
Seorang lelaki terlihat bergegas memperlebar langkahnya menuju serambi, pria itu tak lain tuan Sirkun sang pemilik rumah.
"Ada angin apa tuan Gubernur berkunjung ke gubuk saya tanpa berkabar terlebih dahulu?"
"Jika tau anda yang datang, pasti akan saya persiapkan penyambutan khusus untuk Tuan." ujar tuan Sirkun tatkala dirinya berada di serambi rumahnya, senyum sumringah Pengusaha dermawan itu tersungging menyambut tamunya yang tak lain tuan Timoti sang gubernur Negeri Pantai.
"Ah tak perlu sungkan, Tuan."
"Saya juga mohon maaf mengganggu dan bertamu tanpa berkabar terlebih dahulu." ujar Pemimpin Negeri Pantai itu sambil bangkit dari tempatnya duduk dan menjabat tangan tuan Sirkun dengan ramah.
Keduanya terlihat tertawa dengan obrolan-obrolan ringan sekedar basa-basi untuk mencairkan suasana. Tak selang berapa lama, tuan Sirkun kembali berkata,
"Mari kita ngobrol di dalam saja, Tuan."
"Rupanya ada berita penting sehingga anda repot-repot kemari secara langsung." ujar tuan Sirkun masih dengan senyum ramahnya.
Tuan Timoti tertawa ringan mendengar apa yang dikatakan tuan Sirkun.
"Sudahlah, Tuan."
"Tak ada hal yang begitu penting."
"Lebih baik kita ngobrol disini saja, saya lihat suasananya terasa segar dan enak dipandang."
"Anda memang memiliki selera tinggi dalam merencanakan sesuatu, termasuk suasana rumah anda ini, Tuan" ujar tuan Timoti memuji dan penuh kekaguman, pandangannya menyapu ke seluruh penjuru halaman dimana berbagai jenis tanan hias tertata rapi dan sebuah kolam ikan nampak elok dengan gemericik airnya mengalir didekat serambi kediaman sang Pengusaha dari Negeri Kelapa itu, semua nampak asri dan indah sehingga membuat siapa saja betah berlama-lama menikmatinya.
"Anda bisa saja, Tuan."
"Saya hanya menyalurkan hobi dan kebetulan dulu mendiang istri saya suka berkebun dan menanam aneka tanaman hias." jawab tuan Sirkun merendah.
tuan Timoti tersenyum dan memandang tuan Sirkun didepannya, lelaki itu hafal bagaimana sifat rendah hati dan kedermawanan koleganya ini.
"Tapi memang betul, selera anda menata rumah sangat tinggi sekali, Tuan."
"Lain kali saya perlu belajar dari anda bagaimana cara merawat rumah hingga terkesan asri dan nyaman ditempati." ujar tuan Timoti kembali.
Tak berapa lama seorang pelayan menghampiri kedua pria itu sambil membawa minuman hangat dan camilan kecil yang dibawanya dengan nampan, dengan penuh hormat Pelayan itu kembali kedalam setelah menaruh hidangan ringan itu di atas meja tamu.
Tuan Sirkun masih dengan senyum khasnya berkata kembali,
"Mari Tuan, silahkan dinikmati kue dan minumannya, mumpung masih hangat." ujarnya pada tuan Timoti.
Keduanya pun menikmati hidangan kecil itu. Setelah beberapa saat, tuan Timoti berkata pada Pemilik rumah.
"Sebenarnya, kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan anda, Tuan." ujar sang Gubernur memulai percakapan kembali, tuan Sirkun mengernyitkan dahinya sebelum menjawab tuan Timoti.
__ADS_1
"Bantuan apa yang Tuan inginkan? dengan senang hati akan saya penuhi jika saya mampu lakukan." ujar tuan Sirkun dengan wajah berubah serius.
Melihat reaksi sang Pemilik rumah, tuan Timoti tersenyum.
"Sebenarnya saya hanya ingin menyewa gedung Selasar Rumah Budaya milik Tuan untuk acara keluarga." ujar lelaki paruh baya itu pada tuan Sirkun.
"Rencananya saya dan kakak saya Kang Mas Bendowo akan mengadakan prosesi untuk pernikahan anak kami, Tuan."
"Dan acaranya akan dilaksanakan seminggu kedepan."
"Maka dari itu, saya ingin minta bantuan Tuan untuk menyewakan Rumah Budaya itu dan sekaligus Tuan sebagai panitia penyelenggaranya." ujar sang Gubernur pada tuan Sirkun.
Mendengar kabar yang disampaikan tuan Timoti, sontak Pengusaha dari Negeri Kelapa itu menjabat tangan sang Gubernur dengan hangat.
"Selamat, Tuan."
"Pasti, pasti akan saya bantu sepenuhnya, Tuan."
"Tuan tak perlu sungkan-sungkan menggunakan Selasar Rumah Budaya untuk tempat acara pernikahan keluarga Tuan."
Tuan Timoti tertawa ringan melihat reaksi tuan Sirkun, Pemimpin Negeri Pantai itu kembali berkata,
"Saya ingin acara pernikahan putriku menjadi acara terbesar dan paling meriah di negeri ini."
