
Lelaki berpakaian Bhayangkara itu pun pergi meninggalkan bangunan tua itu, beberapa penjaga bertudung tetap waspada berdiri menjaga tempat tersebut sepeninggal pemimpinnya.
Didalam ruangan rumah kosong itu nampak terlihat tiga orang melepaskan ikatan sang gadis yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri, salah seorang dari ketiganya terlihat menyeringai menatap tubuh yang tak berdaya di hadapannya.
Sambil menatap kedua temannya yang hendak mengangkat tubuh sang gadis, salah seorang lelaki bertudung itu berkata,
"Tunggu dulu! apa tak sayang kita melewatkan kesempatan ini, toh juga ketua sudah tak peduli lagi dengan wanita ini."
"Ayo kita bersenang-senang dulu dengan wanita ini."
ujarnya pada kedua orang di dekatnya, matanya terlihat penuh nafsu birahi melihat tubuh sang gadis.
"Apa maksudmu, Sanglir?"
"Jangan berbuat macam-macam."
"Kalau sampai ketua tau, habislah kita!" ujar salah satu pria bertudung pada kawannya yang dipanggil Sanglir.
"Ah, jangan bodoh kalian!"
"Gadis ini lumayan cantik dan sintal, pasti tubuhnya segar dan menggairahkan." ujar Sanglir menahan hasrat birahinya, dari bibirnya tersungging senyum menyeringai memperlihatkan barisan gigi yang kehitaman.
"Ketua sudah pergi dan tak mungkin kembali ketempat ini."
"Apalagi sudah kalian dengar sendiri perkataan ketua tadi, wanita ini sudah tak berguna lagi." imbuh Sanglir pada kedua kawannya.
"Kalau kalian tak mau, buat aku saja wanita ini." pungkas Sanglir tertawa.
Kedua pria bertudung itu menggelengkan kepala dan mendengus kesal melihat tingkah dan kebiasaan Sanglir,
"Terserah padamu tapi jangan pernah libatkan kami jika sampai ketua tau perbuatan mu ini!" ujar keduanya berlalu dari ruangan itu.
Dengan senyum licik Sanglir tak memperdulikan kedua temannya, lelaki tersebut melangkah ke arah gadis yang tak sadarkan diri itu. Dengan penuh nafsu, Sanglir melucuti pakaian sang gadis yang sebagian terkoyak bekas cambukan yang dilakukan oleh pimpinannya.
Tubuh polos penuh luka sang gadis tak membuat surut nafsu binatang Sanglir, matanya yang penuh birahi menatap penuh hasrat tubuh tak berdaya dihadapannya, lelaki itu kemudian menindih wanita di depannya dan mulai mencumbunya.
Tangannya terlihat menelusup dan meremas bagaian-bagian kewanitaan sang gadis, hentakan naik turun tubuh pria itu berpacu dengan lengkuhan nafasnya yang memburu tak menghiraukan keadaan disekitarnya. Pria itu terlihat menikmati tubuh sintal yang tak berdaya dalam rengkuhannya.
Setelah beberapa lama Sanglir akhirnya bangkit dari atas tubuh sang gadis yang masih terkulai dengan tubuh polos penuh luka, lelaki itu terlihat memperbaiki pakaiannya, senyum puas tersungging di bibirnya setelah melepaskan nafsu birahi pada wanita di hadapannya yang masih tak sadarkan diri.
Lelaki itu melangkah keluar memanggil kedua kawannya tadi, senyuman licik penuh kepuasan di tampakkan Sanglir pada rekannya.
"Ayo kita selesaikan tugas kita!"
"Atau kalian juga ingin menikmati tubuh gadis itu?" ujar Sanglir sambil tertawa pada kedua rekannya.
"Dasar bajing*an kau, Sanglir!"
"Masih sempat-sempatnya kau melakukan ini semua,"
"Tak sudi aku dengan bekas mu, cuiihh!" umpat salah seorang pria bertudung itu pada Sanglir.
Sanglir bukannya marah dengan sikap kedua rekannya, lelaki itu malah tertawa penuh kepuasan.
"Hahahaha,"
"Kita semua sama, aku juga tau kelakuan bejad kalian selama ini."
"Tapi aku berterimakasih pada kalian berdua, ternyata wanita itu masih perawan. dan tubuhnya sungguh menggairahkan"
"Andai ketua tak menyuruh kita membereskannya, mungkin aku akan memperistrinya." pungkas Sanglir masih dengan tawa penuh kemenangan.
"Dasar gila!"
"Apa masih belum cukup keempat istrimu di rumah?"
"Belum lagi gundik-gundikmu diluaran." sungut salah seorang pria bertudung pada Sanglir.
