
Pagi itu nampak suasana Griya Manuaba terlihat ramai, namun disetiap wajah orang-orang yang ada disana menyiratkan kesedihan dan tak sepatah katapun terlontar dari para penghuninya.
Terlihat para Cantrik melakukan persembahyangan khusus di padmasana dan Sanggah Pamujan.
Di depan sebuah ruangan yang berada di bangsal tamu tak jauh dari bangunan utama Griya Manuaba, nampak orang-orang sedang berkumpul, ada beberapa yang terlihat menangis dan begitupun yang lain, walau tak menumpahkan kesedihannya namun dari raut wajahnya nampak terlihat gelisah dan gundah gulana.
Suasana semakin hening dan perasaan menunggu-nunggu dengan cemas kental terasa. Tiba-tiba pintu ruangan mulai terbuka, dua orang lelaki tua dan seorang wanita paruh baya keluar dari dalamnya.
Nampak wajah penuh rasa letih dan kelelahan terpancar dari ketiganya.
Helaan nafas yang terasa berat terdengar dari pria tua berpakaian serba putih dengan rambut tergelung rapi, wajah teduhnya menatap setiap orang yang ada di depannya. Sementara salah satu pria tua yang menemaninya hanya terdiam demikian pula dengan wanita paruh baya disampingnya.
"Aku bersama Putra dan Mirah sudah berupaya melakukan yang terbaik untuk pemuda itu." ucap lelaki tua itu yang tak lain Resi Giri Waja pada orang-orang didepannya, sejenak pemimpin Griya Manuaba itu menghela nafas dan mengusap janggut putihnya.
"Berita baiknya, dia mulai siuman dan mengingat semua kejadian yang di alaminya." ucapnya sambil mengamati satu persatu wajah-wajah didepannya.
"Namun kondisi organ tubuhnya yang mulai tak normal akibat selama ini menolak asupan makanan dan minuman menjadi semakin lemah dan tak bertenaga. Hawa murni yang kami alirkan pun serta obat-obata yang dibuat oleh Putra dan Mirah seolah tertolak oleh tubuhnya."
"Untuk saat ini tak ada lagi yang bisa kami lakukan dan kita hanya berserah diri pada kehendak Dewata, hanya takdirlah yang akan menetukan jalan pemuda itu." pungkas Resi Giri Waja sambil menghela nafasnya.
Penjelasan tetua Griya Manuaba itu bagaikan petir disiang hari, membuat terhenyak setiap orang yang ada ditempat itu. Tangis dan ratapan kesedihanpun kembali pecah, seorang gadis remaja dengan tertatih-tatih menjura ke arah Resi Giri Waja.
"Tolonglah Pak Lik saya, kakiang!"
"Saya tak mau kehilangan Pak Lik, Kakiang." ucap seorang gadis remaja berkerudung hitam sambil bersimpuh dan menangis histeris di hadapan Resi Giri Waja. Wajahnya yang terlihat keriput akibat bekas luka bakar nampak basah oleh air mata.
Wanita muda itu terus meraung sambil bersujud memegang kedua kaki Resi Giri Waja. Nampak wanita tua langsung memeluk sang gadis sambil menenangkannya, tangisannya pun ikut pecah melihat remaja didepannya besimpuh dan memohon pada tetua Griya Manuaba.
"Bangunlah, Raya!"
"Eyang tau dan mengerti kesedihan Raya."
"Kita semua sedih dengan apa yang dialami Pak Lik mu."
"Kita doakan semoga pamanmu Muhibbin mendapat keajaiban."
"Kakiang Resi sudah berusaha, Nak!"
"Raya harus kuat menerima semua keadaan, Raya harus tetap kuat!"
"Kami akan selalu bersama Raya sampai Pak Lik mu bisa tertolong!" ujar wanita tua itu sambil memeluk Raya Suci yang masih bersimpuh ditanah.
"Benar yang dikatakan oleh nyonya Warika, Nak."
"Kau harus kuat dan tabah dengan apa yang terjadi pada pamanmu." timpal Resi Giri Waja sambil mengusap rambut gadis remaja dihadapannya.
"Tidak, Kakiang!"
"Raya hanya memliki Pak Lik di sini."
"Saya tak mau di tinggalkan Pak Lik, Kakiang." teriak Raya Suci sambil meronta di pelukan nyonya Warika.
