
Di tempat lain di belahan barat Negeri pantai, malam yang kian temaran menyelimuti Banjar Gelumpang yang sejak sore hari di guyur hujan membuat suasana dusun itu semakin dingin.
Di sebuah kamar balai dauh rumah Balian tua terdengar suara orang terbatuk-batuk sambil sesekali terdengar percakapan orang-orang yang ada di dalamnya.
"Mak, bagaimana keadaan panjenengan sekarang, apa sudah lebih baikan?" tanya Cahaya pada Suratmi yang terbaring di balai bambu sambil memijit kaki wanita tua itu, di sebelahnya Raya suci sudah mulai terlelap.
"Aku sudah baikan, Nduk."
"aku ingin segera sampai ke tempat adik mu dan bertemu dengan calon istrinya."
"Besok pagi kita berangkat, ya!"
"Emak malu jika terlalu lama disini dan merepotkan tuan Balian." ujar Suratmi pada anak gadisnya.
Muhibbin hanya terdiam mendengar perbincangan kakak dan ibunya. Pemuda itu berbaring di atas lantai yang beralaskan tikar, matanya menerawang memandang angit-langit kamar rumah Balian tua.
"Le, bagaimana menurutmu?"
"Apa kita berangkat saja besok pagi dengan kondisi emak yang seperti ini?" ujar Cahaya pada adiknya.
Lelaki itu menghela nafas, dia bangkit dari tempatnya berbaring dan duduk bersila sementara kakak serta ibunya masih di atas ranjang bambu itu.
"Kita tunggu saja perkembangannya, Mbak yu."
"Jika tuan Balian sudah menyatakan kesehatan emak membaik, besok kita berangkat lagi ke Manguntur." ujar Muhibbin.
Cahaya mengagguk kecil mendengarkan perkataan adik bungsunya.
"Andaikan tak terjadi penyerangan oleh gerombolan orang tak dikenal yang menginginkan cincin Sulaiman Madu milikmu itu, mungkin keadaan emak tak seperti ini." imbuh gadis ayu itu.
"Ya, Mbak yu." jawab Muhibbin singkat, ada rasa geram yang ditahannya melihat perlakuan orang tak di kenal itu pada keluarganya.
"Siapa sebenarnya mereka dan apa tujuan yang mereka inginkan dengan merebut cincin Sulaiman Madu itu."
"Biadab!" gumamnya dalam hati, di rogohnya sobekan kain bergambar kepala garuda yang dirajut dengan benang berwarna merah dari balik bajunya, matanya tajam penuh amarah dengan sesekali meremas sobekan kain itu.
"Mbak yu, apa mbak yu masih ingat wajah para pelaku itu dan ciri-cirinya seperti apa?" tanya Muhibbin pada kakaknya.
Cahaya yang masih memijit kaki Suratmi berkata,
"Aku masih sangat mengingatnya, Bin"
"Pimpinannya memiliki cambang lebat dan di pelipis sebelah kirinya ada bekas goresan luka memanjang hingga ke pipinya dan salah satu dari mereka yang sempat berbuat tak senonoh dengan meraba-raba tubuh ku memanggilnya 'Bejo'." jawab gadis itu tak kalah geramnya.
"Lelaki yang bernama Bejo itu yang memukul wajah emak hingga terpelanting dan pingsan."
"Untung mbah kyai Basori beserta para warga segera datang menolong kami saat itu dan lelaki bernama Bejo di buat muntah darah oleh mbah kyai dalam perkelahian itu." imbuh Cahaya.
"Kamu sekarang harus lebih berhati-hati, Bin!"
"Jaga baik-baik cincin Sulaiman Madu itu, aku yakin orang-orang itu masih tetap akan memburunya karena mereka awalnya menawarkan harga yang sangat tinggi untuk cincin peninggalan keluarga besar kita itu dan kemungkinan orang yang menyuruh mereka adalah orang berpengaruh seperti yang di katakan oleh mbah kyai." pungkas Cahaya sambil memperbaiki kain jarik yang menyelimuti tubuh renta Suratmi ibunya.
Muhibbin hanya mengangguk mendengar nasehat kakak perempuannya itu. Tiba- tiba pintu kamar tempat mereka bermalam di ketuk dari luar.
__ADS_1
"Nak Mas!"
"Nak Mas, apa sudah tidur?'" suara Balian tua terdengar di balik pintu.
"Belum tuan." jawab Muhibbin dari dalam kamar dan pemuda itu beranjak dari duduknya membukakan pintu untuk Balian tua.
"Bagai mana keadaan ibumu, Nak Mas? seru Balian tua sambil melangkah kedalam kamar di ikuti oleh Ketut Setyowati di belakangnya, gadis itu terlihat membawa nampan berisi ramuan obat-obatan yang tersimpan di atas bokor-bokor kecil yang dibawanya.
