
Melihat Martin tewas dengan belati menancap di dadanya, Gus Aji Putra melangkah mendekati jazad mantan anak buahnya itu.
"Sayang sekali, orang berbakat sepertimu mengabdikan diri pada kezaliman."
"Semoga Dewata mengampuni segala kesalahanmu, Martin." gumam Gus Aji Putra dalam hati sambil mengusap wajah Martin yang tewas dengan mata terbuka.
Lelaki tua itu terlihat melangkah ke arah Arsana dan Jero Pecalang berada, tak lupa dia pun memerintahkan beberapa Bhayangkara untuk mengurus jasad Martin.
Sementara di bagian depan rumah tua itu nampak para Bhayangkara mulai bisa mengatasi keadaan.
Sisa-sisa gerombolan Garuda Merah digelandang dengan tangan terikat ke belakang.
Nampak seseorang yang sangat dikenal menghampiri Gus Aji Putra, Arsana dan Jero Pecalang.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Cokro pada ketiga orang dihadapannya.
"Andika terluka, Jero?" ujarnya kembali sambil duduk berjongkok didekat Jero Pecalang yang tersandar di sebatang kayu.
"Saya tidak apa-apa, Tuan."
"Hanya luka kecil saja." jawab Jero Pecalang terbata-bata menahan rasa nyeri di dadanya.
"Syukurlah, nanti anggota saya akan merawat luka andika, Jero."
"Oh ya, siapa mereka ini, Jero?"
"Untung ada mereka."
"Dengan kehadiran dan bantuan mereka, kita bisa mengatasi gerombolan itu." ujar Cokro sambil mengarahkan tatapannya pada Gus Aji Putra dan Arsana.
"Beliau ini, Gus Aji Putra dari desa Gelumpang."
"Dan pemuda ini Arsana cantrik Bapa Resi Giri Waja sekaligus adik ipar Muhibbin." jawab Jero Pecalang lirih pada Cokro.
"Saya haturkan terimakasih atas bantuan andika berdua, Gus Aji Putra dan tuan Arsana." ucap Cokro penuh hormat menangkupkan telapak tangannya di dada.
"Tak perlu sungkan, Tuan."
"Sudah menjadi kewajiban kita membantu sesama demi tegaknya keadilan." ucap Gus Aji Putra tenang.
"Kami para Bhayangkara berhutang budi pada andika sekalian, Tuan." balas Cokro.
"Sudah ... sudah!"
"Tak perlu dibahas lagi."
"Yang terpenting, situasi dapat kita atasi."
"Mari kita periksa keadaan di dalam bangunan tua itu."
"Kita cari Muhibbin disana." ujar Gus Aji Putra pada Cokro.
"Betul, mari kita periksa ke dalam." seru pimpinan Bhayangkara itu pula.
Sebelum beranjak, niatan kedua orang itu di halangi oleh Jero Pecalang,
"Tuan, tunggu ... Muhibbin tak ada didalam rumah itu."
"Sebelum kedatangan Gus Aji Putra tadi, saya sempat hendak menahan orang-orang yang membawanya pergi, namun mereka berhasil membawa Muhibbin ketika saya bertarung dengan orang yang di kalahkan oleh Gus Aji Putra." ujar Jero Pecalang menjelaskan dengan terbata-bata.
Mendengar perkataan pimpinan keamanan desa Batubulan itu, Cokro bertanya,
"Kearah mana mereka membawa pemuda itu, Jero?"
"Mereka membawanya ke balik bukit diseberang sungai itu, Tuan." jawab Jero Pecalang.
"Baiklah, biar saya dan beberapa anak buah saya mengejarnya."
"Andika sekalian tetap disini dan sebentar lagi anggota saya akan membantu mengobati anda, Jero." ujar Cokro pada orang-orang dihadapannya.
Tiba-tiba beberapa Bhayangkara menghampiri mereka sambil menggelandang seorang pria dengan tangan terikat ke belakang dan nampak tuan Sirkun diantara orang-orang itu.
"Tuan Sirkun, rupanya andika disini pula" sambut Cokro melihat kedatangan pengusaha flamboyan itu bersama para anggotanya.
"Siapa dia?" tanya pimpinan Bhayangkara itu pada anak buahnya setelah menyapa tuan Sirkun.
"Ijin pimpinan, kami menangkapnya saat menggeledah bagian dalam rumah tua."
"Lelaki ini bersembunyi dibawah kolong ranjang disalah satu kamar bangunan itu."
"Ketika hendak kami tangkap, dia melawan dan berusaha melarikan diri dengan melemparkan bondet ke arah kami hingga beberapa rekan Bhayangkara terluka akibat perbuatannya."
"Untung ada tuan Sirkun dan beberapa anggota keamanan desa Batubulan yang sigap menangkapnya." ujar salah seorang Bhayangkara menjelaskan pada pimpinannya.