"Raya tak boleh seperti itu, masih ada mbak yu Sekar yang akan bersamamu, Nduk!" ucap salah satu wanita pada Raya Suci.
"Jangan kau buat Pak Lik mu semakin sedih jika tau Raya seperti ini."
"Kita doakan Bli Ibbin agak kembali pulih dan bersama kita lagi." ujar Sekar sambil turut memeluk Raya yang ada di pelukan nyonya Warika.
Beberapa wanita yang ada ditempat itu turut menghampiri Raya Suci dan memberikan penghiburan bagi remaja itu.
Salah satu dari wanita itu mendekat ke arah Gung Niang Mirah.
"Niang, benarkah yang aku dengar baru saja?"
"Apakah tak ada cara lain untuk menyelamatkan Ibbin, Niang?" tanya wanita itu bergetar menahan derai airmatanya pada wanita paruh baya yang dihampirinya.
Dengan menggeleng ringan dan tatapan sayu Gung Niang Mirah memeluk wanita didepannya.
"Apa yang dikatakan kakang Resi itu benar, Disya."
"Kondisi tubuh Muhibbin saat ini sangat lemah dan sedari dia tersadar hanya dirimulah yang selalu ditanyakannya." jawab Gung Niang Mirah pada wanita yang dipeluknya itu.
Disya terisak dalam pelukan Gung Niang Mirah, dengan suara terbata-bata wanita berbadan dua itu berkata.
"Aku ingin melihatnya, Niang, Kakiang." ujarnya pada tabib wanita itu serta Resi Giri Waja.
Sejenak Gung Niang Mirah memandang Resi Giri Waja, pimpinan Griya Manuaba itu menganggukkan kepala pada Disya sebagai tanda mengijinkannya dan Disya pun hendak melangkah, namun langkah Disya terhenti tatkala suara seorang wanita menyelanya.
"Saya juga ingin melihatnya, Bapa Resi." ujar salah satu wanita yang menggunakan tongkat sambil menyeruak mendekat, matanya yang sembab terus disekanya dengan ujung kerudung merah jambu yang dikenakannya.
Sorot mata Disya menyalang menatap wanita yang hendak mengikutinya.
"Tidak!"
"Kau tak boleh masuk kedalam, selama masih ada diriku disini, tak ku ijinkan kau melihat Muhibbin." pekik Disya pada wanita yang menyelanya.
Wanita berkerudung merah jambu itu pun menjawab,
"Apa hak mu melarangku, Dis?"
"Kita semua disini berhak memberikan semangat dan penghiburan untuk kesembuahannya."
"Justru aku yang paling berhak atas Muhibbin karena aku sangat mencintainya."
"Kau bukan siapa-siapa baginya." jawab wanita itu dengan suara meninggi sambil berderai air mata.
"Apa kau bilang?"
"Apa aku tak salah dengar?"
"Aku ini adalah calon istrinya."
"Semua yang terjadi pada Muhibbin dan keluarganya adalah akibat ulahmu dan keluargamu."
"Dan sekarang kau dengan gampangnya mengatakan aku tak punya hak dan dirimu lebih berhak."
"Dasar wanita tak tau malu." ucap Disya tajam pada wanita didepannya yang tak lain adalah Sariwati.
"Kemana saja dirimu saat dia berduka?"
"Ada dimana dirimu saat ibu dan kakaknya serta ayah angkatnya meregang nyawa?"
"Semua kekacauan ini kaulah penyebabnya."
"Dimana dirimu disaat dia mengalami penderitaan kehilangan keluarganya?
"Kau dan keluargamulah sumber keonaran selama ini." jawab Disya geram menumpahkan amarahmya pada Sariwati.
"Cukup, Dis ... cukup!"
"Aku tau bahwa aku salah selama ini."
"Dan kau tak tau apa-apa tentang hubunganku dan Muhibbin."
"Yang aku lakukan selama ini demi kebaikannya juga." jawab Sariwati tak kalah ketus masih terisak.
__ADS_1
"Apa kau bilang ... demi kebaikannya?"
"Semua keluarganya tewas dan coba kau lihat apa yang terjadi pada tubuh Raya saat ini ... kau lihat dengan matamu!"
"Kau katakan itu demi kebaikan Ibbin?"
"Itu semua ulahmu."
"Jika kau tak mengejar dan mempengaruhinya, tak akan seperti ini jadinya!"
