
Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah keyataan dan esok adalah harapan. Mungkin itu yang diajarkan alam melalui burung Cekakak pada Bajang Anom dan itupun berlaku pada Muhibbin pula.
Muhibbin diam terpaku menyaksikan kebesaran alam yang baru disadarinya, sedikit demi sedikit dalam perjalanannya kali ini mengandung pembelajaran dari mahluk-mahluk yang entah berada di dimensi apa.
Bajang Anom yang tak jauh dari tempatnya berada kembali bermain bersama kawanan anak-anak hewan hutan dipinggir telaga, hujan yang di rindukan oleh burung Cekakak serasa turut membasuh dan melepas dahaga kerinduan pertiwi serindu sang pemuja harapan.
Senja pun datang dan pekatnya hari mulai merangkak menyelimuti semesta, Bajang Anom kembali ke tempat dirinya menyendiri setelah berpuas ria bersama penghuni hutan jatirasa yang mengasihinya.
Langkahnya mantab menyusuri bebatuan puncak bukit, beban dan ketakutannya seolah hilang ketika berhadapan dengan malam. Kini malam bagaikan sosok ayah yang selalu menemaninya dalam kegelapan, tak ada lagi kerisauan menghinggapi ruang batinnya. Kini suara burung Kedasih yang setia menemaninya terdengar bagai lantunan puja puji dewata, tak seperti sebelumnya, suaranya yang pilu terdengar merdu bagaikan simponi musik alam yang menemaninya menari.
Pekatnya hari seolah meliuk menghibur dirinya, tak ada lagi gundah gulana, tak ada lagi kekhawatirannya. Kini dia hanya berharap dewi Candrawati akan muncul dihadapannya, mengoyak pekatnya malam dengan cahayanya yang gemerlap.
__ADS_1
Tiap kali antara Bajang Anom dan burung Kedasih terlibat percakapan dan percakapan itu seolah membawanya terhenti ke ujung senja yang selalu berakhir kedalam malam yang tak menjanjikan terang.
Alam telah mengajarkan bahwa semua diatur sesuai dengan tanggung jawabnya. Kasih mengasihi antara mahluk di hutan jatirasa menggambarkan besarnya sebuah hubungan cinta, ketulusan dan kepercayaan, sesuatu yang belum tentu ada yang diperlihatkan Gagak yang khawatir bahwa langit akan runtuh mengajarkan bahwa di setiap perjalanan kehidupan janganlah takut akan bayang-bayang kekhawatiran itu sendiri, sehingga melupakan dan menafikan yang terjadi di sekitar, karena kekhawaturan itu sendiri adalah ciptaan angan-angan itu sendiri.
Dan janganlah berputus asa terhadap sebuah harapan karena harapan adalah sebuah pegangan untuk melangkah dan dari harapan akan belajar bagaimana rasanya sakit, bagaimana rasanya berharap dan bagaimana rasanya bersabar sehingga harapan itu sendiri akan menghampiri layaknya burung Cekakak yang berharap pada mendung untuk mengantarkan sang hujan yang dicintainya.
Muhibbin terhenyak dalam alam pikirannya, pandangannya beralih melihat Bajang Anom yang sedemikian buruk rupa duduk disampingnya dan dalam perjalanan melihat kejadian-kejadian bersama sosok hitam legam itu menyadarkannya bahwa ada sesuatu yang hendak ditunjukkan oleh sang pencipta melalui Bajang Anom dan alam semesta.
Wujud wadak Bajang Anom yang buruk rupa mengajarkan ketingian budi dan kerendahan hati, nrimo ing pandum. Menerima segala ketetapanNya.
"Apakah aku salah selama ini?"
__ADS_1
"Apa yang telah kulakukan dalam perjalanan hidupku menodai takdirku?"
"Aku merasa malu pada diriku sendiri,"
Ditatapnya kembali Bajang Anom didekatnya, muka menyeramkan dengan kulit hitam legam kini laksana sang rupawan, tak ada kekhawatiran dan ketakutan yang justru berbalik menjadi kedamaian dan kebahagiaan tatkala menatap Bajang Anom sang buruk rupa.
Tanpa malu-malu, jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Kedukaann layaknya bermain di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan lara tapi dengan kapal kematian malah berenang-renang menyelami kehidupan. Hujan kembang kenanga di mana-mana, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu.
Muhibbin serasa terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga diantara Surau An Nur di tepian pantai Purnama. Ia merasa kemalangannya disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri.
Muhibbin merasa marah namun tatkala melihat sosok Bajang Anom kesadarannya seolah berkata 'Dalam keadaan marah jadilah laksana orang mati, diam dan jangan lakukan apapun agar tak salah dan menyesal kemudian. Biarkanlah harapan itu datang layaknya cinta yang tiba, jika dia menghampiri, itulah takdirnya dan jika tak kembali lepaskanlah tanpa bayang-bayang beban yang akan datang, tak ada sakit menyakiti, tak ada lara dalam hati.
__ADS_1
Sebagaimana hamparan bumi dan gunung berapi, jika tak memiliki harapan dan cinta tentu rumput tak akan tumbuh didada mereka. Lara adalah fase layaknya pepohonan menggugurkan daun-daun keringnya yang akan berganti dengan tunas-tunas bersemi kemudian hari. Derita adalah fatamorgana dari ruang-ruang kekhawatiran yang diciptakan diri.
***