
Dimana kau melihatnya, We Lanus?" suara Jero Pecalang sedikit bergetar.
Lelaki tua itu menatap Jero Pecalang dan beberapa orang anggota keamanan banjar Manguntur dihadapannya.
"Aku melihatnya di perbatasan Manguntur dan Galuh, Jero"
"Saat itu aku sedang menyabit rumput di antara pohon bambu sehingga mereka tak melihat keberadaan ku"
"Ku lihat Nak Mas Muhibbin berkelahi dengan orang-orang yang menghadangnya, namun aku tak punya keberanian membantunya."
"Orang yang menghadangnya terlihat kekar dan terlatih." ujar We Lanus.
"Lalu apa yang terjadi padanya, We?"
"Mengapa baru sekarang kau mengatakannya pada kami?" seru Jero Pecalang pada lelaki tua dihadapannya.
"Beberapa penyerangnya membopongnya dari belakang dan membuat pemuda itu tersungkur tak sadarkan diri." We Lanus melanjutkan ceritanya dengan suara lirih sambil menundukkan wajahnya.
"Aku takut, Jero."
"Mereka terlihat tak seperti orang sembarangan, namun aku terus mengikuti para penyerang itu dan ku lihat dari kejauhan mereka membawa Nak Mas Muhibbin ke sebuah bangunan tua di pinggiran kota Negeri Pantai, aku tak berani mendekat karena tempat itu dijaga oleh banyak orang berpakaian serba hitam dengan senjata lengkap." ucap We Lanus kembali.
"Senjata lengkap?"
"Siapa mereka sebenarnya dan apa hubungannya dengan Muhibbin?" gumam Jero Pecalang dalam hati.
"Lalu apa yang kau lihat selanjutnya?" tanya Jero Pecalang.
We Lanus terlihat menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Jero Pecalang.
"Ada sebuah Otto dengan pengawalan ketat mendatangi tempat itu, seorang perempuan keluar dan langsung masuk kedalam bangunan diikuti para pengawalnya." pungkas We Lanus mengakhiri ceritanya.
"Sebuah Otto kau bilang?" Ucap Jero Pecalang sambil mengernyitkan keningnya.
"Setau ku tak ada yang memiliki kendaraan seperti itu di negeri ini, jangan-jangan dia..." wajah Jero Pecalang berubah cemas dan lelaki paruh baya itu terlihat semakin gelisah.
"Kau ikut dengan ku, We."
"Kita harus segera melapor ke markas pasukan Bhayangkara, perasaanku mengatakan bahwa yang melakukan penyerangan pada Muhibbin adalah suruhan orang berpengaruh di negeri ini."
"Apa kau masih mengingat tempat dimana pemuda itu dibawa?" tanya Jero Pecalang pada We Lanus kembali.
Lelaki tua itu menganggukkan kepalanya sambil menatap pimpinan keamanan desa Batubulan itu.
"Bagus!"
"Ayo! kita segera bergegas dan kau, Arsana!"
"Kau segera temui Bapa Resi Giri Waja dan ceritakan tentang apa yang terjadi pada kakak iparmu."
"Aku dan beberapa orang keamanan Manguntur akan ke tempat tuan Sirkun terlebih dahulu dan setelah itu ke markas Bhayangkara untuk melaporkan apa yang dilihat oleh We Lanus." ujar Jero Pecalang mengalihkan tatapannya pada Arsana yang sedari tadi berdiri disampingnya.
"Baik, paman." jawab pemuda itu singkat sambil menganggukkan kepala pada pemimpin keamanan desa Batubulan tersebut.
***
"Tuan, tolong ceritakan dengan gamblang, apa benar anda menggelapkan hasil keuntungan pengolahan kayu itu dan memalsukan dokumen kepemilikan serta aset-aset usaha yang di rintis oleh mendiang tuan Timoti seperti yang telah dilaporkan oleh keluarga besarnya?" tanya Cokro yang tak lain adalah prawira utama pimpinan pasukan Bhayangkara Negeri Pantai.
Sementara pria berwajah flamboyan yang duduk dihadapannya masih terlihat tenang dengan semua pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Tuan Cokro, anda mengenal saya tidak satu dua hari."
"Andapun juga sangat faham figur seperti apa mendiang tuan Timoti."
"Kami bekerjasama atas dasar saling percaya dan tak mungkin saya mengkhianati kepercayaan beliau selama ini, apalagi sampai memanipulasi usaha yang kami rintis dari bawah."
"Laporan yang dibuat oleh nona Habsari itu tak berdasar karena saya dan tuan Timoti membuat perjanjian yang jelas pada saat awal berdirinya usaha kami tersebut."
"Tentang penunjukan menantu saya sebagai pengelola usaha pengolahan kayu itu adalah kewenangan saya selaku pemilik sekaligus pemegang sebagian besar modal di usaha itu dan semuanya tertulis jelas diperjanjian antara saya dan mendiang tuan Timoti." Ujar pria flamboyan yang tak lain adalah tuan Sirkun pada pimpinan Bhayangkara di hadapannya.
