
Tuan Timoti terlihat memberi arahan pada para pasukan Bhayangkara, Prawira utama selaku pimpinan Bhayangkara Negeri Pantai menyimak apa yang di katakan sang gubernur.
Kepergian Sariwati tanpa pamit membuat hati tuan Timoti gundah, Sosok berpengaruh Negeri pantai itu merasa ada yang salah dengan keputusannya menjodohkan sang putri dengan anak koleganya dari Negeri Tidar.
"Apa keputusanku tepat menjodohkan Wati dengan Seto?"
"Aku tak menyangka Wati akan senekat ini." gumam tuan Timoti dalam hati, pandangannya menerawang kearah beberapa pasukan Bhayangkara yang di kumpulkannya.
"Prawira Utama, kau tau apa yang harus kau lakukan."
"Cari putriku sampai ketemu,"
"Lakukan dengan senyap dan jangan sampai menimbulkan keributan."
"Aku tak ingin kejadian ini mencoreng nama baik keluargaku." titah sang gubernur pada pimpinan Bhayangkara.
"Baik tuan, saya akan menyebar anak buah saya di seluruh wilayah Negeri Pantai."
"Kami akan kerjakan seperti yang tuan arahkan." ujar Prawira Utama Bhayangkara pada tuan Timoti.
Pimpinan Bhayangkara itu mulai memberi perintah pada anak buahnya dan para Bhayangkara segera meninggalkan kediaman tuan Timoti namun tiba-tiba sang gubernur menahan Prawira Utama agar tak meninggalkannya.
"Tunggu, Prawira utama."
"Ada yang harus ku sampaikan padamu empat mata." ujar tuan Timoti menahan Prawira Utama. Keduanya melangkah ke arah selasar di samping kediaman sang gubernur.
"Cokro, dengarkan baik-baik."
"Bagaimanapun kau orang terdekatku dan aku merasa ada yang janggal dari kejadian ini." seru tuan Timoti pada Prawira Utama Bhayangkara.
Lelaki setengah baya itu terlihat serius memandang tuan Timoti.
"Janggal bagaimana, Tuan?" ujarnya singkat.
"Aku merasa ini ada kaitannya dengan pemuda yang pernah menolong anakku saat kerusuhan di Manguntur beberapa tahun lalu." ujar tuan Timoti yang masih terlihat gelisah.
"Apa yang anda maksud pemuda itu putra angkat Jero Perbekel desa Batubulan, Tuan?" jawab Prawira Bhayangkara, Cokro selaku pimpinan Bhayangkara sangat mengingat sosok Muhibbin, pemuda bersahaja penjaga surau An Nur, karena bagaimana pun kerusuhan di banjar Manguntur bisa di gagalkan berkat bantuan pemuda itu walaupun pelaku utamanya yaitu Setyanto atau lebih di kenal sebagai juragan Yanto berhasil melarikan diri dan hingga saat ini belum tertangkap.
"Benar, Cokro."
"Aku mengetahui kedekatan hubungan antara pemuda itu denga anakku."
"Dan kemarin sore anak itu beserta keluarganya di antar oleh Jero Perbekel Nengah Wirata datang kemari."
"Kedatangan mereka ingin melamar anakku, Sariwati."
Tapi bukan itu intinya." tuan Timoti menghela nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Keluarga kami memang telah bersepakat bahwa Sariwati akan menikah dengan anak sahabat karib ku saat masih menjadi anggota pasukan Bhayangkara."
"Namun yang aku heran, sikap Kang Mas Bendowo yang terlalu berlebihan mempermalukan pemuda itu dan keluarganya menjadi tanda tanya besar bagiku."
"Karena sebelumnya, Kang Mas Bendowo sudah tau hubungan Wati dan pemuda itu, serta bagaimana pemuda itu menyelamatkan Wati saat kekacauan di Manguntur dan Kang Mas Bendowo merespon baik walaupun tak ada keinginan dan niatan keluarga besar kami untuk menikahkan anakku dengan pemuda itu."
"Kang Mas Bendowo sebetulnya malah ingin memberi penghargaan pada pemuda itu atas jasanya membantu Wati selama berada di negeri ini."
"Semua itu dia sampaikan langsung padaku."
"Dan meminta pemuda itu datang ke mari bersama keluarganya." terlihat sang gubernur bangkit dari tempatnya duduk dan Cokro selaku Prawira Utama Bhayangkara ikut berdiri sebagai sikap hormat kepada seniornya di kesatuan Bhayangkara.
"Herannya, saat pemuda itu datang kemari, sikap Kang Mas Bendowo berubah, dia terlihat marah dan muak pada pemuda itu."
"Ini yang aku maksud sangat janggal."
"Tolong kamu selidiki hal ini."
"Dan satu lagi, kau amati dan ikuti pergerakan Habsari keponakan ku."
"Karena aku mencurigainya, perubahan sikap Kang Mas Bendowo yang tiba-tiba kemungkinan ada hubungannya denga gadis itu." pungkas sang gubernur, Prawira Utama Bhayangkara mengangguk tanda mengerti perintah seniornya.
