KAHANAN

KAHANAN
CH 22 - KEGADUHAN NEGERI PANTAI PART V ( API DALAM SEKAM )


__ADS_3

"Ayo kita habisi saja wanita jahanam itu," teriak penuh kemarahan para warga yang berbondong-bondong mengikuti langkah pak Nengah menuju Surau.


"Dis, Kamu diam disini dengan Sekar," pinta Muhibbin pada Disya.


"Gak, Aku mau ikut," jawab Disya


"Aku juga ikut Bli," Sekar pun memotong permintaan Muhibbin.


"Tapi disana keadaanya berbahaya, kita tak tau apa yang akan diperbuat warga," kembali Muhibbin meminta pada kedua gadis disampingnya.


"Aku bisa jaga diri Bin, lagian disana ada ayahmu dan para Pecalang yang akan melindungi aku dan Sekar," jawab Disya kembali.


"Baiklah, Aku harap kalian gak jauh-jauh dari ku," pinta Muhibbin mengalah.


Tak berapa lama ketiganya menyusul ratusan warga yang sedang tak terkendali ke arah Surau. Teriakan-teriakan warga dan suara Kulkul Bulus masih terdengar. Kereta angin yang dikendarai Muhibbin dikayuh kencang, Disya yang berada dibelakangnya duduk sambil mempererat pegangan tangannya pada pinggang Muhibbin, tak luput Sekar pun mengikuti dari belakang.


Tak terasa hujan turun malam itu, di kejauhan terlihat ratusan warga bergerak menuju Surau. Semburat cahaya obor yang mereka gunakan bagaikan naga api yang sedang meliuk, teriakan gusar penuh umpatan terdengar hingga ke tempat Muhibbin mengayuh kereta anginnya.


"Sekar, ayo cepat!" teriak Muhibbin pada adiknya.


"Sudah ku bilang jangan ikut, kalian malah memperlambat gerakanku saja," ujar Muhibbin kembali.


"Ah kamu ini banyak omong, kayuh saja kereta anginmu," hardik Disya pada Muhibbin.


Sekar yang mengikutinya dari belakang mendengus kesal.


"Ini gara-gara Bli, terlalu baik pada orang yang baru dikenal," sungut Sekar pada kakaknya.


Ketiganya sudah mulai mendekat ke arah Surau. Masih terlihat kegeraman para warga berkerumun di depan Surau. Warga mengepung tempat itu sambil berteriak penuh umpatan.


"Bakar wanita itu...!"


"Seret saja tubuhnya..!"


"Jangan diberi ampun siluman itu,"

__ADS_1


"BAKAR !"


Teriakan kemarahan para warga dan situasi semakin tidak terkendali.


Muhibbin, Disya dan Sekar menyeruak kerumunan warga menuju kedalam Surau. Dilihatnya pak Nengah dan beberapa tetua Banjar serta para Pecalang menggelandang seorang wanita berkerudung yang masih mengenakan mukena putih ke depan halaman Surau. Terlihat wajah ketakutan wanita itu.


"Bawa dia kemari," ujar pak Nengah meminta para Pecalang membawa wanita itu yang tak lain adalah Sariwati.


"Panggil Muhibbin kemari," lanjut pak Nengah.


Tak berapa lama Muhibbin di dampingi Disya dan Sekar bergegas menghampiri pak Nengah.


"Mendekat sini Gus, Bawa laki-laki pemancing tadi kehadapanku," pinta pak Nengah tegas.


Tak berapa lama sesosok lelaki yang dikenal sebagai pemancing datang bersama para keamanan Banjar.


Para Pecalang dan tetua Banjar bersiaga dengan keris di genggamannya, termasuk pak Nengah.


"Kamu, Apa benar yang kau lihat tadi bahwa wanita ini ngereh disini," tanya pak Nengah pada lelaki pemancing itu.


"Betul Jero Mekel, dia yang tadi saya lihat didepan sini," jawab pemancing itu sambil menunjuk tangannya ke arah Sariwati.


Para Pecalang mengapit tangan Sariwati di kanan kirinya. Terlihat gadis itu menangis dengan wajah tertunduk. Sekilas matanya memandang ke arah pak Nengah dan kerumunan warga dengan tatapan mengiba.