Cokro sang prawira utama Bhayangkara terlihat menghela nafas dalam-dalam, dibenaknya terbayang sosok tuan Timoti yang sangat dihormatinya.
__ADS_1
"Saya faham, Tuan."
"Saya tak pernah meragukan integritas tuan selama ini."
"Namun apalah daya saya, pejabat gubernur Negeri Pantai saat ini berbeda dengan mendiang tuan Timoti."
"Selain beliau masih kerabat dekat dari penguasa kerajaan Zamrud, tuan Gubernur adalah paman dari bekas menantu mendiang tuan Timoti."
"Pengaruhnya tak kalah besar dengan keluarga Garuda Emas."
"Dan tentang calon menantu anda itu, saya tak pernah meragukan kejujurannya, walau diantara kami sempat terjadi perselisihan namun semua itu sudah saya lupakan, itu semua karena kesalahpahaman diantara kami."
"Saya dan seluruh Bhayangkara Negeri Pantai akan terus berusaha menemukan putri Tuan."
"Itu adalah tugas kami selaku pemangku keamanan negeri ini." Ujar Cokro pada tuan Sirkun.
Tuan Sirkun hanya mengulas senyum, sedari awal pengusaha dermawan itu tau dan mengira bahwa laporan yang dibuat oleh Habsari hanyalah usaha untuk menjatuhkannya dan menguasai pengolahan kayu yang dirintisnya bersama tuan Timoti.
"Saya paham situasi yang sedang anda alami, tuan Cokro."
"Tak mudah berjalan sesuai darma Satria Mahotama, namun tak ada alasan pula kita tunduk pada sifat-sifat Denawa."
"Negeri ini memerlukan sosok-sosok jujur sebagai pemangkunya yang tak kalah dan tunduk oleh tekanan tirani."
"Saya masih memiliki harapan besar pada anda selaku kesatria Bhayangkara, Tuan."
"Dan tentang keberadaan putri saya, semua saya serahkan pada Tuan dan para Bhayangkara untuk mencarinya." pungkas tuan Sirkun tenang sambil tersenyum pada Cokro, walaupun sebetulnya pengusaha Negeri Pantai tersebut cemas memikirkan keberadaan Disya putrinya.
Ruangan utama Bhayangkara kembali hening, sosok tuan Sirkun sangat dihormati oleh warga kota Negeri Pantai, tak terkecuali di mata Cokro sang prawira utama Bhayangkara yang merupakan kepercayaan mendiang tuan Timoti.
Tiba-tiba pintu ruangan terdengar diketuk dari luar, dengan pandangan tertuju ke pintu, Cokro pun bersuara,
"Masuklah!" ujar Cokro.
Suara derik pintu didorong dari luar dan seorang prajurit Bhayangkara menjura memberi hormat pada kedua orang didepannya.
"Ada apa, Penjaga?" tanya Cokro pada anak buahnya.
"Di luar ada Jero Pecalang desa Batubulan, Pimpinan."
"Dia bersama beberapa orang dari Manguntur meminta ijin untuk bertemu dengan Pimpinan." jawab anggota Bhayangkara tersebut pada Cokro.
Mendengar hal itu, kedua alis Cokro terlihat terpaut dengan kening sedikit mengerut.
"Jero Pecalang, ada apa tokoh desa Batubulan itu ingin bertemu denganku?" gumam Cokro dalam hati.
Begitupun tuan Sirkun yang duduk diseberang meja memiliki pertanyaan yang sama dibenaknya.
"Suruh Jero Pecalang masuk dan yang lainnya beritahu untuk menunggu diluar" seru Cokro pada anak buahnya.
"Baik, Pimpinan" jawab anggota Bhayangkara itu sambil beringsut meninggalkan ruangan.
Tak selang berapa lama, seseorang yang sangat dikenal Cokro memasuki ruangan.
"Tuan Prawira Utama!" sapa Jero Pecalang penuh hormat.
"Rupanya tuan Sirkun berada disini pula." lanjut pria paruh baya itu mengarahkan pandangannya pada tuan Sirkun yang berada diseberang meja Cokro.
"Jero Pecalang!" sapa tuan Sirkun sambil mengulas senyum khasnya.
"Mari silahkan duduk, Jero."
"Apa yang bisa aku bantu, tak seperti biasanya andika datang ke markas Bhayangkara, apalagi menurut anggota ku, andika datang bersama beberapa orang dari Manguntur." ujar Cokro memulai percakapan.
"Terimakasih, Tuan."
"Dan kebetulan sekali disini ada tuan Sirkun karena tadi sebelum ketempat ini, kami sempat kekediaman beliau, namun menurut pembantu, beliau sedang tak ditempat." ucap Jero Pecalang, tatapannya tertuju pada kedua orang didepannya.
