KAHANAN

KAHANAN
CH 35 - PERTEMUAN KEMBALI


__ADS_3

Pikiran Sariwati menerawang mendengar penuturan tuan Timoti pamannya, ada rasa kekhawatiran dalam dadanya saat tau bahwa Habsari sang kakak telah kembali dari Benua Angin. Dia sangat tau bagaimana sifat kakak sulungnya itu, selain tegas dan tanpa kompromi, Habsari pun sanggup melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya.


"Paman, bolehkah aku keluar sebentar? aku janji tak akan lama, sebelum senja aku pastikan sudah di rumah." ujar Sariwati.


"Hendak kemana kamu?" tanya tuan gubernur pada gadis disampingnya.


"Aku ingin berkunjung ke Surau An Nur, sudah setahun sejak kejadian itu aku tak kesana dan bertemu Muhibbin sahabat ku, Aku belum sempat berterima kasih padanya atas semua pertolongannya selama ini pada ku"


Tatapan Sariwati lekat memohon pada tuan Timoti.


"Aku merasa bersalah, karena selama ini aku tak pernah mengabarinya paman." pungkasnya.


"Paman akan ijinkan kamu bertemu pemuda itu, namun kamu juga harus pandai membawa diri. Ingat dirimu bukan lagi wanita gelandangan seperti setahun lalu, Kau adalah keturunan keluarga terhormat yang harus menjunjung martabat keluarga besar mu!" ujar sang gubernur.


Mimik muka Sariwati berubah,


"Mengapa paman berkata seperti itu, Paman seolah-olah bersikap seperti papi. Mengukur pergaulan hanya dengan kasta dan derajad, apa salah jika aku bergaul selayaknya orang kebanyakan?" jawab Sariwati.


"Bukan seperti itu maksud paman, Kamu dengar dulu penjelasan paman. Kita ini adalah keluarga terpandang. Kamu boleh berkawan dengan siapa saja namun jangan pernah libatkan perasaan apalagi sampai suka dengan orang yang belum kamu kenal latar belakangnya. Bibit, bebet, bobot seseorang itu sangat penting Wati bagi keluarga besar kita."


"Paman tau, Pemuda itu anak baik. Tapi kita belum tau siapa dia dan dari keluarga mana asal usulnya?" ujar sang gubernur.


"Paman terlampau jauh berfikir seperti itu tentang Muhibbin."


"Wati tak ada hubungan apa-apa dengan Muhibbin. Selama ini kita hanya bersahabat dan dia banyak membantu aku disaat masa-masa sulit di negeri ini, apalagi dia juga telah menyelamatkan nyawaku dari amukan warga Manguntur dan sekapan Setyanto saat itu."


"Aku sangat berhutang budi padanya paman, saatnya kini aku membalas kebaikannya."


Sariwati terus menatap pamannya.


"Baiklah, Paman ijinkan kamu menemui pemuda itu namun ingat baik-baik pesan paman tadi, jangan permalukan paman dan nama besar dinasti Harsuto."


"Paman akan menemui tuan Sirkum dulu, ada yang perlu paman diskusikan dengannya." ujar tuan Timoti berlalu meninggalkan Sariwati.


Dengan perasaan sedikit mengganjal, Gadis itu pun bergegas ke dalam bangunan megah itu, di ambilnya sebuah buku dan kain tenun ikat berwarna hijau dari lemari bajunya.


***


"Fuufffhh"


"Panas sekali hari ini, angin pun serasa bermalas-malasan berhembus," gumam Muhibbin.


Terlihat pemuda itu merapikan tikar pandan dan membersihkan langit-langit Surau An Nur dari debu dan sarang laba-laba.


Tiba-tiba pagar sengker Surau berderik terbuka. Terlihat seorang dara ayu menyandarkan kereta anginnya dan mulai masuk kedalam halaman Surau.


