
Ditempat lain dibelahan barat kerajaan Zamrud tepatnya Negeri Banjir.
Seorang penjaga bergegas memasuki sebuah bangunan megah.
"Lapor Ni Mas, Martin ingin menghadap Ni Mas." salah seorang penjaga pavilliun Kamboja menjura pada seorang wanita ayu berpenampilan ningrat yang sedang duduk di sofa mewah menikmati minuman anggur ditangannya.
"Suruh dia masuk dan jika ada orang lain akan menemui ku, katakan pada siapapun aku tak menerima tamu!" jawab wanita bangsawan itu lugas.
Penjaga itupun berlalu dari hadapan perempuan cantik yang ditemuinya.
Pavilliun Kamboja adalah bangunan milik keluarga besar tuan Bendowo dan wanita ningrat itu tak lain putri sulung sang penguasa dinasti Garuda Emas, Habsari Bonawati.
"Mohon maaf Ni Mas, kedatanganku mengganggu istirahat yang mulya." ucap lelaki berwajah garang yang baru saja datang itu menjura.
"Masuklah, tak perlu lagi kau basa basi!"
ujar Habsari pada lelaki di hadapannya.
"Informasi apa yang kamu dapatkan selama penyelidikan mu, Martin?" ujar Habsari tanpa ekspresi.
Lelaki yang di panggil Martin itupun bersimpuh dan menangkupkan kedua telapak tangannya di hadapan sang majikan.
"Bagaimana perkembangan tugas yang aku berikan?" imbuh Habsari pada Martin.
"Siap Ni Mas, Saya sudah dapatkan posisi keberadaan Ni Mas Sariwati dan tentang keberadaan Kotak Giok Hujan beserta pemilik Batu Sulaiman Madu." jawab Martin.
Lelaki itu terlihat hormat sekali pada Habsari.
"Ni Mas Sariwati sekarang berada di belahan timur wilayah kerajaan Zamrud, tepatnya di Negeri Pantai dan tentang kotak yang Ni Mas maksud itu benar berada di tangannya." ujarnya kembali.
"Bagus, teruskan!" ujar Habsari.
__ADS_1
"posisi Ni Mas Sariwati sekarang berada di kediaman tuan gubernur Timoti,"
" Setahun yang lalu Negeri Pantai mengalami penyerangan yang dilakukan oleh para mantan Darmayudha di bawah pimpinan tuan Setyanto, ipar Ni Mas."
"Namun penyerangan itu dapat digagalkan oleh pasukan Bhayangkara gubernuran dibantu oleh Pecalang setempat dan yang terpenting adalah peran seorang pemuda penjaga Surau serta Ni Mas Sariwati yang dapat menggagalkan aksi tuan Setyanto."
"Tuan Setyanto sendiri terluka parah akibat perkelahian dengan pemuda itu dan bisnis pengiriman ikan yang masih dalam jaringan bisnis keluaga Garuda Emas terhenti akibat kejadian itu." kata Martin menjelaskan.
"Ternyata paman Timoti melindungi anak sialan itu!" rahang wanita itu gemeretak dan wajah Habsari terlihat memerah.
"Pantas saja, Papi pernah bilang bahwa pengiriman ikan dari negeri timur terhenti dan bisnis ikan segar dan lobster menurun drastis, jadi ini penyebabnya."
"Lanjutkan, Martin!" kata Habsari.
"Sekarang tuan Setyanto menjadi buronan kerajaan Zamrud dan informasi yang saya dapatkan, Dia berada di Negeri Tidar dan melakukan perawatan atas luka-lukanya di sana." ujar Martin kembali.
Terlihat perempuan ayu itu mendengus kesal.
"Untuk masalah Setyanto kita abaikan dulu, nanti ada saatnya aku akan beri pelajaran pada cecunguk tak tau malu itu!" Habsari berdiri dari tempat duduknya.
"Lalu ada kabar baik apa lagi tentang Giok Hujan dan Batu Sulaiman Madu itu?" ujar wanita itu kembali sambil menuangkan segelas anggur merah dan di teguknya.
