KAHANAN

KAHANAN
CH 119 - BERDAMAILAH DENGAN DIRIMU


__ADS_3

Ketiga karib itu masih termangu, pandangan masing-masing tertuju pada lukisan di hadapannya.


Suara Disya memecah lamunan keduanya,


"Kak, Diera kemana?"


"Dari tadi sejak kami datang tak nampak batang hidungnya." tanya Disya pada Puan Rizza.


Wanita berkerudung jingga itu menoleh kearah Disya dengan mengulas senyum, Puan Rizza pun menjawab,


"Tadi die cakap nak pergi sebenta kat kedai."


"Mungkin sekejab die kan balik." ujarnya sambil berdiri dari duduknya.


Tak berapa lama yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang gadis dengan rambut sebahu melangkah dari arah angkul-angkul.


Senyumnya lebar memperlihatkan barisan gigi rapi nan putih dengan sekantong barang bawaan ditangannya.


"Hai, rupanya ada tamu?"


"Sudah tadi, Dis, Bin? ujar gadis berambut sebahu itu menyapa.


"Ya lumayan, Di."


"Kebetulan hari ini kegiatanku di Selasar tak begitu padat." jawab Disya pada gadis di depannya yang tak lain adalah Diera sahabat karibnya sejak di Negeri Banjir. Keduanya terlihat berpelukan sambil diselingi tawa ringan.


"Oh ya, aku ingin tunjukkan gaun yang ku buatkan untuk pernikahanmu."


"Ku harap kau menyukainya." ujar Diera pada Disya. Gadis berambut sebahu itu nampak menggandeng tangan Disya untuk mengikutinya.


Puan Rizza hanya tersenyum melihat kedua karibnya, Wanita dari Negeri Serumpun itupun menyela,


"Kau pergilah sana turut Diera, akak rasa kau kan suke dengan pakaian yang die buat." ujarnya masih dengan senyuman.


"Boleh aku juga ikut, Di?" timpal Muhibbin pula. Pemuda itu hendak bangkit dari duduknya namun pandangan Diera dan gelengan kepalanya memberi isyarat agar tak ikut.


"Jangan! belum saatnya kau lihat, Bin."


"Bukan kejutan namanya bila kau juga tau gaun yang akan di pakai calon pengantinmu." sanggah Diera tersenyum pada Muhibbin.


Pemuda itu sejenak nampak kecewa, namun Disya sang kekasih memberinya pengertian.

__ADS_1


"Iya Sayang, kamu disini saja dengan Kak Rizza."


"Kamu bisa ngobrol-ngobrol tentang seni dengan akak."


"Biasanya dirimu seperti orang kesurupan dan tak ingat apa-apa bila berbicara tentang dunia seni."


"Puaskanlah hari ini, kapan lagi kau ada waktu berdiskusi dengan Kak Rizza." ujar Disya pada Muhibbin dengan senyuman menggoda.


Muhibbin hanya pasrah dengan permintaan kekasihnya, tak selang berapa lama keduanya meninggalkan Muhibbin dan Puan Rizza.


Suasana kembali hening sepeninggal Diera dan Disya. Muhibbin bangkit dari duduknya dan mendekati lukisan yang ada dihadapannya, Puan Rizza sambil tersenyum terus mengamati tingkah sahabatnya.


"Kau suka lukisan itu, Bin?" tanya Puan Rizza memecah keheningan ruangan tersebut, sementara sayup-sayup terdengar suara gelak tawa Diera dan Disya di kejauhan.


"Entah mengapa saya seperti masuk kedalam lukisan itu, Kak."


"Ada nuansa sendu didalamnya."


"Semilir angin yang menyibak surban pada anak remaja bertongkat itu mengingatkan saya pada Raya."


"Sementara gadis kecil yang memegang sekuntum bunga serasa memiliki kedekatan emosional dengan remaja bertongkat itu."


"Latar belakang perbukitan dengan tumbuhan ilalang dan pokok kayu angsana dengan temaramnya jingga sandikala mendramatisir suasana."


"Pandangan mu tajam, Ibbin."


"Namun semua tu tak jauh beza dengan apa yang kau orang rasakan." Puan Rizza memotong ucapan Muhibbin.


"Akak buat lukisan tu kerana teringat satu hal dan sangat membekas di lubuk hati akak."


"Di suatu malam saat akak terlelap, serasa akak melihat kejadian sama seperti apa yang ada di lukisan tu,"


"Akak sampai menangis bile teringat mimpi tu," ujar Puan Rizza pada Muhibbin, nampak Wanita itu menghela nafas dalam-dalam.


"Jum, ikut akak sekejap." imbuhnya kembali sambil berlalu dari ruangan tersebut, Muhibbin mengekor langkah sahabatnya.


Desiran angin sore di kediaman asri itu mengantarkan keduanya pada sebuah bangku yang ada di sebelah pokok kayu jepun, indahnya bunga sepatu berwarna merah menjulur disela-sela pagar yang terbuat dari tumpukan bata berpoleskan tanah liat berwarna terakota.


"Duduklah di sebelah akak, Bin." seru Puan Rizza pada Muhibbin yang berdiri didekatnya.


Pemuda itu mengambil posisi berdekatan dengan Puan Rizza yang terlihat memandang ke arah bunga-bunga disekitarnya.

__ADS_1


"Akak turut bersuka cita kau bisa lalui mase-mase sulit beberapa tahun ini."


"Hal yang kau alami tu teruk sangat."


"Patutlah kau bersyukur, Allah berikan kekuatan bagi kau beserta Raya tuk lalui semua ni." ucap Puan Rizza.


"Akak harap lepas ni kau akan bahagia bersama Disya, Bin."


"Lupakan mase-mase lalu engkau."


"Tatap hari esok dengan penuh suka cita." pungkasnya dengan wajah penuh keteduhan.


"Iya, Kak."


"Saya berterimakasih pada kalian, terutama Disya yang telah banyak membantu saya melewati semua ini."


Sejenak Muhibbin menghentikan ucapannya, tangan pemuda bersahaja itu memainkan selembar daun yang dipegangnya, tak berapa lama Muhibbin kembali melanjutkan kata-katanya.


"Saya yang bodoh, Kak."


"Sikap kecintaan berlebihan saya pada manusia hingga membuat Allah cemburu dan memberikan luka di hati saya agar saya tersadar dan kembali padaNya."


"Keadaan telah menampar saya agar terjaga bahwa yang saya perjuangkan selama ini hanya fatamorgana."


"Saya telah melupakan ajaran yang diberikan oleh mendiang Abah dan Emak agar tak terbuai serta berharap pada janji manusia." ucap Muhibbin dengan kepala tertunduk, ada rona penyesalan terpancar dari wajah pemuda bersahaja itu.


"Tak patut kau menyalahkan diri sendiri."


"Yang terjadi tak perlu kau sesalkan, semua tu suratan takdir engkau."


"Akak hanya berwasiat, maafkan orang-orang yang telah sakiti kau."


"Doakan mereka mendapat hidayah Allah dan kembali pada fitrahnya."


"Akak banyak berdoa dan berharap untuk kau berdua, semoga berbahagia sampai akhir usia."


"Lepas ni, kau berdua akan jadi pengantin."


"Cepatlah beri akak keponakan comel supaya Raya ade kawan selain Lingga anaknya Sekar." pungkas Puan Rizza dengan gelak tawa.


Muhibbin hanya tersipu dengan apa yang dikatakan Puan Rizza sahabatnya, keduanya pun terlibat percakapan ringan, sementara langit sore itu nampak cerah merona.

__ADS_1


*****


__ADS_2