KAHANAN

KAHANAN
CH 48 - KEHADIRAN HABSARI PART III


__ADS_3

Sariwati masih terisak dalam pelukan tuan Timoti, hatinya hancur mengetahui bahwa dirinya selama ini hanyalah anak pungut dari keluarga Bendowo, disisi lain tuan Timoti lega bisa berkumpul kembali dengan darah dagingnya yang selama ini sangat di rindukannya.


"Berhentilah menangis, Nak! memang pahit kenyataan yang kau hadapi, namun kau harus menerimanya dan ayah akan berupaya selalu melindungimu dari apapun yang akan mencelakaimu." ujar lelaki itu sambil membelai rambut Sariwati.


"Tapi mengapa sikap kak Habsari selalu sinis pada ku, Ayah?" isak gadis itu sambil memandang wajah tuan gubernur.


"Ya, memang sifat tak bisa di ubah kecuali yang bersangkutan berniat merubahnya. Aku hafal dan paham karakter Habsari, dari dulu dia memang arogan mewarisi sifat kang mas Bendowo yang keras."


"Tapi kau tak perlu risau, selama bersama ayah tak ada orang yang akan berani mencelakaimu, Ayah pastikan itu." pungkas tuan Timoti.


**


Tak selang berapa lama, sebuah otto memasuki halaman kediaman tuan gubernur. Habsari terlihat turun dari kendaraan itu dan bergegas memasuki rumah.


Tatapan mata tuan Timoti terlihat berang ketika wanita bangsawan itu datang menghampirinya sedangkan Sariwati yang duduk disampingnya masih terisak dengan wajah yang sembab.


"Habsari!"


"Apa seperti ini tingkah seorang bangsawan memperlakukan saudaranya? apa yang kau katakan sehingga membuat adikmu menangis seperti ini?" tegur sang gubernur pada Wanita dihadapannya.


"Justru aku yang harus bertanya pada paman, apakah pantas anak sialan itu disebut keturunan bangsawan dengan sikapnya yang seperti blandong? dan perlu paman camkan, Dia bukan adikku!"


"Oh, Aku tau! sifat rendahan itu pasti diperoleh dari darah keluarga ledek itu, kan?" saut Habsari tak kalah sengit.


Tuan Timoti tak menyangka Habsari akan berkata kasar dan barbar seperti itu,


"Jaga mulutmu, Habsari! atau kau akan-"

__ADS_1


"Akan apa? paman akan berbuat apa padaku!" teriak Habsari pada tuan Timoti.


"Ingat, posisi dan semua yang paman dapatkan sekarang ini karena kebaikan papi!"


"Aku bisa dengan mudah mengambil apa yang paman miliki sekarang, jangan dikira aku tak mampu!"


"Kau mengancamku?" kini wajah sang gubernur berubah memerah, matanya serasa akan melompat dari kelopaknya menahan amarah.


"Paman jangan lupa, Aku adalah pewaris semua kekayaan dan kekuasaan dinasti Harsuto. Semua bisa aku lakukan termasuk menyingkirkan paman dan anak sialan itu jika aku mau!" ujar wanita itu kembali.


"Aku tak akan berbasa-basi lagi, dimana kalian simpan kotak Giok Hujan yang papi berikan pada benalu itu?" tanya Habsari dengan wajah sinis mengintimidasi, matanya lekat memandang ke arah Sariwati.


"Apa yang kau maksud, kotak apa?" tanya sang gubernur pada gadis didepannya walaupun dalam hatinya dia tau benda yang dimaksud Habsarib adalah kotak milik Sariwati.


"Kalian jangan pura-pura bodoh, Aku tau kotak itu kalian yang menyimpannya."


"Cepat serahkan padaku atau kalian akan menyesal nantinya!" ancam Habsari pada kedua orang didepannya, tatapan gadis itu dingin masih mengintimidasi.


"Walaupun aku tau, tak akan keserahkan benda itu padamu!" ujarnya.


Habsari menepis keras tangan sang gubernur yang berada tepat di mukanya.


"Baik! Kalian bisa tutupi keberadaan kotak itu padaku saat ini, tapi jangan menyesal jika kalian akan menerima konsekwensinya." jawab Habsari ketus, wanita itu terlihat meninggalkan ruangan tengah menuju kamarnya.


Tuan Timoti mengeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah Habsari.


"Kau tenang saja, Wati! Ayah akan selalu menjagamu." ujarnya pada Sariwati disampingnya.

__ADS_1


"Tapi ayah? kak Habsari mampu berbuat apa saja sampai keinginannya tercapai.


jawab gadis itu pada tuan gubermur.


" Kau tak perlu khawatir, Ayah punya rencana tersendiri untuk menghadapi kesombongan Habsari."


"kamu sekarang harus lebih berhati-hati dan benda itu tolong kamu jaga baik-baik, jangan sampai jatuh ke tangan Habsari." pungkas sang gubernur dan Sariwati hanya menganggukkan kepalanya.


***


Sedangkan di surau An Nur, Muhibbin duduk di balai bambu dan dihadapannya seorang lelaki paruh baya terlihat mengatakan sesuatu pada pemuda itu.


"Bukan ajik ingin melemahkan tujuanmu, tapi kamu harus ingat bahwa Ni Mas Sariwati itu bukan keturunan orang biasa, Dia adalah keturunan orang penting di kerajaan Zamrud dan ajik khawatir niatan baikmu akan bertepuk sebelah tangan."


"Nak Mas, apa sudah kau pertimbangkan niatanmu untuk melamar Ni Mas Sariwati, apakah tak sebaiknya hal ini kamu bicarakan pada ibumu di Negeri Batu Ular?"


"Kalau ajik terserah pada Nak Mas saja, Ajik hanya bisa merestui dan mendoakan kebahagiaan kalian."


"Cuma ajik berpesan hal ini harus kamu rundingkan dengan keluargamu,"


"Apalagi ini menyangkut masa depanmu, ibumu harus kamu mintai restu, Nak Mas!" ujar pak Nengah Wirata pada Muhibbin.


"Inggih jik, rencananya saya akan pulang ke kampung untuk merundingkan hal ini dan saya mohon ijin dari ajik." ujar Muhibbin pada ayah angkatnya, wajahnya tertunduk takdzim di hadapan lelaki paruh baya itu.


"Kapan rencananya kau akan pulang ke kampungmu?" tanya pak Nengah Wirata.


"Segera jik!" ujar Muhibbin singkat.

__ADS_1


Lelaki paruh baya itu hanya menganggukkan kepala setelah panjang lebar memberi pertimbangan pada Muhibbin.


 


__ADS_2