
Tak berapa lama, Cokro bergegas meninggalkan tuan Sirkun dikuti oleh beberapa Bhayangkara dan Jero Pecalang dibelakangnya.
"Jero, saya dan beberapa Bhayangkara akan menyergap dari arah kanan."
"Andika bersama yang lain bergerak dari kiri bangunan."
"Sementara para pemanah terus hujani rumah tua itu untuk membuka jalan."
"Setelah mendapat aba-aba dari saya, kalian harus segera masuk."
"Prioritas kita saat ini membebaskan Muhibbin dan ingat! kita tidak tau lawan kita kali ini, kalian berhati-hatilah." ujar Cokro memberi arahan.
Orang-orang yang mengitari pimpinan Bhayangkara itu terlihat manggut-manggut demikian juga Jero Pecalang.
"Ayo kita bergerak." seru Cokro kembali.
Dengan mengendap-endap diantara semak belukar, mereka bergerak merangsek ke arah bangunan tua itu, temaramnya malam sedikit membantu pergerakan mereka sehingga orang-orang di dalam rumah tua tersebut tak dapat melihatnya.
Para pemanah pasukan Bhayangkara terus menghujani tempat itu dengan lesatan anak panah untuk membuka jalan bagi Cokro dan lainnya mendekati arel tersebut. Nampak beberapa penjaga bangunan itu roboh terkena anak panah para Bhayangkara.
Sementara dari dalam bangunan tua itu, gerombolan itu terus memberikan perlawanan, kembali gelapnya malam memberi keuntungan sehingga lesatan panah menyasar tak tentu arah pada para penyerang di luar bangunan.
Tiba-tiba penerangan di bangunan tua itu padam, sehingga membuat suasana semakin gelap gulita dan serangan dari dalam rumah itu pun berhenti.
Melihat hal itu, pasukan Bhayangkara yang telah mengepung rumah tua tersebut merangsek mendekat tanpa mengurangi kewaspadaan demikian pula beberapa orang yang di pimpin oleh Cokro di bagian kanan dan Jero Pecalang di bagian kiri ikut mendekat.
Setelah berjarak sekitar tujuh tombak dari bangunan tua itu, tiba-tiba dari dalam rumah beberapa orang gerombolan itu melempar sesuatu ke arah luar bangunan secara bersamaan.
Melihat hal itu, spontan Cokro berteriak pada para anak buahnya,
"Awas, Bondet!"
"Tiarap!"
Namun peringatan Cokro itu terlambat,
terjadi ledakan di sana-sini setelah benda-benda yang dilempar oleh penghuni rumah tersebut menyentuh tanah.
Jeritan kesakitan dan suara ledakan bondet membuat suasana di luar semakin kacau, kobaran api bekas ledakan bom ikan itu merambat membakar semak belukar membuat suasana malam yang gelap gulita menjadi terang.
Sosok para Bhayangkara yang bersembunyi di semak-semak nampak terlihat disebabkan kobaran api semakin membesar, hal itu mempermudah para penghuni bangunan melesatkan anak panah yang membuat korban berjatuhan di pihak Bhayangkara.
"Berlindung!"
"Cepat!" teriak Cokro pada anak buahnya yang mulai terdesak oleh serangan dari dalam rumah tua.
"Serang!" sebuah teriakan tiba-tiba datang dari dalam rumah dan tak berapa lama, beberapa orang berhamburan keluar dengan senjata terhunus ditangan.
Pertarungan jarak dekat tak terhindarkan, para gerombolan Garuda merah dan anak buah Seto terlihat membabi buta menyerang para Bhayangkara yang tak menyangka mendapat serangan balasan secepat itu.
Sementara di bagian belakang bangunan tua itu, nampak pertarungan yang tak kalah sengitnya.
"Menyerahlah! kalian sudah terkepung." ujar Jero Pecalang menghadang orang-orang yang hendak melarikan diri.
"Cuih! setan alas!"
"Orang kampungan seperti kalian berani-beraninya memerintah kami!" jawab pria berbadan tegap dengan bekas luka melintang di wajahnya.
