
Hari menjelang fajar namun temaramnya suasana masih menyisakan gelap gulita di cakrawala.
Di Surau An Nur, seorang pemuda masih terduduk diantara dua pusara yang masih basah memerah, pemuda itu tak lain adalah Muhibbin yang sejak di kebumikan tubuh Cahaya sang kakak, tak beranjak dari tempatnya berada.
Guyuran hujan tak dihiraukannya, tubuh kurus berbalut pakaian putih kecoklatan akibat noda lumpur dan air hujan masih diam tak bergeming, matanya sembab meratapi kedua orang yang sangat dicintainya berakhir pilu di tanah perantauan dengan menyisakan bara dendam dalam hatinya.
Sunyinya bukit dimana surau An Nur berada semakin membuat suasana sendu alam raya yang hanya sesekali terdengar suara binatang malam saling bersahutan.
Bintang kejora yang biasanya nampak anggun di ufuk barat kini tak terlihat, tertutup di balik gelayutnya mega menghitam. Dua hari yang teramat berat dirasakan sang pemuda dari Negeri Batu Ular itu, sebagian keluarganya meregang nyawa, menyisakan adik angkat dan keponakannya yang sedang bertarung dengan sang maut yang setiap saat dapat merenggutnya.
Tiba- tiba derap langkah beberapa orang terdengar memecah keheningan suasana di balik sengker surau An Nur, seseorang terlihat mendekat ke arah Muhibbin yang tak hirau dengan kedatangan orang-orang disekitarnya.
"Selamat malam, saudara Muhibbin!" sapa salah seorang dari beberapa orang yang datang menghampirinya.
Wajah kuyu Muhibbin tengadah dan menoleh ke arah datangnya suara, dilihatnya orang-orang yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong,
"Tuan Prawira Utama?" gumam Muhibbin mengenali orang yang baru saja menyapanya.
Lelaki yang tak lain komandan para Bhayangkara itu beringsut mendekat,
"Saya turut berduka dengan kejadian yang andika alami." ujar Cokro, Prawira Utama Bhayangkara Negeri Pantai pada pemuda yang masih duduk bersimpuh di depannya.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Prawira Utama jongkok disebelah Muhibbin yang masih bersimpuh, di helanya nafas dalam-dalam dan berkata,
"Saya tau saat ini bukan waktu yang tepat,"
"Namun saya harus menjalankan tugas untuk membawa andika ke hadapan tuan gubernur untuk dimintai keterangan seputar semua kejadian ini dan yang utama tentang menghilangnya Ni Mas Sariwati dari kediaman tuan gubernur."
"Saya harap kerjasamanya dari andika, karena andika adalah orang terdekat yang selama ini sering berhubungan dengan Ni Mas Sariwati." ujar Prawira Utama pada Muhibbin disampingnya.
"Apa yang hendak tuan ketahui dari semua yang terjadi ini?"
"Bukankah jelas penuturan adik saya saat siuman dari pingsannya, bahwa ini semua dilakukan oleh para Bhayangkara?" jawab Muhibbin bergetar, tatapannya sinis penuh kemarahan yang tertahan mengarah pada Cokro sang Prawira Utama Bhayangkara.
Prawira Utama Bhayangkara terlihat kurang suka dengan jawaban Muhibbin. Wajah tenang lelaki itu berubah,
__ADS_1
"Saya sudah jelaskan saat di balai banjar Manguntur, bahwa kami para Bhayangkara tak tau menahu ataupun terlibat dengan insiden ini."
"Dan saya akan melakukan penyelidikan menyeluruh tentang semua ini." ujar Prawira Utama Bhayangkara pada Muhibbin kembali.
"Hem, apa yang tak bisa dilakukan oleh orang-orang di lingkaran kekuasaan seperti kalian pada kami rakyat jelata ini."
"Kalian melihat kami laksana butiran debu yang bisa disingkirkan hanya dengan jentikan jari kalian."
"Nyawa kami bagi kalian ibarat mainan yang jika sudah tak diperlukan bisa disingkirkan dengan begitu mudahnya." ujar Muhibbin menahan kegeramannya.
"Jaga bicaramu, wahai Pemuda!"
"Kami para Bhayangkara disumpah untuk menegakkan keadilan dan melindungi setiap warga masyarakat."
"Kami tak pernah dan tak akan pernah menggadaikan kehormatan dan janji setia kami pada negara walaupun itu untuk penguasa."
"Kesetiaan kami hanya pada bumi pertiwi ini dan pada seluruh rakyat kerajaan Zamrud."
"Jadi tarik kata-kata mu dan jernihkan pikiranmu!" seru Prawira Utama dengan tegas pada Muhibbin.
"Saya tak akan menarik perkataan saya, sebelum pelaku kebiadaban ini ditemukan dan kalian para Bhayangkara bisa membuktikan bahwa kalian tak terlibat." seru Muhibbin dengan suara sedikit meninggi.
"Jangan lampaui batasanmu, Pemuda!" kini Prawira Utama Bhayangkara berdiri, tatapan kemarahan lekat memandang pemuda kurus di depannya.
"Apa saya tak boleh mengatakan penilaian saya pada kalian?"
"Atau kalian juga ingin menyingkirkan saya seperti yang kalian lakukan pada keluarga saya! " Muhibbin ikut bangkit dari tempatnya bersimpuh, kini kemarahannya tak bisa ditahan lagi.
"Kurang ajar!"
"Beraninya kau merendahkan pasukan Bhayangkara!" Prawira Utama mulai tersulut emosinya, lelaki itu hendak mencengkrang lengan Muhibbin namun pemuda itu mengibaskan lengannya menghindar dari cengkraman pimpinan Bhayangkara tersebut.