"Coba aku periksa keadaan ibumu!" seru Balian tua beringsut mendekati Suratmi yang terbaring, tangan rentanya menyentuh kening Suratmi dan tak selang berapa lama berpindah pada pergelangan tangan wanita yang terbaring di hadapannya. Mimik wajahnya terlihat cerah dengan senyuman meneduhkan.
"Astungkara pada Sang Hyang Widhi, kondisi ibumu sudah sangat bagus sekali, Nak Mas."
"Cuma tinggal sesak dan batuknya saja, aku akan berikan ramuan untuk di balurkan ke badan ibumu."
"Biar nanti Setyowati yang akan memborehkannya, Nak Mas." imbuh Balian tua.
Terlihat Setyowati dibantu oleh Cahaya memborehkan ramuan yang ada di bokor-bokor kecil yang tadi dibawanya pada tubuh Suratmi, sementara Muhibbin dan Balian tua melangkah keluar menuju balai dangin, kedunya bercakap-cakap di balai dangin sambil menunggu Setyowati menyelesaikan tugasnya pada Suratmi.
"Nak Mas, boleh saya bertanya sesuatu pada Nak Mas? ujar lelaki tua itu pada Muhibbin.
"Bertanya apa, tuan? jika saya sanggup dan bisa menjawabnya akan saya jawab." timpal Muhibbin pada lelaki tua di hadapannya.
"Sebelumnya saya mohon maaf, bila pertanyaan saya menyinggung Nak Mas Ibbin nantinya!" ujar Balian tua itu kembali.
Muhibbin yang merasa ada perubahan dari tutur kata Balian tua menghela nafa dan berkata,
"Tak apa, tuan."
"Tuan tak perlu sungkan." lanjut pemuda itu sopan.
Sebelum melanjutkan perkataannya, Balian tua terlihat melipat daun sirih yang diolesinya dengan kapur dan potongan kecil gambir kemudian mengunyahnya,
"Aku melihat awan mendung menggelayuti dirimu, Nak Mas."
"Apakah kau memiliki musuh atau ada orang tak suka padamu?" tanya Balian tua itu pada Muhibbin.
Dengan perasaan geram mengingat kejadian yang menimpa ibu serta kakaknya, Muhibbin pun menjawab pertanyaan Balian tua.
"Sebenarnya saya tak pernah merasa bermasalah atau menyakiti orang lain, tuan."
"Tapi beberapa bulan yang lalu, keluarga saya mengalami musibah dan di serang oleh orang-orang tak dikenal sehingga membuat ibu saya sakit." ujar Muhibbin.
"Tunggu dulu, apa yang kau maksud tentang kebutaan yang di alami ibumu, Nak Mas?" tanya Balian tua kembali.
"Bukan tuan, kalau tentang penglihatan ibu saya itu telah dialami beliau sudah lama."
"Tapi ini mengenai luka memar di kepala dan rasa sesak nafas yang di alami ibu saya akibat pukulan orang tak di kenal yang menyatroni rumah kami waktu itu." jawab Muhibbin.
Pemuda itu menceritakan apa yang dialami keluarganya sebelum kepulangannya ke Negeri batu Ular dan perihal orang-orang tak dikenal yang merupakan suruhan dari orang yang berpengaruh. Balian tua hanya manggut-manggut dan dengan seksama di dengarnya cerita pemuda dihadapannya itu.
"Boleh saya melihat sobekan kain bergambar garuda dan cincin yang Nak Mas maksudkan?" tanya Balian tua itu.
Muhibbin mengeluarkan dua buah benda yang telah di ceritakan pada lelaki tua yang ada di hadapannya itu dari balik pakaiannya. balian tua itu terkesiap melihat kedua benda yang di perlihatkan Muhibbin.
__ADS_1
"Nak Mas harus hati-hati dengan pemilik gambar kepala garuda ini!"
"Dan cincin ini! benda ini harus Nak Mas jaga baik-baik, jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah."
"Tuah benda ini akan membawa kebaikan bagi orang yang berhati suci dan akan membawa bencana bila jatuh ke tangan orang berwatak denawa." ujar Balian tua itu setelah melihat kedua benda yang di tunjukkan Muhibbin padanya, dia mengembalikan benda itu pada pemuda di hadapannya.
Muhibbin masih terheran-heran dengan reaksi Balian tua setelah melihat kedua benda tersebut, pemuda itu kemudian bertanya,
"Apakah tuan mengetahui siapa pemilik gambar kepala garuda ini, dan bagaimana dengan cincin warisan keluarga saya ini? kelihatannya tuan memiliki pengetahuan untuk menjelaskan tentang kedua benda ini." tanya Muhibbin.
Balian tua itu terlihat gelisah dan di helanya nafas dalam-dalam hingga terdengar jelas ditelinga Muhibbin.
