
Hari pun beranjak sore, kediaman Gung Niang Mirah nampak lengang, hanya terlihat Disya dihalaman rumah yang masih disibukkan dengan mengemasi bahan-bahan obat yang di jemurnya.
Sebuah kereta kuda berhenti tepat di angkul-angkul rumah itu, seorang pria tua berpakaian indah layaknya priyayi-priyayi Negeri Pantai turun dari dalam kereta, dibelakangnya berdiri lelaki tua pula yang terus membungkuk di hadapan sang majikan.
"Landep, benar ini rumah Tabib itu?" tanya sang priyayi pada pelayannya.
"Benar, tuan besar."
"Ini kediaman Gung Niang Mirah sang tabib yang telah membuatkan racikan obat untuk Ni Mas Wati." jawab sang pelayan penuh hormat.
"Nampaknya rumah ini sepi, apa kau tak membuat janji dengan Tabib itu jika kita akan kemari." tanya sang priyayi yang tak lain tuan Bendowo sambil menyapu pandangannya mengamati sekitar rumah Gung Niang Mirah.
"Sudah, tuan."
"Saat terakhir saya mengambil ramuan obat, saya sudah berpesan jika tuan akan berkunjung ke tempat ini." jawab We Landep kembali.
Keduanya terdiam sejenak, namun tiba-tiba pintu angkul-angkul terbuka.
Seorang wanita tua berpakaian serba putih dengan senyum sumringah keluar dari dalam rumah.
"Rupanya ada tamu."
"Mengapa tak langsung masuk, We."
"Mari silahkan masuk, tuan." ujar sang pemilik rumah sambil mengangguk hormat kepada kedua tamunya.
We Landep membalas anggukan kepala sang pemilik rumah sambil berkata.
"Saya kira Gung Niang tak berada di Jero."
"Karena terlihat kediaman ini sepi." jawab We Landep pada wanita tua dihadapannya.
"Rumahku memang selalu sepi seperti ini, We."
"Kau tau sendiri, aku hanya hidup berdua dengan cucuku." jawab wanita tua itu yang tak lain adalah Gung Niang Mirah.
"Oh ya, mengapa kita terus berbincang disini."
"Ayo masuk, We."
"Mari tuan, silahkan masuk ke gubuk sederhana saya ini." ujar Gung Niang Mirah pada tuan Bendowo.
Lelaki tua itu tersenyum,
"Tak perlu Sungkan Ni Sanak, tempat ini sangat asri, saya suka dengan suasana seperti ini." jawab tuan Bendowo sambil melangkah mengikuti Gung Niang Mirah, sementara We Landep terlihat menurunkan sebuah kotak kayu berukuran tanggung dari dalam kereta kuda.
Pandangan tuan Bendowo terus mengamati seluruh areal kediaman Gung Niang Mirah, disudut-sudut pekarangan terlihat aneka tanaman bunga tumbuh dengan rapi, beberapa pohon jepun nampak anggun terlihat, sementara di tengah pekarangan terdapat beberapa balai bambu untuk menjemur tanaman obat.
"Mari Tuan, silahkan duduk."
"Saya kebelakang sebentar." ujar Gung Niang Mirah pada tuan Bendowo.
"Tak perlu repot Ni Sanak."
"Kedatangan saya selain untuk mengambil ramuan obat, juga untuk berterimakasih langsung pada Ni Sanak atas bantuannya terhadap putri saya yang sakit." ucap Bendowo pada Gung Niang Mirah.
"Itu sudah kewajiban saya sebagai seorang tabib, tuan."
"Tuan tak perlu sungkan, sebentar saya akan ke belakang dahulu menyiapkan minuman sambil mengambil pesanan tuan." ujar Gung Niang Mirah meninggalkan kedua tamunya.
Tak selang berapa lama Gung Niang Mirah kembali membawa ramuan obat yang sudah di keringkan, dibelakangnya Disya mengikuti dengan nampan berisi minuman untuk suguhan kedua tamu yang baru saja datang.