Dengan wajah beringas lelaki itu menerjang ke arah Jero Pecalang sambil berkata pada seseorang yang selalu berada disampingnya,
"Ni Mas, sebaiknya anda segera pergi!"
"Biarkan saya yang membereskan orang-orang ini." bisik lelaki itu pada orang bercaping disebelahnya.
"Hai kau! bawa Ni Mas Habsari dan pemuda itu untuk pergi dari tempat ini."
"Aku akan menyusul kalian setelah membereskan tikus-tikus ini!" perintah lelaki itu yang tak lain adalah Martin pimpinan Garuda Merah.
"Baik, ketua."
"Mari, Ni Mas." ujar salah satu anggota Garuda Merah itu pada Habsari.
Jero Pecalang yang melihat hal itu bermaksud menahan kepergian orang-orang didepannya, namun pimpinan keamanan desa Batubulan itu tak diberi kesempatan, dengan lompatan tinggi, Martin menerjangnya sambil menyabetkan parang yang di pegangnya.
Mendapat serangan tiba-tiba tersebut, Jero Pecalang mengurungkan niatnya dan menghindar dari serangan Martin yang hampir saja mengenainya.
Jero Pecalang saat ini berhadapan langsung dengan Martin, keris yang ada di genggamannya mulai berlumuran darah setelah sebelumnya menyerang para gerombolan Garuda Merah yang lain.
"Kalian kejar dua orang yang membawa Muhibbin itu, jangan sampai mereka lolos!" perintah Jero Pecalang pada anak buahnya dan beberapa Bhayangkara yang ada di tempat itu.
"Kurang ajar!"
"Mati, kau!" teriak Martin sambil menyabetkan parangnya pada Jero Pecalang.
Dengan sigap, pimpinan keamanan desa Batubulan itu meladeni serangan Martin padanya.
Adu ketangkasan antara keduanya tak dapat dihindarkan, tendangan dan sabetan senjata tajam silih berganti dilakukan, sementara sekeliling areal rumah itu pun semakin kacau, perlawanan yang dilakukan oleh gerombolan Garuda Merah mulai menyudutkan para Bhayangkara.
'Craasss!'
Sebuah sabetan cepat dari Martin melukai lengan kanan Jero Pecalang, darah mengucur dari tangan pimpinan keamanan desa Batubulan itu.
Melihat lawannya terluka, Martin tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan melompat, pimpinan Garuda Merah itu melayangkan tendangan melingkarnya pada Jero Pecalang.
Tubuh Jero Pecalang terpental beberapa tombak, darah dari hidungnya mulai mengucur, hal itu semakin membuat Martin menggila, lelaki itu terus menyabetkan parangnya ke arah Jero Pecalang yang mulai terdesak.
Jero Pecalang terus berusaha menghindar dari serangan Martin. Pria itu menangkis sabetan parang dengan keris yang ada ditangannya.
"Mati, Kau!" teriak Martin sambil mengarahkan parangnya ke arah Jero Pecalang yang mulai terhuyung dan kehilangan keseimbangan.
Tak kurang dari sejengkal senjata Martin akan menebas leher pimpinan keamanan desa Batubulan tersebut, tiba-tiba parang yang mengarah ke leher Jero Pecalang terlempar dan disampingnya telah berdiri lelaki tua dengan keris terhunus menangkis serangan Martin tersebut.
__ADS_1
Pimpinan Garuda Merah itu melompat beberapa langkah kebelakang sambil melihat lelaki tua yang ada di hadapannya, dengan menahan rasa nyeri di pergelangan tangannya akibat tangkisan dari lelaki tua itu, pimpinan Garuda Merah itu terhenyak.
"Kau!" pekik Martin pada pria tua dihadapannya.
"Kita bertemu lagi, Martin." ujar pria tua itu dingin sambil membantu Jero Pecalang untuk berdiri.
"Kau tidak apa-apa, Jero?" tanya pria tua itu pada pimpinan keamanan desa Batubulan tersebut.
"Saya tidak apa-apa, Tuan."
"Terimakasih atas bantuan tuan pada saya." jawab Jero Pecalang terbata-bata menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Syukurlah, andika menepilah terlebih dahulu."
