
"Terimakasih, Bi." ujar Sariwati pada seorang wanita yang mengantarnya ke kamar kecil di bagian belakang Selasar Rumah Budaya.
"Kalau Den Ayu ingin sesuatu akan saya siapkan." ujar pelayan itu pada Sariwati.
"Tak perlu, Bi."
"Kau kembali saja ke depan dan tolong sampaikan pada keluargaku, aku berada disini dan ingin menghirup udara segar di taman ini." ujar Sariwati kembali.
Dengan sikap penuh hormat, pelayan itu membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapan Sariwati.
Wanita ayu itu melangkah ke arah taman dimana aneka tumbuhan hias dan bonsai tertata rapi sehingga terlihat asri.
Tangannya mengusap-usap perutnya yang semakin membesar. Sebagai seorang praktisi alkimia, Sariwati paham dan tau tentang kondisinya, wanita itu bergumam dalam hati sambil sesekali salah satu tangannya menyentuh daun-daun tanaman hias.
"Kalau Bunda tak salah perhitungan, kau akan lahir beberapa hari ini, Nak! "
"Bunda tau, Ayahmu pasti membenci Bunda."
"Tapi ini demi kebaikan kita semua, suatu saat Bunda akan membawamu menemui Ayahmu."
gumam Sariwati dalam hati sambil mengusap perutnya yang semakin membesar, tak terasa buliran-buliran bening meleleh di pipinya.
"Bruakk!"
"Bruakk!
Sebuah suara mengagetkan lamunan Sariwati.
" Kurang ajar!"
"Bajingan!"
"Penghianat"
Kini terdengar suara seseorang di antara suara benda yang di pukul berulang-ulang.
"Bangs*at!"
Kembali suara itu terdengar.
Sariwati yang berdiri diantara tanaman hias dan bonsai menyapu pandangannya ke seluruh penjuru taman yang diterangi beberapa obor, wanita itu mencari dimana sumber suara itu berasal.
Pandangannya terhenti kearah kolam yang berada di tengah taman dimana seseorang sedang memukulkan tangannya ke sebuah bangku yang didudukinya sambil mengumpat penuh kemarahan.
Sariwati yang tak ingin mencampuri urusan orang itu berniat beranjak dari taman tersebut, namun tanpa sengaja tangan Sariwati menyenggol sebuah pot bunga yang ada di dekatnya dan pot tanaman tersebut jatuh di antara kakinya.
Spontan wanita berbadan dua itu berteriak kaget.
"Aaahh!"
Dan teriakan itu memancing reaksi orang yang ada di dekat kolam.
"Siapa disana?" teriak orang itu mulai mendekat ke arah Sariwati.
Karena temaramnya pencahayaan di taman itu, Sariwati tak begitu jelas melihat wajah seseorang yang melangkah mendekat ke arahnya, namun dari suaranya, Sariwati bisa menerka bahwa sosok itu adalah seorang pria.
Setelah beberapa saat dengan jarak pandang yang semakin dekat, tatapan keduanya mulai jelas melihat masing-masing.
"Kau!" ujar suara itu pada Sariwati, pandangannya menyalang kearah wanita didepannya.
"Ibbin!" seru Sariwati tak kalah kagetnya.
Suara pekikan kedua orang itu hampir bersamaan, rasa terkejut tak bisa ditutupi keduanya, nampak terlihat jelas di wajah masing-masing.
"Kenapa kau berada disini?" ujar Muhibbin ketus ke arah Sariwati.
"Kau juga kenapa berada disini?" ujar Sariwati balik bertanya pada lelaki yang ada dihadapannya.
Sesaat suasana hening kembali, tatapan keduanya saling beradu. Ada rasa amarah terpancar di mata Muhibbin, sementara pandangan sayu penuh kesedihan diarahkan Sariwati melihat lelaki kurus dihadapannya.
