KAHANAN

KAHANAN
CH 33 - DINASTI PART II


__ADS_3

"Kau terlalu berlebihan jika menganggap papi membedakan perlakuan antara dirimu dan adikmu Wati." ujar Bendowo kembali.


"Apakah papi akan memberikan tanggung jawab besar ini selain padamu, jika papi tak mempercayai mu,"


"Jernihkan pikiranmu, udara kota Benua Angin mungkin telah membuatmu tak berpikir logis dan melampaui batasan mu!" sorot mata Bendowo tajam menghujam wajah Habsari.


"Papi yang tak logis, selama ini papi selalu menuruti kemauan Wati, sampai-sampai ketika kesalahan fatal pun dia lakukan, Papi masih tutup mata dan memanjakan anak kesayangan papi itu!" Habsari semakin histeris dengan sikap Bendowo.


"Jangan salahkan aku jika berbuat diluar batasan ku pada anak manja itu!" pungkas Habsari.


"Kau jangan keterlaluan, Papi bisa berbuat diluar yang tak pernah kau lihat selama ini jika sampai terjadi sesuatu pada adikmu!" hardik Bendowo.


Sorot mata Habsari semakin sinis penuh kebencian mendengar yang di ucapkan Bendowo padanya. Tatapan tanpa rasa hormat menyapu wajah tua di depannya.


"Oh, jadi ini yang papi akan lakukan pada anak yang telah berkorban besar pada keluarga ini,"


"Aku tak menyangka, sampai segitunya papi membela anak sia*lan itu, dari pada aku yang sudah korbankan kehidupan indahku di negeri ini dengan menuruti semua kemauan papi!"


"Baik, mulai detik ini aku tak akan peduli lagi tentang kelangsungan dinasti Garuda Emas, percuma semua ini!" teriak Habsari sambil berlalu keluar ruangan kerja Bendowo.


Mecha yang sedari tadi terdiam kini mengekor keluar mengikuti Habsari.


"Habsari, tunggu!" pekik Bendowo pada putri tertuanya, namun wanita itu tetap berlalu dengan sejuta kekesalan yang menghimpit dadanya.


Langkahnya cepat bergegas meninggalkan Bendowo yang masih tertegun dengan sikap keras putri tertuanya.


"Kakak, tunggu!

__ADS_1


Mecha memperlebar langkahnya menyusul Habsari.


"Huh! apa yang ada di isi kepala papi, sampai begitu sayangnya pada anak jadah itu!"


"Aku tak akan biarkan semua ini, aku pastikan hidup anak sia*lan itu tak akan tenang setelah ini!" dengus Habsari penuh kebencian. kakinya terus melangkah menjauh dari ruang kerja Bendowo.


"Apa yang akan kakak lakukan sekarang?" Mecha dengan tersengal berusaha mengimbangi langkah Habsari.


"Kau cukup lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku pastikan kekesalan mu akan tergantikan dengan sengsaranya Wati." jawab Habsari pada Mecha.


Keduanya telah sampai disebuah bangunan mewah, terlihat penjaga tergopoh-gopoh mendekati dua orang yang baru saja datang. Terlihat Habsari memerintahkan sesuatu pada penjaga itu.


"Panggil Martin ke paviliun ku! ada tugas khusus yang harus dia tangani."


"Baik, Den Ayu," jawab penjaga itu berlalu.


"Den Ayu mencari saya?" ujar lelaki itu dengan suara serak.


"Betul, mendekatlah kemari!" perintah Habsari pada lelaki yang baru saja datang.


"Aku ingin kamu menjalankan sebuah misi khusus dan ingat misi ini jangan sampai ada yang tau termasuk papi!" ujar Habsari menatap tajam lelaki didepannya.


"Kau cari keberadaan adik ku Wati, selidiki dengan siapa saja dia bergaul dan apa saja yang dia lakukan, selebihnya tunggu instruksi selanjutnya dari ku!" ujar Habsari.


"Oh ya Martin, ingat misi ini kamu lakukan serapi mungkin seperti biasanya!"


"Sekarang pergilah!" pungkas Habsari sambil melemparkan dua buah bendel uang di atas meja.

__ADS_1


Lelaki yang dipanggil Martin itupun menjura mundur dan pergi dari hadapan Habsari dan Mecha.


"Mecha, Kamu yakin bahwa kotak Giok Hujan itu Wati yang bawa?" tanya Habsari pada Mecha.


"Yakin kak,"


"Setelah papi, mami dan aku menginterogasi Wati dan mas Setyanto waktu itu, Kulihat papi menghukum Wati dengan mengusirnya dan sebelum kepergian wanita tak tau diri itu, Ku lihat papi menyerahkan kotak hijau kehitaman dengan ukiran kepala garuda pada sisi-sisinya dan dua ekor ikan mas berbentuk lingkaran pada tutupnya." ujar Mecha.


"Berarti tak salah dugaan ku, kotak Giok Hujan diserahkan ke Wati oleh papi,"


"Kau tau, didalam kotak itu ada relik kuna dan stempel dinasti Garuda Emas yang hanya bisa dibuka oleh cincin batu Sulaiman Madu,"


Mecha hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaan kakaknya.


"Dan relik itu akan menunjukkan dimana letak harta karun kerajaan Zamrud, cuma yang jadi masalah sekarang keberadaan cincin Sulaiman Madu itu tak tau dimana dan siapa yang memilikinya!" ujar Habsari pada adiknya Mecha.


"Namun dari informasi yang aku dapatkan selama di Benua Angin, bahwa kedua benda itu akan bercahaya bila salah satu pemiliknya mengalami bahaya."


"Kemampuan kedua benda itu akan melindungi pemiliknya dari segala sesuatu yang mangancam jiwanya." pungkas Habsari.


"Terus dimana mencari keberadaan cincin Sulaiman Madu itu, Kak?" tanya Mecha pada Habsari.


"Informasi yang kudapatkan, terakhir pemilik cincin itu adalah pemuka agama Asta Tenggi di Negeri Garam."


"Namun itupun belum bisa dipastikan kebenarannya." pungkas wanita cantik itu kembali.


*****

__ADS_1


__ADS_2