KAHANAN

KAHANAN
CH 64 - PERTUNANGAN PART VIII


__ADS_3

Sementara siang itu di kediaman tuan Timoti di kota Negeri Pantai, suasana kesibukan terlihat jelas di rumah megah itu,  para pelayan tuan Timoti dengan cekatan mempersiapkan  segala sesuatu untuk menjamu para undangan yang akan hadir di sore hari nanti. Kursi dan meja dibersihkan sedangkan pelayan wanita mempersiapkan hidangan yang akan disajikan untuk para tamu sang gubernur.


Di dalam ruangan kerja tuan gubernur, terlihat wajah-wajah tegang orang-orang yang ada di dalamnya. Sang gubernur terdiam tatkala tuan Bendowo dengan suara tinggi menegur gadis berkerudung merah jambu di hadapannya.


"Wati! ternyata sifat keras kepala mu tak pernah berubah walaupun sudah satu dasa warsa ini papi dan mami tak pernah melihatmu."


"Apa kelebihan pemuda itu sehingga kau berani menolak gagasan ayahmu untuk perjodohan mu dengan Seto putra dari Adhimas Haryo dan Ni Mas Dewi."


"Coba kau jelaskan pada kami." hardik Bendwo pada Sariwati. Muka lelaki tua itu terlihat merah padam dengan tatapan mata tajam menghunjam ke arah Sariwati.


Sudah sepekan Bendowo dan Warika datang ke Negeri Pantai setelah mendapatkan kabar dari tuan Timoti tentang keberadaan Sariwati di negeri itu. Satu dasa warsa lelaki paruh baya itu tak bertemu dengan putrinya setelah kejadian memalukan yang dilakukan Setyanto yang melibatkan Sariwati sehingga hukuman pengasingan dengan kondisi menyedihkan di terima gadis itu. Lelaki itu berkata kembali,


"Yang di rencanakan ayahmu Timoti itu sudah tepat, perjodohanmu dengan Seto akan mempererat hubungan keluarga dinasti Harsuto. Perlu kau ketahui, Haryo itu adalah pewaris tunggal penguasa Negeri Tidar dan kedudukannya di kerajaan Zamrud saat ini sangat diperhitungkan, sedangkan Seto adalah satu-satunya putra Haryo dan Dewi yang suatu saat akan mewarisi semua yang dimiliki oleh orang tuanya."


"Apa kau tak ingin kejayaan dan kelanggengan kekuasaan leluhur mu semakin kuat dengan perkawinan kalian berdua?"


"Sedangkan pemuda kampungan itu apa kelebihannya dan dari darah keturunan siapa dia berasal?"


"Yang jelas papi tak akan merestui jika kau tetap bersikukuh memilih pemuda itu sebagai suamimu dan papi akan melakukan apa saja untuk memisahkan kalian." pungkas Bendowo berapi-api.


Sariwati hanya terisak dengan perasaan hancur  mendengar penolakan keluarga besarnya terhadap Muhibbin.


"Aku sangat mencintainya, Pi!" seru Sariwati lirih, wajah ayunya ditekuk dalam-dalam dengan keadaan terisak.


Bendowo yang mendengar bantahan dari putrinya semakin naik pitam, pria paruh baya itu tak bisa menutupi amarah yang terpancar di wajahnya. Melihat gelagat itu nyonya Warika mulai ikut angkat bicara.


"Wati, ini demi kebaikanmu, Nak."


"Apa yang papi serta ayahmu Timoti katakan itu demi masa depanmu." ujar wanita paruh baya itu.


"Tak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya, Apalagi ini mengenai siapa yang akan menjadi  pendamping hidupmu."


"Mami pun setuju ide perjodohan mu dengan Seto, walaupun ayahmu tak ikut membesarkan mu tapi kali ini mami dan papi sependapat dengannya." imbuh nyonya Warika kembali.


"Dengarkan nasehat papi dan mami mu,Wati."


"Yang kami lakukan ini demi kebaikanmu."


"Ayah tau, pemuda itu banyak menolong mu selama ini. Di saat kamu dalam pengasingan ataupun kau pernah tinggal dengannya di sebuah surau, semua itu jangan membuat logika mu tak jalan."


"Wajar saja dia tertarik denganmu, karena dirimu yang jelita ini dan apalagi dia sudah tau kalau kau keturunan darah biru dan orang berada." kini tuan Timoti menimpali nasehat pada Sariwati.


"Bila kau hidup dengannya, penderitaan dan kekurangan yang akan kau alami. Hidup berkeluarga itu tak cukup hanya dengan cinta, Wati!"

__ADS_1


"Materi itu sangat diperlukan, Dengan harta kita akan di hormati orang apalagi ditambah status keningratan akan membuat orang tunduk dengan kita dan itu semua ada pada diri Seto."


"kamu harus realistis, Wati." pungkas sang gubernur.


Sariwati semakin tenggelam dalam tangisannya, Semua orang yang berada di hadapannya menyudutkan dan tak menyetujui hubungannya dengan sang kekasih.


"Lalu apa tujuan ayah, papi dan mami mengundang Muhibbin sekeluarga  datang kemari, jika hubungan kami tak kalian restui?" seru Sariwati terisak.


Bendowo pun menjawab pertanyaan anaknya.


"Papi akan katakan padanya untuk menjauhi mu dan akan memberikannya harta sebagai pengganti atas pertolongannya kepadamu selama ini, bagaimanapun papi tak ingin berhutang budi pada pemuda miskin itu." ujar Bendowo sinis.


