
Balian tua meninggalkan Muhibbin seorang diri di balai dangin, pemuda itu masih tenggelam dalam lamunannya. Apa yang diceritakan Balian tua padanya sangat membekas dan mengejutkan dirinya. Dinasti Garuda Emas ternyata di balik semua penyerangan yang dilakukan terhadap keluarganya, ada rasa kebencian dan amarah di dada pemuda itu. Sesekali tangannya mengepal dan tatapan matanya jauh menerawang menembus pekatnya malam.
"Apakah ini ada kaitannya dengan Sariwati?" gumam Muhibbin dalam hati. Dia teringat pengakuan Sariwati ketika pertemuannya kembali dengan gadis itu setelah kejadian penyerangan di desa Manguntur yang dilakukan oleh gerombolan juragan Yanto yang tak lain ipar Sariwati saat berada di surau An Nur beberapa bulan lalu. Kekasihnya bercerita tentang latar belakang kehidupannya dan dari mana dia berasal hingga sampai berada di Negeri Pantai.
"Apakah mereka suruhan juragan Yanto yang dendam padaku karena semua kedok kejahatannya di Negeri Pantai terbongkar?"
"Tapi bagaiamana mereka tau asal usulku dan keberadaan keluargaku?" rentetan pertanyaan berkecamuk dalam benak Muhibbin, pemuda itu semakin gelisah dengan apa yang baru saja diketahuinya dari Balian tua. Dia mencoba mengait-ngaitkan semua kejadian yang dilaluinya selama mengenal Sariwati.
"Apakah Sariwati mengetahui rencana ini? tapi mengapa dia tak lansung saja meminta cincin Sulaiman Madu itu padaku jika memang benda itu sangat berarti untuk keluarga besarnya?"
"Toh juga cincin itu pada akhirnya akan ku serahkan padanya sebagaimana amanah Emak waktu itu padaku."
"Sungguh tak ku sangka," Muhibbin semakin gundah dengan berbagai pertanyaan yang menggelayuti alam pikirannya, tangannya mengambil surban yang selalu melingkar dan tak pernah lepas dari lehernya. Di pandanginya kain tenun berwarna hijau dengan rajutan benang emas di pinggirannya yang merupakan hadiah pemberian kekasihnya itu, diremasnya kuat-kuat surban di tangannya itu seolah-olah melampiaskan rasa kekesalannya.
Angin semakin dingin menusuk tulang dan suasana banjar Gelumpang semakin temaram malam itu.
***
Sementara di Villa Sandat banjar Manguntur malam itu terlihat sepi, hanya suara-suara binatang malam yang tak bosan-bosan bersahutan menghiasi pekatnya hari. Sariwati berbaring di di atas sofa ruangan tengah bangunan itu seorang diri. Sejak kepulangannya dari kedai tepi sawah menemani ayahnya makan malam bersama koleganya dari Negeri Tidar sore tadi membuatnya merasa tak nyaman. Gadis jelita itu sesekali mengerjapkan matanya yang tak dapat dipejamkan, Masih teringat dibenaknya tatapan mata liar tak senonoh dari putra kolega ayahnya itu. Ada rasa kesal dalam hatinya tatkala berjabat tangan dengan putra tuan Haryo yang seolah-olah memiliki tujuan tak baik padanya.
Dara ayu itu menghela nafas dalam-dalam, namun tiba-tiba rasa mual menghampirinya. Dia segera beranjak menuju kamar mandi yang tak jauh dari ruangan tengah Villa Sandat kediamannya itu.
"Huek"
"Huek"
Entah sudah berapa kali dan tak terhitung gadis itu mondar-mandir ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan muntahan akibat rasa mual yang sering dialaminya beberapa hari ini. Wajahnya yang putih semakin pucat pasi dan tubuhnya terasa lemas yang di iringi rasa berat di kepalanya. Di rebahkan kembali tubuhnya di atas sofa yang ada di rungan tengah bangunan itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada diriku?"
"Apakah benar aku hamil? gumam gadis itu, terlihat matanya meremang sembab dan tetesan air mata membasahi pipinya.
"Bin, kemana kau kau sayang?"
"Kapan kau akan kembali?"
"Aku merindukanmu, Bin." gumamnya dalam hati.
Matanya tertuju pada sebuah tulisan dihadapannya, di pungutnya secarik kertas dari tumpukan beberapa kertas yang ada di atas meja, sejak sedari tadi sepulang dari kedai tepi sawah tak henti-hentinya dibacanya lembar demi lembar tulisan di kertas putih itu, puisi-puisi yang di tulis oleh Muhibbin lah yang menjadi temannya dalam kesepian penantian dan kerinduan pada kekasih hatinya.
'Cinta itu laksana angin
Engkau tidak mampu melihat
Tapi engkau mampu merasakannya
Tapi kau tak akan pernah menemukan hati seperti hatiku dalam mencintaimu
Jangan tanya mengapa ku mencintaimu
Sebab aku tak punya pilihan, Kekasih
Dalam kerinduanku tiadalah obatnya
Dan engkaulah satu-satunya penyembuhnya
__ADS_1
Aku bukan tak kangen, Kekasih
Tapi telah lama rasa itu ku tenggelamkan di laut air mataku
Agak lekas kau berlayar menujuku
Dalam jeda antara tiada dan hadirmu
Ada yang retak yang tak akan kembali seperti semula
Patah sebelum pernah adalah aku
Yang fana adalah waktu kita abadi'
Muhibbin Sang Pecinta
Derai air mata Sariwati semakin menjadi, gadis itu sesenggukan menahan perih dihatinya, ada rasa rindu yang membuncah menelusup dalam ruang batinnya tatkala membaca tulisan sang kekasih, di tangkupnya wajah ovalnya dalam keheningan hari di Villa sandat yang semakin temaram.
Dia teringat bagaimana awal mula pertemuannya dengan Muhibbin dan bagaimana rasa cinta pemuda itu padanya.
Kenangan-kenangan selama di surau An Nur dan semua peristiwa yang dilaluinya dengan pemuda itu seolah bagaikan gambar bergerak yang hadir dalam imaginasi dan bayangan yang semakin terlihat jelas di pelupuk matanya.
"Mengenalmu adalah takdir terindahku, Bin."
"Walau kadang kehadiranmu tak hangat, namun di situlah letak keindahanmu." gumam Sariwati sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
Di letakkannya kembali kertas yang ada di tangannya di atas meja bersama rasa jiwanya yang mengembara.
------------------------------------------------------