"Gus, Apa kamu tau kalau Wati bisa ilmu pengleakan dan latar belakangnya sebelum kamu ajak mendiami Surau ini?" pak Nengah berkata pada Muhibbin.


"Apa kamu tau jika ilmu itu sangat jahat dan orang-orang disini sangat trauma dengan kejadian lima belas tahun lalu di desa ini?" imbuh pak Nengah.


"Saya tak tau Jik, yang saya tau Wati disini hanya bertugas merawat Surau ini bersama saya," jawab Muhibbin.


"Kesehariannya dia hanya membersihkan Surau dan merawat tanaman, dia juga pernah cerita bahwa Negeri Banjir adalah tempat asalnya.


Imbuh Muhibbin kembali dengan penuh kecemasan akan keselamatan Sariwati.


" Jero Pecalang, Tolong bawakan kemari buntalan yang bisa bercahaya seperti apa yang dikatakan pemancing itu," perintah pak Nengah kembali.

__ADS_1


Tak selang berapa lama ketua keamanan Banjar yang dipanggil Jero Pecalang datang membawa buntalan kain ditangannya.


"Tolong buka buntalan itu, supaya semua yang ada ditempat ini tau apa isi dari buntalan itu," perintah pak Nengah kembali.


Dengan sigap Jero Pecalang membuka buntalan kain itu dan semua mata yang ada ditempat itu memandang lekat tak berkedip.


Terlihat pakaian lusuh dan sebuah kotak hijau kehitaman dari dalam buntalan kain yang dibuka Jero Pecalang.


"Baik, Sekarang kita bawa gadis ini ke Balai Banjar," perintah pak Nengah setelah melihat barang-barang yang ada di buntalan itu


"Jero Pecalang, Segera laporkan kejadian ini ke Bhayangkara gubernuran, Aku tak mau kita dipersalahkan oleh pasukan Bhayangkara maupun tuan Gubernur Timoti," perintah pak Nengah.


Ratusan warga yang mengepung Surau An Nur masih tak terima, mereka menginginkan wanita itu dieksekusi langsung.


"Bunuh saja wanita itu Jero!"


"Ya, Kita bakar saja wanita itu hidup-hidup,"


Teriakan warga pada Jero Pecalang dan pak Nengah. Lemparan batu diarahkan ke tubuh Sariwati oleh para warga, situasi semakin tak terkendali.


"Hentikan, Tenang....Tenang jangan main hakim sendiri, biarkan pihak Bhayangkara yang akan memproses gadis ini," teriak pak Nengah pada para warga.


"Jero Pecalang, Segara bawa gadis ini ke Balai Banjar, biar semua di proses disana!" perintah pak Nengah kembali.


Jero pecalang di bantu anak buahnya menggelandang Sariwati, dari tubuh Sariwati mengucur darah akibat lemparan batu oleh para warga, tangannya terikat tali dan diseret layaknya pesakitan diarak menuju Balai Banjar Manguntur.


Dengan tatapan iba Muhibbin menghampiri Sariwati dan berkata,


"Sabar Wati, Aku akan cari cara untuk membuktikan bahwa kamu tak bersalah," ujar Muhibbin.


Dengan kondisi setengah sadar wati hanya menatap sayu pada Muhibbin, Sejurus kemudian tatapannya menyapu pada para warga, dia menatap dengan sinis dan penuh kemarahan yang tertahan. Melihat itu, para warga semakin beringas, kembali lemparan batu diarahkan pada Sariwati. Muhibbin memeluk untuk melindungi Sariwati agar tak terkena lemparan batu para warga. Tubuh Sariwati yang terlihat lemas melangkah diseret layaknya pesakitan.


"Sudah cukup, Hentikan lemparan. Jero Pecalang segera kamu berangkat sebelum situasinya semakin runyam," teriak pak Nengah kembali.


 *******

__ADS_1


PENGUMUMAN


Penulis akan berusaha update tulisan ini ditengah kesibukan yang sangat padat walaupun nanti akan ada keterlambatan. Saya harap like, suport dan dukungannya serta terimakasih atas segala kritik maupun saran untuk karya ini, Maturnuwun sanget.


__ADS_2