KAHANAN

KAHANAN
CH 127 - DENDAM MASA LALU PART III


__ADS_3

"Tenangkan dirimu, Nak Mas."


"Kita berdoa saja, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada Ni Mas Disya."


"Paman akan membantu mencari tunangan mu dan kerahkan para warga Manguntur agar Ni Mas Disya cepat ditemukan." ujar Jero Pecalang, pandangan pria paruh baya itu menyiratkan keprihatinan sambil menepuk pundak Muhibbin didekatnya.


Sesaat suasana di Balai Banjar Manguntur kembali hening. Para anggota keamanan banjar pun satu persatu meninggalkan tempat tersebut menyisakan Jero Pecalang dan Muhibbin yang masih duduk di balai bambu di samping bangunan itu.


"Setelah ini kau hendak kemana?" ujar Jero Pecalang kembali.


Nampak Muhibbin menghela nafas, dengan wajah kusut dan penuh keletihan pemuda itu pun berkata,


"Entahlah, paman."


"Mungkin saya akan ke Galuh terlebih dahulu untuk menemui dan meminta petunjuk Bapa Resi serta Gus Aji Putra." ujarnya lirih.


"Ya, sudah."


"Jika begitu biar anak buah paman menemanimu." jawab Jero Pecalang.


"Tak usah repot, paman."


"Saya lebih baik pergi sendiri ke Galuh."


"Sebelum kesana, saya juga ingin memastikan keberadaan Disya di kediaman kawan saya." jawab Muhibbin.


Pria tua itu menganggukkan kepala sambil sesekali tangannya membelai janggutnya yang panjang.


"Tapi kau harus hati-hati, Nak Mas."


"Aku merasakan kejadian ini agak janggal."


"Jika hanya perdebatan seperti itu tak mungkin Ni Mas Disya sampai menghilang dan tak kembali kerumahnya." ujar Jero Pecalang kembali.


Tatapan Muhibbin memandang lekat pria paruh baya disampingnya,


"Maksud paman, apakah ada hal aneh dengan hilangnya Disya?"


"Benar Nak Mas, tak mungkin tunangan mu raib begitu saja."


"Apalagi ini sudah menginjak hari ketiga setelah perdebatan kalian berdua itu."


"Paman merasakan ada hal yang janggal hingga kekasihmu itu tak dapat ditemukan."


"Tapi ya sudahlah! mungkin itu hanya firasatku saja."


"Kau segeralah berangkat ke Galuh, mumpung hari tak terlalu siang." pungkas Jero Pecalang pada Muhubbin.


Muhibbin menganggukkan kepala, dijabatnya tangan lelaki tua di hadapannya dan tak berapa lama pemuda itupun menaiki kereta anginnya dan meninggalkan jero pecalang.


Sepanjang perjalanan pikiran Muhibbin terus berkecamuk, ucapan Jero Pecalang terus terngiang-ngiang dibenaknya.


"Apa benar yang dikatakan paman Jero?"


"Lalu apa yang aneh dengan kejadian ini?"


"Ah, sudahlah."


"Sebaiknya aku segera menemui Puan Rizza dan Diera, mungkin mereka berdua mengetahui keberadaan Disya." gumam Muhibbin dalam hati, pemuda itu terus mengayuh kereta anginnya menyusuri teriknya hari di jalanan Manguntur.


Tanpa disadari oleh Muhibbin, dari kejauhan beberapa orang membuntutinya, sejak pemuda itu keluar dari Balai Banjar Manguntur. Dua buah kereta angin melaju pelan di belakang Muhibbin, masing-masing kereta angin dinaiki dua orang dengan pandangan lekat seolah tak ingin kehilangan dan terus mengamati gerak-gerik Muhibbin.


Tepat di sebuah tikungan perbatasan antara wilayah Banjar Manguntur dengan kota Negeri Pantai, kedua kereta angin itu melaju kencang menyusul Muhibbin didepannya.


Salah satu kereta angin berhenti tepat di depan kereta angin yang dikendarai Muhibbin, sontak hal tersebut membuat pemuda itu membanting arah kendaraan besinya kesebuah gundukan tanah di tepi jalan.


