra."
"Saat aku melakukan samadi, aku mendapat petunjuk dari Dewata tentang pemuda itu dan semua yang berkaitan dengan dirinya." jawab sang Resi.
"Maksud kakak?" kini wajah Gus Aji Putra semakin serius memperhatikan apa yang disampaikan sang Resi padanya.
"Aku melihatnya berada disebuah alam dan disana Muhibbin bersama Bajang Anom." ucap Resi Giri Waja.
"Bajang Anom? Apa yang kakak maksud raksasa bajang Sukrasena putra Bagawan Swandagni?" tanya Gus Aji Putra terkejut.
"Benar Putra, aku melihat sang Raksasa Bajang dan penghuni hutan jatirasa banyak membimbing pemuda itu."
"Yang ku lihat dirinya telah mendapat pemahaman sejati dari perjalanan ruhnya."
"Derita yang dialaminya telah banyak mengajarkan padanya."
"Oleh karena itu, aku meyakini pertemuannya dengan orang-orang terdekatnya akan membantu Muhibbin dan biarka sisanya kita ikuti kehendak Dewata." pungkas sang Rsi memberi penjelasan pada adiknya.
Gus Aji putra terdiam sesaat mendengar apa yang dikatakan kakaknya.
"Jika memang seperti itu ... baiklah, Kak."
"Aku akan meminta Arsana mengantarkan suratku pada Bendowo." ucap Gus Aji Putra pada Resi Giri Waja.
Tiba-tiba pintu ruangan pemujaan itu diketuk dari luar.
"Siapa?" suara Resi Giri Waja terdengar dari dalam ruangan.
Seorang Cantrik menyeruak masuk dan memberi hormat pada sang Nabe.
"Maaf Bapa Resi, diluar ada Gung Niang Mirah bersama muridnya hendak bertemu dengan Bapa Resi." ujar Cantrik itu pada kedua orang tua dihadapannya.
"Kebetulan sekali, dimana mereka?" ujar Resi Giri Waja pada muridnya.
"Beliau berada di balai tamu, Bapa Resi." jawab sang Cantrik penuh hormat.
"Suruh mereka masuk kemari, sampaikan aku dan Putra menunggunya." pungkas sang Resi dan dibalas anggukan hormat dari sang Cantrik.
Tak selang berapa lama dua orang wanita memasuki ruang pemujaan, senyum merekah tersungging di bibir wanita paruh baya itu tatkala berhadapan dengan Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra.
"Mirah, bagaimana kabarmu?"
"Ada angin apa kau datang kemari tanpa memberitahu terlebih dahulu?" sambut sang Resi dengan senyum teduhnya.
"Kabarku baik, Kak."
"Maaf jika aku tak berkabar terlebih dahulu.
"Dan rupanya kak Putra juga berada disini?"
"Kapan kakak datang ke Galuh?" ujar Gung Niang Mirah pada Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra.
Gus Aji Putra hanya tersenyum mendengar pertanyaan adik seperguruannya itu. Gung Niang Mirah, Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra adalah saudara seperguruan murid dari Begawan Sidi Mulya atau dikenal dengan sebutan Kakiang Lingsir pendiri asram Manuaba.
"Putra berada disini sudah lama, dia bersama cucunya datang dari Banjar Gelumpang dalam rangka merawat seseorang." ucap Resi Giri Waja menjelaskan keberadaan adiknya.
"Merawat seseorang, maksud kakak?" tanya Gung Niang Mirah kembali.
"Benar, aku berada disini dalam rangka mengobati kenalanku, Mirah."
"Mungkin kau sempat mendengar se tahun lalu kejadian menggemparkan yang di akibatkan oleh keturunan penguasa kerajaan Zamrud?"
"Aku dan Bhayangkara negeri Pantai berhasil menggagalkannya namun kenalanku itu terluka parah dan hingga saat ini tak sadarkan diri."
"Dia saat ini berada antara hidup dan mati.
"Semua upaya telah kami lakukan untuk menolong pemuda itu." ucap Gus Aji Putra pada Gung Niang Mirah.
Mendengar penjelasan kakak seperguruannya, Gung Niang Mirah memandang ke arah muridnya yang ada disampingnya.
"Apa kejadian itu berkaitan dengan penyekapan dirumah tua yang mengemparkan itu?" tanya Gung Niang Mirah sambil melirik Disya disampingnya.
__ADS_1
Jantung Disya tiba-tiba berdebar kencang mendengar pembicaraan gurunya dan Gus Aji Putra. Sekelebat bayangan wajah Muhibbin hinggap dipikirannya.
"Peristiwa itu santer terdengar seantero Negeri Pantai."
"Kabarnya, kejadian itu melibatkan keluarga penguasa negeri Pantai pula."
