
Setelah puas melepas rindu dengan ibu, kakak serta keponakannya, Muhibbin melangkah keluar kamar bersama kyai Basori dan Cahaya.
"Raya, kamu disini dulu ya nduk! temani mbah uti, bu lik dan pak lik keluar dulu ikut dengan mbah kyai!" ujar Cahaya pada gadis kecil disampingnya.
"Ya, bu lik." sahut Raya Suci.
ketiganya meninggalkan Suratmi yang terbaring di temani Raya Suci. Setelah sampai di ruang tamu bangunan kediaman kyai Basori yang tak jauh dari keputren, lelaki paruh baya itu mempersilahkan kakak beradik di depannya untuk duduk.
"Ibbin, Aku tau kepulangan mu ini tidak serta merta ataupun tiba-tiba! pasti kamu membawa kabar yang harus kau sampaikan pada kami secara langsung," kyai Basori memulai percakapan.
"Kesinggihan dawuh, mbah kyai. Kepulangan saya karena ada sesuatu yang harus saya sampaikan langsung pada panjenengan terutama pada emak dan mbak yu." jawab Muhibbin dengan wajah tertunduk ta'dzim pada gurunya.
Sejak usia tujuh tahun selepas kepulangan keluarga besarnya dari lereng ijen, Muhibbin mulai berguru dan menetap di pesantren Al Amin tempat kyai Basori mengajar hingga usia sembilan belas tahun dan dirinya memutuskan merantau ke Negeri Pantai untuk kehidupan keluarganya sepuluh tahun lalu.
"Sepertinya ada yang penting sehingga dirimu tak mengabari mbak yu lewat surat dan harus kamu sampaikan langsung, le?" kini Cahaya mulai ikut bertanya.
"Betul mbak yu!" kini Muhibbin mulai terisak.
"Sebenarnya aku sendiri masih berat dengan apa yang akan aku sampaikan ini, mengingat keadaan emak dan keadaan mbak yu juga saat ini." pemuda itu semakin membenamkan wajahnya.
"Sejak kapan kamu menjadi orang peragu, Bin?"
"Aku tak pernah mengajarimu ragu dalam bertindak ataukah kau telah melakukan kesalahan besar? sehingga keteguhan jiwamu goyah!" tegur kyai Basori dingin.
Mendengar teguran sang guru, Muhibbin semakin merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan bersama Sariwati kekasihnya. Pikiran pemuda itu gundah gulana apalagi dengan keadaan yang menimpa ibunya serta keadaan kakak perempuannya yang masih melajang.
Suara Cahaya membuyarkan lamunan Muhibbin,
"Katakan le, apa yang menyebabkan kamu tiba-tiba pulang?" ujar Cahaya pada adik bungsunya.
Sorot mata kyai Basori menatap lekat muridnya.
"Saya di Negeri Pantai berkenalan dengan seorang gadis, mbah kyai." ujar Muhibbin ragu.
"Lalu?"
"Apa kau ingin menikahinya?" ujar sang kyai memotong jawaban Muhibbin yang terlihat gugup dan ragu.
"Jangan kau bilang telah melakukan hal-hal yang di haramkan agama?" lanjut kyai Basori.
Muhibbin semakin gugup dan tak berani mengangkat wajahnya dengan pertanyaan lelaki paruh baya di depannya.
Tiba-tiba kyai Basori bangkit dan surban yang ada di pundaknya di pukulkan kuat-kuat berkali-kali ke tubuh Muhibbin. Melihat perubahan sikap sang kyai, Cahaya terkesiap.
"Anak tak tau adab, Aku tak pernah mengajarimu melanggar ajaran agama!" pekik sang kyai. Ayunan surban terus menerus menghantam tubuh Muhibbin.
Muhibbin hanya bisa tertunduk dan meringis menahan sakit akibat hempasan surban gurunya.
"Saya menyesal, mbah kyai." seru lirih Muhibbin sambil terisak.
Cahaya yang melihat kejadian didepannya semakin penasaran dan bertanya-tanya dalam hati.
