KAHANAN

KAHANAN
CH 81 - DUKA BUMI MANGUNTUR


__ADS_3

Para warga dan keamanan desa Batubulan terus berjibaku dengan kobaran api yang melahap rumah pak Nengah, hampir separuh bagian rumah itu hangus terbakar.


Jero Pecalang sebagai kepala keamanan mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan di dusun Manguntur, para anggotanya bergegas melaksanakan arahan pimpinan keamanan itu.


"Bagaimana keadaan gadis kecil itu?" ujar Jero Pecalang pada salah seorang anggotanya, lelaki bertubuh kekar itu terlihat menahan kegeraman atas semua yang telah terjadi.


"Kondisinya masih kritis, Jero." jawab anggotanya pada Jero Pecalang.


"Ulah siapa ini? sungguh biadap!"


"Kita harus segera menemukan pelakunya, kejadian ini sama saja menginjak-injak kehormatan orang Manguntur!"


"Bagaimana pun, Jero Perbekel dan keluarganya adalah saudara kita yang harus kita bela."


"Kekejian yang menimpa beliau sangat menyakitkan kita semua."


"Darah di balas darah, nyawa di balas nyawa!" pekik Jero Pecalang dengan suara berat, matanya terlihat berkaca-kaca menyaksikan empat tubuh terbujur didepannya dengan kondisi badan yang mengenaskan.


Semua orang yang ada di ruangan balai pengobatan Manguntur terdiam menahan kemarahan, perasaan mereka campur aduk dengan apa yang telah menimpa pimpinan tertinggi desa Batubulan itu.


Tak selang berapa lama seorang lelaki tua berjalan terburu-buru menuju ruangan balai pengobatan itu, terlihat lelaki tua itu di temani beberapa anggota keamanan desa.


"Jero Pecalang! ada apa ini, apa yang terjadi? ujar lelaki tua itu setelah berada di dalam ruangan.


"Entahlah Jero Balian, kejadian ini begitu mendadak."


"Kami semua tak tau apa yang terjadi."


"Yang jelas ketika kami datang, rumah Jero Perbekel sudah terbakar dan ketika kami masuk, kami menjumpai Jero Mekel dan putrinya sudah tergeletak di tanah dengan luka-luka yang serius."


"Dan di dalam sebuah kamar, kami pun menemukan dua orang dengan kondisi yang sangat mengenaskan, terbakar di dalam ruangan yang terkunci dari luar." Suara Jero Pecalang bergetar menceritakan kejadian yang dialami oleh pak Nengah sekeluarga pada lelaki tua dihadapannya yang tak lain adalah Jero Balian Kanta.


"Jagat Dewa Batara."


"Sungguh perbuatan biadab!"


"Siapa yang dengan kejam berbuat seperti ini?" wajah Jero Balian Kanta terlihat berkaca-kaca, lelaki tua itu mulai memeriksa satu persatu empat tubuh yang tergeletak di atas balai bambu di depannya.


Tangan rentanya bergetar ketika memeriksa denyut nadi ke empat tubuh di hadapannya.


Dari ke empat tubuh itu dua diantaranya masih ada tanda-tanda kehidupan, salah satunya adalah tubuh Raya Suci yang hampir sebagian besar tubuhnya terluka bakar.


Dengan hati-hati Balian Kanta menaburi tubuh Raya Suci dengan serbuk tepung untuk mendinginkan efek luka bakar yang diderita gadis kecil itu.


"Tolong bantu di kipas tubuh anak ini!"


"Biarkan suhu tubuhnya turun dan luka bakarnya terkena angin." ujar Balian Kanta pada salah seorang warga yang membantunya.


Tabib tua itu membersihkan luka-luka di tubuh Raya Suci sambil sesekali tangannya membaluri luka bakar itu dengan serbuk tepung.


Tiba-tiba dari salah satu keempat tubuh itu bergerak,


"ehhh, sakit!"


"Sakit!"


terdengar erangan lirih dari tubuh yang tergolek mengenaskan itu.

