KAHANAN

KAHANAN
CH 43 - HATI YANG GUNDAH


__ADS_3

Kedai Tepi Sawah sore itu terlihat lengang, hanya ada beberapa pengunjung terlihat di beberapa meja kedai. Hilir mudik pelayan kedai terlihat memberi pelayanan pada para pengunjung.


Di sudut kedai terlihat seorang wanita ayu duduk memandang sawah yang menghampar disekitar kedai, wajahnya terlihat tak senang ditandai ekspresi kerutan pada kening dan bibirnya yang merah terkatup rapat.


Tiba-tiba seorang berperawakan besar dengan wajah garang menghampiri wanita itu.


"Maafkan saya Ni Mas, Saya terlambat!" ujar lelaki itu dengan wajah tertunduk di hadapan wanita yang disapanya.


"Ini terakhir kalinya aku harus menunggu kedatanganmu! lain waktu jangan kamu ulangi lagi." wanita itu masih terlihat gusar pada lelaki dihadapannya.


"Lalu informasi terbaru apa yang kamu dapatkan, Martin?" ujar wanita itu kembali yang tak lain adalah Habsari Bonawati.


"Informasi keberadaan Batu Sulaiman Madu saat ini telah kami dapatkan Ni Mas, ternyata pemiliknya adalah seorang wanita buta bernama Suratmi. Wanita itu adalah adik dari penguasa terakhir Negeri Patria dan yang sangat mengejutkan dari informasi anak buah saya bahwa Suratmi adalah ibu dari kawan Ni Mas Sariwati yang bernama Muhibbin."


Martin menceritakan semua hasil penyelidikannya pada majikannya itu dan Habsari terlihat dingin mendengar laporan anak buahnya.


"Bagaimana rencana yang telah kita rancang, Martin? apakah kau sudah laksanakan?" tanya Habsari


"Tentang iming-iming harta telah kami laksanakan, Ni Mas. Tapi Suratmi tetap belum bergeming dengan tawaran kita."


ujar Martin kembali.


"Baiklah, tunggu rencana berikutnya dan kamu harus tetap awasi wanita tua itu. Aku punya cara lain untuk mendapatkan Batu Sulaiman Madu itu, jangan bergerak sebelum aku perintahkan. Pergilah, nanti akan ku hubungi kamu lagi!"


pungkas Habsari pada Martin dan tangannya mengambil dan melemparkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya pada lelaki dihadapannya.


Tangan Martin memungut dua bendel uang dan dia pun menjura meninggalkan Habsari seorang diri di Kedai Tepi Sawah.


Habsari pun terlihat meninggalkan kedai setelah membayar semua hidangannya. Dia pergi ke arah kota Negeri Pantai mengendarai kereta angin yang dibawanya.


***


Sudah berjalan empat bulan Sariwati mendiami Villa Sandat di perbatasan antara Banjar Manguntur dan desa Batubulan milik tuan Timoti sang gubernur Negeri Pantai.


Dara ayu itu di sibukkan dengan kegiatan pengobatan masyarakat sekitar Banjar Manguntur dan desa Batubulan sebagaimana keahliannya sebagai seorang alkimia. Sore itu tak terlihat seorang pun di Villa itu setelah siang harinya banyak didatangi oleh para warga yang berobat.


Tak berapa lama sebuah kereta angin mendekat menuju Villa Sandat, seorang pemuda terlihat memarkirkan kereta angin itu di depan halaman dan segera menuju ke selasar bangunan antik yang ada di depannya.


"Assalamualaikum," ujar lelaki itu


tak selang berapa lama seorang gadis ayu keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Waalaikum salam, masuk Bin! Aku sudah menunggumu dari tadi."


Lelaki yang tak lain Mihibbin itu melangkah masuk menuju ruang tamu mengikuti gadis didepannya.


"Tumben sepi, Wati. Kemana Mek Iluh dan We Landep? tanya Muhibbin pada Sariwati.


"Mereka berdua pamit pulang kerumahnya, karena hari ini ada acara pernikahan anaknya." jawab gadis itu.


Mek Iluh dan We Landep adalah pelayan yang ditugaskan oleh tuan gubernur untuk menemani Sariwati sekaligus melayani kebutuhan gadis itu selama berada di Villa Sandat.


"Kamu mau minum apa, Bin?" ujarnya sambil berlalu ke arah belakang bangunan Villa Sandat yang ditempatinya.


"Tak usah repot Wati, Aku tadi sudah minum sebelum kemari." jawab Muhibbin dan terlihat lelaki itu gelisah berada berduaan di dalam bangunan rumah itu.


Muhibbin melangkah keluar dan duduk di serambi depan Villa itu. Tak selang berapa lama Sariwati keluar kembali dengan membawa minuman dan makanan kecil di atas nampan yang dibawanya.


"Kenapa diluar, Bin?" tanya Sariwati.


"Lebih enak disini Wati, sambil menikmati senja." jawab lelaki itu singkat. Matanya masih mengarah pada hamparan sawah di depan serambi Villa itu. Terlihat beberapa lelaki menggiring ratusan ekor bebek diantara pematang sawah.