"Assalamualaikum!" pekiknya. Matanya menyapu areal halaman Surau An Nur yang sepi. Terlihat aneka tanaman anggrek tergantung rapi dan bunga-bunga jempiring mekar menguning menambah asrinya tempat itu. Pohon jepun dan sandat pun mulai menjulang tinggi.


"Waalaikum salam!" jawab Muhibbin dari dalam Surau, Dia masih terlihat membawa sapu galah yang digunakannya untuk membersihkan langit-langit ruangan.


Matanya menatap tajam pada dara yang ada dihadapannya, dia pun membalas senyuman dan anggukan gadis itu.


"Apa Ni Sanak hendak sembahyang? silahkan Ni Sanak kalau hendak sembahyang, Saya tinggal kebelakang dulu, kebetulan saya baru selesai bersih-bersih di dalam dan jika Ni Sanak hendak bersuci, di samping Surau ada tempat untuk ambil air wudhu." sapa Muhibbin pada wanita di hadapannya itu, tampak dia segera berjalan menuju bagian belakang Surau menjinjing sapu galah dan kain pembersih lantai.

__ADS_1


"Hai tunggu, Ah!" suara gadis itu tercekat melihat Muhibbin berlalu, tangannya melambai namun Muhibbin tak melihatnya.


"Sudahlah, sebaiknya aku sembahyang dulu," gumam gadis itu sambil melangkah menuju samping Surau.


Selang tak berapa lama Muhibbin kembali ke halaman depan Surau, ditangannya terdapat nampan berisi kendi air dan gelas. Dia duduk di sebuah balai bambu yang berada di bawah pohon jepun. Udara siang yang terik memaksanya mengibaskan kain surban yang tak pernah lepas dari lehernya.


Tak selang berapa lama, Gadis yang di lihatnya tadi keluar dari dalam Surau, wajahnya yang ayu di balik kerudung merah jambu dan pakaian gamis panjang masih terlihat basah oleh air wudhu. Gadis itu menghampiri Muhibbin yang sedang di sibukkan berkutat dengan kertas dan tulisan-tulisannya.


"Apakabar Bin, apa kau tega melihatku berdiri dan tak kau persilahkan aku duduk?" senyum gadis itu.


"Oh, silahkan Ni Sanak!" Muhibbin menggeser duduknya namun masih lekat matanya melihat perempuan yang tepat berada tak jauh didepannya dengan penuh tanda tanya.


"Ni Sanak orang baru, ya! apa kita pernah kenal atau pun berjumpa? tumben saya lihat Ni Sanak di tempat ini." ujar Muhibbin.


Wanita itu tersenyum mendengar ucapan Muhibbin. "Kau lupa pada ku Bin?" masih dengan senyum wanita itu bertanya.


"Siapa ya?" Muhibbin berusaha mengingat wajah gadis ayu didepannya.


"Aku Wati, Bin!" gadis itu kembali tersenyum,


"Sariwati," ujarnya kembali.


"Sariwati?" mata muhibbin terbelalak.


"Benar ini kau, Wati?" tanyanya kembali.


"Iya , ini aku!"


"Pangling ya?" kini suara renyah tawa Sariwati terdengar.


Lelaki itu terlihat bangkit dari duduknya dan matanya mengamati dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita didekatnya.


"Wati, apa gerangan yang terjadi?"


"Bagaimana bisa penampilanmu berubah seperti ini?"


Sariwati yang duduk di balai bambu kini bangkit mendekati Muhibbin.


"Iya, ini aku Bin!"


"Gimana, cantik gak?" senyum Sariwati semakin lebar melihat sahabatnya yang masih terkejut kebingungan.


"Cantik, tapi bagaimana bisa?" tanya Muhibbin kembali.


"Bukankah penampilan mu tak seperti ini dulu?"


"Panjang ceritanya, Bin." jawab Sariwati singkat. matanya menerawang jauh ke arah pantai Purnama dengan deburan ombaknya yang berkejaran terlihat indah dari atas bukit dimana ia berdiri.