Namun wajah wanita muda itu berubah melihat kedua orang tamu yang tak asing dihadapannya, wajahnya menunduk menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Taruh saja di meja minuman itu, Ning." ucap Gung Niang Mirah pada Disya, wanita muda itu hanya mengangguk dan segera berlalu ke belakang rumah setelah meletakkan minuman untuk para tamu Gung Niang Mirah.
Dari balik dinding, Disya berdiri sambil meremas ujung kebayanya, ada rasa geram setelah tau siapa yang datang bertamu ke rumah itu.
"Untung saja mereka tak mengenaliku, terutama pembantu itu."
"Jadi rupanya orang itu yang memesan ramuan obat selama ini." gumam Disya dalam hati. Dadanya serasa terbakar mengetahui jika pemesan obat itu adalah keluarga Sariwati.
"Saya sangat berterima kasih sekali atas bantuan Ni Sanak selama ini."
"Saya tak menyangka setelah sekian lama mencari obat ke seluruh penjuru wilayah Kerajaan Zamrud untuk kesembuhan putri saya malah di Negeri Pantai ini saya temukan obatnya."
"Berkat ramuan obat yang Ni Sanak berikan, putri saya saat ini berangsur-angsur membaik kondisinya."
"Kami sekeluarga hampir putus asa dengan sakit yang diderita putri kami dan untungnya berkat informasi dari Landep tentang keahlian Ni Sanak maka putri kami saat ini sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya." ujar tuan Bendowo pada Gung Niang Mirah, sementara Disya masih menguping di balik tembok ruangan itu.
"Tak perlu memuji saya setinggi itu, Tuan."
"Sebagai seorang tabib adalah kewajiban saya membantu setiap orang yang memerlukan."
"Mungkin ini sudah digariskan Sang Hyang Agung dan saya hanya perantara dari pertolongan Dewata untuk putri Tuan." balas Gung Niang Mirah sambil mengulas senyumnya.
Tuan Bendowo pun ikut tersenyum mendengar jawaban wanita tua dihadapannya itu.
"Ini sekedar oleh-oleh untuk Ni Sanak, mungkin tak sebanding dengan pertolongan Ni Sanak pada keluarga kami."
"Saya harap Ni Sanak mau menerimanya." ujar tuan Bendowo kembali sambil mengulurkan sebuah kotak kayu berukuran sedang ke arah Gung Niang Mirah.
"Apa ini, Tuan?"
"Tuan tak perlu repot memberikan semua ini pada saya." jawab Gung Niang Mirah yang terlihat ragu-ragu menerima kotak kayu dari tuan Bendowo.
"Tidak apa-apa, Ni Sanak."
"Saya berharap Ni Sanak menerimanya."
"Bingkisan kecil ini tak seberapa jika dibanding bantuan Ni Sanak pada kami."
"Dan istri saya yang menyiapkan semua ini, saya harap Ni Sanak tak keberatan." balas tuan Bendowo kembali.
Dengan berat hati, Gung Niang Mirah menerima kotak kayu pemberian tamunya itu dan meletakkannya di samping tempat duduknya.
__ADS_1
"Bagaimana tentang rendaman air garam yang saya katakan pada We Landep, apakah masih dilakukan oleh putri Tuan?" tanya Gung Niang Mirah.
"Jika memungkinkan, bawalah putri Tuan kemari."
"Saya akan memberikan terapi secara langsung agar proses penyembuhan sakit yang diderita putri Tuan lebih cepat." imbuhnya pada sang tamu.
"Semua yang Ni Sanak anjurkan telah kami lakukan."
"Dan jika tak merepotkan Ni Sanak, sewaktu-waktu biar Landep yang akan menjemput Ni Sanak untuk berkunjung ke tempat saya atau pun putri saya akan kemari melakukan pengobatan secara langsung." jawab tuan Bendowo pada sang pemilik rumah.
Kembali Gung Niang Mirah tersenyum,
"Syukurlah tuan."
"Karena rendaman air garam itu akan mempercepat proses kesembuhan putri Tuan."