"Lihat Wati, kegiatan orang-orang disini hampir sama dengan yang ada di kampung halamanku di Negeri Batu Ular." ujar Mihibbin pada Sariwati yang duduk disampingnya.


"Lihat! wajah-wajah teduh mereka, seolah-olah tanpa beban dan menjalani hidup sak dermo apa adanya sebagaimana garis yang telah ditetapkan oleh sang pencipta." pungkas nya kembali.


"Bin, Bagaimana kabar Emak dan semua keluarga di kampung?" tanya Sariwati pada Muhibbin.


"Alhamdulillah Wati, sekarang keadaan Emak sudah membaik, kapan hari itu sempat sakit karena terjatuh ketika akan sembahyang dan mbak yu Cahaya mengabariku."


"Gimana sih kamu, Bin! kenapa kamu baru kasih tau aku saat ini?" sungut Sariwati pada Muhibbin.


"Andai kamu bilang pada ku, kan kita bisa pulang ke kampung mu sambil merawat Emak disana!" ujarnya kembali.


"Aku gak mau merepotkan kamu, Wati. Apalagi kamu baru pindah ke tempat ini dan pastinya tuan gubernur tak mengijinkan kamu pergi denganku." jawab Muhibbin.


"Ya tapi minimal kamu kasih tau aku, supaya aku bisa memberi resep obat untuk kesembuhan Emak!"


"Apa kamu tak menganggab ku ada? bagaimana pun, susah senang harus kita jalani bersama, Bin! keluargamu adalah keluargaku juga. Kau tau sendiri, Aku sudah tak punya siapa-siapa kecuali kamu dan paman Timoti!" ujar gadis itu itu ketus.


"Kamu gak boleh bilang seperti itu, Wati."


"Ayah ibumu masih ada, Kau juga masih punya saudara. Walau saat ini perlakuan mereka padamu tak sesuai yang kamu harapkan, tapi perlu kamu ingat! tak ada bekas orang tua maupun bekas saudara, Wati." ujar Mihibbin pada kekasihnya.

__ADS_1


"Mereka telah membuangku dan menganggab aku tak ada, Apakah seperti itu sebuah keluarga?"


"Apakah karena perbuatan yang tak pernah aku lakukan, mereka tega menghukumku dengan hukuman yang berat!" kini Sariwati tak bisa menahan perasaannya yang lama dipendamnya.


Kekesalannya ditumpahkan pada lelaki yang ada didepannya dan Muhibbin hanya bisa terdiam melihat wanita pujaannya melampiaskan beban yang dialaminya.


Terlihat gadis itu berdiri dari tempat duduknya dan dengan bersungut-sungut masuk kedalam rumah.


"Kau pun sama dengan mereka, tak pernah menganggab ku ada!" teriak Sariwati dari dalam rumah.


"Bukan seperti itu, Wati! kamu sudah salah paham."


"Aku hanya tak ingin membebani pikiranmu dengan permasalahan keluarga ku." ujar Muhibbin masuk dan menenangkan Sariwati sambil menuju ke dalam rumah.


"Itu dirimu sudah mengakui! memang aku tak punya hak apa-apa untuk terlibat atas masalah keluargamu!" teriak gadis itu kembali.


"Kau salah paham, Wati. Aku tau kau peduli pada ku dan keluargaku."


"Aku tau masalahmu berat dengan keluargamu dan aku tak mau menambah beban permasalahan padamu." bujuk Muhibbin.


"Ya sudah, Aku akui salah tak mengabarimu tentang keadaan Emak. Lain kali gak akan ku ulangi lagi dan jika ada apa-apa pasti kamu orang pertama yang aku kabari." imbuh Muhibbin.


"Aku hanya ingin di hargai, Bin! dengan tak mengabariku tentang musibah yang Emak alami, sama saja kamu tak menganggab ku ada!" kata Sariwati masih emosi. Gadis itu terlihat berdiri di dekat jendela dan dari matanya terlihat buliran-buliran bening.


"Ya, Aku salah. Maafkan aku, Wati!"


"Janganlah kau marah, Aku janji tak akan ku ulangi lagi." kini Muhibbin berdiri di belakang gadis ayu itu.


"Aku hanya ingin berguna, Bin! jangan perlakukan diriku layaknya anak kecil, yang kau khawatirkan bila di beri beban berat akan tak kuat menahannya!"


"Ya, Aku tau kau kuat! Aku janji akan selalu berbagi suka dan duka dengan mu."


Sariwati berbalik dan memeluk Muhibbin erat, tangisannya tumpah di dada pemuda itu.


"Sudahlah, Kau tak harus bersedih. Kita akan hadapi semua bersama," Muhibbin membujuk Sariwati.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Bin! Aku sudah tak memiliki siapa-siapa!" isak Sariwati.


"ya, aku tau. Sudahlah hentikan tangisanmu. Tak perlu kau gundah gulana, Aku akan selalu bersamamu. ujar Muhibbin kembali.


"Sudah masuk magrib, mari kita sembahyang dulu!" imbuhnya.

__ADS_1


Keduanya melangkah ke bangunan sebelah Villa Sandat yang digunakan sebagai surau.


 


__ADS_2