KAHANAN

KAHANAN
CH 38 - GITA CINTA SANDIKALA


__ADS_3

Wajah Muhibbin bias memerah, ucapan gadis ayu di sampingnya itu membuat kakinya terhuyung menahan tubuhnya yang terasa lemas berdiri. Tak biasa dia mendengar pernyataan seterbuka ini, apalagi dari seorang gadis.


"Emm, eeehh, Wati, Kau?" lelaki itu tergagab kelu, suaranya terenggut angin pantai yang semakin kencang.


"Hai, kenapa kau, Bin?" kata Sariwati.


Gadis itu tersenyum manis membuat Muhibbin tak berkutik dibuatnya.


"Apa ada yang salah dengan kata-kata ku?" imbuh dara cantik itu.


"Atau memang kau tak memiliki perasaan apa-apa pada ku?" pungkasnya.


"Bukan begitu, Wati."


"Emmm, Anuu! emm, apa yang kau katakan tadi?" Muhibbin terbata masih berusaha menguasai hatinya.


"Ah, lupakan Bin!"


"Aku tau, tak pernah ada diriku di hati mu," ujar Sariwati berlalu menjauh.


"Wati, bukan begitu maksudku!" buru-buru Muhibbin menyusul langkah sang dara di hadapannya.


"Aku hanya kaget, apa ini bukan mimpi?" ujar Muhibbin kembali. Lelaki itu terlihat salah tingkah dan rambutnya yang tak gatal terus di garuknya.

__ADS_1


"Ya gak lah, ini bukan mimpi Bin!" pekik gadis itu dan mencubit lengan Muhibbin. Ada perasaan jengkel di hati Sariwati pada sikap Muhibbin.


"Auuuww, sakit!"


"Kenapa kau mencubitku?"


"Iya supaya kau tau, saat ini dirimu masih terjaga bukan bermimpi!" jawaban ketus terlontar dari bibir Sariwati.


"Apa kau tak sedang bercanda, Wati?" kata Muhibbin masih dengan rasa kebingungannya.


"Auk ah, gelap!" pungkas Sariwati. kini dia merasa malu, karena apa yang dikatakannya baru saja tak ditanggapi Muhibbin.


"Dasar laki-laki, tak pernah peka dengan perasaan wanita." gumamnya kembali.


"Gak tau lah!"


"Ayo kita balik ke Surau, hari sudah mulai senja. Aku gak enak dengan tuan gubernur jika telat sampi dirumah beliau." ujar Sariwati mengalihkan pembicaraan.


Muhibbin mengambil kereta angin di sebelahnya.


Keduanya pun menaiki kereta angin itu meninggalkan pantai Purnama. Tak sepatah katapun terujar dari keduanya selama dalam perjalanan pulang.


Sesampainya di gerbang Surau, Sariwati turun dari boncengan Muhibbin, Dia langsung mengambil kereta anginnya yang sedari tadi tersandar di tembok sengker.

__ADS_1


"Kamu gak mampir dulu ke dalam, Wati?" kata Muhibbin.


"Gak usah, Bin!"


"Aku balik dulu, ya!" kata gadis itu tanpa menoleh lagi. Di kayuhnya kereta angin menyusuri jalan tanah di antara pematang sawah.


"Wati, apa kau marah padaku?" teriak Muhibbin melihat punggung kawannya yang semakin menjauh. Gadis itu hanya melambaikan tangannya sambil sesekali memperbaiki kerudung merah jambunya.


"Hem, aneh kau Wati." gumam Mihibbin menggelengkan kepala sambil menghela nafas yang terasa sesak sedari tadi dan sahabatnya berlalu begitu saja.


Terlihat senja jingga kehitaman di tengah ladang persawahan membungkus tubuh Sariwati yang semakin samar diantara padi-padi menghijau, mata Muhibbin masih mengamati dari arah Surau seakan tak ingin melepaskan kepergian wanita yang dikenalnya itu.


Di ujung jalan dekat pematang sawah Sariwati menghentikan laju kereta anginnya dan menoleh ke arah Muhibbin di kejauhan, rambut di atas kepala muhibbin merah tembaga diterpa cahaya senja, gadis itu tersenyum memandang Muhibbin yang sedari tadi mengamatinya di depan Surau An Nur.


"Lugu sekali kau, Bin!" gumam Sariwati mulai beranjak pergi. Segera dikayuhnya besi hitam yang dikendarainya.


Sementara itu di tempat lain di dalam Surau An Nur, Muhibbin terlihat merebahkan diri di balai bambu yang ada di halaman samping Surau, pakaiannya yang masih lekat basah akibat terjerembab di pantai tadi masih dikenakannya, tatapan matanya menerawang ke arah langit yang mulai meredup diatas tempatnya berbaring.


"Hem, aneh kau Wati!" gumamnya dalam hati, terlihat lelaki itu tersenyum sendiri dan di raba bibirnya dengan jari-jari tangannya.


Di kepalanya masih bercokol jelas kejadian siang tadi di pantai Purnama, bayangan tubuh sintal Sariwati yang jatuh terjerembab menindih dirinya yang tak sengaja mempertemukan bibir keduanya, ini pertama kalinya Muhibbin mencium seorang wanita selama hidupnya. Bulu kuduknya meremang kembali membayangkan peristiwa itu.


"Astaghfirullah, pikiran apa ini!" gumam Muhibbin dalam hati. Dia beranjak dari licak bambunya menuju arah belakang Surau untuk membersihkan diri.

__ADS_1


-----------------------------


__ADS_2