KAHANAN

KAHANAN
CH 118 - DESIR ANGIN SANDIKALA


__ADS_3

"Sayang, kita sebentar ke kediaman Diera dan Puan Rizza, yuk!"


"Beberapa hari lalu mereka mengatakan ingin membuatkan pakaian pengantin untuk pernikahan kita." ujar Disya sambil menggenggam jemari Muhibbin.


Pemuda itu menatap lembut kekasih yang duduk di depannya, dengan anggukan kepala dan senyum tersungging, Muhibbin mengiyakan permintaan sang kekasih.


"Iya."


"Kita pamit ke Ayah dulu, Dis."


"Sini, aku bantu beres-beres,"


"Mumpung hari juga belum begitu sore, kita segera ke tempat mereka." ucap Muhibbin pada Disya, Pemuda itu bangkit membawa piring-piring kotor ke arah dapur sementara Disya merapikan meja makan.


Wajah Gadis itu nampak berbinar, ada rona kebahagiaan terpancar dari wajah ovalnya.


Selepas berpamitan ke tuan Sirkun, keduanya berlalu dari rumah megah tersebut dengan mengendarai kereta angin, sepanjang perjalanan senda gurau dan celoteh kebahagiaan mengisi hari yang cerah itu, tangan Disya menggelayut di pinggang Muhibbin, sesekali tawa keduanya pecah dengan obrolan-obrolan ringan keduanya.


Tak selang berapa lama mereka pun tiba ditujuan, sebuah bangunan asri khas Negeri Pantai menyambut keduanya, nampak pohon jepun dan bunga sepatu bermekaran menghiasi areal rumah yang terlihat bersih dan rapi.


Terlihat beberapa lukisan terpampang di dinding, pandangan keduanya tertuju pada sebuah lukisan berukuran besar yang tepat berada di tengah ruangan dan tersandar pada sebuah kayu berbentuk segi tiga yang menyangganya.


Lukisan tersebut tertutup kain hitam, hati Muhibbin merasa penasaran dan pemuda itu melangkah mendekatinya, tangannya ingin menyingkap kain yang menutupi lukisan tersebut, namun Disya melarangnya.


"Sayang, jangan!" ujar gadis ayu itu pada kekasihnya.


Muhibbin mengangkat bahunya dengan pandangan yang masih menyiratkan rasa penasarannya dan pemuda itu berkata,


"Kenapa?" ujarnya singkat.


"Tak sopan, Bin."


"Mungkin Puan Rizza punya maksud lain, sehingga karyanya ditutupi kain seperti itu."


Muhibbin terlihat manggut-manggut sambil tangannya diturunkan dari kain yang akan direngkuhnya.


"Ya, benar juga, Dis."


"Rasa penasaranku membuat diriku lupa." ujar pemuda itu sambil tersenyum.


"Kamu kalau sudah melihat karya seni tak ingat kanan kiri lagi." celetuk sang kekasih, keduanya pun tertawa.


Tiba-tiba dari sebuah kamar, keluar seorang wanita berkerudung jingga dengan pakaian panjang menutupi lengan dan kakinya.


"Hai, rupanya ada tamu?"


"kenape kau orang tak berkabar bile nak kemari?" ujar wanita itu dengan logat bahasanya yang kental, senyum lebar tersungging di bibirnya.


"Ape kabar adik-adik awak ni?"


"Lama nian tak bersua dengan kau berdua." ujarnya kembali.


"Iya kak, itu si Ustazd selalu sibuk tak memiliki waktu mengajakku jalan-jalan."

__ADS_1


"Waktunya dihabiskan dengan mengajar dan berkebun, padahal aku juga butuh perhatian." ujar Disya sambil tersenyum pada Puan Rizza yang menyambutnya, ujung matanya melirik pada Muhibbin yang ada disampingnya.


"Hai, apa hal lah kau ini, Ibbin,"


"Mase-mase mude jangan terlalu payah kerje, pikirkan kehidupan kau orang pula."


"Kasihanilah kau punya kekasih, Disya pun nak perhatian dari engkau." seru Puan Rizza sambil tertawa menggoda sahabatnya.


"Kakak bisa saja,"


"Waktu saya banyak di Surau, Kak."


"Murid-murid saya sekarang semakin banyak dan tanggung jawab saya semakin besar."


"Ya di maklumi saja, bila saya jarang mengajak lancong Disya dan berkunjung kemari." jawab Muhibbin pada sahabatnya, pemuda itu terlihat merengkuh jemari Disya, tatapannya penuh rasa bersalah dan mengarah pada sang kekasih.


"Aku hanya bercanda, Sayang!"


"Kamu ini serius sekali!" ujar Disya sambil tersenyum.


"Maafkan aku, Dis."


"Selama ini mungkin waktu kebersamaan kita tak banyak."


"Kau tau sendiri bagaimana tanggung jawabku terhadap anak-anak didik ku dan Raya."


"Bagaimana pun, aku tak bisa seenaknya meninggalkan mereka." ujar pemuda itu lembut pada sang kekasih.


"Aku hanya bercanda, kok!"


"Aku maklum pada aktifitas mu."