__ADS_1


"Ni Mas Sekar?" pekik Jero Balian dan Jero Pecalang bersamaan. Keduanya bergegas menghampiri Sekar yang terkulai dengan sebuah luka besar menganga di tubuhnya.


"Sakit!"


"Sakit! erang gadis itu kembali.


" Cepat ambilkan air hangat dan bawakan kemari!" teriak Balian Kanta pada orang-orang di ruangan itu.


Mendengar seruan Balian Kanta, salah seorang di ruangan itu beranjak menuju ke belakang dan tak berapa lama orang itu pun datang membawa baskom berisi air hangat di dalamnya, dengan cekatan lelaki tua itu membersihkan luka-luka pada tubuh Sekar dan Raya Suci.


"Sakit!"


"Aduh sakit!"


Rintihan kesakitan terdengar dari kedua gadis itu, semua yang ada di ruangan balai pengobatan merasa terenyuh dengan apa yang dialami Sekar dan Raya Suci.


Darah segar mengalir di dada Sekar yang berlubang akibat luka hunjaman tombak, Balian Kanta dengan penuh hati-hati memboreh luka putri Jero Perbekel itu dengan beberapa tanaman obat yang ditumbuk untuk menghentikan pendarahan dan di ikatnya dengan kain putih untuk menutupi lukanya.


Sementara kondisi Raya Suci pun tak kalah memprihatinkan, dengan luka bakar di sekujur tubuhnya membuat gadis kecil itu masih dalam keadaan pingsan, nafasnya turun naik tak teratur diselingi erangan kecil penuh rasa kesakitan membuat semua yang ada di ruangan itu menitikkan air mata.


"Bagaimana, Jero?"


"Apakah mereka bisa tertolong?" ujar Jero Pecalang pada Jero Balian Kanta.


Tabib tua itu menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan pimpinan keamanan desa Batubulan yang ada di sebelahnya.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin, Jero Pecalang."


"Aku pun minta bantuan mu,"


"Tolong kau rawat jenazah Jero Perbekel dan wanita tua itu."


Jero Pecalang menganggukkan kepala, lelaki paruh baya itu terlihat memberi arahan pada anggotanya dan para warga Manguntur.


Suasana malam di banjar Manguntur semakin sendu. Beberapa orang terlihat membopong jenazah pak Nengah dan bu Suratmi menuju halaman balai pengobatan itu.


Para wanita mulai memandikan jazad bu Suratmi, demikian pula para pria memandikan jazad pak Nengah. Suasana haru biru mengiringi prosesi perawatan jenazah keduanya dan setelah itu tubuh pak Nengah dan bu Suratmi di semayamkan di ruangan tengah balai pengobatan itu.


Jero Pecalang terlihat hilir mudik memberikan arahan kepada para warga dan sesekali lelaki paruh baya itu masuk kembali ke dalam ruangan balai pengobatan.


Tiba-tiba dari kejauhan puluhan orang terlihat mendekat ke arah balai pengobatan Manguntur, setelah tak berapa lama orang-orang itu yang tak lain adalah para Bhayangkara memasuki areal balai pengobatan.


Prawira Utama Bhayangkara terlihat menyeruak ke dalam ruangan dan diterima oleh Jero Pecalang dan Balian Kanta langsung.


"Apa yang sedang terjadi?"


"Bagaimana kejadian ini bisa menimpa Jero Perbekel dan keluarganya?" tanya Prawira Utama Bhayangkara Negeri Pantai pada Jero Pecalang. Wajah lelaki itu terlihat tegang melihat pemandangan didepannya.


"Saya tak tau pastinya, tuan."


"Kami dan para warga sudah mendapati Jero Perbekel dan keluarganya sudah dalam keadaan mengenaskan."


