KAHANAN

KAHANAN
CH 70 - MELARIKAN DIRI


__ADS_3

'Teruntuk Kekasih


Ku harap kau baik-baik saja saat ini, walau ku tau yang kau alami sore tadi sangat menyakitkan dan akupun sama.


Tak pernah ku duga sikap keluargaku akan seperti itu, itu diluar kendali dan keinginanku. Kau tau sendiri bagaimana aku tak akan bisa hidup tanpamu, suka duka telah kita lalui bersama dan kini disaat kau berduka atas perlakuan keluargaku, ku harap kau tak pernah berubah menilaiku karena aku akan tetap menjadi kekasih yang kau kenal sejak dulu.


Mencintaimu adalah sebuah takdir terindahku, bisa menyayangimu adalah hal yang tak pernah ku anggap sia-sia. Siapa kamu dan trah mana dirimu berasal, aku tak pernah tau dan tak ingin mencari tau, tapi aku punya sebuah keyakinan kalau kau adalah sebuah nama insan di Lauhil Mahfus yang bersanding bersama dengan namaku.


Maaf karena aku dan keluargaku membuat mu marah, membuatmu benci atas semua kepedihan yang aku timbulkan, membuatmu masuk dalam pusaran masalah kehidupanku, membuatmu terhina bersama keluargamu tapi sekali lagi ku katakan, itu di luar kendaliku.


Terimakasih karena kau selalu menganggapku yang terbaik, terimakasih karena kau mengajarkanku untuk selalu berjuang dalam mengarungi hidup, terimakasih karena kau selalu ada disaat keterpurukanku selama ini.


Kini ijinkan aku menemani dalam dukamu, ijinkan aku menemani dalam hidupmu, di sisa-sisa umur kita untuk selalu bersama..


Bawalah aku pergi kekasih, sebelum fajar menyingsing, ku tunggu dirimu di tempat pertama kita bertemu


Dari orang yang sangat mencintaimu


Sariwati'


Di lipatnya sepucuk surat dari Sariwati yang di hantarkan oleh We Landep, pandangan Muhibbin menerawang jauh menatap pekatnya malam diatas langit Manguntur yang tak berbintang, tetesan sisa-sisa air hujan di iringi hembusan angin malam yang kian menusuk tak dirasakannya.


"Apa maksud semua ini?"


"Apa lagi yang di inginkan Wati dariku, setelah hinaan pada Emak tadi?"


"Aku harus memastikan dan meminta penjelasannya." gumam Muhibbin dalam hati sambil bangkit dari tempatnya berdiam diri.


Kokok ayam jantan bersahutan di kejauhan memecah  pekatnya malam di penghujung pagi yang masih temaram, terlihat pemuda itu menuju pancuran di sebelah surau An Nur dan setelah itu Muhibbin masuk kedalam surau menunaikan sembahyang. Tak berapa lama pemuda itu keluar dari dalam surau, ia melangkah menuju keluar dan mengayuh kereta anginnya menuju sebuah tempat yang masih sangat di ingatnya, tempat dimana dirinya bertemu pertama kali dengan gadis itu.


***


Sementara di tempat lain tepatnya di kediaman tuan Gubernur Negeri Pantai, suasana malam yang dingin akibat guyuran hujan sejak sore hari membuat  penjagaan tak begitu ketat, para Bhayangkara yang biasa berjaga terlihat terlelap di pos jaga yang ada di pintu gerbang bangunan megah itu.


Sesosok bayangan terlihat mengendap-ngendap diantara tanaman dan pepohonan yang tumbuh di halaman rumah kediaman sang gubernur, sosok itu terlihat keluar melalui jendela salah satu kamar bangunan itu. Bayangan itu terus melangkah hati-hati melewati regol penjagaan, tiba-tiba seseorang menarik tangan sosok bayangan itu.


"Ni Mas!"


"Cepat ikuti saya." ujar seseorang itu.


"We Landep?"


"Mengapa We Landep kembali ke sini lagi?"


"Bagaimana tugas yang ku berikan padamu, apakah suratku telah kau sampaikan padanya?"


We Landep mengangguk pelan,


"Sudah, Ni Mas."


"Aku kemari hanya ingin memastikan Ni Mas Wati bisa keluar tanpa di ketahui oleh para penjaga." ujar We landep pada sosok di depannya yang tak lain adalah Sariwati. Wajah gadis itu terlihat ceria mendengar jawaban lelaki paruh baya di depannya.


"Cepat pergi, Ni Mas!"

__ADS_1


"Di balik pohon angsana itu ada sebuah kereta angin yang bisa kau gunakan."


"Temui Nak Bagus Muhibbin."


"Saya yakin Nak Bagus sekarang sudah menunggumu, Ni Mas.."


"Pergilah, sebelum tuan gubernur dan para penjaga tau kalau Ni Mas keluar dari kediaman."


Gadis itu bergegas melangkah ke arah pohon angsana yang dikatakan We Landep. Kereta angin tersandar di balik pohon itu.


"We, aku pergi dulu."


"Kau pun harus segera meninggalkan tempat ini."


"Terimakasih atas bantuanmu." ujar Sariwati sambil mengulurkan beberapa lembar uang Ru pada lelaki paruh baya itu.


"Tak usah, Ni Mas."


"Pakai saja uang itu untuk keperluan Ni Mas."


