KAHANAN

KAHANAN
CH 54 - KEMBALI KE NEGERI PANTAI PART II


__ADS_3

Peluit masinis mulai terdengar, sepur Lohdaya mulai tiba di stasiun Tawangalun, hilir mudik para penumpang mulai terlihat ramai untuk bergegas menaiki transportasi itu, demikian juga Muhibbin dan seluruh keluarganya.


"Mari, Mak! kita harus segera naik karena sepur akan segera berangkat menuju Kalipuro." Muhibbin terlihat menggandeng tangan ibunya sedangkan di sebelahnya di bantu oleh sang kakak.


"Raya, ayo nduk bantu pak lik dan bu lik angkat bawaan kita!" seru Muhibbin pada keponakannya. Tangan mungil Raya Suci terlihat kerepotan mengangkat salah satu tas bawaan mereka.


"Kamu bawa yang kecil saja, Nduk! biar pak lik mu yang angkat sisanya!" seru Cahaya pada Raya Suci.


Dengan pundaknya Muhibbin memanggul bawaannya dan tangan sebelahnya menuntun ibunya yang dibantu oleh kakaknya. Tak berapa lama mereka memasuki sepur Lohdaya dan pemuda itu segera mencari tempat duduk untuk mereka,


"Di sini saja, Mbak yu! tempatnya lumayan lega." kata Muhibbin pada kakaknya, mereka terlihat menuju tempat duduk yang berbangku panjang.


Raya Suci beringsut duduk di pinggir jendela,


"Pak Lik, Aku duduk dekat jendela ya!" rengek Raya Suci pada Muhibbin.


"Ya gak apa, cuma kepalamu jangan nengok-nengok ke luar jendela! anginnya kencang lo, Nduk." ujar Muhibbin.


Gadis kecil itu menganggukkan kepala sambil sesekali matanya tertuju ke luar jendela.


"Emak mau minum?" tanya Cahaya yang duduk di samping Suratmi sambil mengulurkan botol kaca berisi air minum.


"Gak usah Nduk, nanti saja." jawab Suratmi singkat. Wanita tua itu terlihat sesekali memperbaiki kerudung yang di kenakannya.


Tak selang berapa lama derik roda besi mulai terdengar menandakan sepur mulai bergerak menuju stasiun Kalipuro yang merupakan stasiun terakhir di bagian timur pulau jelai.


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mata Raya Suci takjub melihat pemandangan persawahan yang menghampar hijau kekuningan disepanjang rel yang dilalui sepur Lohdaya dan sesekali gadis kecil itu bertanya pada pamannya yang duduk di sebelahnya.


"Pak lik, sekarang kita memasuki wilayah mana?" tanya gadis kecil itu.


Muhibbin yang sedari tadi kewalahan menjawab segala pertanyaan keponakannya hanya menghela nafas, maklum saja karena Raya Suci belum pernah meninggalkan Negeri Batu Ular sejak dilahirkan.


"Wilayah ini namanya Gumitir yang masih masuk wilayah Negeri Blambangan, Ray." jawab Muhibbin singkat.


Raya Suci yang masih penasaran kembali bertanya,


"Apa masih jauh Negeri Pantai itu, Pak lik?"


"Ya jauh, Nduk!"


"Besok sore kita akan sampai kalau tak ada halangan di jalan."


"Nanti sore baru kita sampai di stasiun Kalipuro setelah itu ke pelabuhan Sri Tanjung naik kapal laut ke Negeri pantai." jelas Muhibbin pada keponakannya.


"Sebaiknya kamu tidur dulu, biar gak terlalu capek. Nanti kalau sudah dekat pak lik akan bangunin!" imbuhnya kembali.


"Iya, Pak lik." jawab Raya Suci sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Muhibbin. Pemuda itu terlihat membelai rambut keponakannya yang mulai terlelap, sedangkan Suratmi dan Cahaya sedari tadi sudah tertidur sebelum memasuki wilayah Negeri Blambangan.


Langit mulai mendung dan gerimis mulai turun, air hujan mulai membasahi bumi dan dari balik jendela yang mulai berembun, terlihat lamat-lamat di kejauhan stasiun Kalipuro sudah mulai dekat. Tiupan peluit masinis terdengar memecah gemericik hujan.


Sepanjang perjalanan, Muhibbin tak bisa memejamkan matanya. Dibenaknya terbayang pujaan hatinya yang menunggu kedatangannya di Negeri Pantai. Pemuda itu menyentuh pundak kakaknya yang duduk di depannya,


"Mbak yu, bangun! kita sudah hampir sampai." ujar Muhibbin membangunkan kakaknya.