"Baik tuan, saya akan siapkan tim khusus untuk mengikuti pergerakan Ni Mas Habsari." serunya singkat.
"Lakukan semua ini dengan diam-diam, Cokro."
"Jangan sampai menimbulkan masalah lainnya."
"Jika ada informasi penting, segera beri tau aku." ujar tuan Timoti.
"Sekarang pergilah, aku tunggu kabar selanjutnya dari mu." pungkas sang gubernur mengakhiri percakapannya dengan Cokro sang Prawira Utama Bhayangkara.
Cokro mengangguk dan memberikan hormat pada seniornya sebelum meninggalkan kediaman sang gubernur.
***
__ADS_1
Sementara di tempat lain di sebuah bangunan kosong di pinggiran kota Negeri Pantai, beberapa pria berbadan tegap memakai penutup wajah terlihat berjaga-jaga di depan pintu bangunan tua itu, dari dalam bangunan terdengar seseorang memberi perintah pada salah satu anggota kelompok itu yang merupakan pimpinan dari orang-orang bertudung itu.
"Martin, sekarang saatnya kau bergerak."
"Rencana ku membuat Papi marah pada pemuda kampungan itu sudah berhasil."
"Dan adikku saat ini pasti menemuinya." seseorang yang terlihat memberi arahan itu tak lain adalah Habsari, gadis itu menceritakan semua situasinya saat ini. Wajah Habsari terlihat sumringah dengan senyum sinis penuh kemenangan menghiasi paras ayunya.
"Kau dan anak buah mu segera lakukan sesuai rencana, rebut kotak Giok Hujan dan batu Sulaiman Madu itu dari tangan adikku dan kekasihnya."
"Habisi keluarga pemuda itu semua."
"Kalian gunakan atribut Bhayangkara untuk mengelabui semua orang."
"Buat seolah-olah ini dilakukan oleh para Bhayangkara suruhan pamanku."
"Karena aku yakin, paman Timoti saat ini sudah memerintahkan para Bhayangkara untuk menyisir keberadaan Wati adikku, termasuk ke tempat pemuda kampungan itu." Habsari terlihat tersenyum sinis kerena meyakini apa yang direncanakannya akan berhasil.
"Baik, Ni Mas."
"Saya akan pastikan semua akan berjalan sesuai rencana." jawab Martin pada Habsari di depannya.
"Tapi ingat, jangan kau lukai adikku."
"Jika kalian menjumpainya di rumah pemuda itu, bawa Wati ke tempat ini dan jangan sampai ada orang yang mengetahui kalau tempat ini kita gunakan sebagai titik kumpul."
"Aku tak ingin kau gagal kali ini."
"Jika rencana ini berhasil dan berjalan lancar, maka Paman akan berada dalam masalah, dia akan masuk dalam jebakanku dan aku akan membuatnya jatuh di depan Papi."
"Bagaimana pun paman adalah batu sandungan bagi ku untuk mewujudkan kembali kejayaan trah Garuda Emas." pungkas gadis itu, wajah Habsari terlihat dingin menatap Martin yang masih duduk bersimpuh di depannya.
Wanita itu bangkit meninggalkan Martin dan melemparkan dua bendel uang Ru pada lelaki di hadapannya. Lelaki garang itu hanya tertunduk di depan Habsari yang merupakan salah satu keturunan raja Harsuto dan di pungutnya uang Ru yang ada didepannya.
***
Siang itu di Manguntur.
"Ajik, saya akan ke kediaman Resi Giri Waja sebagaimana saran ajik."
"Setelah saya mengantarkan Wati di sana, saya akan segera kembali."
"Saya masih tak tega meninggalkan Emak dalam keadaan sakit seperti sekarang ini." ujar Muhibbin pada pak Nengah di hadapannya, terlihat gurat-gurat kesedihan di wajah pemuda itu.
"Serahkan keadaan ibumu padaku dan kakak mu."
"Kau tak perlu merisaukannya."
"Di sini masih ada aku dan Sekar yang bisa membantu kakakmu mengurus keadaan ibu mu."
"Apalagi ada gadis cantik ini." ujar pak Nengah pada Raya Suci yang sedari tadi hanya terdiam tak mengerti apa sebenarnya yang dibahas dan terjadi pada keluarganya.
Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya ketika tatapan pak Nengah tertuju padanya.
"Mbak Yu, Sekar, Raya, aku pergi dulu." ujar Muhibbin. Sariwati yang sejak tadi berdiri disamping kekasihnya ikut menganggukkan kepala pada orang-orang di depannya.
Orang-orang yang ada di balai Dangin itu menatap kepergian sepasang kekasih itu.
Dua sejoli itu beranjak dari balai Dangin menuju angkul-angkul dimana dua buah kereta angin tersandar di tembok sengker.
Sariwati mengambil kereta anginnya demikian pula dengan Muhibbin menuntun kendaraan besi itu di belakang Sariwati.
