
Di belahan bumi lain, di Negeri Banjir.
"Kakak!"
"Kapan kakak datang?" tanya wanita cantik itu memeluk dan menggandeng orang di hadapannya, dia adalah Mecha Prameswari putri ketiga tuan Bendowo.
"Semalam kakak datang, kabarmu bagaimana sekarang?"
"Kakak sempat mendengar kabar miring semalam dari Tinus tentang keadaan rumah tangga mu saat menjemput kakak di pelabuhan!" tanya orang itu pada Mecha.
wajah Mecha berubah geram mendapat pertanyaan kakanya, dari wajah cantiknya terpancar rasa kebencian.
"Semua ini karena anak sialan itu!"
"Kenapa tidak mati saja anak itu, perusak rumah tangga orang apalagi yang digoda adalah suami saudaranya sendiri. Aku lebih baik tak memiliki adik seperti dia daripada menjadi benalu dalam keluarga besar kita!"
Seseorang yang di panggil kakak oleh Mecha tak lain adalah Habsari Bonawati, putri pertama tuan Bendowo yang hidup di Benua Angin. Terlihat wanita ayu itu diam, sorot matanya yang tajam menyimpan kebencian, dia tak bergeming mendengar semua cerita Mecha padanya. Sesekali terlihat tangannya mengepal dan tulang rahangnya gemeretak kesal.
"Anak pembuat masalah, sedari kecil selalu merepotkan keluarga. Apa dia tak berfikir dari golongan mana kita ini, bikin malu saja!" ujar Habsari geram.
"Sudah, biar nanti kakak yang akan tangani masalahmu ini setelah urusan kakak dengan papi selesai!" pungkasnya pada Mecha.
__ADS_1
"Aku akan temui papi dulu diruang kerjanya, nanti kita bicara lagi." ujarnya dingin.
Keduanya pun melangkah menuju ruang kerja tuan Bendowo.
Habsari Bonawati adalah putri tertua Bendowo dan sejak terjadi peristiwa lengsernya mendiang raja Harsuto dia menetap di Benua Angin. Alasannya adalah semua harta kekayaan mendiang raja kedua kerajaan Zamrud itu disimpan di Benua Angin dan Habsari lah yang mengelola semuanya.
Sesampainya didepan ruang kerja ayahnya, tanpa basa basi lagi Habsari membuka pintu walaupun di luar ruang kerja Bendowo dijaga oleh pengawal yang selalu siaga.
"Anak papi pulang, bagaimana perjalananmu, pasti kamu lelah?" senyum tuan Bendowo menyambut putri tertuanya. Di peluknya putri kesayangannya itu, namun sikap Habsari dingin dengan penyambutan ayahnya.
"Papi tau kan alasan kepulangan ku?" ujar Habsari datar.
"Hemm, ternyata kamu masih marah dengan keputusan papi mengirim mu ke Benua Angin dua dasawarsa lalu." terlihat tuan Bendowo menghela nafas.
"Lalu apa yang menyebabkan mu pulang mendadak, jika bukan hal penting tak mungkin kau pulang tanpa maksud dan tujuan jelas.
"Aku ingin papi serahkan stample Dinasti Garuda Emas pada ku, karena itu sudah menjadi hak ku selaku anak dan sekaligus cucu tertua mendiang raja Harsuto.
Raut wajah tuan Bendowo berubah masam mendengar perkataan Habsari, Mecha yang datang bersama Habsari sedari tadi tak berani menyela percakapan ayah dan kakaknya karena bukan rahasia lagi kalau keduanya sama-sama tegas dan keras jika sudah berbicara tentang Dinasti Harsuto, sehingga orang yang berada di dekatnya pun tak berani berbuat apa oleh intimidasi gestur keduanya.
"Lancang kamu, apa kamu masih tak puas dengan enam puluh persen kekayaan Dinasti Garuda Emas kamu miliki." ujar tuan Bendowo ketus.
__ADS_1
"Kamu sebagai anak tertua seharusnya lebih berkorban demi Dinasti ini." pungkas tuan Bendowo.
"Papi pikir, Aku layaknya pion yang dengan mudahnya papi tempatkan begitu saja. Aku punya kehidupan sendiri disini dan karena keputusan papi lah semua kehidupanku sirna."
"Apakah papi tau bagaimana perasaanku, jauh dari keluarga dan tinggal sebatang kara di negeri orang." kini air mata Habsari tak terbendung, rasa geram dan kesal di lontarkan pada lelaki tua dihadapannya.
"Apa papi tak tau, bagaimana aku menahan kerinduan untuk hidup normal di negeriku sendiri."
"Kedatangan ku ini juga untuk kejayaan dinasti Harsuto, karena tanpa stempel itu tak ada artinya semua yang ku korbankan untuk keluarga ini." ujar Habsari kembali.
'Kamu sadar yang diucapkan baru saja? jika kau minta stempel itu sama halnya kau menghendaki kematian papi?"
"Karena ahli waris dari keluarga ini masih ada papi!" kini tuan Bendowo tak bisa menutupi rasa Kecewanya atas ucapan Habsari.
"Apa bukan karena anak kesayangan papi itu, papi sulit menyerahkan yang seharusnya menjadi hak ku?" kata-kata sinis keluar dari Habsari.
"BRUUAAAKK"
Terlihat tuan Bendowo menggebrak meja di hadapannya.
"Kurang ajar, ini tak ada sangkut pautnya dengan Wati adikmu!"
__ADS_1
****