"Dan nanti jikalau putri Tuan kemari, akan saya terapi dengan berendam di pasir pantai dan pijitan dititik-titik syarafnya."
"Semoga dengan cara itu kondisi kesehatan putri Tuan bisa kembali seperti sedia kala." pungkas Gung Niang Mirah.
Ketiganya terus berbincang di ruangan tamu kediaman Tabib wanita itu, sementara dibalik dinding Disya terus berdiri mendengarkan percakapan antara Gung Niang Mirah dan tuan Bendowo, wajahnya terlihat kusut mengetahui siapa yang menderita kelumpuhan dan ditolong selama ini oleh Gung Niang Mirah dan dirinya.
Setelah sekian lama akhirnya kedua tamu itu berpamitan pada sang pemilik rumah, nampak Gung Niang Mirah mengantarkan tuan Bendowo dan We Landep sampai di depan angkul-angkul kediamannya.
Dari depan pintu rumah terlihat Disya mengamati ketiganya dan tak berapa lama Gung Niang Mirah menghampirinya.
Ditatapnya wajah wanita muda itu dengan seksama dan tabib wanita itupun berkata,
"Kau kenapa, Ning?"
"Wajahmu terlihat kusut seperti itu." ujar wanita tua itu pada Disya, namun putri tuan Sirkun itu terdiam tanpa sepatah katapun.
"Tamu kita tadi memberikan hadiah pada Niang."
"Coba kamu buka kotak kayu itu dan lihat apa isi di dalamnya, Ning." pinta Gung Niang Mirah sambil duduk di kursi ruangan tamunya.
Dengan wajah datar Disya membuka kotak kayu dihadapannya, alangkah terkejutnya Gung Niang Mirah melihat isi kotak kayu pemberian tamunya namun tak demikian dengan Disya, wanita muda itu melihatnya dengan datar tanpa ekspresi keterkejutan.
"Banyak sekali perhiasan emas dan uang yang diberikan tamu kita, Ning."
"Sebetulnya Niang tak mengharap semua ini, keahlian dalam pengobatan Niang hanya untuk menjalankan darma dan menolong orang yang membutuhkan tanpa berharap imbalan seperti ini." ujar Gung Niang Mirah pada Disya.
"Ya mungkin orang-orang seperti mereka mengukur ketulusan dan bantuan orang lain dengan gelimang harta, Niang." jawab Disya pelan, ada rasa tak suka yang menghinggapi hati wanita muda itu.
"Kau jangan berkata seperti itu."
"Mungkin tujuan mereka memberi semua hadiah ini memang benar-benar tulus sebagai ucapan terimakasih."
"Dengan uang dan perhiasan sebanyak itu kita bisa membeli bahan-bahan obat dan kita gunakan untuk menolong yang lainnya tanpa memungut imbalan."
"Kau tau sendiri, tak semua yang berobat ke tempat ini dari kalangan berada."
"Banyak masyarakat yang tak bisa membayar demi kesehatannya, jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari mereka masih pontang-panting mencarinya."
"Dengan pemberian tuan Bendowo itu mungkin kita bisa meringankan beban kaum miskin yang membutuhkan pertolongan kita." ucap Gung Niang Mirah memberi pengertian pada Disya, sementara wanita muda itu hanya terdiam tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.
"Suatu saat pemberian itu akan kita perlukan."
"Bagaimana dengan persediaan ramuan obat-obatan yang lainnya, Ning?" tanya wanita tua itu kembali.
"Sebagian masih belum kering kita jemur Niang."
"Dan ada beberapa tanaman langka yang sudah habis persediaannya." jawab Dista lirih sebelum melangkah kedalam kamar membawa kotak kayu ditangannya.
"Jika memang seperti itu, besok pagi kita berkunjung ke Griya Manuaba."
"Sudah lama Niang tak berjumpa dengan Sri Resi Giri Waja."
"Selain untuk membeli beberapa keperluan bahan obat, Niang akan mendiskusikan sesuatu dengan beliau." ujar Gung Niang Mirah dari ruang tamu.
