
Tak terasa hari pun mulai beranjak sore. Sebuah kereta kuda terlihat memasuki Villa Sandat dan seorang lelaki paruh baya turun dan bergegas memasuki bangunan utama Villa Sandat.
"Selamat sore, Ni Mas."
"Apakah anda sudah siap berangkat?" sapa lelaki itu pada Sariwati yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Mari pak Lanus! aku sudah siap." Sariwari beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan di ikuti pak Lanus ajudan tuan Timoti dari belakang.
"Mek Iluh! aku berangkat dulu ya, Mek." ujar sariwati pada pembantunya yang terlihat sibuk menyapu halaman Villa.
Wanita tua itu menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Sariwati,
"Baik, Ni Mas."
"Apa nanti kira-kira Ni Mas akan bermalam di kediaman ayah Ni Mas atau akan pulang kemari? tanya mek Iluh pada majikannya.
" Gak Mek, aku hanya menemani ayah dan nanti akan pulang ke sini." mek Iluh hanya mengangguk mendengar jawaban Sariwati dan gadis itu segera menaiki tangga kereta kuda yang menjemputnya.
"Oh ya mek, kamu gak usah menungguku."
"Aku sudah bawa kunci, nanti sebelum kau pulang jangan lupa hidupkan lampu dan kunci pintunya." ujar Sariwati pada mek Iluh, kepalanya melongo dari balik jendela kereta kuda.
"Baik, Ni Mas." ujar wanita tua itu singkat.
Kereta kuda yang di tumpangi Sariwati mulai bergerak menuju arah kota Negeri Pantai.
***
Hampir satu jam perjalanan, kereta kuda yang membawa Sariwati memasuki kedai tepi sawah tempat pertemuan tuan Timoti ayahnya dengan koleganya dari Negeri Tidar.
Gadis itu merapikan kerudungnya sebelum keluar dari dalam kereta kuda dan Lanus membukakan pintu kereta itu,
"Silahkan, Ni Mas. Tuan gubernur sudah menunggu anda di dalam." ujar lelaki itu.
Sariwati melangkah menuju kedai tepi sawah, gadis tinggi semampai itu terlihat semakin anggun dengan balutan kebaya hijau toska dan kerudung merah jambu yang dikenakannya.
Suasana kedai tepi sawah terlihat ramai, maklum saja tempat itu satu-satunya rumah makan paling terkenal di Negeri Pantai. Aneka masakan yang di hidangkan khas masakan Negeri pantai, Bebek bakar dan plecing kangkungnya merupakan menu andalan rumah makan itu.
Seorang pelayan bergegas menyambut dan menghampiri Sariwati yang terlihat memasuki kedai itu.
"Mari silahkan , Ni Sanak." sambut pelayan itu sopan.
Sariwati melontarkan senyum tipisnya, "Tolong antarkan aku ke meja yang di pesan tuan gubernur." ujar gadis itu pada sang pelayan kedai.
__ADS_1
"Oh maaf saya tak mengenali Ni Sanak. Apakah Ni Sanak ini Ni Mas Sariwati?" tanya pelayan itu sopan.
Sariwati hanya mengangguk pelan dan senyumnya masih tersungging manis di bibirnya yang semerah buah delima.
"" Mari, Ni Mas. Beliau sudah menunggu di lantai tiga." ujar pelayan kedai pada Sariwati.
Sariwati mengikuti langkah pelayan itu menaiki tangga menuju ruangan lantai tiga kedai tepi sawah. Tak selang berapa lama keduanya sudah berada di ruangan paling atas kedai itu. Terlihat dua meja besar menghadap ke arah persawahan dan dari kejauhan pemandangan pantai Purnama indah di sela senja yang memerah.
Melihat kedatangan putrinya, sang gubernur tersenyum sumringah,
"Hai! mari sini nak, bergabung dengan kami." tuan Timoti beranjak dari tempat duduknya menghampiri Sariwati. Lelaki itu menggandeng tangan putrinya dan mengantarkan Sariwati ke sebuah kursi di samping kanannya.
"Haryo, Dewi! kenalkan ini putriku, Sariwati." ujar tuan Timoti pada dua orang yang duduk di seberang meja.
"Wati, kenalkan beliau-beliau ini tuan Haryo dan nyonya Dewi sahabat ayah waktu masih muda." kata sang gubernur kembali.
Sariwati tersenyum menatap tamu ayahnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di dada menyapa keduanya.
