
Dengan perasaan khawatir dan cemas akan keadaan keluarganya setelah mendengar cerita tetangganya, Muhibbin bergegas meninggalkan rumahnya yang kosong menuju dusun Kemuning tempat pesantren kyai Basori berada.
Sepanjang jalan pikirannya berkecamuk tentang yang dialami ibu serta kakaknya. Lelaki itu tak habis fikir siapa sebenarnya orang-orang yang berniat mencelakai keluarganya dan apa yang diinginkan dari keluarga bersahaja itu.
Langkahnya semakin lebar ketika mulai terlihat regol pesantren Al Amin kediaman kyai Basori gurunya.
Di halaman utama tepatnya di sebuah masjid areal pesantren terlihat para santri sedang melakukan pembacaan Ratibul Haddad yang di pimpin oleh sang kyai sendiri.
Muhibbin melangkahkan kakinya kearah masjid, beberapa santri yang melihat kedatangannya segera menyambut pemuda itu.
"Assalamualaikum," sapa salah seorang santri pada Muhibbin dengan ramah.
"Apa panjenengan hendak bertemu mbah kyai?" lanjut sang santri pada Muhibbin.
"Betul, Ki Sanak. Saya hendak bertemu beliau tapi rasanya beliau masih sibuk dan belum selesai, biarkan saya menunggu di serambi saja." jawab Muhibbin pada pemuda yang terlihat seusianya di hadapannya itu.
"Baik Ki Sanak, monggo panjenengan tunggu beliau disini dulu," kini sang santri mengantarkan Muhibbin ke serambi masjid dan setelah itu dia berlalu menuju kedalam masjid kembali meninggalkan Muhibbin.
Hampir setengah jam pemuda itu bersila di serambi sambil mendengarkan bacaan Ratibul Haddad, sesekali dia mengikuti bacaan lantunan puji-pujian itu dan tak selang berapa lama kegiatan itupun selesai dan santri yang tadi menyapanya terlihat menghampirinya kembali.
"Ki Sanak, dawuh mbah kyai panjenengan di suruh langsung ke ndalem, beliau akan segera menyusul, monggo!" lelaki itu mengajak Muhibbin keluar dari masjid dan keduanya menuju kediaman kyai Basori yang tak jauh dari tempat itu.
Santri yang mengantar Muhibbin meninggalkannya setelah sampai di kediaman kyai Basori.
Waktu serasa berlalu dengan lambat, Muhibbin semakin gelisah ingin segera berjumpa dengan keluarganya.
Tiba-tiba lamunan Muhibbin di buyarkan oleh sapaan seseorang yang tak lain kyai Basori sendiri.
"Assalamualaikum, kenapa kau lama sekali tak pulang, le!" sapa lelaki paruh baya itu berwibawa. Melihat sosok di depannya, Muhibbin segera mencium tangan kyai Basori dengan takdzim.
"Waalaikum Salam,"
"Maafkan saya, mbah kyai!" serasa lidahnya kelu dan suara pemuda itu tercekat di hadapan gurunya.
"Kau seharusnya sesekali pulang dan menengok keluargamu, bukan hanya berkabar melalui surat!" tegur sang kyai.
"Bukan padaku, kau minta maaf! tapi lebih tepat kau harus meminta maaf pada ibumu. Ridho Allah itu ridhonya orang tua, khususnya ibumu!" ujar kyai Basori kembali.
Muhibbin hanya bisa tertunduk mendengar perkataan gurunya, wajahnya ditekuk semakin dalam tak berani menatap pria paruh baya di hadapannya.
"Ayo, sebaiknya kau segera temui ibumu!" seru kyai Basori mengajak Muhibbin ke arah keputren yang berada di samping kediamannya.
Para santri di pesantren Al Amin ditempatkan di wilayah yang berbeda, untuk santri pria di tempatkan disebuah bangunan yang berdekatan dengan masjid , sedangkan untuk santri wanita berada di samping kediaman kyai Basori yang dikenal dengan sebutan keputren.
__ADS_1
Kedua orang itu melangkah menuju bangunan memanjang di samping kediaman sang kyai, sesampainya di tepat itu keduanya disambut oleh seorang wanita dan saat melihat kedatangan keduanya, sang wanita bergegas berlari memeluk Muhibbin.
"Apa benar ini kamu, le?" isak wanita itu sambil meluk Muhibbin.Wanita itu tak lain adalah Cahaya.
"Mbak yu!" suara Muhibbin tercekat sambil sesenggukan di hadapan kakak perempunnya itu.
Kyai Basori yang melihat keduanya tersenyum tipis, lelaki paruh baya itupun berkata pada seorang gadis kecil yang sedari tadi mematung di samping Cahaya.
"Raya, ayo sapa dan salim pada pak lik mu, Nduk!" seru kyai Basori pada gadis kecil yang tak lain adalah Raya Suci. Gadis itu dengan malu dan perasaan canggung mendekat dan mencium tangan Muhibbin.
"Pak Lik!" ujar gadis kecil itu.
"Raya!" seru Muhibbin memeluk dan mencium pipi keponakannya,
"Kau sudah besar, Nduk!" ujarnya kembali. Ya, ketika itu Raya suci masih berusia sembilan bulan saat Muhibbin memutuskan dan berpamitan untuk merantau ke Negeri Pantai dan kini Raya Suci tumbuh layaknya gadis kecil yang manis setelah sepuluh tahun tak bertemu dengannya.