"Dan kejadian itu seolah tertelan bumi tak ada penyelesaiaanya hingga saat ini." ujar Gung Niang Mirah kembali.
"Kau benar, Mirah."
"Dan kebetulan kau datang ke tempat ini, bagaimana jika kau ikut membantu untuk mengobati pemuda itu."
"Mungkin dengan andilmu bisa menyembuhkan pemuda itu." ucap Resi Giri Waja pada Gung Niang Mirah disambut anggukan ringan Gus Aji Putra disampingnya.
Disya yang berada disamping Gung Niang Mirah semakin gelisah, tangannya bergetar meremas ujung kerudungnya, kakinya serasa lemas menopang tubuhbya.
"Baiklah, Kak."
"Tak ada salahnya kita mencoba."
"Dan itu memang tugas kita untuk menolong orang dengan kemampuan yang kita miliki."
"Bagus, ayo kita tengok pemuda itu." pungkas sang Resi sambil melangkah keluar ruangan pemujaan itu diikuti oleh orang-orang yang ada ditempat itu.
***
Di sebuah kamar sempit dengan balai bambu yang hanya beralaskan tikar pandan, terlihat seorang pemuda dengan pakaian lusuh dan kondisi memperihatinkan terpasung pada sebuah kayu yang tertancap pada tanah. Terlihat kaki dan tangan pemuda itu terikat rantai-rantai besi yang membuat sang pemuda hanya terbaring lunglai dengan tatapan mata yang kosong kearah langit-langit kamar. Seolah berada dalam keadaan setengah tersadar.
Seorang perempuan berkerudung ungu terlihat menghampirinya. "Hai, Adikku mengapa jadi macam ini? Ayolah bangkit dan berjuang dari cobaan ini, Ibbin!"
"Muhibbin yang kakak kenal adalah lelaki tangguh, tabah dan tak pernah menyerah," Ujar wanita itu kembali.
Digenggamnya jari jemari pemuda itu dengan lembut.
Namun lelaki itu tak memperdulikan kedatangan wanita di depannya, tatapannya kosong antara sadar dan tidak, keadaan seperti ini telah berlangsung hampir setahun dan membuat kondisi tubuhnya semakin menyedihkan.
Tiba-tiba pemuda itu meronta dan berteriak.
"Lepaskan aku, akan ku balaskan semua dendam ku pada keluarga wanita ****** itu! Bajingan itu akan ku buat sengsara!"
"Lepaskan aku!"
"Bajingan ... lepaskan aku!"
Pria itu menyeracau melampiaskan amarah dan kekesalannya walaupun dirinya tak menyadari apa yang di lakukan dan di alaminya.
Lelaki yang tak lain adalah Muhibbin itu memberontak berusaha melepaskan diri dari rantai besi yang melingkar di tangan dan kakinya.
Gemerincing hentakan rantai besi terdengar berbarengan dengan pandangan menyalang pemuda itu.
Puan Rizza terhenyak melihat sahabatnya mulai sadar dan histeris didepannya.
"Siapa kau, Kau komplotan wanita tak tau diri itu, hah? tanya lelaki itu tak ingat siapa yang dihadapannya. Nampak Muhibbin terus meronta di barengi sumpah serapah dan tawanya yang menggema diruangan itu.
" Hahahahaha,"
"Pasti kau orang suruhan wanita iblis itu dan kedatanganmu hanya ingin mendapatkan cincin itu, bukan?"
"Sampai matipun tak akan aku berikan apa yang dia mau."
"lepaskan aku! atau bunuh saja aku, bunuh saja aku, bangsat!" Muhibbin masih berteriak pada wanita dihadapannya, terlihat air matanya bercucuran di antara tawanya yang menggema. Tubuh kurus yang hanya terbalut kulit itu kembali meronta.
"Ibbin, ini kakak Bin."
"Ini kak Rizza, Bin ... sadarlah dik!"
"Tabahkan hati engkau." Isak wanita itu yang ternyata adalah Puan Rizza kakak angkat Muhibbin.
Wanita dari Negeri Serumpun itu berusaha menenangkan Muhibbin. Pintu kamar terbuka dan Arsana bergegas masuk kedalam ruangan itu.
"Apa yang terjadi pada Bli Ibbin, Puan?" tanya Arsana pada Puan Rizza dan wanita itu hanya menggelengkan kepalanya penuh kebingungan sambil menyeka air matanya.
Muhibbin menatap tajam wanita didepannya, nafasnya tersengal tak beraturan.
"Kakak!"
"Oh iya, aku ingat. Kau kakakku, ya! Kau kakak ku."
Wajah lelaki itu mengamati perempuan didepannya.
"Tapi tunggu dulu, Kau bukan kakak ku. Kau pasti suruhan wanita iblis itu!"
"Pergi kau, Pergi!" Teriak Muhibbin.