Dengan dengus kesal Muhubbin menyandarkan kereta anginnya,


"Apa-apaan ini?"


"Mengapa andika melaju seperti itu."


"Beruntung saya tidak menabrak andika." seru Muhibbin melangkah mendekati empat orang dengan dua kereta angin yang dikendarainya.


Wajah dingin tanpa ekspresi dan tatapan tajam penuh intimidasi mengarah pada Muhibbin,


"Andika tidak perlu banyak bertanya."


"Lebih baik andika ikut kami!" jawab salah seorang pengendara kereta angin pada Muhibbin, nampak ketiga kawannya mulai bergerak mengepung Muhibbin dari berbagai arah.


"Ada apa ini?"


"Ikut kemana?"


"Siapa andika sekalian?"

__ADS_1


"Ada kepentingan apa andika menghadang dan ingin mengajak saya ke tempat yang andika maksud?" seru Muhibbin kembali, pemuda itu nampak mulai waspada dengan gelagat orang-orang yang menghadangnya.


"Andika tak perlu tau,"


"Sekali lagi kami meminta baik-baik pada andika untuk ikut dengan kami." jawab penghadang itu kembali.


"Baik-baik, kata kalian?"


"Dengan menghadang tiba-tiba dan tanpa memberitahu tujuan kalian, apa itu baik-baik?" ucap Muhibbin.


Wajah-wajah para penghadangnya mulai berubah, salah seorang dari keempatnya mulai merangsek maju mendekati rekannya yang sedang meminta Muhibbin untuk mengikuti mereka,


"Sudahlah kawan! kita seret saja lelaki ini."


"Tak perlu banyak berbasa-basi lagi." ujar salah satu penghadang pada rekannya yang sedari tadi berbincang dengan Muhibbin, wajahnya terlihat berang.


"Saya tidak tau siapa kalian dan apa maksud kalian menghadang perjalanan saya."


"Sebelum kalian katakan siapa dan untuk kepentingan apa, saya tak akan ikut bersama kalian."


"Jangan paksa saya!" kini Muhibbin mempertegas perkataannya pada empat orang dihadapannya.


"Ah, banyak mulut kau!"


"Ayo ikut kami!" seru salah seorang penghadang dengan melangkah maju mendekat ke arah Muhibbin dan berusaha menarik lengan pemuda itu.


Tarik menarik terjadi antara keduanya,


Muhibbin mengibaskan tangannya dan mundur satu langkah namun penghadang itu kembali maju dengan terjangan ke arah Muhibbin.


Melihat dirinya diserang oleh orang didepannya, dengan tangkas Muhibbin menghindar dari aksi orang tersebut, sang penyerang semakin membabi buta mengarahkan pukulan dan tendangan pada Muhibbin, namun semuanya mengenai ruang kosong dan pemuda itu dapat menghindarinya dengan mudah, sebuah pukulan balasannya mengenai dada sang penyerang hingga terhuyung beberapa langkah kebelakang.


Melihat rekannya dengan mudah mendapat pukulan dari Muhibbin, ketiga penghadang lainnya pun mulai maju dan ikut menyerang.


Perkelahian satu lawan empat pun tak terhindarkan, terjangan dan pukulan dari para penghadang kembali diarahkan pada Muhibbin dan pemuda itu menangkis serangan dari para penghadangnya, aksi gerombolan penghadang itu semakin membabi buta, semua serangan dapat dihindari Muhibbin dan kembali pukulan pemuda itu menjatuhkan satu persatu penyerangnya.


Melihat gelagat rekan-rekannya menjadi bulan-bulanan pukulan Muhibbin, salah satu dari keempat penghadang itu berteriak,


"Hentikan!"


"Mundur!" seru salah satu penyerang dengan wajah lebam dan darah mengucur dari hidungnya sambil meringis kesakitan.


Mendengar teriakan salah satu rekannya, ketiga penghadang itu pun mundur dengan kondisi yang sama menahan rasa sakit akibat pukulan Muhubbin.


Orang yang memberi perintah mundur itu pun kembali berkata,


"Hentikan!"