"Dasar wanita gila, kau sama gilanya dengan keluargamu itu!" pekik Disya geram sambil menatap Sariwati dan tuan Bendowo yang tak jauh dari tempat itu.
Semua mata tertuju pada Disya dan Sariwati yang bersitegang ditempat itu.
Kehadiran orang-orang ditempat tersebut tak lepas dari upaya Resi Giri Waja untuk memulihkan kondisi kesehatan Muhibbin setelah melakukan samadi.
Melalui Gus Aji Putra sang adik, Resi Giri Waja meminta keluarga Bendowo terutama Sariwati sebagai orang terdekat Muhibbin untuk membantu proses penyembuhannya, walaupun dari awal hal itu di tentang oleh Gus Aji Putra karena memiliki kisah masa lalu tak mengenakkan dengan keluarga dinasti Harsuto, namun sang pemiliki Griya Manuaba tetap meminta kedatangan mereka.
Sementara kehadiran Disya dan Gung Niang Mirah di asram itu sebuah kebetulan, tatkala Guang Niang Mirah berkunjung ke Griya Manuaba bersama Disya tanpa sengaja sang Resi meminta bantuan untuk pengobatan seorang kenalannya yang sedang sakit karena bagaimanapun juga Gung Niang Mirah adalah seorang tabib dan merupakan adik seperguruan Resi Giri Waja dan Gus Aji Putra. Namun alangkah terkejutnya Gung Niang Mirah terutama Disya bahwa lelaki yang terbaring tak berdaya itu adalah Muhibbin yang sangat dicintainya.
"Cukup, Dis ... cukup!"
"Kau tak tau apa-apa, dalam hal ini aku yang paling menderita."
"Jangan kau kira mudah menjadi diriku!"
"Aku ini adalah ibu dari anaknya."
"Tak mudah menanggung semua itu sendiri!" ucap Sariwati kembali.
Mendengar perkataan Sariwati, tuan Bendowo dan nyonya Warika terkejut bukan kepalang,
"Apa maksud perkataanmu, Wati?" tanya nyonya Warika mendekat ke arah putrinya.
"Benar Wati, apa maksud ucapanmu tentang kau ibu dari anaknya?" kini tuan Bendowo pun memastikan pada putrinya.
Sariwati hanya diam terisak tanpa sepatah katapun.
"Jangan kau bilang bahwa Tiara anak dari Muhibbin, Wati?" kembali tuan Bendowo bertanya pada sang anak. Tatapannya menyiratkan rasa geram yang ditahannya.
"Benar, Pi."
"Tiara adalah darah daging Muhibbin, bukan anak dari Seto." jawab Sariwati terbata-bata sambil menangis, dipeluknya putri semata wayangnya itu kedalam dekapannya.
"Jadi selama ini kau berbohong dan menyimpan semuanya dari Papi dan Mami, Wati." hardik tuan Bendowo dengan wajah merah padam. Sementara nyonya Warika diam dan menangis tersedu merasa tak percaya dengan ucapan sang anak.
"Ternyata kebiasaanmu berbohong itu masih tak hilang."
"Taukah dirimu, buah dari dusta dan ketidak jujuranmu dapat melukai orang-orang disekitarmu?" kini kemarahan tuan Bendowo tak tertahan lagi.
"Maafkan Wati, Pi-Mi."
"Wati telah menutupi kenyataan ini pada kalian selama ini."
"Semua ini kulakukan demi kebaikan semua pihak."
"Bagaimanapun Tiara itu darah dagingnya dan aku akan menemuinya serta menceritakan semuanya pada Ibbin demi kesembuhannya." ucap Sariwati masih terisak.
"Dis, tolonglah beri kesempatan aku menemuainya."
"Bagaimanapun Muhubbin harus tau jika Tiara itu adalah anaknya dan kami selama ini sangat menderita."
Dengan wajah dingin Disya menatap Sariwati dihadapannya.
"Padahal kau lah biang semuanya."
"Dan bodohnya Muhibbin selama ini terlalu percaya dengan tutur manismu,"
"Kau culas dan egois!"
"Di otakmu hanya ada keingunanmu saja yang harus dipenuhi."
"Sementara kau tak pernah menghiraukan perasaan orang lain."
"Kau manfaatkan keluguannya dengan bualan manismu."
"Jangan dikira selama ini aku tak tau bagaimana busuknya dirimu."
"Dan siapa dibalik petaka yang di alaminya."
"Semua ini karena kau!"