Melihat reaksi Muhibbin, para anggota Bhayangkara lainnya merangsek hendak meringkus pemuda itu, Muhibbin yang menyadari dirinya di sudutkan segera melompat dan menjauh menuju halaman surau An Nur.
Para Bhayangkara mengejar pemuda itu dan mengepungnya, salah seorang maju menerjang ke arah Muhibbin namun pemuda itu dengan mudah menghindari serangan salah seorang anggota Bhayangkara itu.
__ADS_1
Perkelahian pun tak terelakkan, beberapa anggota Bhayangkara menyerang Muhibbin bersamaan, dengan trengginas Muhibbin memberi perlawanan, beberapa pukulan dan tendangannya mendarat di tubuh para penyerangnya. Para Bhayangkara yang lain semakin membabi buta melihat rekan-rekannya tersungkur jatuh oleh serangan pemuda kurus itu, mereka menyerang Muhibbin dengan senjata tajam yang di bawanya.
Semua serangan para Bhayangkara kembali mudah dihindari oleh Muhibbin, pemuda itu semakin menggila memberi perlawanan pada para Bhayangkara, kemarahannya yang disebabkan kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya seolah-olah menambah tenaga dan keberaniannya dalam mengimbangi kepungan dan serangan para anggota Bhayangkara. Gerakannya semakin lincah dan cepat dengan pukulan serta tendangan yang mendarat telak pada para Bhayangkara yang membuat satu persatu penyerangnya tak sadarkan diri.
Melihat anak buahnya kewalahan melawan Muhibbin, Prawira Utama melompat turun gelanggang dan menerjang Muhibbin. Lelaki itu menyerang Muhibbin dengan cepat, pukulan serta tendangannya mengarah tajam namun pemuda itu masih bisa menghindari serangan dari Prawira Utama.
Perkelahian tangan kosong terjadi antara Muhibbin dan Prawira Utama, saling tukar menukar serangan diperlihatkan keduanya namun tak satupun pukulan maupun tendangan mengenai sasaran diantara keduanya.
Para anggota Bhayangkara yang masih bertahan membuat lingkaran mengelilingi Muhibbin dan Prawira Utama, sementara sebagian menolong rekan-rekannya yang tergeletak tak sadarkan diri akibat serangan Muhibbin, mereka tetap waspada mengamati pertarungan pimpinannya dengan pemuda dari Negeri Batu Ular itu.
Beberapa anggota Bhayangkara merangsek maju hendak membantu pimpinannya namun dengan tatapan tajam, Prawira Utama memerintahkan anak buahnya untuk mundur.
Kembali perkelahian terjadi dan dalam hati Prawira Utama mengakui perlawanan Muhibbin mulai merepotkan dirinya.
"Kurang ajar, ternyata anak ini terampil juga dalam ilmu beladiri."
"Aku harus segera meringkusnya, kalau tidak, anak ini akan makin merepotkan." gumam Prawira Utama dalam hati. Lelaki itu mengubah serangannya dengan sedikit menarik kuda-kudanya dan tangan kiri mengepal di samping pinggangnya serta tangan kanan menyilang didepan dada, gerakan-gerakan ini yang lazim di pelajari oleh beberapa pasukan khusus Bhayangkara maupun Darmayudha.
Muhibbin pun tak kalah waspadanya, pemuda itupun juga melakukan perubahan gerakan, di helanya udara perlahan dan menghimpunnya di pusar, panca inderanya ditutup dengan mengosongkan pikirannya dan hanya mengandalkan serta mengikuti insting dari gerak tubuhnya. Tangan kanannya pun menyilang didepan dada dan tangan kiri mengepal disamping dengan kuda-kuda sedikit rendah.
Keduanya bersamaan melompat saling mengarahkan pukulannya, sapuan kaki menyusur tanah pun dilakukan, para anggota Bhayangkara yang menyaksikan pimpinannya dan pemuda kurus itu saling bertukar serangan tak kalah antusiasnya, karena ini pertama kalinya mereka melihat pimpinannya yaitu Prawira Utama Bhayangkara bertarung.
Gerakan keduanya terlihat sama, beberapa jurus kembali di perlihatkan hingga ketika pukulan Prawira Utama dan Muhibbin sama-sama mendarat di dada masing-masing dan erangan kesakitan pun terdengar.
Keduanya terdorong kebelakang dan terbatuk akibat pukulan yang sama-sama mendarat telak dengan mulut mengeluarkan darah segar.
"Sialan, darimana anak itu belajar menggunakan jurus para Pradabasu?" gumam Prawira Utama menahan sakit didadanya sebelum lelaki itu rebah tak sadarkan diri.
Muhibbin yang juga terhuyung akibat pukulan Prawira Utama jatuh terduduk, pemuda itu mendekap dadanya yang terasa nyeri sambil terbatuk dan darah segar merembes dari bibirnya.
"Tuan Prawira Utama juga menguasai gerakan seperti yang di ajarkan Mbah Kyai Basori padaku?" ujar Muhibbin lirih sebelum pandangannya mulai kabur dan tubuhnya pun ambruk ke tanah dan pingsan.
Para anggot Bhayangkara yang menyaksikan akhir perkelahian itu terlihat panik dan segera membopong tubuh pimpinannya yang tak sadarkan diri, sedangkan sebagian yang lain mengelandang tubuh Muhibbin dengan keadaan yang sama dan membawa keduanya pergi dari surau An Nur menuju kota Negeri Pantai.
*****
__ADS_1