
Kereta kuda yang membawa rombongan Muhibbin dan keluarganya menyusuri jalanan kota Negeri Pantai menuju ke banjar Manguntur kediaman Jero Mekel Nengah Wirata ayah angkat Muhibbin.
Sepanjang perjalanan tak sepatah kata pun terlontar dari orang-orang itu, pikiran mereka masing-masing diliputi rasa kekecewaan atas perlakuan yang di terimanya dari keluarga besar Sariwati. Air mata ibu Suratmi dan Cahaya mengalir mengingat kejadian itu, sama halnya dengan Muhibbin yang tertunduk murung dan terdiam seribu bahasa, di sela-sela sudut mata pemuda itu ada linangan bening air mata yang ditahannya.
Sementara di bagian depan kereta kuda di sebelah kusir, terlihat wajah pak Nengah Wirata dingin dan datar menahan kekesalan, lelaki tua itu tak menyangka tuan Timoti yang di kenal sebagai pemimpin bijaksana mempermalukan dirinya di depan Muhibbin dan keluarganya. Walaupun semua itu di lakukan tuan Bendowo, tak seharusnya tuan Timoti selaku tuan rumah mendiamkannya dan jika memang tak menyetujui lamaran Muhibbin, seharusnya sang gubernur menyampaikan padanya dengan baik-baik selaku wali dari pemuda itu bukan malah mempermalukannya seperti kejadian tadi.
"Kasihan kau Gus, tak seharusnya hal ini kau alami." gumam pak Nengah dalam hati, lelaki paruh baya itu menoleh ke belakang melihat Muhibbin dan keluarganya yang terdiam murung, ada rasa haru bercampur rasa kesedihan menyaksikan mereka bertiga.
Tak selang berapa lama kereta kuda itu memasuki wilayah banjar Manguntur, langit senja yang memerah tertutupi awan kelabu dengan desiran angin yang terkesan bermalas-malasan menambah pengapnya udara sore itu, rintik-rintik air hujan mulai menetes menambah kesan syahdunya suasana, kereta kuda itu pun berhenti di depan kediaman Jero Mekel Nengah Wirata. Hujan yang semakin deras mulai mengguyur tanah Manguntur.
Dengan basah kuyup Muhibbin memapah ibunya di bantu sang kakak turun dari atas kereta kuda, mereka melangkah di ikuti oleh pak Nengah di belakangnya, Sekar yang melihat kedatangan ayah dan rombongan Muhibbin segera menghampiri dan membawakan payung untuk ayahnya dan ibu Suratmi.
"Jik, bagaimana tadi acara lamarannya, apa lancar?" gadis itu melangkah di samping pak Nengah ayahnya. Sang ayah hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan putrinya tanpa sepatah katapun terlontar dari bibir sang ayah.
Sementara ibu Suratmi langsung menuju balai Dauh dan memasuki kamar itu di papah oleh Cahaya. Ada kesedihan yang mendalam dari orang-orang yang baru datang itu, melihat kejanggalan itu Sekar bertanya kembali pada ayahnya,
"Ajik, apa yang terjadi?"
"Bli! ada apa ini, kenapa kalian terlihat murung dan hanya terdiam?" pandangan Sekar tertuju pada pak Nengah dan Muhibbin yang duduk di dekatnya.
Tak berapa lama Cahaya terlihat keluar dari balai Dauh rumah pak Nengah, wanita itupun melangkah menuju adiknya dan pak Nengah.
"Mbak yu! apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sekar kembali pada Cahaya yang mendekatinya. Rasa penasaran terpancar dari wajah Sekar.
Dengan menghela nafas Cahaya menjawab pertanyaan Sekar,
"Muhibbin di tolak, Gek." ujarnya singkat. Pandangan Cahaya tertuju pada adiknya yang tertunduk di sebelah pak Nengah.
"Bagaimana bisa, Mbak yu?"
"Bukannya Sariwati juga mencintai bli Ibbin?"
"Dan ajik kemarin sempat mengutarakan pada ayah Sariwati tentang lamaran ini."
"Seharusnya jika di tolak, sejak kemarin ajik mendapat kabar ini karena beliau yang jadi wali dari bli Ibbin sebelum semuanya hadir di kediaman sang gubernur tadi?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Sekar mencecar pertanyaan baik itu pada pak Nengah, Cahaya maupun Muhibbin yang masih tertunduk.
"Semua tak sesuai dengan yang kita harapkan, Gek."
"Ternyata Sariwati telah di jodohkan dengan pemuda lain dan kehadiran kita disana tak lebih hanya sebagai pendengar dari keputusan mereka." ujar Cahaya.
