KAHANAN

KAHANAN
CH 60 - PERTUNANGAN PART IV


__ADS_3

Balian tua meninggalkan Muhibbin seorang diri di balai dangin, pemuda itu masih tenggelam dalam lamunannya. Apa yang diceritakan Balian tua padanya sangat membekas dan mengejutkan dirinya. Dinasti Garuda Emas ternyata di balik semua penyerangan yang dilakukan terhadap keluarganya, ada rasa kebencian dan amarah di dada pemuda itu. Sesekali tangannya mengepal dan tatapan matanya jauh menerawang menembus pekatnya malam.


"Apakah ini ada kaitannya dengan Sariwati?" gumam Muhibbin dalam hati. Dia teringat pengakuan Sariwati ketika pertemuannya kembali dengan gadis itu setelah kejadian penyerangan di desa Manguntur yang dilakukan oleh gerombolan juragan Yanto yang tak lain ipar Sariwati saat berada di surau An Nur beberapa bulan lalu. Kekasihnya bercerita tentang latar belakang kehidupannya dan dari mana dia berasal hingga sampai berada di Negeri Pantai.


"Apakah mereka suruhan juragan Yanto yang dendam padaku  karena semua kedok kejahatannya di Negeri Pantai terbongkar?"


"Tapi bagaiamana mereka tau asal usulku dan  keberadaan keluargaku?" rentetan pertanyaan berkecamuk dalam benak Muhibbin, pemuda itu semakin gelisah dengan apa yang baru saja diketahuinya dari Balian tua. Dia mencoba mengait-ngaitkan semua kejadian yang dilaluinya selama mengenal Sariwati.


"Apakah Sariwati mengetahui rencana ini? tapi mengapa dia tak lansung saja meminta cincin Sulaiman Madu itu padaku jika memang benda itu sangat berarti untuk keluarga besarnya?"


"Toh juga cincin itu pada akhirnya akan ku serahkan padanya sebagaimana amanah Emak waktu itu padaku."


"Sungguh tak ku sangka," Muhibbin semakin gundah dengan berbagai pertanyaan yang menggelayuti alam pikirannya, tangannya mengambil surban yang selalu melingkar dan tak pernah lepas dari lehernya. Di pandanginya kain tenun berwarna hijau dengan rajutan benang emas di pinggirannya yang merupakan hadiah pemberian kekasihnya itu, diremasnya kuat-kuat surban di tangannya itu seolah-olah melampiaskan rasa kekesalannya.


Angin semakin dingin menusuk tulang dan suasana banjar Gelumpang semakin temaram malam itu.


***


Sementara di Villa Sandat banjar Manguntur malam itu terlihat sepi, hanya suara-suara binatang malam yang tak bosan-bosan bersahutan menghiasi pekatnya hari. Sariwati berbaring di di atas sofa ruangan tengah bangunan itu seorang diri. Sejak kepulangannya dari kedai tepi sawah menemani ayahnya makan malam bersama koleganya dari Negeri Tidar sore tadi membuatnya merasa tak nyaman. Gadis jelita itu sesekali mengerjapkan matanya yang tak dapat dipejamkan, Masih teringat dibenaknya tatapan mata liar tak senonoh dari putra kolega ayahnya itu. Ada rasa kesal dalam hatinya tatkala berjabat tangan dengan putra tuan Haryo yang seolah-olah memiliki tujuan tak baik padanya.


Dara ayu itu menghela nafas dalam-dalam, namun tiba-tiba rasa mual menghampirinya. Dia segera beranjak menuju kamar mandi yang tak jauh dari ruangan tengah Villa Sandat kediamannya itu.


"Huek"


"Huek"


Entah sudah berapa kali dan tak terhitung gadis itu mondar-mandir ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan muntahan akibat rasa mual yang sering dialaminya beberapa hari ini. Wajahnya yang putih semakin pucat pasi dan tubuhnya terasa lemas yang di iringi rasa berat di kepalanya. Di rebahkan kembali tubuhnya di atas sofa yang ada di rungan tengah bangunan itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku?"


"Apakah benar aku hamil? gumam gadis itu, terlihat matanya meremang sembab dan tetesan air mata membasahi pipinya.


"Bin, kemana kau kau sayang?"


"Kapan kau akan kembali?"


"Aku merindukanmu, Bin." gumamnya dalam hati.


Matanya tertuju pada sebuah tulisan dihadapannya, di pungutnya secarik kertas dari tumpukan beberapa kertas yang ada di atas meja, sejak sedari tadi sepulang dari kedai tepi sawah tak henti-hentinya dibacanya lembar demi lembar tulisan di kertas putih itu, puisi-puisi yang di tulis oleh Muhibbin lah yang menjadi temannya dalam kesepian  penantian dan kerinduan pada kekasih hatinya.


'Cinta itu laksana angin


Engkau tidak mampu melihat


Tapi engkau mampu merasakannya


Tapi kau tak akan pernah menemukan hati seperti hatiku dalam mencintaimu


Jangan tanya mengapa ku mencintaimu


Sebab aku tak punya pilihan, Kekasih


Dalam kerinduanku tiadalah obatnya


Dan engkaulah satu-satunya penyembuhnya

__ADS_1


Aku bukan tak kangen, Kekasih


Tapi telah lama rasa itu ku tenggelamkan di laut air mataku


Agak lekas kau berlayar menujuku


Dalam jeda antara tiada dan hadirmu


Ada yang retak yang tak akan kembali seperti semula


Patah sebelum pernah adalah aku


Yang fana adalah waktu kita abadi'


Muhibbin Sang Pecinta


 


Derai air mata Sariwati semakin menjadi, gadis itu sesenggukan menahan perih dihatinya, ada rasa rindu yang membuncah  menelusup dalam ruang batinnya tatkala membaca tulisan sang kekasih, di tangkupnya wajah ovalnya dalam keheningan hari di Villa sandat yang semakin temaram.


Dia teringat bagaimana awal mula pertemuannya dengan Muhibbin dan bagaimana rasa cinta pemuda itu padanya.


Kenangan-kenangan selama di surau An Nur dan semua peristiwa yang dilaluinya dengan pemuda itu seolah bagaikan gambar bergerak yang hadir dalam imaginasi dan bayangan yang semakin terlihat jelas di pelupuk matanya.


"Mengenalmu adalah takdir terindahku, Bin."


"Walau kadang kehadiranmu tak hangat, namun di situlah letak keindahanmu." gumam Sariwati sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


Di letakkannya kembali kertas yang ada di tangannya di atas meja bersama rasa  jiwanya yang mengembara.


------------------------------------------------------


__ADS_2