Cokro menatap tajam pada lelaki yang digelandang oleh anak buahnya, beberapa saat pandangannya beralih pada tuan Sirkun.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan."
"Namun mengapa Tuan ikut turun ke medan pertempuran? bukannya sudah saya katakan, Tuan tetap berada di tempat yang lebih aman."
"Apakah Tuan terluka?" tanya Cokro pada tuan Sirkun dihadapannya, nampak terlihat pakaian pengusaha itu bersimbah darah.
"Saya tidak apa-apa, Tuan."
"Noda di pakaian saya ini adalah darah dari orang-orang yang saya selamatkan dari ledakan bom ikan itu."
"Tuan tak perlu mencemaskan saya." jawab tuan Sirkun sambil mengilas senyum khasnya.
"Syukurlah jika andika tidak terluka." ujar Cokro pada tuan Sirkun.
"Dan kalian! bawa lelaki itu kedalam rumah, jaga dia!"
"Aku akan meminta keterangan sendiri padanya nanti."
"Aku beserta beberapa orang akan mengejar gerombolan yang membawa Muhibbin."
"Bawa juga Jero Pecalang dan anggota yang terluka ke dalam dan beri pengobatan pada mereka."
"Sementara yang lain, kumpulkan jenazah para Bhayangkara dan gerombolan pengacau di serambi depan." perintah Cokro pada anak buahnya.
Beberapa Bhayangkara segera melaksanakan apa yang diperintahkan pimpinannya, mereka membawa para korban yang terluka termasuk Jero Pecalang kedalam rumah, sementara Bhayangkara yang lain menyeret lelaki tawanan itu.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan!"
"Bajingan kalian semua, kalian tidak tau sedang berhadapan dengan siapa!" teriak pria itu sambil meronta.
Melihat lelaki terikat itu berulah, Cokro mendekat,
"Haram jadah ... bajingan, kau!" pekik Cokro sambil melayangkan pukulannya ke wajah lelaki tawanan itu. Pria itu tersungkur dengan hidung mengeluarkan darah.
"Bawa dia!" perintah Cokro pada anak buahnya. Pimpinan Bhayangkara itu gusar melihat tingkah lelaki tawanan dihadapannya.
Gus Aji Putra menghampiri Cokro dan berkata,
"Tuan, sebaiknya saya saja yang melakukan pengejaran."
"Berikan ini pada para anggota andika yang terluka termasuk Jero Pecalang."
"Minumkan pada orang-orang yang terluka dan sebagian andika taburkan serbuk didalam kapsul itu ke luka luarnya." imbuh Gus Aji putra.
"Tapi tuan, ini adalah tugas kami untuk mengejar mereka."
"Apa tak sebaiknya Tuan disini saja." ujar Cokro pada lelaki tua didekatnya sambil menerima kantong obat di tangannya.
"Tidak Tuan, biarkan saya dan orang-orang saya yang mengejarnya."
"Saya sangat hafal daerah ini, hal itu akan mempermudah kami dalam pencarian."
"Disini sudah ada beberapa Bhayangkara yang bertugas merawat para korban, dengan obat yang saya berikan tadi akan meringankan proses penanganan mereka." ujar Gus Aji Putra menjelaskan.
"Baiklah, Tuan."
"Jika itu sudah menjadi keputusan andika,"
"Beberapa anak buah saya akan menemani andika."
"Berhati-hatilah, karena medan yang akan andika sekalian hadapi berbukit dengan jurang-jurang yang berbahaya jika dilalui malam hari." ujar Cokro sambil menjabat tangan Gus Aji Putra.
Lelaki tua itu menganggukkan kepala ke arah Cokro kemudian tatapannya mengarah pada Arsana dan beberapa orang dari Griya Manuaba Banjar Galuh.
"Kalian sudah siap?" tanya lelaki tua itu pada orang-orang dihadapannya, dengan serentak Arsana dan yang lain menganggukkan kepala.
"Ayo kita berangkat." ujar pria tua sambil memungut beberapa anak panah yang tertancap ditanah.
Gus Aji Putra bergegas melangkah meninggalkan Cokro di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya dengan penerangan obor ditangan masing-masing.
***
"Ni Mas, mohon maaf sebelumnya, apa tak sebaiknya kita tinggalkan saja lelaki ini disini,"
"Pergerakan kita terhambat dengan keberadaannya."
"Keselamatan Ni Mas lebih utama dari pada lelaki ini." ujar salah satu pria berpakaian hitam sambil mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal, pria itu nampak menggendong tubuh seorang lelaki dalam keadaan pingsan di punggungnya.
"Bodoh!"
"Justru keberadaannya sangat aku perlukan dibanding kalian semua!" hardik orang yang mengenakan caping di kepalanya.