Sanglir tambah terbahak-bahak dengan perkataan rekannya, lelaki itu membusungkan dada memperlihatkan kepuasannya.
"Sudah-sudah!"
"Hentikan perdebatan kalian,"
"Ayo cepat kita bereskan tugas ini."
"Sebelum ketua kembali lagi." tegur pria bertudung lainnya pada Sanglir dan salah satu temannya. Orang-orang itu membopong sang gadis dan mengangkatnya meninggalkan rumah tua itu.
__ADS_1
Ketiganya membawa tubuh wanita yang masih tak sadarkan diri itu menuju arah selatan Negeri Pantai.
***
Sementara di banjar Galuh tepatnya di kediaman Resi Giri Waja,
"Jadi begitu ceritanya."
"Ternyata Gus Putra sempat menolong kalian sebelum sampai di Manguntur." ujar sang Resi pada Muhibbin.
Dengan menganggukkan kepala penuh hormat pemuda itu menjawab,
"Betul, Bapa Resi."
"Beliau berpesan, jika suatu hari saya dan keluarga mengalami sesuatu, kami di suruh menghadap Bapa Resi oleh Gus Aji Putra sambil menunjukan pin yang tadi Bapa Resi lihat." jawab pemuda itu kembali.
Resi Giri Waja menganggukkan kepala sambil tersenyum,
"Kau tau Pin apa itu yang telah kau tunjukkan padaku, anak muda?"
Muhibbin menggelengkan kepalanya, Gus Aji Putra pun tak menceritakan Pin berbentuk cakra dengan anak panah itu padanya.
"Saya tidak tau, Bapa Resi."
"Pin itu adalah simbul kesatria Pradabhasu"
"Hanya orang-orang tertentu di seantero wilayah kerajaan Zamrud yang memilikinya dan pemiliknya adalah para kesatria pelindung Negeri Zamrud yang tak memiliki kepentingan apapun kecuali keutuhan dan keselamatan Negara diatas segala-galanya."
"Aku tau kau mungkin masih bingung dengan semua ini, namun suatu saat kau akan mengerti semuanya." ujar Resi Giri Waja pada Muhibbin yang masih termangu di hadapannya.
"Oh iya, gadis ayu ini siapa mu, anak Muda?
"Ku rasa, Cah Ayu ini bukan teman biasa." tanya sang Resi kembali pada Muhibbin sambil menatap Sariwati yang sedari tadi hanya menyimak perbincangan keduanya.
Pemuda itu memandang wajah kekasihnya sebelum menjawab pertanyaan sang Resi, terlihat rona kemerahan di pipi Sariwati.
"Wati ini sebenarnya kekasih saya, Bapa Resi." jawab Muhibbin tertunduk malu demikian pula gadis di sebelahnya. Wajah kedua muda-mudi itu semakin ditekuk kedalam.
Melihat hal itu Resi Giri Waja tertawa lebar,
"Hahahaha,"
Mendengar pertanyaan dari sang Resi wajah keduanya semakin tertunduk malu. Dengan sisa-sisa keberanian pemuda itu menjawab pertanyaan lelaki tua di hadapannya.
"Mohon maafkan karena kami tak terus terang, Bapa Resi."
"Kami bingung hendak kemana dan satu-satunya tempat yang kami tau dan tuju adalah Griya milik Bapa Resi ini."
"Ayah angkat saya pun meminta kami untuk mengunjungi tempat ini." pungkas Muhibbin masih dengan wajah tertunduk.
"Hahahahahaha,"
"Kalian mengingatkan ku pada masa-masa mudaku dulu."
"Baiklah, kalian boleh tinggal disini selama yang kalian kehendaki."
"Namun kalian belum boleh tinggal satu kamar karena kalian belum sah menjadi suami istri."
"Arsana sudah mempersiapkan kamar untuk kalian berdua." pungkas sang Resi kembali.
Muhibbin dan Sariwati hanya mengangguk pelan,
"Terimakasih Bapa Resi telah ijinkan kami untuk tinggal ditempat ini."
"Kami janji setelah kondisi semuanya tenang, kami akan kembali ke Manguntur, Bapa Resi."
Lelaki tua itu hanya tersenyum mendengar jawaban Muhibbin,
"Sudah ku katakan, kalian bisa tinggal disini selama yang kalian inginkan."
"Aku tak merasa direpotkan, justru aku melihat kesamaan yang pernah ku alami dulu dengan yang kalian alami saat ini."
"Kalian ikutilah Arsana, dia nanti yang akan menunjukkan di mana kamar yang akan kalian tempati." ujar sang Resi pada kedua muda-mudi itu.
"Arsana, antarkan Muhibbin dan Wati ke kamarnya."
"Layani mereka dan berikan apa yang menjadi kebutuhan mereka selama berada disini." pinta Resi Giri Waja pada Arsana cantriknya.
