KAHANAN

KAHANAN
CH 75 - KEKEJAMAN GARUDA MERAH PART II


__ADS_3

Sariwati terus mengayuh kereta anginnya menuju banjar Galuh dan Muhibbin yang duduk di boncengan belakang masih terdiam, namun tiba-tiba Sariwati menghentikan kereta angin yang di kendarainya. Gadis itu terlihat gelisah dengan apa yang ada di hadapannya,


"Mengapa berhenti, Wati?"


"Apakah kamu lelah, biar aku saja yang mengayuhnya."  ujar Muhibbin pada Sariwati, pemuda itu terlihat turun dari boncengannya. Sariwati menggelengkan kepalanya, tatapannya masih tertuju ke depan.


"Kau lihat itu, Bin!  di ujung desa."


"Banyak pasukan Bhayangkara sedang siaga."


"Semua yang lewat di periksa."


"Pasti ini atas suruhan ayah." seru Sariwati, jari telunjuknya mengarah pada beberapa Bhayangkara yang sedang memeriksa lalu lalang orang yang akan melewati perbatasan desa Batubulan itu.


"Gawat, Wati."


"Tak biasanya ada pemeriksaan seperti ini."


"Rupanya ayahmu sudah  tau, kalau dirimu kabur dari rumah."


"Kemungkinan para Bhayangkara itu di perintah untuk menyisir dan mencarimu ke seluruh wilayah Negeri Pantai."


ujar Muhibbin pada Sariwati yang terlihat gelisah di sampingnya.


"ini jalan satu-satunya menuju ke banjar Galuh."


"Apakah kita kembali ke Manguntur saja, Wati?"


"Percuma saja kalau kita lanjutkan, pasti akan ketahuan saat di periksa pasukan Bhayangkara."


sorot mata penuh kecemasan terpancar di wajah Muhibbin, ada keraguan menyeruak dihatinya tatkala melihat pemeriksaan pasukan Bhayangkara di perbatasan desa yang akan dia lalui.


"Apakah tak ada rute lain lagi selain melalui jalan ini, Bin?" tanya Sariwati pada Muhibbin, tatapannya pun  terlihat penuh kekhawatiran.


"Ada, tapi jalur itu tak bisa di lalui kereta angin."


"Kita harus lewat tepian sungai dan pematang sawah."


"Kita juga  harus jalan kaki memutari bukit itu dan melalui hutan bambu."


"Baru setelah melewati hutan bambu kita akan bertemu dengan jalan besar." telunjuk Muhibbin terlihat mengarah pada bukit kecil di depannya dan rimbunan pohon bambu yang terlihat menghijau di kejauhan.


"Kalau begitu kita lewat sana saja, Bin."


"Kalau kita balik ke Manguntur, aku khawatir pasukan Bhayangkara juga akan mendatangi rumah pak Nengah pula." seru Sariwati sambil terus menatap bukit yang ada di hadapannya.


"Yang jelas aku sudah tak ingin kembali ke rumah ayah, Bin."


"Aku tak mau menikah dengan lelaki itu,"


"Kau kan tau bagaimana perasaanku padamu." imbuh gadis itu pada pemuda di sampingnya, embun bening mulai terlihat di kedua kelopak matanya.


Muhibbin menepuk punggung kekasihnya.


"Sudahlah, tak perlu menangis."


"kita akan lanjutkan perjalanan ini dan aku akan selalu menemanimu."


"Jangan lupa, aku ini Raden Arjuna dan kau Dewi Subadra."


"Tak akan ada orang yang bisa memisahkan kita."


Ujar Muhibbin bercanda mencairkan suasana untuk menguatkan hati kekasihnya walaupun dalam diri pemuda itu ada kekhawatiran akan pelariannya bersama Sariwati saat ini.


Wanita ayu itu mengangguk Mendengar candaan Muhibbin, dia mulai tersenyum dan menyeka air matanya.


"Sebaiknya kita segera bergegas sebelum para Bhayangkara melihat kita." pungkas Muhibbin.


Tangan Muhibbin menggandeng Sariwati melangkah turun di antara pematang sawah yang ada di depannya. Kereta angin yang dikendarainya ditinggalkan begitu saja di tepian jalan, terlihat pemuda itu berjalan di depan di ikuti oleh Sariwati dibelakangnya.


Setelah beberapa lama menyusuri pematang sawah, terlihat didepan mereka sebuah sungai dengan air yang jernih dan arus yang tak begitu besar membelah areal persawahan yang merupakan batas desa Batubulan, keduanya mulai menyusuri pinggiran sungai yang memisahkan banjar Manguntur dengan wilayah banjar Galuh.