"Arsana, bantu Jero Pecalang untuk menjauh dari tempat ini."
"Biar aku yang akan menghadapi orang itu." ujar lelaki tua tersebut sambil mengarahkan pandangannya pada Martin yang masih meringis menahan nyeri dipergelangan tangannya.
Pemuda itu menganggukkan kepala dan mendekati Jero Pecalang, rupanya bala bantuan dari Griya Manuaba yang dibawa oleh Arsana datang tepat waktu, pemuda itu terlihat memapah Jero Pecalang menjauhi arena pertarungan.
"Kau tidak pernah berubah, Martin."
"Dirimu selalu mengabdi pada keangkara murkaan."
"Aku menyesal tak menghabisi mu sejak dulu."
"Perbuatan mu telah banyak menyengsarakan masyarakat yang tak tau apa-apa." ujar lelaki tua itu dingin pada Martin.
"Dunia telah berubah, Ketua."
"Jalan Garuda Merah tak sama lagi dengan saat dahulu anda memimpinnya."
"Saya terkejut, anda masih hidup dan kita bertemu lagi." ucap Martin sambil menyeringai pada lelaki tua dihadapannya.
"Garuda Merah telah melenceng dari jalan kebenaran."
"Dahulu aku membentuk pasukan itu untuk mengabdi pada negara dan masyarakat kecil."
"Namun ditangan kalianlah, reputasi Garuda Merah tercoreng dan menjadi antek-antek tirani dibawah keserakahan keluarga Bendowo!"
"Apa kau tak malu akan sumpah yang telah kau ikrarkan pada negara ini?" seru lelaki tua itu tajam.
"Hahahaa!"
"Kau naif, Ketua!"
"Jaman sudah berubah, dimana ada keuntungan dan uang, di situlah Garuda Merah akan mengabdi." ucap Martin sambil tertawa.
"Picik!"
"Manusia-manusia seperti kalianlah yang akan merusak negeri ini."
"Kalian hidup dengan Ketamakan dan keserakahan di atas penderitaan rakyat."
"Kalian hanya mementingkan kepentingan pribadi demi memuaskan syahwat duniawi saja."
"Begitu banyak rakyat yang telah menderita atas ulah kalian ini." tegas lelaki tua itu kembali pada Martin.
Matin kembali terkekeh dengan wajah sinis,
"Putra ... Putra!"
"Kau bagai meludah ke angkasa dan terkena wajahmu sendiri."
"Dari dulu kau berlagak paling suci."
"Bukannya kau sendiri yang telah membawa Garuda Merah untuk mengabdi pada kekuasaan?"
"Apa kau lupa, bagaimana dirimu berambisi menjodohkan anakmu dengan keturunan mendiang yang mulya raja Harsuto?"
"Kau korbankan keluargamu sendiri demi mendapatkan kehormatan!"
"Siapa yang tak tau tentang seorang Ida Bagus Putra Narayana yang menjual anaknya pada penguasa saat itu?" ejek Martin pada lelaki tua dihadapannya. Lelaki yang disebut ketua oleh Martin itu terlihat mendengus kesal.
"Tutup mulut busuk mu itu, Martin!"
"Kau tak tau apa-apa tentang keluargaku." potong lelaki tua itu yang tak lain adalah Gus Aji Putra atau Ida Bagus Putra Narayana, seorang tabib tua yang telah membantu mengobati mendiang bu Suratmi tatkala sakit dan pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Pantai bersama Muhibbin putranya.
"Jangan samakan diriku dengan kalian."
"Kau sama rendahnya dengan Bendowo si pengkhianat itu!" pekik Gus Aji Putra penuh amarah.
Garuda Merah adalah pasukan yang dibentuknya bersama Bendowo sang putra kesayangan mendiang raja Harsuto, sebagai upaya menangkal pemberontakan yang dilakukan lawan-lawan politik raja Harsuto yang banyak menyengsarakan rakyat kerajaan Zamrud kala itu.