"Langsung saja, tuan-tuan sekalian."
" Kedatangan kami dari Manguntur ada kaitannya dengan putra angkat mendiang Jero Perbekel." lanjut Jero Pecalang.
__ADS_1
"Ada apa dengan menantuku, Jero?" kini tuan Sirkun tak bisa menutupi lagi rasa kekhawatirannya, dengan tatapan menelisik lelaki itu menyela ucapan Jero Pecalang.
"Itu yang hendak saya sampaikan ketika mengunjungi kediaman anda sebelum kemari, Tuan."
"Tiga hari lalu, Muhibbin terlibat perkelahian dengan beberapa orang tak dikenal dan para penyerangnya membawanya kesebuah rumah tua dipinggiran kota ini."
"Informasi itu saya dapatkan dari salah seorang warga Manguntur yang sedang mencari rumput dan warga kami itu mengikutinya sampai ketempat dimana Muhibbin dibawa."
"Dan hal ini pula yang ingin saya laporkan pada pihak Bhayangkara karena menurut penuturan warga kami, rumah tua itu dijaga oleh orang-orang terlatih dan salah satu dari mereka memiliki sebuah Otto yang di negeri ini tak ada satupun warganya memilikinya selain keluarga mendiang tuan Gubernur." ujar Jero Pecalang menjelaskan pada kedua orang dihadapannya.
"Apa benar yang warga mu sampaikan itu, Jero?"
"Ini tuduhan yang tak main-main."
"Andika tau, sedang berurusan dengan siapa?" seru Cokro pada Jero Pecalang.
"Saya tau,Tuan."
"Maka dari itu saya melapor ke markas Bhayangkara untuk mengusut dan berharap menyelesaikan masalah ini."
"Kami bisa saja langsung bertindak, namun karena hal ini melibatkan keluarga orang berpengaruh di kerajaan Zamrud, maka kami menuntut keadilan untuk ditegakkan."
"Dan tentang informasi yang kami dapatkan, hal itu bukanlah pepesan kosong."
"Saya selaku salah satu tetua di desa Batubulan berani bertanggung jawab tentang hal ini." pungkas Jero Pecalang dengan suara tegas.
Ruangan tersebut kembali hening, nampak Prawira Utama Bhayangkara terlihat berfikir keras ditandai dengan rona wajahnya yang semakin kusut, sementara tuan Sirkun dan Jero Pecalang pun tak kalah seriusnya.
"Baiklah, jika seperti itu kita segera menuju tempat yang andika maksud, Jero."
"Bagaimanapun keamanan dan ketertiban Negeri Pantai adalah tanggung jawab kami dan tugas Bhayangkara pula untuk mengayomi dan melindungi setiap warga negeri ini." ujar Cokro sambil bangkit dari tempat duduknya, tuan Sirkun dan Jero Pecalang pun ikut bangkit, ketiganya melangkah dan bergegas dari dalam ruangan.
***
Hari pun kian temaram, rintik-rintik hujan masih terdengar di luar ruangan.
Nampak sesosok wanita tergeletak di atas sebuah ranjang bambu beralaskan tikar pandan di tengah ruangan dan disebelahnya duduk pula wanita tua yang tengah sibuk memborehkan bahan obat ke sekujur tubuh wanita yang terbaring didekatnya.
"Dimana aku?" suara lirih keluar dari mulut wanita yang terbaring itu, dengan menguatkan diri, wanita itu berusaha bangkit dari tempatnya berbaring.
"Syukurlah kau sudah siuman, Ning. "
"Berbaringlah dulu, badanmu masih lemah dan tak perlu banyak bergerak." ujar wanita yang duduk di tepian ranjang sambil sesekali tangannya terus memborehkan bahan obat pada wanita yang baru siuman itu.
"Dimana aku ini?"
"Siapakah nenek?" tanya wanita itu pada wanita tua dihadapannya.
Dengan mengulas senyum, wanita tua itu menjawab,
"Namaku Anak Agung Estri Sumirah, orang-orang di Galuh sini memanggilku Gung Niang Mirah."
"Saat ini kau berada di rumah ku, Ning."
"Aku menemukanmu tergeletak pingsan di sungai."
"Dan hampir tiga hari ini dirimu pingsan."
"Syukurlah saat ini kau sudah sadar."
ujar Gung Niang Mirah.
"Ini, minumlah terlebih dahulu." wanita tua itu menjulurkan gelas bambu berisi air sambil membantu wanita muda dihadapannya.
Dengan hati-hati wanita muda itu meneguk minuman yang di bawa oleh Gung Niang Mirah.
"Sekarang istirahatlah kembali, setelah benar-benar pulih kau boleh menceritakan perihal yang menimpa padamu, Ning." pungkas Gung Niang Mirah sambil meninggalkan wanita muda yang masih terbaring di ranjang bambu.
*****
__ADS_1