
Para belia itu mengikuti langkah Cahaya menuju kamar Suratmi, sesampainya di dalam kamar ada rasa haru terpancar di wajah orang-orang itu melihat tubuh renta yang tergolek tak berdaya di sebuah balai bambu yang hanya beralaskan tikar pandan dan selimut kain jarik yang menutupinya. Mata wanita tua itu terlihat masih terpejam dengan nafas yang mulai teratur.
"Mbak Yu, Emak sakit apa, mengapa bisa seperti ini?" tanya Disya pada Cahaya, gadis itu terlihat mendekat dan duduk di bibir ranjang.
Wajahnya penuh keharuan menatap Suratmi yang pernah dikenalnya dulu saat berada di lereng Ijen.
"Emak sakit akibat di serang orang saat kita masih dikampung, Rin."
"Ada luka memar di tubuhnya yang menurut beberapa Balian yang mengobatinya di akibatkan oleh racun."
"Racun, Mbak Yu?" wajah Disya semakin cemas dengan jawaban Cahaya.
Cahaya hanya menganggukkan kepala.
"Bagaimana bisa, Mbak Yu?" imbuh gadis itu kembali.
Dengan menghela nafas panjang Cahaya mulai menceritakan apa yang terjadi selama di Negeri Batu Ular, bagaimana dirinya dan ibunya di serang oleh gerombolan Garuda Merah suruhan dinasti Garuda Emas yang memaksa ingin menguasai batu Sulaiman Madu yang dimiliki keluarganya.
Cahaya juga bercerita bahwa racun yang menjalar ditubuh ibunya di akibatkan pukulan salah satu anggota gerombolan itu yang membuat ibunya sakit sampai saat ini, hingga pertemuannya dengan Balian tua dari banjar Gelumpang yang tak lain adalah Gus Aji Putra yang menolongnya saat baru sampai di Negeri Pantai.
Mendengar cerita Cahaya, Disya semakin geram.
Di dalam benaknya teringat kembali peristiwa kecelakaan yang merenggut semua keluarganya di Negeri Kelapa yang juga di akibatkan ulah salah seorang anggota keluarga dinasti Garuda Emas.
Gadis itu terlihat mengepalkan tangannya menahan kegeramannya.
"Mereka seolah-olah tak ada habisnya membuat kekacauan dan menyengsarakan rakyat jelata." gumam Disya dalam hati.
"Seharusnya hal seperti ini jangan di diamkan , Mbak Yu."
"Laporkan saja pada pihak berwenang di kerajaan Zamrud."
"Supaya mereka mendapat ganjaran dari semua perbuatannya." ujar Disya geram.
Tangannya menggenggam jari jemari Suratmi yang masih tertidur.
"Apalah daya kami rakyat kecil ini, Rin?"
"Laporan kami malah akan memperumit masalah yang kami hadapi." dengan wajah lesu Cahaya menatap ke arah Disya. Terlihat keputus asaan di wajah gadis itu.
Puan Rizza, Diera dan Sekar hanya terdiam mendengar percakapan dua orang di depannya, seolah-olah belum bisa mencerna masalah apa yang sedang di hadapi oleh keluarga Muhibbin.
"Tapi apakah kak Cahaya pernah melaporkan hal ini pada yang berwenang?" kini Puan Rizza turut angkat bicara. Wanita dari tanah serumpun itu menatap lekat ke arah Cahaya.
"Belum, Puan."
"Masih banyak yang kami pertimbangkan untuk hal ini."
"Ini juga berkaitan dengan adik saya Muhibbin." jawab Cahaya pada Puan Rizza.
"Ada kaitan apa hal ini dengan Muhibbin, Kak?"
__ADS_1
"Bukankah seharusnya Ibbin bertindak, apalagi sudah ada bukti yang mengarah pada dinasti Garuda Emas?" imbuh Puan Rizza kembali. Wanita dari Negeri Serumpun itu menatap mata Cahaya untuk memastikan jawaban yang di anggapnya janggal.
"Masalahnya tak sesederhana yang kalian bayangkan."
"Dinasti Garuda Emas itu tak lain adalah keluarga besar Sariwati."
"Dan entah alasan apa keluarga itu menginginkan batu Sulaiman Madu milik kami."
"Hal itu yang membuat saya ragu untuk melaporkan masalah ini, apalagi ini menyangkut hubungan Muhibbin dan Sariwati." ujar Cahaya sambil menghela nafas dalam-dalam.
Semua mata terbelalak mendengar jawaban Cahaya kecuali Sekar dan Raya Suci yang sudah tau latar belakang Sariwati.
"Ternyata wanita sialan itu anggota keluarga Garuda Emas."
"Selama ini dia menutupinya dari kita."
"Pantas saja dalam hidupnya selalu membuat masalah dan memperlakukan orang lain seenaknya." gerutu Disya tak bisa menahan kekesalannya.
"Apakah Muhibbin tau kalau perempuannya itu berasal dari keluarga yang sudah mencelakai kalian, Kak?" tanya Disya kembali.
"Dia tau, Rin."