"Kau harus pertanggung jawabkan perbuatan mu ini, Bin!"
"Pergi dan bersihkan tubuhmu! mohon ampunan pada Allah dan lakukan sholat taubat!"
"Khatamkan Al Quran sebanyak empat puluh satu kali, sebelum semua selesai jangan sekali-kali kau keluar dari masjid tanpa sebab ataupun udzur walaupun hanya untuk makan, yang telah kau lakukan ini adalah jinayah walaupun dalam kategori ghoiru muhshon dan aku tak menyangka dirimu berani berbuat seperti itu." seru kyai Basori lugas, sorot matanya dingin dengan wajah memerah menahan geram.
Kyai Basori meninggalkan keduanya tanpa sepatah kata. Cahaya yang sedari tadi keheranan melihat perubahan sikap sang kyai terhadap Muhibbin mulai beringsut mendekati adiknya.
"Apa yang kau lakukan, Bin? sehingga membuat mbah kyai murka."
"Katakan, Bin!"
"Katakan!"
Pekik Cahaya sambil menggoncang-goncangkan bahu adiknya yang terus terisak.
"Aku telah melakukan dosa besar, mbak yu."
"Aku telah melakukan perbuatan yang seharusnya belum harus kulakukan."
Dengan terisak Muhibbin menceritakan dari awal hingga akhir perkenalannya dengan Sariwati serta apa yang telah terjadi dan mereka lakukan di Villa Sandat pada malam itu.
"Astaghfirullah, Bin!" kalau emak tau hal ini betapa kecewanya beliau padamu.
"Apa yang ada di kepala mu, sehingga bisa kau lakukan semua ini pada gadis itu?" ujar Cahaya penuh kecewa.
"Apa kau tak berfikir dulu saat akan melakukannya? kau punya kakak perempuan, keponakanmu juga perempuan. Apa kau tak berfikir jika hal itu terjadi pada keluargamu?"
"Seorang wanita bila kehilangan mahkota dan kehormatannya sebelum pernikahan bagaikan botol minuman yang telah hilang segel penutupnya dan akan jatuh harganya,"
__ADS_1
"Mbak yu kecewa padamu, Bin!" pungkas Cahaya.
"Maafkan aku, mbak yu."
"Aku khilaf,"
"Dan tolong mbak yu jangan ceritakan pada emak tentang apa yang aku lakukan pada Sariwati,"
"Aku mohon, mbak yu!" seru Muhibbin mencium telapak tangan kakaknya.
"Kau harus bertanggung jawab, Bin!"
"Lakukan masa hukuman mu seperti yang di dawuhkan mbah kyai!" Cahaya tak kuasa menahan air matanya, rasa kecewa mendalam dia rasakan atas kelakuan adik bungsunya.
Wanita itu menarik tangannya dari rengkuhan Muhibbin dan bangkit meninggalkan pemuda itu seorang diri.
Muhibbin hanya terpaku menyesali segala kesalahannya.
***
Hampir seminggu Muhibbin menjalankan hukuman gurunya dan selama itupun dia tak beranjak dari dalam masjid menuntaskan apa yang diperintahkan sang guru walaupun hanya untuk sekedar mengisi perut ataupun sekedar buang hajat.
Dia terus tenggelam dalam alunan bacaan-bacaan ayat suci yang dia lantunkan. Genap empat puluh satu kali mengkhatamkan Al Quran tubuh Muhibbin limbung dan jatuh tak sadarkan diri akibat menahan lapar dan haus selama masa hukumannya di depan mihrab tempatnya bermunadjad.
Di dalam alam bawah sadarnya,
cahaya terang menyeruak didepan matanya. Muhibbin serasa berada di tempat yang sangat asing dan hanya terlihat hamparan rumput menghijau di depannya.
Pemuda itu melangkahkan kakinya menapaki hamparan rerumputan hingga tiba disebuah pohon yang hanya tumbuh satu-satunya di tempat itu.