Matahari semakin terik dan setelah beberapa waktu keduanya pun nampak letih, berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai membuat energi keduanya terkuras.


"Apa kau lelah, Wati?" ujar Muhibbin melihat wajah pucat penuh kelelahan pada kekasihnya, gadis itu menggelengkan kepala dan dengan isyarat tangan menyuruh Muhibbin melanjutkan langkahnya namun Muhibbin menggandengnya dan mengajak Sariwati duduk di sebuah batu di tepian sungai yang arusnya tak begitu deras itu.


"Istirahatlah dulu, kelihatannya kau lelah sekali."


"Sedari semalam kau belum tidur,"


"Rebahkanlah dirimu sejenak untuk mengurangi kelelahan mu." terlihat Muhibbin menghamparkan surban yang selalu melingkar di lehernya sebagai alas untuk Sariwati merebahkan diri.


"Aku baik-baik saja, Bin"


"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan saja." seru Sariwati pada Muhibbin. Gadis itu berniat berdiri kembali.


"Sudahlah, kau istirahatlah dulu."


"Aku tau kau letih sekali."


"perjalanan yang kita tempuh tadi lumayan jauh."


"Sambil memulihkan tenaga, tak ada salahnya kita berhenti."


"Mungkin nanti sebelum Sandikala kita sudah akan memasuki banjar Galuh." imuh Muhibbin menarik tangan Sariwati sambil membuka tas ransel yang dibawanya, pemuda itu terlihat mengeluarkan beberapa bungkusan yang ternyata berisi buah dan roti kering.


"Makanlah dulu, supaya ada sedikit asupan energi untuk tubuhmu."


"Tadi Sekar sempat mempersiapkan bekal perjalanan untuk kita." ujar pemuda itu kembali sambil mengulurkan buah apel yang ada di tangannya pada Sariwati. Gadis itu menggeleng, matanya menatap ke arah Muhibbin.


"Aku gak mau kalau makan sendirian, kulihat dirimu pun sejak semalam belum sempat menyentuh makanan untuk mengisi perutmu." ujar Sariwati ketus, gadis itu terlihat memalingkan wajahnya dari tatapan Muhibbin.


"Kau tak perlu memikirkan aku."


"Aku belum lapar."


"Ambillah buah ini, lumayan menambah energi untukmu." seru Muhibbin kembali.


"Gak mau! ujar gadis itu ketus. Wajahnya kini tertunduk dan jari jemarinya memainkan ujung kerudungnya.


"Hai, dasar keras kepala."


"Ya sudah, aku temani kamu makan."


"Kamu mau buah apa roti?" tanya Muhibbin pada gadis yang duduk disampingnya.


"Aku mau itu saja." jawab Sariwati sambil menunjuk buah apel yang ada di tangan Muhibbin.


Pemuda itu terlihat merogoh sesuatu dari balik ranselnya kembali, sebuah belati kecil di ambilnya dan buah itu pun di kupasnya.


"Ini, Makanlah." ujar Muhibbin mengulurkan buah yang sudah terkupas ke arah Sariwati, gadis itu mengambilnya dan menikmati apel yang ada di tangannya, tatapannya tertuju pada Muhibbin yang masih sibuk mengupas kulit buah di tangannya, senyum tipis tersungging dari wajah gadis ayu itu melihat kekasih yang sangat memperhatikannya.


Tanpa sadar tangannya menyentuh anak rambut yang menjuntai di kening Muhibbin. Apa yang dilakukan Sariwati sontak membuat Muhibbin terkejut namun senang, tatapannya mengarah pada gadis ayu disampinya sambil tersenyum.


"Ada apa, Wati?" tatapan mata Muhibbin masih mengarah pada kekasihnya.

__ADS_1


"gak apa, Bin"


"Terimakasih, ya!"


"Selama ini kau sudah baik padaku." ujar gadis itu lirih, tatapan keduanya masih terpaut, ada rona memerah di pipi Sariwati hingga membuatnya kembali tertunduk.


Gadis itu terus memainkan ujung kerudungnya untuk menghilangkan perasaannya yang gelisah dan campur aduk, melihat hal itu Muhibbin merengkuh tangan kekasihnya,


"Apa kau menyesal kenal denganku, Wati?" ujar Muhibbin lirih sambil menatap penuh makna.


"Bila hal ini membuat hidupmu sengsara, maafkan aku Wati."


"Yang perlu kau ketahui dan kau bisa pegang kata-kataku, aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakanmu."


"Aku tak bisa mempersembahkan harta melimpah maupun kedudukan tinggi padamu namun aku pastikan hidupmu akan layak seperti istri-istri orang lain." pungkas Muhibbin pada Sariwati.