Di masa kejayaan kerajaan Zamrud itu, reputasi Garuda Merah tersohor seantero negeri sebagai pasukan khusus dibawah kendali mendiang raja Harsuto dan banyak membantu rakyat kecil yang ditindas oleh rezim sebelumnya yang tak lain adalah lawan-lawan politik raja Harsuto.
Namun seiring waktu, Garuda Merah menjadi pasukan yang mengerikan dibawah kendali Bendowo putra kesayangan raja Harsuto.
Sepak terjang Bendowo yang tamak bersama Garuda Merah banyak menimbulkan kebencian di hati rakyat kerajaan Zamrud. Mereka tak segan-segan merampas harta dan membunuh orang-orang yang di anggap menjadi penghalangnya.
Hal itu pun terjadi pula pada Gus Aji Putra yang tak lain adalah pimpinan Garuda Merah kala itu, karena pria tua itu di anggap sebagai penghalang sepak terjang Bendowo, dirinya dituduh sebagai pemberontak kerajaan Zamrud dan diburu ke penjuru negeri.
"Tak ku sangka, kita bertemu di situasi seperti ini, Ketua."
"Rupanya selama ini kau bersembunyi di negeri ini."
"Pantas saja selama ini pasukan kerajaan Zamrud tak bisa menemukan mu." ucap Martin pada Gus Aji Putra.
"Jangan-jangan dirimu pun ada hubungan dengan pemuda penjaga surau itu?" ujar Martin kembali.
"Kau tak perlu tau tentang urusanku di negeri ini, Martin."
__ADS_1
"Yang pasti, hari ini aku harus menghentikan sepak terjang mu yang telah banyak menyengsarakan orang lain."
"Jangan dikira aku tidak tau semua perbuatan mu bersama Garuda Merah."
"Kalian yang telah membuat keonaran dengan menyerang keluarga pemuda itu dikampung asalnya."
"Dan kalian juga yang telah membunuh Jero Perbekel, ibu dan kakak pemuda itu dengan menyamar sebagai pasukan Bhayangkara."
"Aku benar-benar malu telah mendidik kalian yang tidak memiliki jiwa kesatria dan hanya orang-orang pengecutlah yang lempar batu sembunyi tangan dengan mengatasnamakan pasukan lain." seru Gus Aji Putra.
Kini tatapan Martin melotot dan pria itu gusar mendengar perkataan lelaki tua dihadapannya.
"Cukup, Putra!"
"Hentikan ceramah mu."
"Kau tak perlu ikut campur urusan Garuda Merah lagi."
"Sekarang pergilah dari tempat ini."
"Anggap saja itu kebaikan terakhirku karena masih memandang mu sebagai mantan ketua Garuda Merah." ucap Martin meradang.
Gus Aji Putra tertawa dingin,
"hahaha!"
"Dalam situasi terdesak seperti ini kau masih bisa membual, Martin."
"Bukannya posisimu saat ini sudah mulai terdesak dan seharusnya bukan kau yang menentukan pilihan."
"Lihatlah disekitar mu!"
"Anak buah mu semakin tersudut oleh para Bhayangkara." balas Gus Aji Putra sambil menunjuk ke sekitarnya.
Martin menyapu pandangannya ke sekeliling areal rumah tua itu, beberapa anak buahnya mulai terdesak dan tak sedikit pula tewas berkalang tanah oleh serangan Bhayangkara Negeri Pantai.
"Kurang ajar!"
"Banyak mulut!"
"Rasakan ini!" teriak Martin sambil menerjang ke arah Gus Aji Putra.
Melihat lawannya menerjang, Gus Aji Putra sedikit menarik kuda-kudanya ke belakang dan serangan Martin dapat dihindari dengan mudah.
Melihat serangannya dapat dihindari oleh lelaki tua itu, Martin terus menyerang dengan pukulan dan tendangan. Sama seperti keadaan sebelumnya, semua serangan itu tak mengenai sasaran.
Pria dengan bekas luka melintang diwajahnya itu mencabut keris yang terselip di pinggangnya, kini serangan-serangannya semakin berfariasi mulai tendangan dan sabetan-sabetan keris yang silih berganti mengarah ke tubuh Gus Aji Putra.
