
Matahari terasa sangat terik,suasana kota Negeri Pantai ramai sekali. Hari ini bertepatan dengan hari Kajeng Kliwon dimana masyarakat Negeri Pantai melakukan ritual persembahyangan yang bertepatan pada Triwara terakhir wuku Kliwon atau lima belas hari terakhir dalam kalender Negeri Pantai yang berneptu Kliwon.
Kajeng Kliwon sendiri merupakan upacara persembahyangan kepada Dewa Siwa yang diyakini bahwa pada hari ini Dewa Siwa sedang melakukan semadi dan hari Kajeng Kliwon sangat dikeramatkan sekali oleh warga Negeri Pantai.
Lalu lalang kereta angin menghiasi suasana Kota Negeri Pantai, terlihat beberapa warga membawa Gebogan atau persembahan hasil bumi dan konsumsi sehari-hari yang berupa buah, jajanan, dan tumpeng kecil yang disusun rapi sedemikian rupa untuk persembahan kepada para dewa.
"Tut.. tut.. tut.. tut, "
Suara sebuah Otto melintasi jalanan kota Negeri Pantai. Orang-orang yang lalu lalang berhenti keheranan melihat sebuah benda berbentuk kotak memanjang mirip kereta kuda dengan empat roda namun berjalan tanpa di tarik oleh seekor kuda pun.
Di Negeri Pantai belum pernah dijumpai benda semacam itu, yang ada hanya kereta kuda atau delman dan kereta angin sebagai sarana transportasi masyarakat Negeri Pantai.
Didalam Otto itu terdapat seorang Wanita berpakaian mewah duduk di bagian belakang dan di depannya ada seorang lelaki yang mengemudikannya. Terlihat Otto itu menuju rumah tuan gubernur Timoti.
Setelah sampai di depan rumah megah kediaman sang gubernur, terlihat sang wanita yang berada di bagian belakang Otto itu turun.
Tuan gubernur Timoti sudah berdiri di selasar rumah kediamannya menyambut tamu yang baru datang itu.
"Habsari, selamat datang di Negeri Pantai ini!" sambut tuan Timoti pada wanita berpakaian mewah yang menghampirinya.
Di peluknya wanita itu sambil tersenyum lebar.
"Selamat datang di rumah paman yang sederhana ini, Habsari."
"Angin apa gerangan yang membuat putri tercinta kang mas Bendowo datang tiba-tiba mengunjungi paman?" sapa sang gubernur berusaha ramah.
Terlihat wanita berpakaian mewah itu yang tak lain adalah Habsari tersenyum dingin. Sorot matanya yang penuh keangkuhan menyapu semua yang ada disekitarnya.
"Hem, jadi ini sekarang Negeri Pantai yang terkenal ke indahannya sampai ke manca negeri!" gumamnya pada sang gubernur.
__ADS_1
"Sudah lama sekali aku tak datang ke tempat ini, terakhir waktu aku berusia tujuh tahun bersama papi mami menemani mendiang Kakung Harsuto tiga puluh tahun yang lalu, banyak sekali perubahannya." pungkas wanita itu.
"Ya memang benar yang kau katakan, Habsari."
"Semua ini tak lepas dari peran papi mu yang merekomendasikan paman pada penguasa kerajaan Zamrud yang sekarang, sehingga paman bisa menjadi gubernur di negeri ini." jawab tuan Timoti.
Keduanya melangkah kedalam bangunan gubernuran yang terlihat megah itu. Tatapan mata Habsari masih menikmati suasana di sekelilingnya dan diapun berkata kembali pada tuan Timoti.
"Baguslah, kalau paman masih ingat jasa papi dan kebaikan keluarga ku, jangan sampai seperti kacang lupa pada kulitnya!" ujar wanita itu dingin.
Sang gubernur tersenyum kecut dan hanya bisa diam mendengar perkataan Habsari yang angkuh.
Di helanya nafas dalam-dalam, Dia hafal bagaimana perangai arogan keponakannya ini.
"Mana mungkin paman lupa kebaikan Dinasti Garuda Emas, khususnya kang mas Bendowo."
"Lugas, tegas tanpa kompromi itulah tuan putri Habsari Bonawati keponakan paman yang paling cantik." ujar sang gubernur mencairkan suasana.
"Oh ya, bagai mana kabar orang tua mu, Habsari? tanya lelaki itu pada keponakannya.
Habsari hanya menoleh sepintas pada tuan Timoti dan berkata,
"Biasa saja paman, ya seperti itulah papi dan mami." jawabnya singkat. Dia duduk di sebuah kursi sofa tepat dihadapan tuan Timoti.
"Ngomong-ngomong, tumben kamu berkunjung ke negeri ini. Yang paman tau, Habsari Bonawati tak akan melakukan sesuatu bila tak ada maksud dan tujuannya." ujar sang gubernur. Lelaki itu memandang lekat wanita yang baru saja duduk didepannya.
"Tak perlu basa-basi lagi, Paman!"
"Memang benar, Aku kemari dalam rangka ingin menetap di negeri ini. Setelah satu dekade aku berada di Benua Angin, mengelola semua aset Dinasti Harsuto, saatnya aku kembali ke negeriku sendiri dan melakukan semua tugas dan kewajiban yang aku emban dari sini."
__ADS_1
"Apa paman keberatan? tanya Habsari tanpa tedeng aling-aling. Sorot matanya tajam ke arah tuan Timoti.
"Oh tidak, Paman senang sekali kami mau tinggal bersama paman disini." ujar sang gubernur, namun dalam hatinya dia tau ada tujuan tertentu Habsari berkunjung dan berniat menetap di Negeri Pantai, utamanya menyangkut Giok Hujan dan keberadaan Sariwati sebagaimana laporan caraka yang diterimanya beberpa bulan lalu.
"Nanti paman akan siapkan tempat terbaik buat keponakan tercinta paman ini." imbuh tuan Timoti basa-basi. Lelaki itu tersenyum tenang dihadapan Habsari.
"Oh ya paman, Aku mendapat laporan bahwa adik ku berada disini pula, kemana dia?" tanya Habsari.
"Paman tau sendiri, Sariwati masih menjalani masa hukuman dari papi dan paman membantu serta memberikannya fasilitas selama ini padanya, jelas sekali itu melanggar perintah papi."
"Paman pasti hafal bagai mana papi, Beliau tak akan senang jika orang lain mencampuri urusannya!" imbuh Habsari penuh intimidasi.
"Aku tau apa yang aku lakukan, Habsari." jawab tuan Timoti.
"Memang benar, Wati ada disini bersama paman. Apa salah jika sebagai keluarga, kita saling membantu kesulitan saudara-saudara kita?"
"Dan lagi, apa yang dituduhkan pada Wati tidaklah sepenuhnya benar."
"Terbukti oleh rekaman kaca pengawas papi mu yang menunjukkan bahwa itu bukan kesalahan Wati."
Habsari tak berkutik mendapatkan jawaban dari pamannya.
"Sudahlah, istirahatlah dulu. Kau pasti lelah, kan? setelah perjalanan jauh yang kau tempuh."
"Paman akan perintahkan pembantu untuk melayani kebutuhanmu, nanti setelah kau menghilangkan penat mu, Kita ngobrol lagi." pungkas sang gubernur beranjak meninggalkan Habsari.
"Oh ya, Kamu harus ingat, ini wilayah paman dan semua yang terjadi disini adalah tanggung jawab dan atas ijin paman!" ujar tuan Timoti kembali sebelum dirinya berlalu keluar dari ruangan itu.
--------------------------
__ADS_1