"Dimana emak, mbak yu?" tanya Muhibbin pada Cahaya setelah puas melepas rindunya pada kakak dan keponakannya.
"Emak ada di dalam kamar, Bin!" jawab Cahaya pada adik lelakinya.
"Ayo kita temui emak!" imbuhnya kembali.
"Monggo, mbah kyai!" Cahaya juga mempersilahkan kyai Basori untuk melihat keadaan Suratmi yang masih terbaring di dalam kamar.
Mereka semua bergegas memasuki salah satu kamar yang ada di bangunan utama keputren.
"Assalamualaikum, mbak yu!" sapa kyai Basori pada Suratmi setelah berada di dalam ruangan.
"Waalaikum Salam!" jawab perempuan renta itu lirih, terlihat di kepalanya masih di ikat oleh sehelai kain.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, mbak yu?" tanya kyai Basori pada Suratmi.
"Masih agak pusing, dik! tapi gak kayak kemarin, sekarang sudah agak mendingan." jawab Suratmi lirih.
"Syukur Alhamdulillah, mbak yu!"
"Mbak yu, coba lihat siapa yang datang? sini mendekat, le!" ujar kyai Basori pada Muhibbin.
Pemuda itu beringsut mendekati Suratmi yang terbaring lemah di atas balai bambu yang hanya beralaskan tikar.
"Emak!" ujar Muhibbin tersedu, dipeluk dan diciumnya wanita tua yang tergeletak di depannya.
"Kau kah ini, le? oh, cah bagus!" isak Suratmi mendekap erat yang mendapati putra bungsunya setelah sekian lama tak pernah pulang.
__ADS_1
"Nggih mak, ini aku mak! jawab Muhibbin terbata-bata.
"Mengapa sampai terjadi seperti ini, mak?"
"Siapa yang tega melakukan ini,mak?" tanya pemuda itu pada ibunya.
Wanita tua itu hanya menggeleng, air matanya mengalir membasahi kulit pipinya yg mulai keriput. Kyai Basori, Cahaya dan Raya Suci hanya terdiam melihat anak beranak didepannya melepas rindu.
"Ini semua terjadi karena gerombolan suruhan orang tak di kenal itu, Bin!"
"Entah suruhan siapa mereka? tiba-tiba mereka datang ke rumah memaksa emak dan aku menyerahkan batu Sulaiman Madu itu walaupun awalnya kami di iming-imingi dengan uang yang banyak." jawab Cahaya pada adiknya.
Wanita itu menceritakan detil semua yang terjadi beberapa hari yang lalu dan tentang batu Sulaiman Madu sehingga membuat ibu Suratmi terluka akibat di dorong dan di aniaya salah seorang gerombolan itu, terlihat kegeraman di wajah Muhibbin setelah mendengar penuturan kakaknya.
"Kurang ajar, aku tak terima kalian di perlakukan seperti ini! akan ku cari mereka sampai dapat!" ujar Muhibbin.
"Yang jelas mereka orang-orang terlatih, le!"
"Dan aku sempat melukai salah satu dari mereka." kini kyai Basori ikut angkat suara.
"Dari penuturan ibu dan kakakmu, ciri-ciri kelima penyerang itu dan salah satu benda yang sempat aku rampas dari mereka yang aku hadapi mengarah pada suruhan orang penting di Kerajaan Zamrud, entah dari keluarga yang mana?" tutur kyai Basori sambil menunjukkan sebuah sobekan kain berlogo kepala garuda yang dirajut dengan benang merah.
Muhibbin melihat dengan seksama sobekan kain di tangan gurunya itu dan berkata, "Bolehkah saya menyimpannya, mbah kyai? tanyanya lirih menahan kegeraman.
" Simpanlah, mungkin suatu saat kamu akan mendapatkan petunjuk dari sobekan kain itu."
"Cuma ingat pesanku, kamu mulai sekarang harus lebih berhati-hati dan batu Sulaiman Madu itu kamu jaga baik-baik." pungkas kyai Basori pada Muhibbin.
Muhibbin mengangguk pelan dengan sorot mata tajam sambil merogoh sesuatu di balik pakaiannya.
"Insya Allah cincin ini akan saya jaga baik-baik, mbah kyai." ujar Muhibbin sambil menunjukkan sebuah cincin bermata batu Sulaiman Madu yang disimpannya di balik bajunya.
---------------
*Dawuh : perintah, perkataan
*Pulau Jelai disebut juga Yawadwipa atau pulau penghasil padi.
*Ratibul Haddad : bacaan dzikir kepada Allah SWT yang di karang oleh Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad. dilahirkan pada tanggal 5 Shafar 1044 H, di pinggiran kota Tarim. Amalan ini biasa dilakukan oleh kaum aswaja.
*Ndalem: kediaman priyayi, kyai ataupun sebutan untuk rumah orang yang sangat dihormati di daerah jawa khususnya jawa timur
*Keputren : sebutan bagi asrama santri wanita yang sering di jumpai pada pesantren-pesantren di tanah jawa
__ADS_1