"Aku siap dengan keadaanmu, Bin." ujar Disya kembali.


"Hem-hem!"


"Amboi, Kalian ni! lupa bila akak disini." goda Puan Rizza pada keduanya.


Rona memerah terpancar di wajah Disya dan Muhibbin, tak berapa lama ketiganya pun tertawa bersama.


Obrolan ringan dan senda gurau ketiganya menyemarakkan suasana rumah itu.


"Oh ya, Kak?"


"Lukisan apa itu, mengapa kakak tutup dengan kain?" tanya Muhibbin pada Puan Rizza.


"Bolehkah saya melihatnya, Kak?" imbuhnya kembali.


Wanita dari Negeri Serumpun itu hanya tersenyum tipis, di tatapnya wajah pemuda bersahaja didepannya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada gadis ayu di sebelah sang pemuda.


"Itu hanya imajinasi Akak sahaja, Bin."


"Tak de yang spesial." jawabnya pada Muhibbin.

__ADS_1


Selain seorang penyair, Puan Rizza juga seorang seniman lukis dan sejak penampilan perdananya dikala peresmian Selasar Rumah Budaya milik keluarga Sirkun, wanita dari Negeri Serumpun itu menetap di Negeri Pantai bersama Diera seorang perancang busana sekaligus penari ternama dari Negeri Banjir.


"Bile kau nak tengok lukisan tu, boleh lah." ujar Puan Rizza kembali tanpa menoleh, tangan wanita itu menyingkap kain yang menutupi lukisannya.


Sebuah karya sederhana namun sarat makna tergambar di atas kanvas berukuran besar itu.


Disya dan Muhibbin tertegun di depan lukisan yang ada dihadapannya, keduanya mengamati karya koleganya dari Negeri Serumpun tersebut


Tarikan garis lembut namun tegas serta komposisi warna dipadu padankan dengan pengaturan perspektif dan pencahayaan yang mengejutkan, membuat suasana kebatinan sang perupa dalam menyampaikan pesan yang tersirat sangat terasa.


"Indah sekali namun pilu, Kak." gumam Disya, tanpa sadar tangannya menggenggam erat jemari sang kekasih, sementara Muhibbin menatap dalam-dalam obyek guratan cat pada kanvas didepannya.


Lukisan pemandangan perbukitan dengan hamparan ilalang diantara langit berwarna merah tembaga dan sebuah jalan setapak menuju atas bukit membelah rimbunnya padang ilalang yang tergambar di kanvas tersebut.


Terlihat siluet seorang wanita menggunakan tongkat penyangga dengan surban tertiup angin berdiri menggandeng seorang gadis kecil didepan tiga buah pusara dibawah sebatang pohon rindang, nampak sang gadis kecil memegang sekuntum bunga ditangannya dan pusara yang berada ditengah tergambar lebih tegas seolah menyiratkan pusara tersebut adalah obyek utama dalam lukisan karya Puan Rizza.


"Apa makna dan judul lukisan ini, Kak?" tanya Disya memecah keheningan. Gadis itu menatap kearah sang Perupa.


"Tak de makna lah, akak hanya nak tuangkan pasal yang pernah akak rasakan sekejab."


"Akak beri nama lukisan tu, Desir Angin Sandikala."


"Entah mengapa di benak akak terlintas pasal tu?"


"Akak pun tak tau." jawab Puan Rizza singkat, wanita dari Negeri Serumpun itupun melangkah ke arah kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Terlihat perubahan mimik wajah Puan Rizza saat menceritakan makna dari lukisan karyanya, ada perasaan sedih terpancar di mata wanita itu.


Muhibbin dan Disya mendekat dan duduk dihadapan Puan Rizza.


"Jika Akak berkenan, karya-karya Akak bisa dipamerkan di Selasar Rumah Budaya."


"Aku lihat karya Akak sangat elok dan patut di apresiasi." ucap Disya pada sahabatnya.


"Terimakasih lah, akak tau tempat kau tu tersohor."


"Cuma akak belum ade minat nak pamerkan lukisan-lukisan akak."


"Cukuplah buat kita nikmati sendiri je." ujar Seniwati Negeri Serumpun itu.


Suasana kembali hening, ketiganya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


Note Author:


Selamat menjalankan ibadah puasa 1442 H / 2021 bagi saudara-saudara Ummat Islam, semoga di bulan yang suci ini kita selalu mendapat ridho dan pengampunan dari Allah SWT atas segala dosa dan khilaf kita selama ini dan amalan-amalan baik kita di terima olehNya.


Tetap bersabar dijaman ketidak pastian ini, selalu berfikir positif dan tabah, semoga masa-masa sulit di tengah pandemi ini bisa kita lalui.


Khusus untuk pembaca KAHANAN, saya ucapkan banyak terimakasih telah mengikuti tulisan ini hingga saat ini, mohon maaf bila belakangan ini telat update karena kegiatan RL memang betul-betul padat. Apalagi di bulan puasa, selain bekerja mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, saya juga masih mengabdi menjadi tukang sapu di sebuah Musholla kecil di bumi kepingan nirwana.


Salam.

__ADS_1


__ADS_2