"Pantai Purnama masih tak berubah seperti dulu ya, Bin? tetap indah." ujarnya kembali.


"Iya Wati,"


"Apakabar mu, Wati? kamu kemana saja? lama kita tak bertemu."

__ADS_1


"Aku baik-baik Bin,"


"Setelah kejadian itu, Aku tinggal dengan tuan Timoti dan membantu Jero Balian di pusat kesehatan Negeri Pantai."


"Maafkan aku, jika selama ini tak pernah berkunjung kemari dan memberi kabar pada mu."


"Pekerjaan ku membantu Jero Balian sangat padat sekali dan aku pun belum di ijinkan kemana-mana oleh tuan Timoti akibat kejadian penyerangan setahun lalu itu, Beliau khawatir terjadi apa-apa pada ku."


Terlihat Muhibbin manggut-manggut memaklumi.


"Lalu bagaimana penampilanmu bisa berubah seperti ini, Wati?"


"Bagaimana ceritanya?" tanya Muhibbin.


"Ini semua tak lepas dari peranmu juga, Bin."


"Sejak aku mengenal mu, banyak yang aku ambil pelajaran dalam memperbaiki diri dan di tempat pusat kesehatan bersama Jero Balian aku berusaha mengamalkan apa yang aku bisa untuk menolong orang lain, Bin"


"Ah kamu terlalu berlebihan, Wati. Yang kulakukan itu sebatas kewajaran sesama perantau. Kita harus saling membantu dalam hal kebaikan, apalagi kamu sudah ku anggap keluargaku sendiri."


"Tapi bagaimana bisa rambut dan kulitmu bisa seperti sekarang ini?" tanya Muhibbin kembali.


"Kalau hal itu, Aku tak bisa bercerita detil pada mu, Bin."


"Yang pasti, perubahan dan kesembuhan ku itu tak lepas dari peran mu dan sakit yang ku alami itu bukan sakit biasa." jawab Sariwati masih enggan menceritakan apa sebenarnya penyebab perubahannya pada Muhibbin.


"Tapi suatu saat nanti, Aku akan ceritakan semuanya padamu." ujar gadis itu tersenyum.


"Bin, ini aku punya sesuatu untuk mu." terlihat Sariwati mengambil sesuatu di balik tas kain yang di bawanya dan menyerahkannya pada pemuda itu.


"Apa ini, Wati?" tangan Muhibbin meraih sesuatu yang terbungkus rapi dari tangan Sariwati.


"Bukan apa-apa, Bin,"


"Bukalah, itu hanya hadiah kecil buat mu." ujar gadis itu sambil tersenyum.


Perlahan dibukanya bungkusan itu oleh Muhibbin. "Bagus sekali, Wati! tentu ini mahal sekali ya?" ujar Muhibbin setelah tau benda yang ada di tangannya, Selembar tenun ikat berwarna hijau dengan rajutan benang-benang emas di setiap sisinya.


"Ah itu belum seberapa, dari pada kebaikanmu pada ku selama ini." jawab Sariwati kembali.


"Ku ingin kau menyimpannya, Bin."


"Terimakasih Wati, sebetulnya tak perlu repot kau memberiku hadiah seperti ini." ujar Muhibbin.


"Ah sudahlah, jangan di bahas lagi,"


"Oh ya Bin, maukah kamu temani aku ke pantai Purnama sebantar, Aku kangen sekali pingin main air laut?" ujar Sariwati.


"Ayo, tapi aku ganti celana dulu ya! masak ke pantai pakai kain sarong," jawab Muhibbin sambil tertawa. Sariwati pun ikut tertawa mendengar jawaban sahabatnya.


Muhibbin beranjak menuju kamarnya yang terletak di belakang Surau, tak selang berapa lama dia kembali dengan pakaian ganti.


"Ayo, kalau kita ke pantai." ajak pemuda itu pada Sariwati.

__ADS_1


 


__ADS_2