"Hentikan, Bin."


"jangan kau berkata seperti itu."


"Aku tak akan menyesal mendampingi mu walaupun dalam keadaan kekurangan."


"Hidup bersamamu di sisa usia kita, itu sudah cukup bagiku." ujar gadis itu pada pemuda di hadapannya. Matanya menatap Muhibbin yang ada disampingnya, ada getar-getar yang tiba-tiba menyusupi hatinya.


Gadis itu beringsut mendekat ke arah Muhibbin, di dekatkan wajahnya ke arah wajah Muhibbin, di pagutnya bibir pemuda itu dengan lembut. Tangannya menggelayut diantara pundak Muhibbin, kulum*an demi kulum*an membuai kedua muda-mudi itu dalam samudra kerinduan diantara kicauan burung liar dan gemericik air sungai disekitarnya.


"Aku mencintaimu, Bin." ujar Sariwati lirih mengakhiri ciumannya pada sang kekasih. Wajahnya memerah laksana biji delima dan senyumnya pun tersungging di sudut bibirnya yang merekah.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita, Bin."


"Semoga kita tak menjumpai para Bhayangkara lagi setelah menerobos hutan bambu itu." ujar Sariwati menutupi kecanggungannya pada Muhibbin.


Keduanya pun melanjutkan perjalanannya menyusuri tepian sungai dan menerobos hutan bambu yang ada didepannya menuju banjar Galuh kediaman Resi Giri Waja.


Sementara di banjar Manguntur kediaman Jero Perbekel Nengah Wirata.


"Sekar, Cahaya!"


"Kalian tolong periksa kondisi bu Suratmi."


"Sementara itu ajik akan mengunjungi tuan Sirkun di kediamannya."


"Ada yang perlu ajik sampaikan dan minta pertimbangan beliau." seru pak Nengah pada kedua gadis di depannya. Keduanya pun menganggukkan kepala melihat lelaki paruh baya itu beranjak dari balai Dangin menuju keluar rumahnya.


Kereta angin yang tersandar di sengker rumah dinaikinya menuju arah kota Negeri Pantai.


Kedua gadis itu hanya terdiam menatap kepergian pak Nengah, dan sejurus kemudian Cahaya menuju kamar Suratmi di temani Raya Suci sedangkan Sekar menuju ke arah dapur untuk mempersiapkan makanan untuk bu Suratmi.


***


Siang itu terasa terik sekali seolah-olah Sang Surya memperlihatkan kekuatannya, sinarnya yang kemilau seakan-akan membakar semua yang ada di depannya. Tiga buah kereta angin melaju sedang membelah jalanan Manguntur, tepat di sebuah rumah tak jauh dari sebuah bangunan balai banjar ketiganya berhenti.


"Kita sudah sampai."


"Ini rumah Sekar , Kak, Di!" ujar seorang gadis pada kedua kawannya.


"Ayo kita masuk." imbuh gadis itu, terlihat dia menyandarkan kendaraan besinya sebelum melangkah ke dalam halaman di ikuti kedua temannya.


"Swastiastu!"


"Swastiastu!" ujar gadis itu kembali setelah berada di dalam  rumah yang di tujunya.


"Swastiastu!" terdengar sebuah jawaban dari belakang rumah. Seorang gadis muda berjalan ke arah depan rumahnya.


"Kak Rizza!"


"Diera!"


Pekik gadis itu yang tak lain adalah Sekar jempiring sang pemilik rumah tatkala melihat ketiga tamunya.


"Angin apa yang membawa kalian kemari?" ujar sekar sambil tersenyum pada sahabat-sahabatnya.


"Apa tak boleh kami berkunjung kemari?" jawab Disya dengan tawa kecil pada Sekar.


"Tumben aja, kalian datang bertiga."


"Apa kabar kalian semua?" imbuh Sekar memeluk ketiga kawannya.


Para gadis itu tertawa kecil melihat keterkejutan Sekar atas kedatangannya yang tanpa kabar terlebih dahulu.


"Hai, apa kami tak kau dipersilahkan duduk."


"Tega sekali adik awak ni." ujar salah seorang wanita berkerudung ungu yang tak lain adalah Puan Rizza sambil mencubit pipi Sekar.


"Oh ya lupa, ayo mari silahkan duduk."


"Kalian mau minum apa?" kata Sekar sambil tersenyum,


"Tak perlu kau repot-repot."


"Keluarkan saja semua isi rumahmu." ujar Diera menimpali Sekar dan para karib itu pun  kembali tertawa.