"Mengenai kotak Giok Hujan itu memang benar berada di tangan Ni Mas Sariwati dan kotak itu pula yang menyelamatkan dirinya dari serangan anak buah Setyanto."
"Sedangkan tentang Batu Sulaiman Madu itu, Saya dan anak buah saya menelusurinya hingga ke Negeri Garam. Keberadaan Batu itu awalnya berada ditangan keluarga Asta Tenggih dinasti Cakraningrat namun sejak empat dekade batu itu diwariskan pada salah satu keturunannya yang menjadi pemuka agama di Negeri Patria dan setelah itu berpindah tangan ke adik perempuannya yang berada di Negeri Batu Ular sekarang ini, Ni Mas." jelas Martin pada Habsari.
Wajah Habsari masih memerah, jari jemarinya yang lentik di ketukkannya pada gelas berisi anggur di tangan kirinya.
"Bagus, pastikan pergerakan kita tak diketahui boleh siapapun, terutama papi."
"Karena aku tau bagaimana tabiat papi jika sudah berkaitan dengan Sariwati."
__ADS_1
"Siapkan segala sesuatunya untuk merebut batu itu. Kita iming-imingi dengan harta pada pewaris Batu Sulaiman Madu itu namun jika tak berhasil, lakukan segala cara kalau perlu rebut paksa supaya benda itu jatuh ketangan ku." terlihat Habsari tersenyum licik.
"Lalu siapa pemuda yang menggagalkan aksi Setyanto yang kau maksud itu dan apa hubungannya dengan adik ku Sariwati, Martin?" tanya Habsari.
Martin beringsut sambil menangkupkan tangannya kembali.
"Pemuda itu bernama Muhibbin, nama lengkapnya Rahmat Muhibbin anak angkat salah seorang kepala desa di Negeri Pantai. Pemuda itu teman Ni Mas Sariwati,"
"Dialah yang menolong Ni Mas Sariwati pertama kali di Negeri Pantai dan menampungnya di sebuah Surau kecil di dekat sebuah pantai." jawab Martin.
"Lalu bagaimana latar belakang pemuda yang kau sebut itu?" kini Habsari melangkah mendekati jendela ruangan Paviliun Kamboja.
Dari sorot matanya ada rasa ketidak sukaan atas informasi yang disampaikan Martin mengenai hubungan Muhibbin sang penjaga Surau dengan Sariwati adiknya.
"Lelaki itu bukan penduduk asli Negeri Pantai, kebetulan sekali dia berasal dari Negeri Batu Ular dimana tempat pewaris terakhir Batu Sulaiman Madu itu berada."
"Dia memiliki lima orang saudara namun di rumah pokoknya hanya ada ibunya yang sudah buta bersama kakak perempuannya yang masih melajang serta perempuan kecil berusia sembilan tahun yang menjadi tanggungannya selama ini." jawab Martin menjelaskan semua hasil penyelidikannya.
Habsari menoleh ke arah Martin, sorot matanya tajam menyiratkan kebengisan yang terpendam.
"Bagaimana bisa seorang Sariwati anak dari pewaris dinasti Garuda Emas yang terpandang bergaul dengan orang pinggiran semacam itu?" kini wajah ketidak sukaan wanita itu tampak sekali.Wajahnya yang ayu semakin dingin.
"Masalah pemuda penjaga Surau itu, Aku ingin melihatnya secara langsung."
"Kau bereskan semua seperti yang ku perintahkan tadi! ingat, hal ini harus bersih. Aku tak ingin semua rencanaku gagal gara-gara kesalahan kecil."
"Aku akan berkunjung ke Negeri Pantai dalam waktu dekat ini, siapkan semua keperluan ku!" pungkas Habsari sambil melemparkan tiga bendel uang pada Martin.
Lelaki itu mengambil uang di depannya dan menjura pergi dari hadapan majikannya.
***
__ADS_1