Puan Rizza hanya bisa terisak melihat kondisi adik angkatnya yang sedang mengalami goncangan jiwa akibat peristiwa terbunuhnya seluruh keluarganya oleh orang suruhan Habsari Bonawati kakak sulung Sariwati.
Peristiwa itu terjadi dilatar belakangi perebutan kekuasaan dan kekayaan mendiang raja Harsuto penguasa kedua kerajaan Zamrud yang dilakukan oleh cucu pertamanya Habsari.
Penyekapan dirumah tua yang dilakukan oleh Habsari beserta anak buahnya menjadi puncak peristiwa berdarah di negeri Pantai.
Tatapan kosong masih terlihat dimata Muhibbin dan tiba-tiba lelaki itu berkata kembali,
"Bagaimana keadaan Emak, mbak yu Cahaya dan Raya Suci, Kak?" tanya Muhibbin.
Air matanya mengalir disudut-sudut kelopaknya. Lelaki itu bertanya kembali,
"Bagaimana kedaan Ajik dan Sekar, Kak?"
"Serta bagaimana keadaan Disya, Kak?" Masih dengan menangis Muhibbin Memberondong pertanyaan pada Puan Rizza. Matanya sayu memandang kosong ke arah wanita di depannya.
"Kau yang sabar ya , Dik!"
"Allah akan selalu jaga mereka!" Isak Puan Rizza.
Terlihat Muhibbin kembali menangis tersedu, Dia berbaring meringkuk membelakangi Puan Rizza.
Masih teringat jelas bagaimana kekejaman Habsari beserta anak buahnya pada orang-orang terdekatnya dan pengkhianatan Sariwati yang menghilang entah kemana, menambah luka dan derita Muhibbin membuncah tak tertahan.
"Pergi!"
"Pergi"
__ADS_1
Teriak lelaki itu kembali.
Dengan perasaan sedih, Puan Rizza meninggalkan Muhibbin yang sedang tak stabil kejiwaannya.
Sedangkan Arsana berusaha menenangkan keadaan kakak iparnya.
"Kak, bagaimana keadaan dia?" Diera menghampiri Puan Rizza dan bertanya.
"Hai, Kakak tak kuasa lihat keadaan Ibbin, nasib yang menimpanya teruk sangat lah! Kakak sungguh tak tega." Ujar Puan Rizza masih terisak.
"Biarlah kita tinggalkan dia dulu untuk menenangkan diri, Di" Kembali Puan Rizza berkata.
"Diera tau kak, apa yang di alami Muhibbin sangat berat sekali. Dia kehilangan semua orang-orang yang dikasihinya hanya karena hubungan dengan wanita ****** itu, Kak!" Kini gadis disamping Puan Rizza yang tak lain adalah Diera ikut terisak dengan perasaan geram.
"Apalagi hingga saat ini Disya tak tau dimana rimbanya,"
"Seharusnya mereka saat ini sudah menjadi sepasang suami istri yang berbahagia, kak." ucap Diera kembali.
Puan Rizza menyeka air matanya, nafasnya terasa berat.
"Andai waktu itu kakak tak menyampaikan berita tentang bekas kekasihnya yang di sampaikan oleh We Landep, mungkin semua ini tak akan terjadi."
"Entah takdir seperti apa yang akan dilaluinya."
"Sudahlah, mari kita keluar. Biarkan Muhibbin beristirahat dulu, kondisi kejiwaan dia sekarang masih terganggu, lebih baik kita perbanyak doa saja agar dia cepat pulih dan kembali bangkit." Pungkas Puan Rizza.
Keduanya berlalu keluar dari ruangan kamar itu dan meninggalkan Muhibbin yang masih terpasung dan meringkuk berdiam diri dengan tatapan kosong.
Sementara di bangsal tamu, kecemasan nampak diwajah Orang-orang yang berada ditempat itu.
"Apa yang terjadi, Puan?"
"Aku mendengar suara bli Ibbin berteriak penuh amarah."
"Apakah dia sudah sadarkan diri dari pingsannya?" tanya Sekar pada wanita berkerudung jingga yang tak lain adalah Puan Rizza dan Diera sahabatnya.
Nampak dua orang wanita itu baru saja keluar dari ruangan balai tamu itu, terlihat keduanya menangis menghampiri orang-orang yang ada di luar ruangan
"Dia tak mengenal kami, Sekar."
"Saat kakak tengok dia kedalam, Ibbin masih tak sadarkan diri namun tak lama dia berteriak dan sadar dari pingsannya."
"Kakak berusaha untuk menenangkannya, tapi dia tak mengenali kakak dan Diera." ujar Puan Rizza pada Sekar.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kita harus segera panggil Bapa Resi, aku takut keadaan bli Ibbin semakin tak stabil." ucap Sekar kembali.