"Ada dimana aku ini?" gumam muhibbin dalam hati, rasa penat di alami pemuda itu. Dia terduduk kelelahan dan bersandar di bawah pohon rimbun itu.
Tiba-tiba entah datang dari mana, dua orang lelaki tua menghampirinya.
"Assalamualaikum, Nak Mas!" kedua orang itu memberi salam pada Muhibbin yang kelelahan.
"Waalaikum salam, eyang." jawab Muhibbin ta'dzim pada kedua lelaki tua yang menyapanya.
"Silahkan Nak Mas duduk saja!" ujar salah seorang dari keduanya. Kedua lelaki tua itu pun duduk dihadapan Muhibbin.
Melihat kedua orang asing itu, Muhibbin bertanya,
"Dan eyang berdua ini siapa?" imbuhnya kembali.
Kedua lelaki itu tersenyum mendengar perkataan Muhibbin.
"Kau sekarang berada di alam Muhdhaf, Nak Mas."
"Kami adalah hamba Allah yang hanya menjalani ketetapanNya." jawab salah seorang lelaki tua yang memakai gamis dan penutup kepala imamah, sedangkan salah seorang yang menggunakan sorjan dan tengkuluk hanya tersenyum tipis.
"Namaku Abdullah dan ini sahabatku tuan Parameswara." imbuh lelaki tua itu kembali.
Muhibbin hanya termangu menatap wajah teduh kedua lelaki dihadapannya, mulutnya terkunci tak bisa berkata apa-apa.
"Nak Mas Muhibbin, apa yang telah kau lakukan itu kesalahan besar, namun dirimu tak perlu berkecil hati dan berputus asa atas rahmat Allah dan pengampunanNya, asal kau benar-benar bertaubat Insya Allah yang maha kuasa akan memaafkan semua kekhilafan mu." ujar kakek tua yang dikenal sebagai Abdullah.
"Benar Nak Mas, asalkan kau mau berubah ke jalan yang baik, maka Sang Hyang Tunggal akan mengampuni mu." ujar lelaki bersorjan yang dikenal bernama Parameswara.
"Ngestoaken dawuh, eyang." jawab Muhibbin ta'dzim.
"Ingat dan ketahuilah cah bagus, Kau harus tetep iling lan waspodo agar selalu mendapatkan keselamatan dalam menghadapi kahananing jagad," ujar eyang Parameswara penuh makna.
"Jagad ini di bagi atas Buana agung lan Buana Alit dan semua itu tak lepas dari kekuasaanNya."
"Sebagai Manusia Mahotama kita harus tetap mengingat jati diri kita berasal dari mana dan harus berbuat seperti apa serta tau apa saja yang tak sepatutnya kita lakukan." wejang eyang Parameswara pada Muhibbin.
Pemuda itu hanya bisa terdiam menyimak apa yang disampaikan lelaki tua dihadapannya, Sedangkan eyang Abdullah disebelahnya hanya sesekali tersenyum.
"Ingatlah pesanku ini sebagai pedoman dan ugeman mu dalam menjalani kehidupan," ujar pria bersorjan itu kembali."
"Kesinggihan dawuh, eyang." jawab Muhibbin singkat.
"Amati, pelajari dan ambil hikmahnya tentang apa yang ada di alam semesta dan isinya ini sebagai Buana Agung mu yang ada di luar badan daging mu dan tariklah kedalam serta belajarlah untuk mengambil hikmah tentang apa yang dalam dirimu sebagai Buana Alit mu." ujar lelaki sepuh itu kembali.
"Aku akan wedarkan lelaku sejati manungso kekasihe pengeran padamu," ujar eyang parameswara.
Muhibbin hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan eyang Parameswara.
Dengan menghela nafas dalam-dalam lelaki tua itu memberikan petuah dan nasehat pada Muhibbin yang masih menyimak dengan seksama.
Lelaki tua itu berkata,
__ADS_1
'Percoyo marang asmane penguasane Gusti, percaya akan kebesaran kekuasaan Tuhan.'
'Ngakonono yen manungso tinitah podo, mengakui bahwa manusia diciptakan sama.'