"Apa peduli mu, aku mau kemana saja itu urusan ku!" kembali Muhibbin berkata, kini lelaki itu tak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Ibbin!"
__ADS_1
"Apa aku tak salah dengar?"
"Kasar sekali perkataan mu!"
"Apakah ini Muhibbin yang aku kenal?" ujar Sariwati pada Muhibbin, kini derai air mata tak kuasa ditahan oleh wanita itu.
"Justru aku yang tak mengenalmu."
"Ternyata selama ini hanya topeng kepalsuan yang kau tampakkan."
"Penghianatan dan kebohongan telah menghilangkan semua yang ku tau tentangmu."
"Apa tujuanmu hadir dalam kehidupanku?"
"Apakah hanya sebagai pelarian dari semua masalahmu?"
"Atau kau hanya memanfaatkan ku untuk tujuan terselubung mu!" suara Muhibbin semakin meninggi.
"Cukup, Bin!"
"Cukup!"
"Kau tak tau apa sebenarnya yang terjadi!"
"Tak seharusnya kau berkata seperti itu."
"Bukan dirimu saja yang menderita, aku pun menderita!" pekik Sariwati sambil terisak.
"Kau boleh menganggap ku apa saja."
"Kau boleh kecewa dan marah padaku."
"Tapi semua ini ku lakukan demi kebaikan kita."
"Kau tak tau apa yang kurasakan!"
"Kau tak akan pernah tau penderitaan ku!" imbuh Sariwati.
Kini wanita itu menangis sesenggukan dihadapan Muhibbin.
"Cukup sudah selama ini sandiwara mu."
"Tutur mu manis namun penuh bisa."
"Disaat seharusnya kita saling menguatkan, kau malah pergi dengan selaksa pengkhianatan mu."
"Cintamu indah bagai kelopak mawar namun duri mu tajam melukai ku." ujar Muhibbin berapi-api.
Gejolak amarah tak tertahankan bagai letupan kawah berapi memuntahkan lahar, segala ganjalan yang dirasakan Muhibbin ditimpakannya pada wanita ayu yang terus menangis di depannya.
"Cukup, Bin!"
"Cukup!" teriak Sariwati histeris. Wanita itu terlihat mendekat ke arah Muhibbin dan tangannya melayang ke wajah pemuda itu.
'Plaaakk! '
"Tak ku sangka mulutmu tajam seperti sembilu."
"Kau berubah, Bin!" kembali Sariwati mengangkat tangannya hendak menampar Muhibbin kembali, namun dengan sigap Muhibbin menangkap tangan Sariwati.
Tarik menarik terjadi antara keduanya, Wanita ayu itu kehilangan keseimbangan dan tubuhnya limbung ke arah Muhibbin, melihat Sariwati yang terhuyung kearahnya, spontan Muhibbin merengkuh tubuh Sariwati dalam pelukannya.
Sejenak keduanya berpelukan, cucuran air mata Sariwati membasahi pakaian Muhibbin.
Pemuda itu terdiam membisu dengan gejolak hati bercampur aduk yang di rasakannya.
Sementara Sariwati semakin tenggelam dalam pelukan Muhibbin.
"Ini semua tak seperti yang kau kira, Bin."
"Kau tak akan tau bagaimana rasanya penderitaan ku." imbuh Sariwati.
Muhibbin makin naik pitam dengan sanggahan Sariwati.
__ADS_1
"Jangan kau ajari aku tentang arti penderitaan."
"Tak perlu kau berkhotbah tentang luka dan nestapa."
"Andaikan hati ini gunung berapi, sudah sedari dulu akan ku muntahkan lahar kekecewaan yang kau tanamkan."
"Aku bagaikan tumbuhan perdu yang ada diantara panasnya magma, terbakar setiap kali untaian janji manis mu dikala menyentuhnya." seru Muhibbin pada Sariwati yang masih ada di dekapannya.