"Umumkan disetiap penjuru negeri, bahwa ini adalah kebahagian bersama seluruh masyarakat Negeri Pantai dan adakan hiburan di masing-masing desa untuk meramaikan acara ini."
"Karena ini adalah pesta untuk anak kesayangan saya satu-satunya, Tuan." ujar sang Gubernur sambil terus memamerkan senyumnya.
Tuan Sirkun pun ikut gembira mendengar apa yang disampaikan Pimpinan Negeri Pantai itu namun di balik dinding yang memisahkan serambi dan ruangan tamu kediaman Pengusaha itu, Disya mendengus geram. Rupanya sejak kedatangan Gubernur Negeri Pantai yang tak lain ayah Sariwati tersebut, Gadis itu mencuri dengar di balik dinding.
"Wah ini kabar yang sungguh menggembirakan, Tuan."
"Sungguh kehormatan bagi saya diberi tanggung jawab besar seperti ini dan akan saya jalankan sebaik mungkin agar acara pesta perkawinan Putri Tuan berjalan lancar." ujar tuan Sirkun kembali.
Tuan Timoti menganggukkan kepala dengan senyum masih melekat dibibirnya. Kedua lelaki itu kembali berbincang seputar persiapan acara yang akan diselenggarakan Selasar Rumah Budaya.
Setelah sekian lama, tiba-tiba tuan Sirkun berkata pada sang Gubernur Negeri Pantai di hadapannya.
"Begini, Tuan."
"Sebelumnya saya mohon maaf jika perkataan saya ini menyinggung Tuan." ujar tuan Sirkun menggantung pertanyaannya.
"Katakan saja, Tuan."
"Anda sudah saya anggap keluarga, tak perlu sungkan ataupun ragu."
__ADS_1
"Apa gerangan yang ingin Tuan tanyakan." ujar tuan Timoti pada koleganya, wajahnya sedikit berubah namun senyuman masih tersungging di bibirnya.
"Tadi sebelum kedatangan Tuan, saya menerima kunjungan dari Jero Pecalang, kepala keamanan desa Batubulan." ujar tuan Sirkun sambil menghela nafas, tuan Timoti terlihat mengernyitkan dahinya.
"Apa gerangan yang dikatakan Jero Pecalang dan apa hubungannya dengan saya, Tuan." seru tuan Timoti sambil menatap wajah tuan Sirkun.
Tuan Sirkun terlihat mengatur nafas sebelum melanjutkan perkataannya, Pengusaha itu berusa memilih kalimat yang tepat untuk menyampaikan keluhan Jero Pecalang padanya. Dengan hati-hati lelaki itu kembali berkata,
"Hal ini ada hubungannya dengan kejadian di Manguntur, Tuan."
"Apa yang telah menimpa keluarga besar Jero Mekel Nengah Wirata dan Muhibbin anak angkatnya serta dugaan keterlibatan pasukan Bhayangkara atas insiden itu menjadi perhatian serius warga Manguntur."
"Ini di khawatirkan bisa menjadi pemicu kerusuhan di Negeri Pantai jika tak segera di temukan para pelakunya."
"Warga di sana saat ini mendesak pihak keamanan desa yang di pimpin oleh Jero Pecalang untuk segera menuntaskannya."
"Saya pun khawatir jika masalah ini tak segera menemukan titik terang akan menjadi preseden buruk bagi nama baik Negeri Pantai dan pemerintah pusat juga akan menyorotinya." pungkas tuan Sirkun pada tuan Timoti.
Mendengar perkataan tuan Sirkun, wajah Pimpinan Negeri Pantai itu berubah dingin, sorot matanya tajam mengarah kepada Pengusaha didepannya.
"Untuk hal ini, Tuan tak usah ikut campur."
"Masalah ini sudah saya tangani bersama Bhayangkara Negeri Pantai."
"Dalam waktu dekat kita akan menemukan siapa pelakunya dan memberikan keadilan bagi keluarga mendiang Jero Mekel." ujar tuan Timoti dingin, perubahan gestur tubuh dan sikap Gubernur Negeri Pantai itu dirasakan oleh tuan Sirkun.
"Maafkan saya, Tuan."
"Saya tak ada maksud untuk mencampuri penanganan kasus ini."
"Saya hanya menyampaikan kegelisahan yang dirasakan oleh para warga Manguntur."
"Jika ada perkataan saya yang tidak berkenan, mohon dimaafkan, Tuan." pungkas tuan Sirkun.
Suasana hangat diserambi itu sontak berubah kaku dan dingin, baik tuan Sirkun maupun tuan Timoti tenggelam dalam alur pikirannya masing-masing.
"Saya rasa, keperluan saya kemari sudah selesai."
"Saya mohon pamit dahulu karena masih banyak urusan untuk persiapan pernikahan anak saya yang harus saya tangani." seru tuan Timoti memecah kesunyian tempat itu.
Tuan Sirkun hanya mengangguk pelan tatkala sang Gubernur bangkit dan berpamitan padanya.
Keduanya melangkah ke pintu gerbang kediaman sang Pengusaha, tak selang berapa lama sebuah kereta kuda yang digunakan tuan Timoti datang menghampiri dan membawa Pimpinan Negeri Pantai itu meninggalkan tuan Sirkun yang masih berdiri menatap kepergian sang Tamu.
*****
__ADS_1