Cahaya mulai mengerjapkan matanya dan membangunkan Suratmi yang tertidur di sebelahnya demikian pula Muhibbin membangunkan Raya Suci yang terlelap.


"Bangun Nduk! kita sudah sampai di stasiun Kalipuro." ujar Muhibbin mengangkat kepala keponakannya yang terbaring di pangkuannya.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, sepur Lohdaya mulai berhenti dan semua penumpang mulai turun tak terkecuali Muhibbin dan keluarganya. Hari yang mulai senja dengan bekas guyuran hujan membuat hawa semakin dingin. Terlihat sesekali Suratmi terbatuk-batuk tatkala melangkah menuju ruang tunggu stasiun.


"Mbak yu, Aku rasa kita sebaiknya bermalam di sini dulu sambil beristirahat."


"Jika kita paksakan saat ini langsung ke pelabuhan Sri Tanjung, aku khawatir dengan kondisi emak." ujar Muhibbin pada Cahaya sambil menyelimuti tubuh ibunya dengan kain jarik yang diambilnya dari dalam tas.


"Aku gak apa-apa, Le! kita lanjutkan saja perjalanan kita supaya lekas sampai ke Negeri Pantai."


"Aku tak sabar ingin bertemu calon istrimu!" ujar Suratmi pada Muhibbin.


"Ya mak, apa tak sebaiknya bermalam dulu di sini."


"Cuacanya kurang bagus untuk kesehatan panjenengan bila kita lanjutkan perjalanan sekarang." kini Cahaya juga membujuk ibunya.


"Gak apa, Nduk! kita lanjutkan saja, Insya Allah emak masih kuat." jawab wanita tua itu sambil tersenyum.


"Gimana Le?" tanya Cahaya pada Muhibbin.


"Ya mbak yu tau sendiri bagaimana emak, kita ikuti saja mbak yu!"


"Aku akan keluar dulu mencari tumpangan delman untuk mengantarkan kita ke pelabuhan." ujar Muhibbin.


"Kalian makanlah dulu sambil menungguku disini, sudah saatnya kalian mengisi perut." serunya kembali.


"Ya Bu lik, Aku sudah lapar!" rengek Raya Suci pada Cahaya.


"Ya sudah, kamu pergilah cari tumpangan delman dulu, sementara kita menunggu sambil makan." jawab Cahaya, tangannya membuka rantang makanan yang di bawanya. Muhibbin bergegas keluar stasiun Kalipuro mencari tumpangan delman untuk mengantar mereka ke pelabuhan Sri Tanjung.


Hampir setengah jam Muhibbin keluar dan pemuda itu terlihat kembali masuki ruang tunggu stasiun dan menghampiri keluarganya,


"Ya Mbak yu! karena tadi suasana hujan, banyak pemilik delman yang pulang lebih awal tapi untungnya masih ada salah satu sais delman yang belum pulang." jelas Muhibbin.


"Kamu gak lapar, Le?"


"Sedari pagi tadi lamu belum makan." ujar Cahaya pada adiknya.


"Gak Mbak yu, Aku belum lapar."


"Sebaiknya kita segera bergegas, diluar sudah ditunggu oleh bapak pemilik delman."


"Apa kalian sudah siap?" seru Muhibbin.


Cahaya, Suratmi dan Raya Suci menganggukkan kepala. Mereka bergegas meninggalkan stasiun Kalipuro menuju pelabuhan Sri Tanjung.


Delman yang ditumpangi mereka menembus temaramnya malam, jalanan becek bekas guyuran hujan memperlambat laju kereta kuda. Hampir satu jam mereka melalui jalanan menuju pelabuhan, sepanjang jalan Suratmi terbatuk-batuk dan Cahaya dengan telaten mendekap tubuh renta ibunya.


"Sudah aku bilang, seharusnya kita menginap di stasiun dulu sampai besok, Mak!"


"Kondisi panjenengan masih belum pulih betul." seru Cahaya pada ibunya, Muhibbin dan Raya Suci hanya terdiam.


"Sudahlah Nduk, Kamu tak perlu khawatir. Emak gak apa-apa." jawab Suratmi lirih.


Cahaya dan Muhibbin hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban sang ibu, delman yang ditumpanginya sudah mulai masuk ke areal pelabuhan Sri Tanjung.


Terlihat beberapa orang anak buak kapal sibuk dengan tugasnya dalam mempersiapkan keberangkatan menuju Negeri Pantai.


"Ayo cepat-cepat, kapal akan segera berangkat!" suara anak buah kapal riuh mengatur para penumpang yang mulai masuk ke dalam kapal.

__ADS_1


Muhibbin dan keluarganya bergegas melangkah melalui jembatan dermaga ke arah kapal. Terlihat pemuda itu menggendong Suratmi ibunya dan Cahaya serta Raya Suci membawa tas mengikutinya dari belakang.