"Jadi apa maksud mereka mengundang kalian untuk hadir, jika hasilnya lamaran bli Ibbin ditolak?" Sekar masih keheranan dengan kejadian yang di alami Muhibbin.
"Sudahlah, mungkin itu adat orang kaya,"
"Dan kau Gus, tak perlu berkecil hati."
"Ajik yakin inilah jalan terbaik yang telah Dewata tunjukkan padamu."
"Lebih baik kau sakit hari ini dari pada kau alami sakit selamanya ketika menjadi suami gadis itu." seru pak Nengah menghibur anak angkatnya.
"Walaupun perlakuan mereka pada dirimu dan keluargamu kelewat batas, jangan pernah kau dendam atas segala yang telah kau terima dari keluarga besar Sariwati."
"Kita pasrahkan saja pada Sang Pencipta, mereka akan menuai tuah dari semua perbuatannya padamu sebagai karmanya." lelaki paruh baya itu mengusap-usap punggung Muhibbin yang duduk disampingnya.
Muhibbin hanya mengangguk kecil mendengar nasehat ayah angkatnya. Cahaya yang melihat adiknya murung karena tergoncang batinnya mendapatkan hinaan keluarga Sariwati tadi berkata,
"Le, kau jangan terlalu membebani dirimu dengan semua ini."
"Mbak yu tau kau kecewa, kami pun juga ikut merasakan yang kau rasakan."
"Bagaimanapun kau laki-laki, kau bisa mencari pengganti Sariwati ataupun yang lebih baik darinya."
"Dunia ini luas, Bin! wanita bukan hanya dia."
__ADS_1
"Mbak yu tak ikhlas dan tak akan setuju walaupun pada akhirnya kau bersatu dengan gadis itu."
"Perlakuan keluarganya pada emak sudah melewati batas."
"Almarhum abah penah berpesan pada kita."
"Kekayaan dan yang dimiliki orang tak punya itu hanyalah kehormatannya dan jangan pernah kau gadaikan kehormatanmu untuk apa saja apalagi hanya untuk wanita yang tak pantas kau perjuangkan dalam kehidupanmu."
Cahaya meneteskan airmata memandang adik bungsunya yang selama ini sangat disayanginya, dia tau apa yang dialaminya ini sangat berat bagi pemuda itu. Semua yang ada di balai Dangin itu terdiam namun tiba-tiba dari balai Dauh Raya Suci berteriak,
"Bu lik!"
"Pak lik!"
"Tolong!"
Sontak semua yang ada di balai Dangin bangkit dan bergegas menuju ke balai Dauh dimana Raya Suci masih berteriak. Muhibin berlari mendahului yang lainnya,
"Ada apa, Raya?" tanya Muhibbin panik
"Mbah uti, Pak lik!"
"Mbah uti pingsan!" jawab gadis kecil itu sambil berlinang air mata.
Mendengar perkataan Raya Suci, Muhibbin masuk ke dalam kamar, wanita tua itu terbaring di atas ranjang bambu, di genggamnya tangan sang ibu yang terasa dingin. Telapak tangannya di arahkan ke dahi Suratmi yang terasa panas. Tak berapa lama Cahaya, pak Nengah dan Sekar sudah berada disampingnya. Cahaya menyeruak ke arah sang ibu.
"Bin, tubuh emak panas sekali tapi kaki dan tangannya terasa dingin!"
Sorot mata gadis itu terlihat cemas melihat ibunya, nafas Suratmi terasa berat dan naik turun membuat orang-orang yang ada di ruangan itu semakin cemas.
"Gus, cepat kau panggil tabib Kanta kemari!"
"Dan kau Sekar tolong siapkan air dingin dan kain untuk menurunkan panas tubuh bu Suratmi!" seru pak Nengah pada Muhibbin dan Sekar. Keduanya pun segera bergegas meninggalkan kamar itu, Sekar ke arah dapur sedangkan Muhibbin berlari kehalaman mengambil kereta anginnya, dikayuhnya kuat-kuat kereta angin itu menembus guyuran hujan yang semakin lebat menuju rumah Jero Balian Kanta di banjar Galuh yang berbatasan langsung dengan banjar Manguntur.
***
"Rencana kita membuat papi murka dan menolak lamaran pemuda miskin itu berhasil, Martin." ujar wanita cantik itu dengan senyum sinis penuh kemenangan.
"Namun kita tetap waspada terhadap paman Timoti, orang itu tak bisa kita remehkan."
"Kamu sekarang siap-siap untuk menjalankan rencana berikutnya."
"Bagaimanapun Kotak Giok Hujan dan Batu Sulaiman Madu itu harus segera aku dapatkan walau dengan cara kekerasan."