"Saya dan keluarga selama ini sudah banyak di bantu oleh Ni Mas." ujar We Landep menolak pemberian Sariwati.


Dengan berkaca-kaca gadis itu menatap pembantunya.


"We, sekali lagi aku ucapkan terimakasih atas bantuanmu."


"Aku pergi dulu, We"


We landep menganggukan kepala pada majikannya, "Hati-hati Ni Mas!" gumam lelaki itu lirih.


Tubuh Sariwati pun mulai menghilang diantara pekatnya malam dan Lelaki itupun bergegas pergi setelah  Sariwati tak terlihat.


***


"Kemana dia?"


"Hari sudah hampir fajar dan dia masih belum datang."


"Apakah dia membohongiku?" gumam Muhibbin dalam hati, wajahnya  terlihat gelisah menunggu seseorang yang sangat dia nantikan penjelasannya, di hisapnya sebatang rokok untuk membunuh kejenuhannya dalam menunggu.


Pemuda itu duduk di bawah pohon bunut yang tak jauh dari pura Melanting desa Batubulan tempat pertama kali dirinya dan Sariwati bertemu. Tanpa terasa sudah dua batang Muhibbin menghabiskan rokoknya saat menunggu Sariwati, dan yang di harap-harapkannya pun belum juga muncul.


"Apa jangan-jangan dia sengaja mengerjaiku?"


"Alangkah bodohnya diriku, masih percaya padanya setelah apa yang keluarganya perbuat padaku dan keluargaku."  gerutu muhibbin dalam hati, pemuda itu terlihat gusar dengan apa yang dialaminya.


Muhibbin bersiap meninggalkan tempat itu namun tiba-tiba dari pekatnya malam muncul seseorang dengan kereta angin yang di kayuhnya kencang, tak lama kemudian seorang gadis dengan nafas tersengal-sengal menghampiri Muhibbin.


"Ibbin!" ujar gadis itu masih kelelahan.


"Wati!" Muhibbin tercekat melihat gadis di depannya. Serasa tak percaya pemuda itu memandang lekat kekasihnya yang sudah beberapa purnama sejak kepergiannya ke Negeri Batu Ular tak pernah di jumpainya.


"Ibbin!" Sariwati berlari ke arah Muhubbin, di hempaskannya kereta angin yang dikendarainya lalu dipeluknya tubuh sang kekasih. Dua sejoli itu menumpahkan kerinduannya setelah lama tak bertemu, perasaan mereka campuraduk dengan apa yang dialaminya.

__ADS_1


Sariwati sesenggukan menangis dalam pelukan Muhibbin,


"Bawa aku pergi, Bin!"


"Aku lebih baik mati daripada berpisah dengan mu."


"Bawa aku pergi." rintih Sariwati pada Muhibbin, dipeluknya erat-erat pemuda itu.


Pergolakan batin dialami Muhibbin, dia sangat mencintai kekasihnya ini namun di sisi lain sangat kecewa dan masgul dengan perlakuan Papi Sariwati yang telah menghina ibunya.


"Wati, apa yang kau lakukan ini?"


"Apakah kau kabur dari rumahmu?"


"Bagaimana jika papimu tau bahwa kau mencariku?"


"Bukannya mereka merasa kami ini orang hina yang tak pantas berdampingan dengan mereka yang berdarah biru?" rentetan pertanyaan sinis di lontarkan Muhibbin.


Sariwati melepaskan pelukannya dan ditamparnya wajah sang kekasih.


" Apa kau tak ingin kita hidup bersama?"


"Setelah yang kita alami selama ini, apakah kau akan menyerah begitu saja?"


"Jika kau pun tak menghendaki ku, lebih baik aku pergi dari kehidupan kalian semua!"


"Aku tak sudi menuruti keinginan Papi dan menikah dengan Seto yang tak kukenal itu."


pekik Sariwati dengan linangan air mata. Gadis ayu itu semakin histeris,


"Aku lebih baik mati dari pada menuruti keinginan mereka!"


Muhubbin tak kalah emosinya melihat sang kekasih histeris.


"Tapi keluargamu itu sudah sangat keterlaluan, Wati!"


"Mereka boleh menolak atau bahkan menghinaku, tapi jangan hina ibuku!"


"Jika memang pinanganku ditolak, kenapa tidak pada saat ajik Nengah pertama kali menyampaikan ke keluargamu."


"Bukannya malah menghina kami sedemikian rupa, seolah-olah kami sekumpulan orang-orang yang haus akan derajad dan kedudukan."


"Dan perlu kau tau, tak sudi ku gadaikan kehormatan ibuku walaupun itu demi dirimu!" pungkas Muhibbin.


Perdebatan keduanya pun semakin menjadi, kedua sejoli itu saling meluapkan apa yang mengganjal dalam hati mereka masing-masing.


"Itu semua diluar kendaliku."


"Aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini."


"Andaikan ku tau sikap mereka seperti ini, pasti aku akan memperingatkan diri mu." pekik Sariwati.


"Aku tau, Papi ku keterlaluan."

__ADS_1


"Dan aku ingin meminta maaf pada ibu dan kakakmu atas perlakuan papi." pungkas Sariwati.


Muhibbin kini terdiam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya, gurat-gurat kekecewaan tak bisa dia sembunyikan di wajahnya.


__ADS_2