Namun pria tua itu tak kalah trengginas, kecepatan serangan Martin dapat di imbanginya dengan mudah bahkan kini situasi berbalik arah.
Gerakan-gerakan rumit diperagakan oleh Gus Aji Putra, sebagai mantan pimpinan Garuda Merah, keahlian bertarung Gus Aji Putra sudah tersohor di kalangan para Darmayudha kerajaan Zamrud, bahkan Bendowo dan para pasukan Garuda Merah termasuk Martin adalah anak didiknya selama menjadi prajurit kerajaan Zamrud. Lelaki tua itu pun adalah pengawal pribadi kepercayaan mendiang raja Harsuto.
Sebuah tendangan telak menghantam tubuh Martin, pria itu tersungkur dengan menahan rasa sakit di dadanya. Hal itu tak di sia-siakan oleh Gus Aji Putra, sebuah pukulan keras mendarat di wajah Martin sehingga membuat lelaki itu mengucurkan darah dari hidungnya.
Tak berhenti sampai disitu, Gus Aji Putra menarik tangan Martin dan memelintirnya kebelakang sehingga keris yang digenggam lelaki itu pun terjatuh. Gemeretak bunyi tulang patah terdengar diiringi jeritan kesakitan Martin.
Pria berwajah garang itu berusaha melepaskan diri dan menyerang kembali dengan tendangannya, sambil meringis kesakitan, Martin terus menyerang. Namun serangannya kembali dimentahkan oleh Gus Aji Putra.
Dengan satu tangan, lelaki tua itu menangkap kaki Martin dan menjatuhkan tubuh bekas anak buahnya ke atas tanah, dengan sedikit hentakan tangan dan kuncian menggunakan kaki, Gus Aji Putra memiringkan tubuhnya dan suara gemeretak tulang patah kembali terdengar.
Kembali Martin berteriak kesakitan, tubuhnya limbung tersungkur di atas tanah. Melihat lawannya sudah tak berdaya, Gus Aji Putra menghentikan serangannya.
Martin mengerang kesakitan dan berusaha bangkit, namun tubuhnya jatuh kembali ke tanah.
Melihat lawannya sudah tak berdaya, dengan dingin ditatapnya wajah Martin yang mengerang kesakitan,
"Semua itu belum cukup untuk membalaskan penderitaan orang-orang yang kau sakiti selama ini, Martin." ujar Gus Aji Putra pada Martin.
Martin yang tergeletak dengan luka dalam dan tulang-tulang patah berteriak mengumpat pada Gus Aji Putra,
"Putra ... "
"Bunuh saja aku!"
"Jangan kau biarkan aku dengan keadaan seperti ini."
"Putra!"
"Bajingan tua bangka! ayo, bunuh aku!" teriak Martin histeris, sorot matanya masih terlihat garang memandang Gus Aji Putra yang kini berdiri tenang dihadapannya.
"Aku ingin sekali membunuhmu, namun itu hanya akan mengotori tanganku."
"Penghakiman mu bukan diujung kerisku."
"Para Bhayangkara yang akan mengurus mu."
"Dan kau akan mendapat hukuman setimpal sesuai dengan perbuatan mu." seru Gus Aji Putra pada Martin yang sudah tak berdaya.
Lelaki tua itu membalikkan badannya hendak meninggalkan Martin untuk menuju ke arah Arsana yang menjaga Jero Pecalang, namun tiba-tiba teriakan Arsana memperingatkannya,
"Gus Aji ... awas!"
Sebuah lemparan belati melesat kencang ke arah Gus Aji Putra. Dengan memiringkan tubuhnya, pria tua itu menghindari serangan belati terbang yang berasal dari arah dimana Martin tergelatak.
Tak berselang lama sebuah lemparan belati kembali mengarah kepadanya, namun kali ini Gus Aji Putra dengan sigap menangkap senjata tajam itu dan melemparkan kembali pada pemilik belati.
Tubuh pimpinan Garuda Merah itu kembali ambruk ke tanah dengan sebuah belati menancap di dadanya,
"Putra ... "
"Bajingan, Kau!" erang Martin terbata-bata sebelum roboh dan menghembuskan nafas terakhirnya.
__ADS_1
*****