Wanita ningrat itu makin tenggelam dengan segala beban yang menghimpitnya, ucapan Muhibbin menohok tanpa bisa dibantahnya.
Wanita itu semakin erat mendekap Muhibbin, tangannya yang lentik mencengkram pakaian pemuda itu.
Tiba-tiba dari samping Selasar Rumah Budaya seseorang berteriak dan setengah berlari menghampiri keduanya,
"Apa yang kalian lakukan!"
"Wati, jadi seperti ini perbuatan mu di belakangku?" pekik suara itu pada Sariwati dan Muhibbin.
Keduanya tersentak mendengar teriakan seseorang yang berlari menghampirinya.
Seorang lelaki dengan wajah merah padam memperlebar langkahnya, Sariwati melepaskan pelukannya pada Muhibbin dan dengan wajah sembab penuh keterkejutan menatap sosok yang mendekatinya.
Beberapa pria berbadan tegap mengekor di belakang pria tersebut.
Sosok itu tanpa banyak bicara melayangkan pukulannya ke arah Muhibbin yang ada didekat Sariwati.
'Plaakkk!'
Muhibbin yang diam terpaku tak menyangka mendapatkan pukulan demi pukulan dari sosok yang baru saja hadir, pemuda itu tersungkur dengan wajah meringis kesakitan.
"Kurang ajar!"
"Berani-beraninya kau menyentuh istriku, bajingan!"
"Lancang!" pekik sosok itu sambil terus menghajar Muhibbin dengan penuh amarah.
Beberapa pria berbadan tegap meringkus dan memegangi tubuh Muhibbin, dengan leluasa sosok orang itu kembali mendaratkan pukulannya ke tubuh pemuda kurus yang kini mengerang kesakitan, dari sudut bibirnya mengalir darah segar akibat tinju pria yang baru saja datang itu.
"Seto, hentikan!"
"Hentikan!"
"Ini tak seperti yang kau lihat."
"Kau salah paham!" pekik Sariwati berusaha menahan dan menarik tangan sosok itu yang tak lain adalah Seto suaminya, namun pria itu dengan beringas masih menyerang Muhibbin dengan pukulan dan tendangannya.
"Hentikan, Seto!"
"Hentikan!"
Teriakan histeris Sariwati tak dihiraukan oleh Seto yang sudah gelap mata. Lelaki itu terus menghujani tubuh Muhibbin dengan pukulannya.
Sariwati berusaha menahan tangan suaminya agar tak memukuli Muhibbin yang masih diapit oleh beberapa pria berbadan kekar suruhan suaminya.
"Aaahhhhh!" tiba-tiba teriakan kesakitan keluar dari mulut Sariwati, tubuh wanita itu terhuyung dan jatuh ke tanah sambil memegangi perutnya yang membesar.
"Aaahhhhh!"
"Sakit!" kembali Sariwati mengerang. Air mata wanita itu bercucuran bercampur keringat dingin.
Dari sela-sela kakinya nampak meleleh cairan berwarna merah, wanita itu terus berteriak kesakitan sambil mendekap perutnya.
Melihat tubuh Sariwati yang terkulai di tanah, Seto memalingkan wajah dan menghentikan pukulannya ke arah Muhibbin, pria itu bergegas mendekap tubuh istrinya yang kesakitan.
Wajah Seto pucat pasi melihat apa yang di derita Sariwati, dia berteriak pada salah seorang pria berbadan kekar yang datang bersamanya.
"Tolong cepat cari tabib!"
"Dan beri tau keluargaku di depan!"
"Cepat!" seru Seto penuh kepanikan.
Dengan tergopoh-gopoh diangkatnya tubuh sang istri dan meninggalkan Muhibbin yang masih disekap oleh beberapa lelaki kekar suruhan Seto.
__ADS_1
Pria itu pergi membopong tubuh Sariwati ke arah bagian dalam Selasar Rumah Budaya, melewati arah samping dimana dirinya datang.
*****