"Baik, Niang." jawab Disya singkat dari dalam kamar.
***
"Pergi kalian ... pergi!"
"Kalian pasti anggota dari wanita durjana itu!"
"Untuk apa kalian kemari ... pergi kalian!" teriak seorang lelaki sambil melemparkan apa saja yang ada di ruangan itu kepada orang-orang disekitarnya.
"Gus, ini Ajik!"
"Apakah kau tak mengenali kami lagi."
"Apakah kau juga tak mengenali gadis ini?"
"Ini Raya keponakanmu, Gus." ujar lelaki paruh baya pada pemuda dihadapannya, sementara gadis remaja berkerudung hitam disebelahnya terus terisak melihat kondisi lelaki didepannya.
"Pak Lik, ini Raya pak Lik."
"Pak Lik sadar!"
"Ini Raya Pak Lik!" ujar remaja itu ingin mendekat pada sang lelaki yang masih mengamuk dihadapannya, namun lelaki tua yang tak lain Gus Aji Putra menahannya.
"Tahan, Ning."
"Untuk sementara jangan kau dekati pamanmu terlebih dahulu."
"Dirinya masih belum ingat siapa kita semua." ucap lelaki tua itu pada Raya Suci.
Sementara lelaki yang histeris didepannya terus melempar apa saja yang diraihnya pada orang-orang yang ada dikamar itu.
Sumpah serapah terlontar dari mulutnya seolah meluapkan beban perasaan yang tengah di tanggungnya.
"Pergi kalian!"
__ADS_1
"Kalian semua penjahat!"
"Pergi!" teriak lelaki itu yang tak lain adalah Muhibbin.
"Putra ... aku rasa jika dibiarkan seperti itu, dia akan melukai dirinya sendiri." ujar salah seorang lelaki tua pada Gus Aji Putra.
"Benar, Kak."
"Lalu apa yang harus kita perbuat, Kak?" tanya Gus Aji Putra pada lelaki tua yang tak lain sang Resi Giri Waja.
"Sebaiknya kita buatkan pasung untuk anak itu."
"Itu akan lebih baik bagi kondisinya, apalagi tulang kakinya yang patah belum sembuh betul."
"Dia akan melukai dirinya jika kita tak berbuat sesuatu." ujar sang Resi pada Gus Aji Putra.
Sang Resi melompat ke arah Muhibbin, dengan gerakan cepat jemari lelaki tua itu menotok tubuh Muhibbi dan membuat Pemuda itu jatuh terkulai tak sadarkan diri di atas lantai tanah.
Buru-buru Gus Aji Putra dibantu oleh Arsana membopong tubuh Muhibbin dan membaringkannya di atas balai bambu beralaskan tikar pandan yang ada dikamar itu.
Raya Suci yang melihat kondisi sang paman terus menangis dalam pelukan Sekar yang juga tak kuasa menahan tangisnya.
Tak berapa lama sang Resi kembali berkata,
"Arsana ... potonglah pohon randu di belakang Asram kita dan buatkan pasung untuk kakakmu, ini demi kesembuhan kakakmu juga." perintah Resi Giri Waja pada Arsana yang berdiri tak jauh dari kedua lelaki tua itu.
Arsana mengangguk ringan pada sang guru yang telah membesarkannya,
"Baik Bapa Resi." jawab Arsana singkat dan penuh hormat, lelaki muda itu bergegas keluar dari ruangan dimana Muhibbin berada.
Sementara Muhibbin masih dalam keadaan pingsan dan kini nampak Raya Suci menyeka wajah sang paman dengan kain basah yang dipegangnya. Gadis remaja itu terus menangis melihat kondisi sang paman yang terkulai tak sadarkan diri. Suasana kamar kembali sepi dan orang-orang yang berada di tempat itu terdiam dengan alur pikiran masing-masing.
"Putra ... ada yang ingin ku katakan padamu, ayo ikut aku." ujar sang Resi Giri Waja memecah keheningan ruangan itu.