__ADS_1
"Baik, Bapa Resi." jawab Arsana pada sang guru. Pemuda itu pun beranjak dari duduknya dan mengajak kedua tamu Griya Manuaba itu ke kamar masing-masing.
Namun sebelum menuju kamar bersama Arsana, Muhibbin mohon ijin pada sang Resi.
"Saya mohon ijin, Bapa Resi."
"Untuk malam ini saya akan kembali ke Manguntur dan Wati biarlah tetap disini."
"Perasaan saya dari tadi tak enak."
"Wajah keluarga saya di Manguntur selalu terbayang, Bapa Resi."
"Saya ingin memastikannya keadaan mereka dan semoga tak terjadi apa-apa di Manguntur." pinta Muhibbin pada Resi Giri Waja.
Lelaki tua itu menganggukkan kepala dan menatap lekat wajah pemuda dihadapannya,
"Baiklah, kalau itu keinginanmu."
"Kau jangan pergi sendiri."
"Biar Arsana yang akan menemanimu ke Manguntur." jawab sang Resi pada Muhibbin dan pemuda itu menganggukkan kepalanya sebelum beranjak dari hadapan Resi Giri Waja.
Muhibbin dan Sariwati melangkah mengikuti Arsana menuju kamar yang akan ditempatinya. setelah berjalan tak berapa lama, ketiganya pun sampai di sebuah tempat, tepatnya kamar untuk Muhibbin dan Sariwati.
"Bli Arsana, saya mohon waktunya sebentar untuk bicara empat mata dengan kekasih saya." pinta Muhibbin pada cantrik Griya Manuaba itu.
"Baiklah Bli, saya akan tunggu di pintu gerbang Asram ini." jawab Arsana sambil berlalu meninggalkan Muhibbin dan Sariwati saja.
"Wati, aku akan ke Manguntur melihat keadaan emak. Kamu tak apa-apa bila ku tinggal sebentar." tanya Muhibbin pada Sariwati.
"Pergilah Bin, aku tak apa-apa."
"Aku akan menunggu mu di sini, Bin." jawab Sariwati lirih, suaranya terdengar berat menyiratkan beban yang dipendamnya.
Wanita itu tertunduk dan tak ingin memperlihatkan kerisauan di wajahnya pada Muhibbin.
Muhibbin memandang wajah kekasihnya,
"Wati, terimalah ini dan ku mohon pakailah." kata Muhibbin kembali sambil mengeluarkan sebuah cincin dari balik pakaiannya.
"Apa ini, Bin?"
"Jangan, Bin."
"Cincin ini kan warisan keluarga besar mu." tolak Sariwati tatkala melihat sebuah cincin yang diulurkan Muhibbin padanya.
"Tidak Wati, cincin ini untukmu."
"Aku hanya menjalankan amanah yang Emak sampaikan padaku, bahwa cincin ini harus diberikan kepada wanita yang benar-benar aku sayangi dan wanita itu adalah kamu, Wati."
"Terimalah, kali ini aku memaksa." ujar Muhibbin pada kekasihnya, direngkuhnya tangan kiri Sariwati dan di pasangnya cincin Sulaiman Madu itu pada jari manis sang kekasih.
Dengan perasaan campur aduk Sariwati menerima pemberian kekasihnya itu, matanya mulai berkaca-kaca.
"Terimakasih, Bin." jawabnya lirih dan Muhibbin pun menganggukkan kepalanya,
"Istirahatlah, Wati! kau terlihat sangat lelah."
"Aku pergi dulu, ya."
"Secepatnya aku akan kembali ke sini, setelah melihat kondisi Emak."
Gadis itu hanya bisa menatap sayu pada pemuda di hadapannya, pandangannya meremang dan tetesan air mata mulai mengalir dipipinya,
"Hati-hati di jalan, Bin."
"Segeralah kembali setelah urusanmu selesai, aku akan selalu menunggumu." ujar gadis itu terisak, entah mengapa rasanya berat berpisah dengan kekasihnya untuk kali ini.
Muhibbin menganggukkan kepala sambil menyeka air mata di pipi kekasihnya, tak berapa lama pemuda itu melangkah meninggalkan Sariwati seorang diri, pergi menyusul Arsana yang telah menunggunya di pintu gerbang Griya Manuaba.
*****
Note :
Mohon maaf para sahabat jika KAHANAN tidak selalu up tiap hari karena kesibukan RL yang memerlukan waktu ekstra, namun akan saya usahakan tidak terlalu lama up, karena saya tau menunggu itu membosankan.
Terimakasih atas dukungannya selama ini untuk tetap setia membaca tulusan saya, dan mohon suportnya melalui Rate, vote dan likenya.
__ADS_1
Salam*