
Teriknya matahari serasa tak bersahabat, angin pun enggan menyapa dedaunan. Terlihat seorang wanita dengan pakaian lusuh tanpa kerudung merah jambu yang biasa dikenakannya duduk disebuah bangku panjang, matanya menerawang menyiratkan beban yang di tanggungnya. Tubuh ringkih semakin kelam dan terlihat tulang-tulangnya kurus berbalut kulit menghitam.
Tiba-tiba dari balik pepohonan muncul beberapa orang berwajah beringas dan orang-orang itu dengan kasar nya menyeret wanita yang duduk di bangku.
"Lepaskan, lepaskan aku!" pekik sang wanita kesakitan.
"Ayo ikut, jangan coba-coba melawan." ujar salah seorang lelaki itu. Tangan kekarnya menyeret paksa rambut wanita itu, pekikan dan erangan kesakitan sang wanita tak dihiraukan.
"Ayo cepat, sebelum amarah juragan akan melu*mat semua yang kau miliki." ujar sang pria kembali.
Terlihat rombongan itu menuju sebuah rumah tua dan setelah jarak tak terlalu jauh terlihat di sana telah menunggu seorang wanita dengan dandanan ala ningrat dan kecantikannya terpancar angkuh selaras gestur arogannya, di kanan dan kiri wanita ningrat itu di apit para pengawal bertubuh kekar dengan wajah terpasang dingin
"Hahahahaha, seret dan ikat gelandangan itu di dalam," perintah wanita ningrat itu pada salah seorang pengawalnya dengan tatapan sinis.
"Interogasi dia jika perlu siksa dia, sampai apa yang aku inginkan dia berikan!" imbuh wanita ningrat itu masih dengan keangkuhan.
"Kakak, mengapa kakak tega perlakukan aku seperti ini!" isak wanita berpakaian lusuh itu pada sang ningrat.
__ADS_1
"Apa tak cukup, selama ini kakak menekan ku dan menghancurkan hidupku?" ujar wanita itu terus meronta diantara para pengawal sang ningrat.
"Cuih!"
"Apa kamu bilang? menekan dan menghancurkan? bukan cuma itu saja, Aku pastikan hidupmu akan sengsara dan orang-orang yang ada di dekatmu pun juga akan menyesal merasa dilahirkan!" ujar sang ningrat penuh amarah.
"Dimana kotak itu? cepat serahkan!" ujarnya kembali.
"Tidak akan, sampai mati pun tak akan ku serahkan kotak itu pada kakak!"
"Lepaskan aku!" pekik wanita berpakaian lusuh itu kembali.
Mendengar perintah wanita ningrat itu salah seorang pengawal segera membawa masuk sebuah karung berwarna hitam. Terlihat tangannya melepas ikatan karung hitam itu dan dari dalam keluar puluhan ular berbisa semburat menyebar ke dalam rungan, suara mendesis hewan melata itu semakin membuat bulu kuduk meremang.
"SIIISSSSS"
"SIIISSSSS"
__ADS_1
"Kakak, tolong lepaskan aku!" teriak ketakutan sang wanita lusuh itu didalam ruangan.
"Hahahaha, mam*pus kamu anak sia*lan! sebelum semua yang ku inginkan kamu serahkan, gak bakalan akan aku lepaskan. Aku lebih baik kehilangan saudara seperti kamu daripada jadi duri dalam daging!" pekik sang wanita ningrat itu pada wanita lusuh yang ada di ruangan.
"Kakak!"
"Aaaahhhh,"
"Tolong!"
"Watiiiiiiii!" pekik Muhibbin terbangun dari mimpinya. Keringat mengucur di dahinya, nafasnya tersengal memburu. Masih nampak jelas kejadian yang dialaminya dalam mimpi.Terlihat Sariwati di gelandang oleh sekelompok orang dan wanita ningrat yang membawanya secara paksa disebuah bangunan tua.
Temaram lampu teplok yang menempel di dinding kian meredup, udara malam semakin dingin menyeruak ke dalam bilik kamar Muhibbin di belakang surau An Nur.
Hampir setahun berlalu, sejak kejadian penyerangan Balai Banjar Manguntur oleh komplotan Yanto, Muhibbin tak pernah bertemu kembali dengan sahabatnya itu.
"Wati, bagaimana keadaanmu sekarang?" gumam Muhibbin
__ADS_1
***