"Semua karena ketamakan keluarga besarmu." pekik Disya semakin emosi.
"Cukup Nona!"
"Ucapanmu sudah keterlaluan." sela tuan Bendowo yang sedari tadi jengah mendengar apa yang diucapkan Disya pada sang anak Sariwati.
"Kenapa, Tuan!"
"Apakah Tuan akan mengelak dengan semua yang terjadi selama ini?"
"Apakah Tuan belum puas melihat apa yang menimpa keluaga Muhibbin?"
"Apakah Tuan juga belum puas merampas harta ayah saya dan menjebloskan ayah saya kedalam penjara untuk melindungi anak sulung Tuan?"
"Saya adalah putri tuan Sirkun yang tuan rampas kemerdekaannya!"
"Jangan kira saya bodoh dan tidak tau apa yang tuan lakukan demi menutupi perbuatan putri sulung Tuan terhadap Muhibbin dan keluarga saya." ujar Disya sambil menatap tajam wajah tuan Bendowo.
"Kau ..." tuan Bendowo tak meneruskan perkataannya, wajahnya memerah menahan amarah dengan pandangan melotot tajam pada putri tuan Sirkun itu.
"Sudah ... sudah!"
"Tak ada gunanya kalian saat ini bertengkar."
"Seharusnya saat ini kita berdoa untuk Muhibbin." potong Resi Giri Waja menenangkan situasi yang ada ditempat itu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Arsana yang ditugaskan untuk menjaga Muhibbin keluar menghampiri orang-orang di depannya.
"Bapa Resi, Bli Ibbin saat ini sudah tersadar, dia ingin menemui Raya Suci" ujar Arsana berbisik lirih pada Resi Giri Waja.
Sang Resi sesaat menghela nafas dan tatapannya menyapu ke arah semua yang ada di hadapannya.
"Dia sudah siuman." ujar sang Resi pada semua orang yang menatapnya.
"Raya ... temuilah pamanmu, Ning."
"Sekar ... temani Raya untuk menemui kakakmu." ujar sang Resi pada Raya Suci dan Sekar Jempiring.
"Baik Bapa Resi."
"Ayo Raya, kita temui Bli Ibbin, Nduk." ucap Sekar sembari menyerahkan Lingga yang digendongnya pada Arsana sang suami. Keduanya pun melangkah kedalam kamar.
***
__ADS_1
"Kemarilah gadis cantiknya Pak Lik." suara lirih Muhibbin memanggil saat mengetahui dua orang wanita yang di sayanginya.
"Kemarilah, Kar."
"Bli sangat merindukan kalian." ujarnya kembali.
Raya Suci dan Sekar mendekat ke ranjang bambu dimana Muhibbin terbaring, ikatan rantai di tangan dan kakinya telah terlepas dan nampak Muhibbin terbaring sambil tersenyum kearah keduanya. Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang tinggal tulang belulang berbalut kulit yang melekat membuat perasaan Raya dan Sekar semakin iba.
"Pak Lik ..." ujar Raya sambil terisak memeluk tubuh Muhibbin. Di ciumnya telapak tangan kurus dan kasar sang paman yang telah membesarkannya.
"Hai ... kenapa Raya menangis, Nduk."
"Janganlah Raya bersedih seperti itu."
"Pak Lik tidak apa-apa, Nduk."
"Ayo ... hentikan tangismu, Raya."
"Pak Lik tak pernah mengajarkan hal berlebihan seperti itu padamu, Nduk." ujar Muhibbin sambil membelai lembut rambut keponakannya. Sementara Sekar masih diam terpaku dan sesekali menyeka airmatanya melihat sang kakak yang terbaring di depannya.
"Jangan tinggalkan Raya, Pak Lik."
"Raya sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Pak Lik."
"Pak Lik tak boleh pergi meninggalkan Raya." isak Raya Suci menangis tersedu di dada sang paman.
"Raya bicara apa, Nduk."
"Pak Lik tak akan kemana-mana."
"Pak Lik akan selalu ada disamping Raya."
"Disini juga ada Mbak Yu Sekar yang menemani Raya." ujar Muhibbin lirih.
"Bli Ibbin harus kuat ya, Bli."
"Kami semua sangat menyayangi bli Ibbin." ucap Sekar terbata-bata. Wanita itu pun mulai terisak kembali sambil menggenggam tangan Muhibbin.