Sekar beranjak kebelakang menuju dapur dan membawakan sebuah kendi berisi air dingin untuk melepas dahaga para sahabatnya.


Riuh rendah tawa dan obrolan di balai Dangin itu meramaikan suasana rumah yang awalnya terlihat sepi.


Tiba-tiba dari sebuah kamar di balai Dauh, seorang gadis keluar menghampiri orang-orang yang ada di balai Dangin rumah itu,


"Rupanya ada tamu, Gek?" ujar Cahaya pada Sekar ketika berada di dekat mereka.


"Iya Mbak Yu, ini kawan-kawan saya di Pasraman." jawab Sekar pada Cahaya.


"Oh ya, kenalkan ini Mbak Yu Cahaya." imbuh Sekar memperkenalkan Cahaya pada para sahabatnya, satu persatu para gadis itu menyalami Cahaya yang berdiri dihadapan mereka.


"Saya Disya, Mbak Yu." ujar Disya ketika Cahaya menjabat tangannya.


"Cahaya." ujar Cahaya pada gadis di depannya, tatapannya memandang wajah ayu Disya yang tersenyum kepadanya.


Keduanya saling lekat memandang satu sama lain seolah-olah saling lama kenal namun entah dimana.


Melihat hal itu Sekar kembali berkata pada para karibnya.


"Mbak Yu Cahaya ini kakaknya Muhibbin." kata Sekar pelan pada Puan Rizza, Disya dan Diera.


Tatapan mata Disya terbelalak setelah mendengar perkataan Sekar, seolah tak percaya gadis itu bangkit dari tempatnya duduk dan mendekat ke arah Cahaya.


"Mbak Yu Cahaya?" pekik gadis itu pada Cahaya, ketiga kawannya menatap keheranan perubahan tingkah yang di perlihatkan Disya.


"Benar ini Mbak Yu Cahaya?" ujarnya kembali.


Cahaya yang juga ikut keheranan dengan perubahan sikap Disya hanya menganggukkan kepalanya.


"Mbak Yu, ini aku Karina."


"Putri tuan Samarta." ujar Disya lirih menahan isak tangis keharuan.

__ADS_1


"Mbak yu lupa padaku?"


"Karina Sektor Tujuh dusun Kali Gedang lereng Ijen!" imbuhnya kembali mengingatkan Cahaya di depannya.


"Karina?"


"Karina Larasati?" pekik Cahaya,


"Apa betul ini kamu dik? Karina Larasati putri tuan Samarta dari Negeri Kelapa?" imbuhnya kembali seolah tak percaya dengan sosok gadis di depannya.


"Betul Mbak Yu, ini aku." ujar Disya sambil memeluk Cahaya dengan deraian air mata.


Baik Sekar, Puan Rizza, maupun Diera tertegun keheranan dengan apa yang terjadi di hadapannya.


Perubahan sikap kedua wanita itu menegaskan keduanya saling kenal, dua orang itu masih berpelukan sambil terisak.


Seolah tak ingin mengganggu Cahaya dan Disya, ketiga karib itu hanya terdiam walaupun di dalam benak masing-masing masih ada tanda tanya.


"Kawan-kawan, Mbak Yu Cahaya ini teman akrabku saat sebelum aku pindah ke negeri ini." ujar Disya pada ketiga kawannya.


"Mari sini Mbak Yu," tangan Disya menggandeng Cahaya untuk duduk di sebelahnya."


"Aku, Muhibbin dan Mbak Yu Cahaya ini kawan lama."


"Kami pernah tumbuh bersama di sebuah perkebunan kopi di pegunungan Ijen." ujar Disya singkat.


Gadis itu menceritakan panjang lebar persahabatannya dengan keluarga Muhibbin dan Cahaya selama di lereng Ijen hingga kepindahannya ke Negeri Banjir bersama keluarganya.


Ketiga sahabatnya tersenyum penuh rasa haru mendengar cerita Disya.


"Apa Kabar mu Mbak Yu?"


"Apa kabar Emak?" tanya Disya pada Cahaya kemudian.


"Aku baik-baik saja, Rin."


"Cuma Emak sekarang sakit." jawab Cahaya


"Sakit, Mbak Yu?"


"Beliau dimana sekarang?" tanya Disya kembali.


"Beliau ada di sini, Rin."


"Kami sudah hampir seminggu ini berada di sini." jawab Cahaya, gadis itu mulai menceritakan kembali semuanya pada Disya, baik itu tentang penyebab sakitnya Suratmi ibunya maupun tentang niatan kedatangannya ke Negeri Pantai dengan tujuan melamar Sariwati sebagai istri Muhibbin, hingga pelarian Muhibbin dan Sariwati yang kini entah dimana.