"Wati sebenarnya anak tuan gubernur Timoti namun sejak kecil di asuh oleh tuan Bendowo yang tak lain adalah penerus dinasti Harsuto atau yang selama ini kita kenal sebagai mantan penguasa kerajaan Zamrud."
"Itu yang membuat kami ragu, karena bagaimana pun yang kami hadapi adalah salah satu keluarga berpengaruh di negeri ini."
"Dan kami tak memiliki daya upaya untuk melawannya," ujar Cahaya memberi penjelasan pada Disya dan kawan-kawannya.
"Tapi gak seperti itu juga, Mbak Yu!"
"Apa yang dilakukan keluarga perempuan jala*ng itu sudah keterlaluan."
"Aku kesal dengan sikap Muhibbin."
"Apa sih yang sebenarnya dia pikirkan?"
"Dia selalu mengutamakan perempuannya itu dan tak memikirkan perasaan keluarganya apalagi nyawa keluarganya jadi taruhan!" seru Disya dengan suara tinggi, kini wajah gadis itu memerah tak bisa menutupi kemarahannya.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam, Cahaya menatap wajah Disya dalam-dalam.
"Entahlah, Rin."
"Mbak Yu juga bingung dengan keadaan ini." jawab Cahaya dengan wajah terangkat melihat gadis di depannya, kelopak matanya mengembun menahan tangisannya.
Suasana hening menyeruak di kamar itu setelah terjadi sedikit perdebatan antara Disya dan Cahaya, semuanya terdiam dengan pergolakan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba suara lirih Suratmi memecah keheningan suasana,
"Rupanya ada tamu?"
"Siapa yang datang, Nduk?" tanya wanita renta itu pada Cahaya.
__ADS_1
Wanita tua itu berusaha bangkit dari tempatnya berbaring, namun tangan Disya yang berada lebih dekat menahan tubuh Suratmi agar tetap berbaring.
"Emak jangan banyak bergerak dulu."
"Berbaring saja, Mak!"
"Kami tak apa-apa." ujar Disya pada Suratmi mewakili teman-temannya.
Gadis itu pun mulai meneteskan air mata, bagaimanapun Suratmi adalah sosok yang sangat dikenalnya.
Saat di perkebunan kopi di lereng ijen keluarga Muhibbin banyak membantu keluarganya, Suratmi saat itu sering membantu pekerjaan rumah tangga keluarga Samarta, ayah Disya.
Nyonya Hilda, ibu Disya sangat mempercayai Suratmi untuk membantunya mengurus keperluan rumah tangganya saat itu. Hingga meninggalnya Ahmad yang tak lain ayah Muhibbin akibat kecelakaan terjatuh dari pohon kelapa, karena di minta Disya yang kala itu masih berusia tujuh tahun.
Dan setahun sejak peristiwa meninggalnya pak Ahmad, semua keluarga Muhibbin pindah kembali ke kampung asal ayah Muhibbin.
"Ini saya, Mak."
"Karina Larasati putri tuan Samarta." ujar karina lirih diantara suara tangisannya.
Terlihat Suratmi berfikir sejenak mengingat-ingat gadis muda yang ada di sampingnya berbaring itu.
"Non Rina?"
"Benarkah ini non Rina?" seru Suratmi lirih, wanita itu memaksa bangkit dari tempatnya berbaring walaupun tangan Disya masih menahannya untuk tidak bangun.
"Biarkan Emak menyentuh wajahmu, Non." pinta Suratmi, wanita renta itu bersikeras bangkit. Kedua tangannya terlihat merengkuh wajah Disya dan jari jemari rentanya seolah-olah ingin memastikan kebenaran pengakuan gadis di depannya.
Setelah beberapa saat, Suratmi memeluk Disya yang ada didepannya.
"Ya Allah, non Rina!"
"Benar ini kamu, Nduk."
"Apa kabar mu dan bagaimana kabar tuan Samarta serta nyonya Hilda?
" Bagaimana dengan tuan Ardi dan non Diondra?" rentetan pertanyaan keluar dari bibir Suratmi.
Sebelum menjawab pertanyaan wanita tua dihadapannya, Disya mengusap air matanya, ada kepedihan mendalam bila terpancar di wajah ovalnya bila mengingat semua keluarganya yang telah tiada akibat kecelakaan itu.
"Keluargaku sudah tiada, Mak." ujar gadis itu terisak.
Dengan terbata-bata Disya kembali menceritakan musibah yang di alami keluarganya hingga bagaimana dirinya berubah nama dari Karina Larasati menjadi Disya Kumala Dewi putri tuan Sirkun sebagaimana telah diceritakannya tadi pada Cahaya.
Suasana haru biru menandai pertemuan kedua orang itu.
"Kau yang sabar, ya nduk."
"Semua telah ditetapkan Allah, kita hanya bisa berserah diri dan tawaqqal dengan semua ketetapanNya."
"Cobaan yang kau alami memang berat, namun kau tak boleh menyerah pada keadaan, hadapilah dangan lapang dada." ujar Suratmi lembut sambil membelai rambut Disya yang ada di pelukannya.
__ADS_1
----------------------