"Sebelum papi sadar dan mengetahui rencanaku kita harus bermain cantik."
"Ini semua untuk kebangkitan dinasti Garuda Emas."
"Karena selama di tangan papi dinasti warisan eyang Harsuto bukan tambah besar malah tambah surut."
"Dan semua ini karena sikap papi yang lembek." seru wanita cantik itu pada lelaki garang yang di panggil Martin.
"Kerjakan serapi mungkin dan aku tak ingin kegagalan yang di lakukan Bejo pada wanita tua itu di Negeri Batu Ular terulang kembali." pungkas wanita itu yang tak lain adalah Habsari Bonawati kakak tertua Sariwati dan sekaligus pengelola semua aset dinasti Harsuto.
"Baik Ni Mas, semua akan saya lakukan seperti yang telah Ni Mas Habsari arahkan."
"Saya akan kerahkan anak buah saya untuk merebut Batu Sulaiman Madu itu walaupun secara paksa."
ujar Martin pada juragannya.
"Bagus!"
"Tapi kau perlu hati-hati dengan pemuda miskin itu, karena menurut informasi yang kudapatkan dari mata-mata ku, pemuda itu cukup terampil dalam ilmu beladiri dan dia di dukung oleh seorang Balian tua dari banjar Gelumpang yang memiliki pengaruh besar di Negeri Pantai ini."
"Apalagi ayah angkatnya yaitu Jero Perbekel Nengah Wirata juga ada dipihaknya."
__ADS_1
"Sekarang pergilah, sebelum orang-orang paman Timoti mencurigai kita."
"Aku juga mendapat informasi jika gerak-gerik kita selalu di awasi oleh paman Timoti."
"Karena paman tak ingin terjadi kerusuhan dan pertumpahan darah di seantero kerajaan Zamrud jika kekuasaan dinasti Harsuto bangkit kembali."
"Untuk hal itu kita harus selalu hati-hati karena bagaimana pun juga, paman Timoti salah satu batu sandungan untuk semua rencanaku ini." pungkas wanita cantik itu.
"Baik Ni Mas! serahkan semua pada pasukan Garuda Merah yang aku pimpin, Ni Mas tau beres saja." jawab Martin pada Habsari.
Habsari membalikkan badannya dan melangkah kedalam kamar, sebelum wanita itu pergi dia terlihat melemparkan dua bendel uang Ru ke arah Martin dan lelaki itu menangkapnya dengan sigap sambil tersenyum licik.
***
Hari menjelang petang, deru kereta angin menembus pekatnya hujan yang semakin deras. Setelah melewati perbatasan banjar Galuh dan banjar Manguntur, kereta angin itu menuju ke sebuah rumah sederhana yang hanya di terangi temaramnya obor. Di ketuknya pintu yang terbuat dari kayu yang sudah melapuk.
"Swastiastu! permisi."
"Jero Balian, apakah anda ada dirumah?" terlihat lelaki itu mengetuk pintu dan memanggil pemilik rumah.
Tak selang berapa lama seorang lelaki tua membuka pintu dan pandangannya terkesiap melihat pemuda di depannya yang basah kuyup.
"Nak Bagus Muhibbin!"
"Kenapa Nak Bagus basah-basahan? apa gerangan yang membawamu ke mari menembus derasnya hujan?"
lelaki tua itu terlihat mengambilkan kain jarik kering di dalam rumahnya dan di bagikan pada Muhibbin.
"Kita tak punya waktu lagi, pak Jero Balian."
"Saya mohon pertolongan pak Jero."
"Ibu saya tiba-tiba pingsan dan badannya terasa panas serta nafasnya tersengal-sengal."
"Telapak tangan dan kakinya dingin sekali, pak Jero."
"Tolong bantu saya." ujar Muhibbin memohon.
Jero Balian Kanta terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan Muhibbin.
"Tenang dulu, jangan panik!"
"Aku akan mengambil kotak obat-obatanku dulu, kamu tunggu sebentar."
Lelaki itupun beranjak ke dalam rumah mempersiapkan peralatan pengobatannya, sejurus kemudian lelaki itu keluar kembali,
"Mari Nak Mas!" seru Jero Balian Kanta sambil menyerahkan sebuah Caping yang terbuat dari anyaman bambu pada Muhibbin dan diapun menggunakan benda yang sama.
Muhibbin mengayuh kereta anginnya kuat-kuat, cipratan lumpur bercampur air hujan tak dihiraukannya. Keduanya menembus derasnya hujan dan pekatnya malam menuju banjar Manguntur.
--------------------------------------------------
*Caping : topi bulat mengerucut terbuat dari anyaman bambu
__ADS_1