'Seneng tetulung marang liyan kanti sepi ing pamrih, suka tolong menolong pada sesama tanpa mengharap pamrih dan pujian.'
'Wani ngakoni marang lupute dhewe lan kudu nyuwun sepuro marang Gusti, berani mengakui kesalahan diri sendiri dan mengharap pengampunan Tuhan.'
'Wani ngalah marang sak podho-podho, berani mengalah pada sesama.'
'Tansah ngenak ake atine liyan, Selalu menyenangkan hati orang lain.'
'Nyingkirke tindak angkoro murko, menjauhkan perilaku angkara murka.'
'Tansah tresna asih marang sak podone urip, selalu mengasihi sesama mahluk.'
'Ojo nguri-uri lan nyenyuwun opo wae marang sak liyane Gusti, jangan memohon dan mengharap apa-apa selain pada Tuhan.'
'Ojo gawe pepati tumrap menungso, jangan membuat kematian pada manusia.'
'Ojo seneng pamer lan ginunggung marang liyan, jangan suka pamer dan sombong pada orang lain.'
'Ojo seneng ngerusak marang angger-anggere sarak, jangan suka merusak tatanan sarak atau syariat.'
'Ojo dadi hakim tumrap dedosan, jangan menghakimi pada perbuatan dosa.'
'Ojo nyuwunake peukumane liyan, Jangan memintakan penghukuman terhadap orang lain.'
'Ojo meri marang kebejane liyan, jangan iri pada keberuntungan orang lain.
'Ojo bungah nyen weruh cilakane liyan, jangan senang jika tau musibah menimpa pada orang lain.'
'Ojo gawe cidrak ake liyan, jangan membuat celaka orang lain.'
'Ojo nyolong, ngapusi lan nenemu, jangan mencuri, berbohong dan mengada-ada.'
'Ojo nyepelek ake marang panemune liyan ingkang bener lan adil, jangan menyepelekan pendapat orang yang benar dan adil.'
'Ojo males yen di larani atimu utowo rogomu dene liyan, jangan membalas jika disakiti hati dan raga mu oleh orang lain.'
"Itulah pegangan yang harus kamu ingat-ingat, cah bagus. Jika kau mampu menjalani semuanya, maka hidupmu akan tentram dan damai." eyang parameswara mengakhiri wejangannya pada Muhibbin.
"Sekarang pulanglah, cah bagus! kembalilah pada alam asal mu!" kini eyang Abdullah angkat suara.
Muhibbin yang sedari tadi masih kebingungan dengan suasana dan tempat yang dia kunjungi hanya bisa menganggukkan kepala. Di raihnya kedua tangan lelaki tua di hadapannya itu dan di ciumnya.
"Saya pamit, eyang."
"Terimakasih atas semua nasehat eyang berdua." pungkas pemuda itu.
"Kembalilah ke asal mu, Nak Mas." ujar eyang Parameswara pula.
Mata Muhibbin terpejam karena silaunya cahaya yang ada didepannya, lamat-lamat terdengar panggilan yang tak asing di dengarnya,
"Bin, Muhibbin!"
"Bangun, le!" seru kyai Basori.
*Udzur : halangan
*Jinayah : kriminal
*Ghoiru Muhshon : pelaku perzinahan baik laki maupun wanita yang belum pernah berkeluarga ataupun belum pernah melakukan hubungan intim.
*Alam Muhdhof : alam gaib yang lebih dekat pada alam syahadah atau alam nyata
*Iling lan waspodo : selalu ingat dan waspada pada segala sesuatu yang ditetapkan Tuhan
*Kahananing Jagad : keadaan alam semesta beserta isinya
*Buana Agung : alam semesta beserta isinya
*Buana Alit : alam kecil pada diri manusia yang terdiri roh, jiwa dan daging atau jasad
*Ugeman : pegangan atau pedoman
*Lelaku sejati manungso kekasihane pengeran : perilaku sejati manusia yang di sayang Tuhan
__ADS_1