
Dengan suara lantang tuan Sirkun berusaha menenangkan keadaan, keris di tangan Jero Pecalang masih terhunus ke arah Prawira Utama Bhayangkara.
Suasana seketika hening namun setiap anggota Bhayangkara maupun Pecalang tidak mengurangi kewaspadaan dengan memegang senjata masing-masing mengantisipasi keadaan yang tiba-tiba akan semakin memburuk.
"Hentikan!"
"Turunkan senjata kalian!" teriak tuan Sirkun kembali. Pandangan lelaki itu menyapu ke semua orang yang ada di ruangan pengobatan.
"Apa kalian ingin menambah keruh suasana ditengah kesedihan yang dialami Manguntur saat ini?" pekik pengusaha berkharisma itu.
"Jero Pecalang, turunkan senjatamu!"
"Tuan Prawira Utama, suruh anak buahmu keluar dari ruangan ini!"
"Jika otot yang kalian pergunakan, para pelaku kebiadaban ini akan menertawakan kita semua!"
"Kendalikan diri kalian semua!"
pungkas tuan Sirkun.
"Betul yang dikatakan tuan Sirkun."
"Kendalikan diri kalian masing-masing."
"Kita harus selidiki semua ini dengan kepala dingin." kini Balian Kanta turut angkat suara.
"Tuan Sirkun, tuan Prawira Utama dan kau Jero Pecalang, ikuti aku."
"Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian dan mungkin apa yang aku katakan ini bisa menjadi petunjuk awal sengkarutnya masalah ini!"
"Dan kalian para Pecalang, persiapkan pemakamn yang layak untuk Ni Mas Cahaya."
"Kita tinggalkan ruangan ini, biar para cantrikku yang akan mengurus keadaan Sekar dan Raya."
"Kegaduhan kalian diruangan ini akan mengganggu proses perawatan mereka berdua." pungkas lelaki tua itu sambil melangkah meninggalkan tempat tersebut dan diikuti oleh semua yang ada diruangan perawatan itu.
Tak berapa lama Balian Kanta beserta ketiga orang yang mengikutinya tiba disebuah ruangan disamping balai pengobatan banjar Manguntur, sebelum melanjutkan perkataannya, lelaki tua itu memandang lekat-lekat ketiga orang yang ada didekatnya.
"Ada yang ingin aku katakan pada kalian."
"Ini perihal Jero Mekel dan keluarga Muhibbin." ujar Balian Kanta.
"Sebelum semua ini terjadi, aku dan mendiang Jero Mekel serta pemuda itu telah memperkirakannya."
"Kalau dugaanku tak salah, aku yakin hal ini ada kaitannya dengan benda yang sangat diincar oleh kelompok Garuda Merah."
Semua yang ada diruangan itu mengernyitkan dahi tak mengerti arah pembicaraan Balian tua didepannya.
__ADS_1
"Maksud Jero Balian apa?"
"Siapa Garuda Merah itu dan benda apa yang diincarnya?" tanya tuan Sirkun pada Balian Kanta.
Lelaki tua itu menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan tuan Sirkun, sementara Prawira Utama Bhayangkara dan Jero Pecalang terus menyimak apa yang akan disampaikan Balian Kanta.
"Muhibbin sempat bercerita pada Jero Mekel dan diriku sesaat kedatangannya bersama seluruh keluarganya di negeri ini beberapa pekan yang lalu."
"Bu Suratmi beserta Cahaya mengalami penyerangan di negerinya hingga mengakibatkan sakitnya mendiang wanita itu."
"Penyerangan itu dilakukan oleh gerombolan Garuda Merah yang menginginkan sebuah cincin milik keluarga itu."
"Cincin itu bernama batu Sulaiman Madu dan benda itu sangat di incar oleh orang yang memerintahkan Garuda Merah." ujar Balian Kanta.
Mendengar nama Garuda Merah disebut oleh Balian Kanta, Prawira Utama Bhayangkara memotong pembicaraan tabib tua itu.
"Tunggu dulu, Jero."
"Apa Garuda Merah yang anda maksud pasukan resimen Darmayudha bentukan dinasti Garuda Emas?"
"Ini tuduhan serius, Jero."
"Bagaimanapun Garuda Merah adalah pasukan resmi Negeri Zamrud bentukan mendiang raja Harsuto." ujar Prawira utama menelisik, lelaki itu terlihat terkejut dengan informasi yang baru di dapatnya dari Balian Kanta.
"Betul, tuan."
"Ternyata anda mengetahui pasukan itu." jawab Balian Kanta singkat dengan wajah dingin.
"Garuda Merah menggunakan racun tatkala menyerang bu Suratmi di negeri asalnya."
"Gerombolan ini menginginkan cincin Sulaiman Madu yang dimiliki oleh keluarga bu Suratmi."
"Penyerangan gerombolan itu dapat digagalkan oleh guru Muhibbin sebelum pemuda itu tiba di negerinya untuk menjemput ibu, kakak dan keponakannya."