"Sekar, Dayu ... kalian tetap disini menemani Raya, Kakiang tinggal sebentar." ujar sang Resi kembali kepada kedua orang wanita yang berdiri tertegun di samping Raya yang menyeka pamannya.
Sesampainya diluar ruangan, sang Resi kembali berkata pada Gus Aji Putra.
"Kondisi kejiwaan anak itu semakin parah, Putra."
"Saat ini kita sangat memerlukan bantuan orang-orang yang dekat dengannya."
"Jika kita diamkan terlalu lama aku khawatir kondisi fisiknya akan semakin menurun dan hal itu bisa berakibat fatal padanya." ujar Resi Giri Waja pada sang adik.
"Aku paham maksud kakak."
"Sejak ditinggalkan orang tua dan kakaknya serta kematian mereka yang tal wajar, hal itu sangat berpengaruh pada kejiwaan anak itu."
"Calon istrinya pun hingga saat ini tak tau dimana rimbanya."
"Penyiksaan saat dirinya disekap oleh gerombolan Garuda Merah kala itu memperparah beban yang ditanggungnya."
"Hanya keajaiban yang bisa menyembuhkannya saat ini, Kak." jawab Gus Aji Putra lirih, wajah lelaki tua itu terlihat murung dihadapan sang kakak.
"Dirimu adalah seorang tabib dan kakak tak meragukan kemampuanmu"
"Tapi apakah tak ada cara lain selain perhatian orang-orang terdekatnya seperti yang kau katakan, Putra?" tanya Resi Giri Waja kembali.
Gus Aji Putra hanya menggelengkan kepala.
"Ramuan obat hanya bisa menyembuhkan sakit fisiknya, kak."
"Selain orang terdekatnya tak ada cara lain yang bisa kita lakukan."
"Kecuali kita bisa menemukan calon istrinya yang menghilang dan mempertemukan keduanya mungkin itu peluang untuk kesembuhannya." ujar Gus Aji Putra memberi penjelasan.
"Tapi tunggu, Kak!"
"Ada satu cara lagi namun aku tak yakin itu akan berhasil." kembali Gus Aji Putra berkata.
"Apa itu Putra?" tanya sang Resi sambil mengamati wajah adiknya.
Dengan menghela nafas Gus Aji Putra kembali berkata.
"Sariwati dan anaknya, Kak."
"Aku pernah mendengar dari Sekar adiknya, jika Muhibbin sebenarnya telah memiliki anak dengan putri mantan Gubernur Negeri Pantai itu."
"Kabarnya putri tuan Timoti itu juga sedang sakit sejak proses persalinannya delapan tahun lalu."
"Tapi aku tak yakin Bendowo akan mengijinkannya bertemu anak itu." ujar Gus Aji Putra sambil menghela nafas.
"Jadi gadis itu, ya."
"Ya aku tau apa yang kau pikirkan."
"Dulu mereka berdua sempat tinggal ditempat ini walaupun sebentar."
"Waktu itu sebelum kejadian tewasnya Jero Perbekel Nengah Wirata dan Ibu serta kakak perempuan anak itu."
"Waktu itu aku pun pernah mengatakan pada Muhibbin maupun Sariwati bahwa hubungan mereka tak akan mudah."
"Dan Sariwati kala itu berpamitan padaku meninggalkan tempat ini dan kembali pada keluarganya."
"Tapi tak ada salahnya kita upayakan semuanya, Putra."
"Kau rawatlah pemuda itu, aku sendiri akan meminta petunjuk pada Dewata untuk kebaikan anak itu."
"Kembalilah kedalam, aku akan ke ruang pemujaan untuk melakukan semadi." pungkas Resi Giri Waja pada sang adik, lelaki tua itu melangkah meninggalkan Gus Aji Putra yang masih berdiri diluar ruangan dimana Muhibbin dirawat.
***
Note Author:
Jero : Selain panggilan untuk orang yang sangat dihargai, dipakai juga untuk menyebut sebuah rumah yang dimiliki oleh orang berkasta.
__ADS_1
Asram : padepokan atau tempat menuntut ilmu agama yang di sematkan bagi kediaman para Brahmana.