Tak selang berapa lama kapal pun mulai angkat jangkar berlayar menuju Negeri Pantai. Ombak Tanjung Selat yang memisahkan pulau Jelai dan Negeri Pantai tak begitu besar, di kejauhan terlihat kelap kelip cahaya penerangan dari dermaga Ujung.


Dermaga Ujung dikenal pula sebagai Gili Manuk di sebabkan pada suatu ketika ada seorang nelayan Negeri Garam terombang-ambing dilautan Selat Tanjung akibat badai dan terdampar di sebuah pulau kecil yang di huni oleh kawanan burung jalak putih dan perkutut, Gili Manuk sendiri bermakna pulau burung.


Lamat-lamat semakin jelas terlihat dermaga Gili Manuk yang memisahkan pulau jelai dengan Negeri Pantai.


Pulau Jelai sendiri awalnya menyatu dengan pulau Negeri Pantai, pada suatu masa seorang resi bernama Resi Sidi Mantra dari Negeri Daha yang di anugerahi oleh Batara Guru kesaktian luar biasa menggoreskan tongkatnya memisahkan pulau jelai dan Negeri pantai sebagai pembatas tempatnya berdiam diri dengan putranya bernama Manik Angkeran yang terkenal suka berfoya-foya dan berjudi.


Suatu ketika Manik Angkeran memperdaya Naga Basuki sahabat sang ayah yang memiliki sisik emas dengan memotong ekor Naga Basuki.


Akibat perbuatannya, Naga Basuki murka dan membunuh Manik Angkeran.


Melihat putranya terbunuh Resi Sidi Mantra memohon pada sahabatnya yaitu Naga Basuki untuk menghidupkan kembali putranya.


Naga Basuki bersedia menghidupkan kembali Manik Angkeran dengan syarat Resi Sidi Mantra Menyambungkan kembali ekornya yang putus dan Manik Angkeran harus bertaubat dari perbuatan buruknya.


Dengan kesaktian anugerah Batara Guru, Resi Sidi Matra menyambungkan kembali ekor Naga Basuki dan Manik Angkeran dihidupkan kembali oleh Naga Basuki dan berdiam diri di gunung Tohlangkir Negeri Pantai.


***


Hari mulai berganti semburat kemerahan di ufuk timur mulai terlihat, kapal yang ditumpangi Muhibbin sekeluarga mulai lego jangkar dan merapat di dermaga Gili Manuk. Udara pagi terasa segar setelah semalaman di guyur hujan.


Muhibbin beserta keluarganya menyusuri jembatan dermaga, terlihat rona berseri terpancar di wajah Muhibbin karena tak berapa lama lagi dia dan keluarganya akan bertemu Sariwati sang pujaan hati.


"Emak, Mbak yu, kalian tinggu disini dulu! Aku akan mencari tumpangan kereta kuda kembali untuk mengantar kita ke Banjar Manguntur." ujar Muhibbin pada Cahaya.


Terlihat wajah kelelahan terpancar di muka Suratmi yang renta, membuat Cahaya cemas dengan keadaan ibunya.


"Apakah masih jauh kediaman mu, Le?"


"Aku kasihan melihat kondisi emak."


"Emak terlihat sangat lelah sekali, Bin" ujar wanita itu kembali


"Bila kita berangkat saat ini, kira-kira nanti siang kita akan sampai di dusun Manguntur, Mbak yu." jawab Muhibbin,


"Tapi kalau melihat kondisi emak, mending kita berangkat agak siang, walau pun malam kita sampai di tempatku gak jadi masalah."


"Aku rasa itu lebih baik." ujar Muhibbin kembali.


"Di dekat sini ada balai banjar yang bisa kita gunakan untuk beristirahat sejenak, bagaimana menurut panjenengan, Mak?" kini Muhibbin menatap wajah ibunya.


"Emak manut aja, Le." ujar Suratmi lirih kelelahan dan sesekali terbatuk-batuk.


Kini tatapan Muhibbin beralih pada kakaknya, "Ayo mbak yu, kita istirahat dulu sejenak."


"Raya, bantu Bu Lik bawa tasnya ya, Nduk!"


"Pak Lik akan gendong mbah uti." seru Muhibbin pada keponakannya.


"Ya, Pak Lik." jawab gadis kecil itu sambil mengangguk pelan.


Muhibbin menggendong sang ibu dan Cahaya serta Raya Suci bergegas berjalan mengikuti langkahnya menuju balai banjar yang tak jauh dari pintu keluar dermaga Gili Manuk.


 

__ADS_1


__ADS_2