"Kami sudah meminta baik-baik pada andika untuk ikut bersama kami." ujar salah satu penghadang itu sambil mengusap darah di hidungnya dengan punggung tangannya.


Dengan tatapan tajam dan senyum sinis Muhibbin berkata,


"Saya tak ada urusan dan tak punya masalah dengan kalian."


"Kalian yang memulai terlebih dahulu!" seru pemuda itu masih dengan sikap waspada.


Tetap dengan pandangan dingin dan mengintimidasi, keempat orang itu masih mengelilingi Muhibbin.


Salah seorang dari keempat penghadang itu merogoh kantung pakaiannya dan mengeluarkan sebuah benda untuk diperlihatkan pada Muhibbin.


"Apa andika mengenal benda ini?" ujar salah satu penghadang itu kembali sambil menunjukkan sebuah sapu tangan pada pemuda tersebut.


Alangkah terkejutnya Muhibbin melihat benda yang di pegang salah seorang penghadangnya,


"Dari mana kalian mendapatkan sapu tangan itu?"


"Katakan!" hardik Muhibbin penuh kegeraman, kini matanya terlihat memerah penuh amarah melihat sapu tangan berajut setangkai bunga ilalang ditengahnya, benda itu sangat dikenalnya.


"Katakan! dimana kalian mendapat benda itu?"


"Dimana kekasihku?" seru Muhibbin bergetar, tatapannya silih berganti memandang kearah empat orang didepannya.


Sapu tangan itu milik Disya kekasihnya tatkala Muhibbin memberinya saat awal pertemuannya di Selasar rumah Budaya.


"Katakan! dari mana kalian dapatkan saputangan itu?" kembali Muhibbin mengulang pertanyaannya dan berteriak pada keempat penghadangnya.


Orang-orang itu hanya menyeringai dingin mendengar teriakan Muhibbin,


"Sudah saya katakan dari awal, andika harus ikut dengan kami jika ingin tau jawabannya."


"Andika nanti akan tau dimana kekasih andika berada." ucap sang penghadang.


Mendengar jawaban orang didepannya, Muhibbin makin meradang, pemuda itu menerjang dengan penuh amarah kearah para penghadangnya.


Kembali perkelahian terjadi, keempat gerombolan itu terlihat mulai bisa menekan Muhibbin, rasa marah bercampur cemas akan keadaan yang menimpa kekasihnya rupanya telah mengurangi kewaspadaan pemuda itu, salah seorang penghadang dengan sebuah batang kayu membopong dan memukul tengkuk Muhibbin dari belakang.

__ADS_1


Mendapat pukulan yang tak diduga itu, Muhibbin terhuyung dan hal itu dimanfaatkan para penyerangnya dengan menghujani tubuh pemuda itu dengan pukulan dan tendangan, sebagian para penyerang menggunakan batang kayu memukul tubuh Muhibbin.


Darah segar mengucur dari sela-sela kepala Muhibhin, pada akhirnya pemuda dari Negeri Batu Ular itu pun jatuh tersungkur dan para penghadangnya membopong tubuh Muhibbin yang tak sadarkan diri serta menutupi kepalanya menggunakan kain hitam dengan tangan terikat kebelakang.


***


"Dimana aku?" ucap seorang wanita yang terbaring di balai bambu, pandangannya menyapu ke segala penjuru ruangan yang nampak asing dilihatnya.


"Isshh, aduhh!" wanita itu meringis menahan kesakitan dibagian bawah perutnya.


"Apa yang terjadi padaku, tempat apa ini?" gumamnya kembali, kini buliran air mata mulai membasahi pipinya. Wanita itu berusaha mengingat kejadian-kejadian sebelumnya.


"Ibbin!"


"Tega sekali kau melakukan semua itu,"


"Kau sejahat-jahatnya orang yang pernah ku kenal." ujarnya dalam hati, pikiran wanita itu berkecamuk mengulas peristiwa yang terjadi di Surau An Nur bersama kekasihnya.


Tangannya meremas ujung pakaiannya, pengakuan kekasihnya terngiang-ngiang dibenaknya serta detik-detik dimana beberapa orang menyekapnya tatkala menuruni bukit.