"Ayo terus jalan, jangan hanya bisa mengeluh dan bermalas-malasan!"
__ADS_1
"Kalian ini lelaki atau banci?" bentak orang itu kembali.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulut orang-orang berpakaian serba hitam itu setelah mendapat teguran dari orang bercaping, hanya suara langkah kaki dan hewan malam yang terdengar disela-sela nafas yang memburu.
Suasana gelap dan temaram diantara kabut malam memperlambat pergerakan orang-orang itu menembus lebatnya belukar dengan kondisi jalanan yang licin menanjak dihadapannya.
Setapak demi setapak rombongan itu mengitari punggung bukit. Nampak di kejauhan liukan obor memanjang mengikuti dari belakang,
"Kurang ajar, mereka pasti rombongan Bhayangkara."
"Apakah telah terjadi sesuatu pada Martin?" runtuk orang bercaping itu dalam hati yang tak lain adalah Habsari.
Wajah wanita itu terlihat khawatir dibalik caping bambunya.
"Ni Mas ... Ni Mas!"
"Kita diikuti oleh pasukan Bhayangkara." ujar salah seorang pengawal Habsari berlari dengan nafas tersengal-sengal, pria itu ditugaskan mengamati dari atas pohon dibelakang rombongan Habsari.
"Serombongan Bhayangkara bersenjata lengkap terus bergerak dibelakang kita." ujar pria itu kembali.
Habsari terdiam sejenak, terlihat wanita itu berfikir untuk mengatasi keadaan yang dihadapi dan membuat rencana.
"Seberapa jauh jarak mereka dari kita saat ini?" tanya wanita itu pada anggotanya yang ditugaskan mengamati keadaan.
"Tak kurang dari tiga Li, Ni Mas."
"Begitu rupanya!" gumam Habsari lirih.
"Baiklah, sebagian dari kalian pasti sudah tau apa yang harus dilakukan."
"Buat jebakan untuk menghambat pergerakan mereka."
"Posisi kita yang berada lebih tinggi memberi keuntungan tersendiri." ujar Habsari sambil menyapu pandangan ke sekeliling.
"Kalian segera laksanakan rencana kita."
"Aku dan sisa rombongan akan terus bergerak." pungkas Habsari sambil membalikkan badan dan melangkah diikuti sebagian kelompok Garuda Merah.
***
"Berhenti sebentar!" sebuah suara diantara rombongan tiba-tiba menghentikan langkah beberapa orang pemegang obor.
"Ada apa Gus Aji, mengapa kita berhenti?" tanya Arsana pada lelaki tua di depannya.
"Matikan obor-obor kalian." pintanya kembali.
Orang-orang yang ada ditempat itu mematikan obor yang dipegangnya masing-masing, semua terdiam menunggu arahan Gus Aji Putra.
"Kau lihat titik cahaya itu!" ujar Gus Aji Putra kembali sambil menunjuk ke puncak perbukitan yang sedang dilaluinya.
Pandangan semua orang tertuju pada apa yang dikatakan lelaki tua itu, sekilas nampak sebuah cahaya yang meliuk-liuk namun tak berapa lama kemudian padam.
"Itu pasti cahaya obor dari gerombolan Garuda Merah dan mereka sudah mengetahui kalau kita mengejarnya." ujar lelaki tua itu kembali.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Gus Aji?"
"Bli Ibbin pasti ada diantara mereka." tanya Arsana pada Gus Aji Putra.
"Aku hafal cara kerja kelompok itu, mereka pasti mempersiapkan jebakan untuk menghambat kita."
"Arsana, kau ikut denganku menaiki bukit ini."
"Kita sedikit mengitari tempat ini untuk mencari posisi yang lebih tinggi."
"Dan yang lain tetap ikuti jalan setapak ini tanpa menghidupkan obor-obor kalian."
"Apa kalian bisa?" tanya Gus Aji Putra pada rombongannya yang terdiri dari beberapa pasukan Bhayangkara.
"Bisa, Tuan."
"Kami tak masalah berjalan tanpa penerangan di gelapnya malam." jawab salah satu Bhayangkara yang terlihat lebih senior dari yang lainnya.
"Bagus."
"Mereka pasti sudah mempersiapkan para pemanah diposisi yang lebih tinggi untuk menghadang kita."
"Aku dan Arsana yang akan membereskan pemanah-pemanah itu."
"Sekarang, ayo kita bergerak."
"Berhati-hatilah kalian semua." pungkas Gus Aji Putra.
"Baik, Tuan." jawab para Bhayangkara pada lelaki tua itu, mereka pun mulai berjalan kembali menyusuri jalan setapak sementara Gus Aji Putra dan Arsana menaiki punggung bukit dan mulai hilang dari pandangan.
*****
__ADS_1