"Aku dan mendiang Jero Mekel sempat diperlihatkan robekan kain bergambar kepala garuda dengan rajutan benang berwarna merah."
"Sebelum tiba di Manguntur, sakit yang di derita bu Suratmi akibat racun milik gerombolan Garuda Merah sempat kambuh."
"Masih beruntung saat itu kondisi bu Suratmi dapat tertolong oleh kakak seperguruan ku dari banjar Gelumpang yang menemukan mereka di jalan saat menuju Manguntur."
"Dan Kalian perlu ketahui, Gus Aji Putra kakak seperguruan ku itu adalah mantan anggota resimen Garuda Merah dan dari dialah kita semua tau bahwa Garuda Merah adalah pasukan yang dibentuk oleh dinasti Garuda Emas saat mendiang raja Harsuto masih berkuasa." ujar Balian Kanta kembali.
Semua yang ada di ruangan itu semakin terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh tabib dari banjar Galuh itu.
Panjang lebar Balian Kanta menceritakan semua yang diketahui tentang apa yang di alami Muhibbin dan keluarganya, hingga tentang rencana melamar Sariwati yang tak lain adalah putri tuan gubernur Negeri Pantai dan masih merupakan keluarga besar dinasti Garuda Emas.
Mendengar penuturan tabib dari banjar Galuh itu, tuan Sirkun angkat bicara,
__ADS_1
"Aku mulai mengerti situasinya sekarang."
"Dan ada benang merah yang menghubungkan semua peristiwa ini."
"Saat Jero Perbekel datang ke rumahku meminta bantuan untuk menjembatani permasalahan antara pemuda itu dan putri tuan gubernur, secara tidak langsung Jero Nengah Wirata menyinggung tentang dinasti Garuda Emas dan kekhawatirannya pada Muhibbin dan keluarganya."
"Namun sayang sebelum aku menghadap tuan gubernur dan membicarakan semuanya, kejadian mengerikan ini terjadi." pungkas tuan Sirkun sambil tertunduk. Pengusaha dermawan itu terlihat berfikir dan mencerna semua informasi yang baru saja didapatnya.
"Jadi benar dugaan ku, semua ini mengarah pada tuan gubernur dan keluarga besarnya." ujar Jero Pecalang sinis, pandangannya dingin menatap Prawira Utama Bhayangkara didekatnya.
"Maksudmu semua ini tuan gubernur yang melakukan dan beliau dalang di balik kejadian ini?"
"Para Bhayangkara yang menyerang Jero Perbekel beserta keluarganya adalah bagian dari pasukan Garuda Merah?" pekik Prawira Utama Bhayangkara pada Jero Pecalang, lelaki itu terlihat tak senang dengan tuduhan kepala keamanan desa Batubulan tersebut.
"Kalau bukan mereka, lalu siapa lagi yang memiliki akses menggerakkan resimen Garuda Merah? sanggah Jero Pecalang tak kalah ketus.
"Sudah-sudah!"
"Tak ada gunanya kalian berdebat,"
"Yang jelas kita harus memperdalam keterangan dari Jero Balian, bukan malah saling menyalahkan." lerai tuan Sirkun menengahi perdebatan kedua lelaki dihadapannya.
Prawira Utama Bhayangkara terlihat menghela nafas sebelum berkata,
"Sebetulnya kami mengemban sebuah misi yang langsung diperintahkan oleh tuan gubernur,"
"Namun kejadian di Manguntur ini harus segera kami tangani."
"Informasi dari Jero Balian ini sangat membantu dalam penyelidikan kedepannya."
"Namun selain itu, ada yang harus diketahui oleh anda-anda sekalian,"
"Aku ingin meminta keterangan langsung pada pemuda yang bernama Muhibbin itu tentang keberadaan putri tuan gubernur."
"Karena sampai saat ini, Ni Mas Sariwati belum ditemukan sejak dirinya pergi tanpa pamit dan aku ditugaskan langsung oleh tuan Timoti untuk mencarinya." ujar Prawira Utama pada ketiga orang di ruangan itu.
Lelaki itu menceritakan semua yang diperintahkan oleh tuan gubernur termasuk menyeret Muhibbin dan mempertanggung jawabkan jika terlibat dengan larinya Sariwati dari kediaman pimpinan Negeri Pantai itu.
Semua yang ada di ruangan itu terlihat terdiam dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Prawira Utama Bhayangkara.
"Kasus ini sungguh tidak mudah, jika tak berhati-hati kita akan terseret dan akan menimbulkan masalah baru." seru tuan Sirkun lirih.
"Aku akan menghadap dan berbicara langsung dengan tuan Timoti tentang keadaan yang menimpa Manguntur ini."
"Yang jelas, kita harus segera kebumikan jenazah gadis itu."
"Dan aku minta padamu, tuan Prawira Utama,"
__ADS_1
"Tolong tegakkan keadilan ini walaupun nantinya akan menyeret orang-orang berpengaruh di negeri ini." pungkas tuan Sirkun kembali dan pimpinan Bhayangkara itu mengangguk pada pengusaha dermawan di hadapannya.
*****