"Suamimu berusaha menenangkannya saat ini, Kar." timpal Diera turut menjelaskan keadaannya.
"Kisanak ... kisana!"
"Tolong segera panggilakan Bapa Resi." ucap Sekar pada salah satu Cantrik yang berada ditempat itu dengan perasaan penuh kekhawatiran.
***
"Apa yang terjadi?" suara Resi Giri Waja memecah lamunan orang-orang yang berada di luar bangsal tamu itu.
Sang Resi di temani Gus Aji Putra dan dua orang wanita yang tak lain Gung Niang Mirah dan Disya segera mendekat.
Semua sorot mata tertuju ke arah datangnya suara sang Resi beserta rombongan.
Alangkah terkejutnya beberapa orang ditempat itu melihat salah seorang yang datang bersama rombongan sang Resi.
"Disya!" pekik Sekar melihat wanita berkerudung hitam disamping Gung Niang Mirah.
Disya pun terkejut mendapati kawan-kawannya berada di tempat itu. Terlebih pada seorang gadis remaja dengan luka bakar di wajah yang ada didepannya.
"Disya!" Sekar menjura dan memeluk wanita berbadan dua itu sambil terisak.
Raya Suci, Puan Rizza dan Diera pun ikut mendekat dan memeluk wanita yang baru datang bersama Resi Giri Waja itu. Isakan tangis menghiasi pertemuan para sahabat itu.
Dengan perasaan bertanya-tanya, Resi Giri Waja mencari jawaban sambil memandang Gung Niang Mirah dan di balas dengan gelengan kepala oleh wanita paruh baya itu.
"Rupanya kalian saling kenal." ucap sang Resi melihat wanita-wanita muda di hadapannya.
"Dia ini sahabat kami, Bapa Resi."
"Dan dia inilah tunangan Bli Ibbin yang hilang."
"Sebelum kejadian kelam itu, bli Ibbin mencarinya kesetiap tempat."
"Namun tak ada hasilnya, hingga bli Ibbin sendiri ditemukan mengalami penyiksaan seperti itu." jawab Sekar sambil terisak dan terus memeluk Disya.
Sang Resi menganggukkan kepala seolah mulai mengerti jalan peristiwa berpisahnya Muhibbin dan Disya.
"Bagaimana ceritanya hingga Muhibbin tersadar dan lepas kendali?" tanya Resi Giri Waja.
"Maafkan saya Bapa Resi, ini salah saya."
"Saya yang memaksa masuk dan ingin menjenguk Ibbin." sela Puan Rizza pada tetua griya Manuaba itu.
"Dia sempat tersadar sejenak, namun tak berapa lama kembali seperti orang hilang ingatan."
"Hingga dia tak terkendali dan saat ini Arsana ada didalam ruangan menjaganya." pungkas puan Rizza sambil tertunduk sedih.
Resi Giri Waja menghela nafas mendengar jawaban wanita dari negeri Serumpun itu. Tatapannya beralih pada Gus Aji Putra dan Gung Niang Mirah yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Putra, Mirah ... sebaiknya kita segera kedalam untuk memastikan keadaannya."
"Semoga tidak terjadi apa-apa yang akan membuat sakitnya semakin bertambah parah." ucap sang Resi yang dibalas anggukan kepala kedua orang adik seperguruannya.
***
Note Author:
Selamat malam para Sahabat KAHANAN. Saya ucapkan selamat tahun baru 2022 bagi kita semua walau terlambat, semoga ditahun baru ini kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu diberikan ketabahan dalam setiap ujian kehidupan terutama dimasa pandemi ini yang entah kapan akan berakhir.
Tak terasa KAHANAN telah memasuki tahun ke-2 dalam perjalanannya, walaupun update episode di kisah ini lambat bahkan teramat lambat saya rasa, namun saya ucapkan terimakasih tak terhingga pada semua pembaca yang telah setia mengikuti kisah ini.
Saya berkomitmen akan menyelesaikan KAHANAN di platform ini sebagaimana ikatan kontrak yang telah dilakukan antara saya dan pihak Noveltoon, walaupun sejujurnya tulisan ini telah dibaca oleh salah satu Redaktur media cetak ternama dan membuat saya pribadi sedikit berbangga karena media itu ingin dimuat di cerbung (cerita bersambung) awalnya, namun saya katakan bahwa tulisan ini sudah diikat kontrak dengan pihak NT. Sangat disayangkan memang, karena kesempatan tak datang dua kali dan KAHANAN hanya satu kisah yang tidak akan saya copy paste dan di ganti judul maupun alurnya untuk dimuat ditempat lain. Biarlah KAHAHAN tetap di mana dia berada saat ini dan untuk beberapa episode berikutnya adalah episode-episode terakhir kisah KAHANAN.
__ADS_1
Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua atas dukungannya selama ini. Salam