"Isshh!" kembali rasa nyeri terasa tatkala tubuhnya hendak digerakkan, tangannya menekan bagian bawah perutnya.


"Bagaimana aku bisa berada ditempat ini?" gumam wanita itu berusaha bangkit dari tempatnya berbaring.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka,


"Rupanya anda sudah siuman!" ujar seseorang memasuki ruangan tersebut, cahaya temaram kamar itu menghalangi pandangan sang wanita yang ada ditepian ranjang.


"Siapa anda?"


"Saya ada dimana?" ucap wanita itu pada seseorang yang baru memasuki kamar, namun orang tersebut tak menjawab, dia terlihat melangkah ke arah jendela kamar dan membukanya.


Semburat cahaya matahari mulai menerangi seluruh bagian ruangan kamar, sesaat kemudian orang itu membalikkan badan dan mendekati wanita yang masih duduk ditepian ranjang.


Alangkah terkejutnya sang wanita melihat sesosok orang yang ada di hadapannya,


"Kau ..." mata wanita itu terbelalak melihat orang yang berdiri dihadapannya.


"Iya, ini saya!" orang itu menyeringai dingin.


"Saya tak heran jika Non Disya terkejut."


"Saya sudah lama memperhatikan gerak-gerik Non Disya dan pemuda kampung itu."


"Semua ini karena ulah tunangan Non Disya."


"Selama ini saya menyusup dan menggali informasi dengan mengabdi dikediaman ayah Non dan jujur saya menganggap Non Disya layaknya anak sendiri."


"Namun sayangnya Non Disya menjadi bagian dari pemuda Manguntur itu?"


"Dan dengan berat hati, saya harus menyelesaikan misi dari majikan saya yang sebenarnya, dengan membawa Non Disya ketempat ini." ujar orang itu dengan wajah datar dan senyuman dingin.


"Apa maksudmu, pak Min?"


"Ada apa ini sebenarnya!"


"Mengapa kau tega melakukan semua ini sedangkan selama ini ayah memperlakukanmu dengan baik?" seru Disya masih tak percaya dengan apa yang terjadi padanya, lelaki dihadapannya tersebut adalah pembantu yang selama ini bekerja dan tinggal bersama dirinya.


"Nanti Non tanyakan sendiri pada Muhibbin jika Non Disya bertemu dengannya kembali, dia pasti mengingat kejadian sewindu yang lalu,"


"Den Mas Seto adalah momongan saya sejak beliau kecil,"


"Saya tak terima majikan yang saya anggap layaknya anak dilecehkan seperti itu."


"Karena perbuatan kekasihmu lah, rumah tangga majikan saya pecah."


"Non Disya pasti tau arah pembicaraan saya." pungkas lelaki tua itu pada Disya.


Disya hanya diam terpaku sambil menangis, tubuh wanita itu terasa lemas mendengar pengakuan pak Min dihadapannya.


"Saya sengaja meminta We Landep untuk menemui sahabat Non, orang dari Negeri serumpun itu dan mengabarkan janin yang dikandung Ni Mas Wati adalah darah daging Muhibbin kekasih mu."


"Dan saya pula lah yang memberitahukan keberadaan Non bersama pemuda itu di Surau An Nur pada saudagar Yanto dan anak buahnya." pungkas pak Min pada Disya.


Pengakuan pak Min yang dikenal sebagai orang terdekat dikeluarganya membuat perasaan Disya semakin gundah gulana.


"Hentikan pak Min!"


"Hentikan!"


"Aku tak mau mendengar perkataanmu lagi!"


"Hentikan!" teriak Disya sambil tersedu, gadis itu mendekap wajah dengan kedua tangannya dan semakin tenggelam dalam isakan tangis, hatinya semakin hancur mendengar kenyataan kehidupan masa lalu sang kekasih dan mengetahui pembantunya mengkhianatinya.


"Non sekarang sudah tau kebenarannya, Muhibbin tak sebaik tampilannya selama ini."

__ADS_1


"Dibalik sifat sederhananya, ternyata menyimpan kebusukan yang tak pantas dimaafkan." pungkas pak Min dengan wajah penuh kegeraman.


*****


__ADS_2