Muhibbin terlihat tersenyum mendengar perkataan Sekar, dengan suara berat dan lirih pemuda itu berkata,
"Kar, maafkan Bli jika selama ini banyak menyusahkan Sekar."
"Terutama disaat Bli sakit seperti ini."
"Bli sangat beruntung memiliki adik seperti Sekar di Negeri ini."
"Kebaikan Sekar, Arsana dan bahkan Ajik tak akan Bli lupakan."
"Bli sangat berhutang budi pada kalian." ucap Muhibbin lirih.
"Bli tak usah berkata seperti itu."
"Bli Ibbin lah yang banyak membantu Sekar disaat Ajik sudah tiada."
"Sekar sudah menganggap Bli Ibbin seperti kakak sendiri selama ini."
"Entah apa yang akan Sekar alami jika tanpa ada Bli Ibbin disaat Ajik tiada." ucap Sekar penuh kesedihan.
Muhibbin kembali tersenyum.
"Bli masih ingat waktu pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Pantai ini."
"Disaat Bli kelelahan dan duduk di bawah pohon beringin untuk beristirahat."
"Dan Sekar mengajak Bli untuk singgah dirumah saat itu." ucap Muhibbin sambil tersenyum, matanya menerawang kelangit-langit kamar dan mengingat pertemuannya dengan keluarga mendiang Jero Nengah Wirata ayah angkatnya.
"Sekar juga yang mengenalkan Bli dengan Disya ..." suara Muhubbin bergetar tatkala menyebut nama Disya.
"Dis ... dimanakah kau berada, Sayang."
"Aku sangat berdosa padamu." gumam Muhibbin dalam hati, kini dari sudut matanya mengalir butiran bening air mata.
"Kar ... bli titipkan Raya padamu dan Arsana, ya."
"Anggaplah dia adikmu ..."
"Dan kau, Raya ..."
"Harus manut dan membantu mbakyu mu Sekar, ya Nduk."
"Karena Pak Lik tak bisa menjagamu disaat Pak Lik sakit seperti ini." ujar Muhibbin lirih pada Sekar dan Raya.
Kedua wanita didepannya itu terus terisak dan tenggelam dalam tangisannya.
"Sudahlah, kalian tak perlu menangis lagi."
"Aku tidak apa-apa dan kalian tak perlu mengkhawatirkanku." ujar Muhibbin lirih sambil terbatuk-batuk.
Sementara diluar ruangan masih terjadi kegaduhan antara Sariwati dan Disya, suara pertengkaran keduanya terdengar ke dalam ruangan.
"Kar, ada apa di luar?"
"Bli dengar seperti ada pertengkaran dan banyak orang diluar?" tanya Muhibbin lirih.
"Entahlah, Bli."
"Saat ini diluar memang sedang banyak orang."
"Dan ... Disya pun ada disini bli." Jawab Sekar ragu pada sang kakak.
"Apa kau bilang, Disya ada disini?"
"Mengapa tak kau ajak dia kedalam, Kar?" Ujar Muhibbin sambil berusaha bangkit dari tidurnya, namun kondisi tubuhnya yang sangat kemah tak mampu menopang badannya.
"Kar ... suruh Disya masuk, aku sangat merindukannya, Kar." Pinta Muhibbin pada Sekar, sorot matanya terlihat berbinar walaupun mulai betkaca-kaca.
Namun sebelum Sekar beranjak dari tempatnya berdiri, pintu kamar terbuka dan seseorang dengan tertatih-tatih masuk kedalam. Melihat hal itu Sekar menghampirinya dan memegang lengannya.
"Mengapa kau tiba-tiba masuk tanpa permisi dulu?" seru Sekar sedikit berbisik dengan sorot mata tajam mentap orang didepannya.
"Aku harus menemui kakakmu, Kar."
"Jangan kau halangi aku, Kar." jawab orang itu pada Sekar.
"Kau ..." Sorot mata Sekar terlihat menyalang tak suka.
"Siapa yang datang itu, Kar." Suara Muhubbin lirih kearah sang adik.
Sekar pun tergagap mendapat pertanyaan Muhibbin. Sementara orang itu berjalan mendekat namun wajahnya tak tampak jelas karena membelakakngi cahaya yang masuk ke ruangan itu.
"Bin, bagaimana keadaanmu?"
"Kau ..." suara Muhibbin tercekat melihat sosok yang kini berdiri ditepian ranjang.
***
__ADS_1