Mendengar cerita Cahaya, ada rasa kegeraman akibat cemburu di dalam hati Disya, terlihat dari perubahan mimik wajahnya yang tak bisa disembunyikan.


"Muhibbin itu keterlaluan."


"Padahal sudah ku ingatkan, jangan bergaul dengan perempuan itu."


"Dia hanya membawa pengaruh buruk pada Muhibbin." gumam Disya lirih menahan kemarahannya.


Cahaya dengan wajah datar berkata,


"Ya bagaimana lagi, Rin."


"Adikku kelihatannya sangat mencintai wanita itu."


"Aku pun sebenarnya tak setuju setelah tau latar belakang keluarga Wati, apalagi penghinaan papinya pada kami semua."


"Aku tak bisa mengekang maupun melarang Muhibbin mencintai perempuan itu." ujar Cahaya sambil menghela nafas dalam-dalam.


"Tapi ya sudahlah."


"Semuanya sudah terlanjur terjadi."


"Kita lihat saja bagaimana akhirnya." pungkas Cahaya.


Semua yang ada di tempat itu terdiam dengan pikiran masing-masing.


Ada rasa kesal dan haru setelah mendengar cerita Cahaya di hati mereka masing-masing.


"Lalu bagaimana tentang dirimu, Rin?"


"Kenapa namamu bisa berubah menjadi Disya?"


"Bagaimana kabar tuan Samarta dan nyonya Hilda?"


"Saudaramu pula, siapa itu? emm, Ardi dan Diondra, ya?" tanya Cahaya pada Disaya.


Gadis itu diam tertunduk dan kembali air matanya menetes. Suaranya berat diantara isakan tangisannya. Di sekanya air mata yang membasahi pipinya dengan sebuah saputangan.


"Mereka sudah tiada, Mbak Yu."


"Sejak kepindahan ayah ke Negeri Banjir itu, setahun setelahnya musibah itu menimpa keluarga kami."


Dalam isakannya Disya bercerita bagaimana kejadian kecelakaan kereta kuda yang merenggut nyawa semua keluarganya tanpa sisa hingga perubahan namanya dan bagaimana dia hidup dalam rasa tertekan sampai pada akhirnya tuan Sirkum mengasuhnya dan mengajaknya pindah ke Negeri Pantai.


Semua yang ada di tempat itu terbelalak tak menyangka ujian seberat itu menimpa sahabatnya, dan kejadian memilukan di alami oleh Disya dan keluarganya.


Satu persatu para karib itu memeluk Disaya yang masih menangis, sebagai tanda ikut prihatin dan berduka.


"Sudahlah, Rin."


"Kau harus tabah."


"Memang berat kehilangan orang-orang yang kita sayangi."


"Mbak Yu juga pernah mengalami itu."


"Tapi kita semua harus bangkit dan tak boleh larut dalam kesedihan."


"Kita doakan semua keluarga kita yang telah mendahului kita, semoga di tempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah." ujar Cahaya pada Disya, di peluknya gadis yang masih terisak di depannya.


Tak berapa lama kelima gadis itu kembali terlibat percakapan hangat dan saling bercerita tentang keadaannya masing-masing.


"Mbak Yu, boleh kami menengok keadaan Emak?" pinta Disya pada Cahaya.


Cahaya hanya mengangguk ke arah Disya dan kawan-kawannya. Sejurus kemudian mereka beranjak dari balai Dangin menuju ke kamar tempat Suratmi berbaring.


 


NOTE:


Sebelumnya saya sampaikan terimakasih pada para sahabat KAHANAN yang tetap setia mengikuti dan membaca tulisan sederhana ini.


Perlu saya sampaikan permintaan maaf pada para sahabat karena keterlambatan up dari novel KAHANAN karena memang keadaan di RL lebih membutuhkan perhatian, tapi saya akan tetap berkomitmen untuk menulis dan up setiap chapternya maksimal dua hari sekali.


Dan bagi sahabat yang menuntut up cepat-cepat di harap bersabar, saya tau menunggu itu pekerjaan yang membosankan. jadi sambil menunggu KHAHANAN kalian bisa membaca yang lainnya, ataupun jika memang sudah bosan ya tidak masalah bagi saya. Karena tujuan saya menulis ini sebagai sarana silaturahmi dan jika kalian tak berkenan silahkan cari bacaan yang lain yang menurut kalian lebih memungkinkan.


Sekali lagi mohon maaf dan terimakasih, jangan lupa vote,rate dan likenya 


Salam

__ADS_1


__ADS_2