Mereka ini masih ada hubungan keluarga jauh dengan keluarga besar kita, nak." jelas sang gubernur pada putrinya.
"Putrimu cantik sekali, Tim!" ujar nyonya Dewi.
"Wajahnya mirip sekali dengan mendiang istrimu, Widyowati." kini tuan Haryo ikut menimpali.
"Sayangnya almarhumah tak sempat melihat pertumbuhan Wati." ujar tuan Timoti, wajahnya terlihat sendu.
Melihat perubahan mimik wajah sang gubernur, Sariwati berseru,
"Ayah!" bisik Sariwati sambil menggenggam tangan sang ayah.
"Hai, Tim! kita kesini bukan ingin melihatmu bersedih, bersyukurlah dirimu dipertemukan kembali dengan putri semata wayang mu yang cantik ini." ujar tuan Haryo kembali.
Sang gubernur tersenyum mendengar perkataan sahabat lamanya. Tuan Gubernur bercerita tentang bagaimana pertemuannya dengan sang anak dan apa yang terjadi selama ini pada dirinya hingga menjadi gubernur di Negeri Pantai. Percakapan panjang dan sesekali di selingi tawa menghiasi perjumpaan sahabat lama itu dan Sariwati hanya ikut tersenyum serta sesekali menjawab pertanyaan tuan Haryo dan nyonya Dewi.
Tiba-tiba seorang pemuda memasuki ruangan lantai tiga kedai tepi sawah dan langsung duduk di sebelah tuan Haryo dan nyonya Dewi.
"Seto, dari mana saja kau ini. Ayah dan Ibu menunggumu!"
"Ayo salim pada paman Timoti!" seru nyonya Dewi sambil melotot pada pemuda yang di panggil Seto.
Dengan malas-malasan Pemuda itupun mengulurkan tangannya pada tuan Timoti namun matanya tercekat ketika mandang Sariwati, tangannya seolah tak ingin lepas menggenggam tangan gadis itu. Sariwati yang salah tingkah di pandang sedemikian rupa oleh Seto segera menarik tangannya.
"Tim, ini anak tunggalku Seto Nugroho." ujar tuan Haryo pada tuan Timoti.
__ADS_1
"Seto! beliau ini tuan Timoti sahabat ayah dan itu yang di sampingnya adalah putrinya, Sariwati." imbuh tuan Haryo kembali.
Seto tak menghiraukan perkataan ayahnya, dia terus memandangi wajah ayu Sariwati.
"Seto! kau ini tak sopan." hardik nyonya Dewi sambil mencubit pinggang putranya.
"Auuuu, sakit!" pekik Seto sambil meringis.
"Apa-apaan sih, Ibu! aku hanya menikmati wajah cantik bidadari ciptaan Tuhan yang ada didepan ku ini, Bu!" imbuhnya kembali.
"Kamu ini, dasar anak badung!" seru nyonya Dewi kembali.
"Sudah-sudah! kok malah ribut sih, kalian."
"Malu dengan tuan Timoti dan Wati."
"Tim, maaf ya!" seru tuan Haryo.
"Santai saja , Har."
"Ayo kita nikmati saja hidangan didepan kita." kata tuan Timoti tenang seolah tak terjadi apa-apa sementara Sariwati hanya terdiam dan merasa risih dengan tatapan Seto.
seluruh yang ada di rungan itu pun menikmati hidangan aneka menu yang dipesannya. Sesekali tawa tuan Haryo dan tuan Timoti pecah dan Seto tetap mencuri-curi pandang melihat kecantikan Sariwati.
"Rupanya ada yang naksir, nih! seru tuan Haryo melihat tingkah putranya. Seno hanya tersenyum tipis tak mengindahkan sindiran ayahnya.
Tak terasa hari pun mulai gelap seiring tenggelamnya matahari di ufuk barat. Pertemuan kedua sahabat lama di sore itu terasa meriah.
"Ayah, aku balik dulu ke Manguntur ya, Yah?" ujar Sariwati pada tuan Timoti
"Apa kau tak menginap saja di kediaman ayah? besok pagi kamu bisa balik ke Manguntur.
"Gak apa, Yah. toh juga pak Lanus yang akan mengantarku pulang."
"Ya sudah kalau gitu kemauan mu." ujar sang gubernur singkat pada putrinya.
"Paman, Bibi! aku pamit dulu ya."
" Besok kita ketemu lagi."
ujar Sariwati sambil meraih tangan tuan Haryo dan nyonya Dewi
__ADS_1