"Jero Perbekel dan putrinya kami dapati sudah tergeletak di halaman rumahnya dengan keadaan terluka dan kami pun menemukan dua orang di dalam kamar dengan kondisi yang tak kalah memprihatinkan, terbakar di dalam kamar yang sedang terkunci dari luar." ujar pimpinan keamanan desa Batubulan itu pada Prawira Bhayangkara, Jero Pecalang menceritakan semua yang terjadi sebelum dirinya dan para warga datang di kediaman pak Nengah.


Prawira utama terlihat mendengus geram, wajah pimpinan Bhayangkara itu terlihat kusut menahan amarahnya.


"Biadab, peristiwa ini diluar batas kemanusiaan."

__ADS_1


"Selidiki semua hal ini dengan tuntas, aku tak ingin kejadian berdarah dua tahun lalu dan saat ini mencoreng kedamaian Negeri Pantai." ujar Prawira utama pada anggota Bhayangkara setelah mendapat keterangan dari Jero Pecalang.


"Lalu bagaimana keadaan korban yang selamat, Jero?" tanyanya kembali.


"Seperti yang anda lihat sendiri, tuan."


"Kedua anak itu masih dalam kondisi kritis."


"Dan untuk sementara ini, tak ada bukti dan saksi yang bisa menjelaskan apa sebetulnya yang terjadi." jawab Jero Pecalang pada Prawira Utama.


"Namun yang bisa saya pastikan, orang-orang manguntur tak akan diam dengan kejadian ini, tuan."


"Jero Perbekel Nengah Wirata bagi kami adalah orang tua sekaligus panutan kami."


"Hutang darah di balas darah, hutang nyawa di balas nyawa."


"Kami akan pastikan para pelaku tak akan kami biarkan dengan tenang, kami akan mencarinya dengan atau tanpa pasukan Bhayangkara yang tuan pimpin." pungkas Jero Pecalang dengan suara bergetar.


***


Sementara di sebuah rumah tua di batas kota Negeri Pantai terlihat beberapa orang bertudung sedang berjaga-jaga dan di dalam rumah itu terdengar jeritan seorang wanita yang sedang mengalami penyiksaan.


Suara lecutan cambuk bercampur erangan kesakitan memecahkan kesunyian malam ditempat itu.


"Ayo katakan, dimana cincin batu Sulaiman Madu itu kalian simpan?"


"Katakan!" hardik salah seorang lelaki berpakaian Bhayangkara pada seorang gadis dengan tangan terikat ke tiang didepannya.


"Saya tak tau apa yang kalian cari."


jawab gadis itu setengah tersadar dengan suara lirih.


Plak!


Plak!


Suara lecutan cambuk mendarat ditubuh gadis itu.


"Aku tanya sekali lagi, dimana benda itu kalian simpan?" hardik lelaki itu.


"Saya tak tau benda apa yang kalian maksud." ujar gadis itu kembali, suaranya lirih semakin hilang bersama kesadarannya.


"Kau memilih mati, perempuan sialan!" tanya lelaki itu kembali mengintimidasi, lecutan cambuk bertubi-tubi mengarah ke tubuh sang gadis. Wajah lebam dan bilur-bilur membiru terlihat di sekujur tubuh wanita itu yang terkulai pingsan tak sadarkan diri, terlihat darah masih menetes di hidung dan sudut bibirnya.


Lelaki berpakaian Bhayangkara itu mendengus kesal setelah tak mendapatkan keterangan yang di inginkan, dengan perasaan geram dia melangkah keluar.


"Kalian selesaikan semua seperti biasa!"


"Wanita itu sudah tak berguna!"


"Buang tubuhnya ke sungai!" ujar lelaki itu dingin dan tak lama kemudian beberapa orang terlihat masuk kedalam bangunan tua itu.


"Apa ada kabar dari tim kedua?" tanya lelaki berpakaian Bhayangkara itu kembali pada anak buahnya yang sedang berjaga diluar.


"Belum ada kabar, Ketua." jawab salah seorang penjaga.


Lelaki itu semakin kesal dengan apa yang di dengarnya, tulang rahangnya gemeretak menahan amarahnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2