"Semua itu tak akan berguna di depan Muhibbin, Pi! dia bukanlah lelaki yang silau dengan kemilau dunia. Aku sangat mengenal sifatnya." ujar Sariwati menyela perkataan Bendowo.


"Kita lihat saja nanti, apakah seratus juta Ru tak akan menggoyahkan keteguhannya?"


"Jika masih kurang, papi akan tambahi lebih banyak lagi." pungkasnya jumawa.


Suasana di ruangan kerja tuan Timoti hening, tiba-tiba dari luar ruangan itu pintu di ketuk. Seorang pelayan memasuki ruangan setelah Timoti mempersilahkannya.


"Ada apa pelayan?" tanya sang gubernur.


Pelayan itu menangkupkan tangan dan membungkuk di hadapan orang-orang di depannya.


"Rombongan tuan Haryo sudah datang,Tuan."


"Baiklah, katakan pada tuan Haryo! aku akan segera menemuinya."


"Sekarang kau boleh pergi dan tolong persiapkan perjamuan untuk tamu kita." seru tuan Timoti.


Pelayan itu meninggalkan ruangan kerja sang gubernur, terlihat wajah gembira terpancar di wajah Timoti, Bendowo dan Warika mendengar kedatangan tuan Haryo. Sementara Sariwati masih tenggelam dalam pergolakan batinnya.


"Pergilah ke kamarmu, bersoleklah secantik mungkin dan susul kami menemui Haryo di ruangan tamu!" seru Bendowo pada anak gadisnya.


"Mi, Tim, ayo kita temui Adhimas Haryo."


"Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama." pungkas Bendowo.


Lelaki itu keluar dari ruang kerja tuan Timoti diikuti oleh nyonya Warika dan sang gubernur.


Tak lama kemudian Sariwati pun keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya.


***

__ADS_1


Suasana di ruang tamu riuh semakin terasa, gelak tawa menyelingi  perbincangan antara para keturunan dinasti Harsuto itu.


"Har, bagaimana kabarmu?  lama kita tak bertemu, ya!" ujar tuan Bendowo pada tuan Haryo.


"Kabar kami baik, Kang Mas."


"Ya, memang benar sudah lama kita tak pernah bertemu sejak pemakaman almarhum yang mulya Harsuto." ujar tuan Haryo pada tuan Bendowo.


"Ya, aku sendiri di sibukkan dengan kegiatan bisnisku sejak mengundurkan diri dari kesatuan Darmayudha."


"Dirimu kan waktu itu masih bertugas sebagai pasukan Bhayangkara, kalau aku tak salah ingat." ujar Bendowo pada Haryo.


"Betul, Kang Mas."


"Sama halnya dengan Kang Mas Bendowo, aku mengundurkan diri dari kesatuan Bhayangkara karena terlalu sibuk mengurusi bisnis mendiang ayah Probo."


"Ya Kang Mas tau sendiri, aku hanya anak tunggal di keluarga kami." jawab tuan Haryo pada saudara jauhnya ini.


Ayah tuan Haryo yaitu Tuan Probo adalah adik misan mendiang raja Harsuto, dan ketika kerajaan Zamrud di pimpin oleh mendiang Raja Harsuto, semua anggota keluarga dari dinasti Garuda Emas yang didirikan oleh Harsuto menikmati manisnya kekuasaan dan gelimang kekayaan yang sebagian besar didapatkan dengan mengandalkan nama besar raja Harsuto. Jatuhnya kekuasaan raja Harsuto dan surutnya pamor dinasti Garuda Emas ini salah satu penyebabnya adalah ketamakan dan kesewenang-wenangan para anggota keluarganya terhadap rakyat koloni kerajaan Zamrud sehingga sempat terjadi pergolakan dan perlawanan rakyat pada kezaliman dinasti Garuda Emas yang akhirnya membuat raja Harsuto Lengser Keprabon, rakyat tak menghendakinya lagi memimpin kerajaan Zamrud namun cengkraman pengaruh dan kebesaran nama dinasti Garuda Emas masih tetap terasa dan sulit di tumbangkan.


Percakapan keturunan raja Harsuto itu pun semakin hangat, tiba-tiba Bendowo menyela.


"Har, aku mendengar dari Timoti bahwa kehadiranmu sore ini bukan sekedar reuni keluarga, kan?"


"Apa ada hal lain yang ingin kau katakan pada kami?" ujar tuan Bendowo basa-basi.


Tuan Haryo menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya."


"Betul Kang Mas, ini mengenai anak kita."


Mungkin Timoti sudah menyampaikan semua pada Kang Mas dan Mbak yu Warika tentang niatan kami." ujar tuan Haryo.


Suasana hangat penuh canda tawa berubah menjadi hening dan serius. tuan Bendowo pun berkata kembali.


"Ya, Timoti sudah menyampaikan semuanya kepadaku dan istriku."


"Sebelum aku jawab dan ku restui niatan itu, kita tunggu tamu kami yang lain agar pertunangan ini bisa terlaksana tanpa halangan." jawab Bendowo pada tuan Haryo.


Tuan Haryo mengernyitkan dahi belum paham arah pembicaraan tuan Bendowo, apalagi kata-kata 'Tanpa Halangan' membuatnya bertanya-tanya, siapa yang berani berurusan dengan keluarga dinasti Garuda Emas dan mencari masalah? namun tak berapa lama sebuah kereta kuda memasuki halaman kediaman tuan Timoti.


"Nah yang kita tunggu-tunggu sudah tiba." ujar Bendowo kembali.


Terlihat di halaman beberapa orang turun dari kereta kuda yang baru tiba.

__ADS_1


 


--------------------------------------------------------


__ADS_2