"Logo kepala garuda itu adalah simbol sebuah dinasti yang sangat ditakuti dan disegani pada masanya"
"Dinasti itu pernah berjaya hingga tak ada seorangpun berani menentang dan ingin terlibat masalah dengan keluarga besar dinasti itu." ujar Balian tua, Muhibbin semakin penasaran dengan cerita lelaki tua dihadapannya.
"Rupanya tuan sangat mengenal sekali dengan pemilik logo kepala garuda ini?" mata Muhibbin tajam menatap lelaki dihadapannya, ada rasa keingintahuan yang terpancar di wajah pemuda itu.
Balian tua menjelaskan latar belakang pemilik logo kepala garuda itu, termasuk sepak terjang dari dinasti yang tak pernah tersentuh hukum itu. Dia menceritakan bagaimana awal berdirinya dinasti yang dikenal dengan nama dinasti Garuda Emas dan mendiang raja Harsuto selaku pendirinya, tak lupa bagaimana sepak terjang anak-anak raja Harsuto yang semena-mena pada rakyat jelata hingga bagaimana kejatuhan dan lengsernya sang maha raja dari kerajaan Zamrud.
"Aku adalah salah satu mantan pasukan pengawal dari raja Harsuto, Nak Mas."
"Sebelum aku kembali dan mengabdi sebagai tabib di dusun ku ini, aku adalah salah satu orang kepercayaan mendiang sang raja."
"Dan sejak peristiwa naas itu terjadi, aku memutuskan keluar dari lingkaran kesatuan dimana aku dulu mengabdi pada keluarga garuda emas."
Dengan penuh emosi Balian tua itu menceritakan kisah hidupnya pada Muhibbin. Ibu dari Ketut Setyowati adalah bunga desa dusun Gelumpang, pada waktu itu banyak pemuda yang menginginkan putri dari Balian tua itu menjadi pendampingnya, termasuk salah satunya adalah putra raja Harsuto yang kala itu menjadi murid dari Balian tua dan ikut bersamanya tinggal di Negeri Pantai.
Bendowo adalah putra kesayangan raja Harsuto dan menjadi murid dari Balian tua itu, hingga suatu ketika putri Balian tua itu hamil akibat perbuatan Bendowo dan si anak emas tak mau bertanggung jawab dengan semua perbuatannya. Mengetahui hal itu Balian tua meminta pertanggung jawaban Bendowo namun bukan kehormatan yang diterimanya melainkan fitnah keji dan tuduhan sebagai pemberontak di sematkan pada Balian tua dan anggota keluarganya oleh Bendowo sehingga membuat mendiang raja Harsuto murka dan mengerahkan pasukan khususnya untuk meringkus Balian tua.
Selama bertahun-tahun Balian tua beserta seluruh keluarganya hidup dalam pelarian hingga kembali ke tanah asalnya setelah jatuhnya dinasti Garuda emas dan meninggalnya raja Harsuto. Ketika dalam masa pelarian itu lahirlah Setyowati cucunya, namun naas ibu setyowati tak terselamatkan setelah melahirkan sang cucu akibat pendarahan hebat. Terlihat wajah Balian tua bermuram durja setelah menceritakan kisah hidupnya pada Muhibbin, bulir-bulir bening menetes di sela kelopak mata keriputnya.
Muhibbin hanya terpaku tanpa sepatah katapun terlontar dari bibirnya, ada rasa iba menyeruak di kisi-kisi batinnya mendengar kisah kelam keluarga Balian tua, di lihatnya wajah senja balian tua yang penuh kharisma tertegun di depannya, keduanya tenggelam dalam alam pikirannya masing-masing sebelum di buyarkan oleh sapaan Ketut Setyowati.
"Rupanya Wayah dan Bli Muhibbin ada di sini," sapa gadis itu pada kedua orang lelaki di hadapannya.
"Aku telah selesai memborehi badan ibu Bli Muhibbin, Yah.'
"Beliau sekarang sudah tertidur kembali." imbuhnya kembali.
"Bagus, Ning! aku harap ramuan itu bisa mengurangi sakit ibu Nak Mas Muhibbin." jawab Balian tua.
"Sebaiknya nak mas istirahat dulu! malam sudah larut, jika tak meleset perkiraan saya, besok kondisi ibu Nak Mas akan pulih kembali." pungkas Balian tua pada Muhibbin.
"Ning, kau juga harus istirahat." seru lelaki tua itu pada cucunya. Setyowati menganggukkan kepala dan berlalu dari hadapannya.
"Nak Mas, silahkan istirahat dulu, saya harap Nak Mas mengingat-ingat pesan saya tadi tentang kedua benda itu."
"Yang Nak Mas hadapi bukan orang sembarangan, berhati-hatilah." ujar lelaki tua itu pada Muhibbin.
"Terimakasih atas nasehat tuan, saya akan selalu mengingat kebaikan itu sebagai hutang budi saya pada tuan. jawab Muhibbin penuh hormat.
__ADS_1