"Apa yang kau lakukan, Bin?"
"Mengapa kau bawa juga kereta angin mu?" tanya Sariwati pada Muhibbin.
"Memangnya kenapa, Wati?" pandangan Muhibbin mengarah pada Sariwati.
"Cukup satu saja, kita naiki kereta angin ku."
"Kau tak perlu repot-repot membawa kereta angin mu pula." pungkas Sariwati pada pemuda yang berjalan di belakangnya."
"Kan lebih leluasa bila kita membawa kereta angin kita masing-masing, Wati?" ujar Muhibbin lirih.
Sariwari menghela nafas sambil melihat Muhibbin.
"Kau ini terlalu lugu apa bodoh?"
"Jika kau bawa juga, bagaimana kalau suruhan ayahku datang kemari mencari ku dan disini juga tak didapati dirimu?"
"Kalau kereta angin mu ada disini, mereka akan berfikir kau tak pergi denganku dan bisa saja ayah angkat mu beralasan kau sedang keluar sebentar, gitu saja kau tak tau!" gerutu Sariwati pada Muhibbin, pemuda itu hanya bisa tersenyum kecut melihat wajah kekasihnya yang bersungut-sungut.
Dia meletakkan kembali kereta angin miliknya di sengker sebelah angul-angkul rumah pak Nengah.
__ADS_1
"Ayo cepat!"
"Sebelum mereka datang kita harus sudah pergi dari rumah ini." pekik Sariwati pada Muhibbin, pemuda itu dengan langkah gontai mendekati kekasihnya dan tangannya berusaha meraih kemudi kereta angin milik Sariwati.
"Apa yang kamu lakukan?" seru Sariwati pada Muhibbin kembali.
"Katanya suruh cepat-cepat, biar aku yang mengendarainya di depan." ujar Muhibbin kesal pada sikap Sariwati.
"Kau ini!" mata Sariwati melotot gemas mengarah pada kekasihnya.
"Apa lagi, Wati?"
"Biar aku yang mengayuhnya di depan." sungut Muhibbin tak bisa menutupi rasa kesalnya.
Sariwati yang melihat Muhibbin mulai kesal, menggelengkan kepalanya sebelum berkata pada pemuda itu.
"Kau ini memang benar-benar bodoh."
"Ini namanya siasat."
"Apa kau tak pernah membaca kisah Mahabharata?"
"Dimana Dewi Subadra menjadi sais kuda saat pelariannya dengan Pangeran arjuna atas siasat dan arahan Sri Kresna."
"Jika kau yang mengemudikannya di depan, orang-orang akan melihat dan menganggap mu yang melarikan aku."
"Tapi jika aku yang mengemudikannya, orang akan beranggapan kau ikut dengan ku."
"Begitu saja kau tak paham, dasar bodoh!" ujar Sariwati gemas.
"Ya-ya, kau yang paling pintar." gerutu Muhibbin.
"Jika kau menganggap aku Raden arjuna, berarti aku boleh beristri banyak." ujarnya kembali asal-asalan.
"Kau ini!" mata Sariwati kembali melotot seolah-olah akan keluar dari tempatnya, gadis itu kembali berkata.
"Dalam Situasi seperti ini kau masih bisa bergurau, coba saja jika kau berani mencari wanita lain lagi selain aku!"
"Ku potong adik kecilmu biar habis sekalian!" ujar Sariwati lugas.
Terlihat gadis itu menghela nafas dalam-dalam menahan rasa geramnya pada sang kekasih
Muhibbin hanya tersenyum kecut melihat wajah Sariwati yang semakin kusut.
Pemuda itu menaiki boncengan yang ada di belakang Sariwati sebelum kereta angin itu dikayuh oleh kekasihnya, tangannya sengaja menggelayut di pinggang gadis itu dan kepalanya di sandarkan pada punggung Sariwati.
Merasakan tingka Muhibbin yang berlebihan, Sariwati menyikut kepala pemuda itu.
"Kau ini!"
"Tingkahmu seperti anak kecil, pegangan biasa saja!" seru gadis itu kembali menggerutu.
Melihat sikap Sariwati yang uring-uringan, pemuda itu berkata.
"Ya-ya, kayuh saja yang benar."
"Jangan ngomel-ngomel saja kayak orang kehabisan obat." goda Muhibbin pada kekasihnya.
Mendengar jawaban Muhibbin, Sariwati semakin kesal.
"Kau anggap aku gila!"
"Kau yang gila, bodoh!" pekik Sariwati dan Muhubbin terus meladeni kekasihnya,
"Ya, aku yang gila."
"Gila karena racun cintamu." balas Muhibbin kembali.
Gadis itu terlihat mendengus kesal walau dalam hati Sariwati tersenyum mendengar gurauan Muhibbin pemuda yang dikenalnya lugu dan terkadang bodoh.
"Dasar Bongok!" gumam sariwati dalam hati, dia tak ingin meladeni sikap kekanak-kanakan yang ditunjukkan Muhibbin padanya.
Kereta angin yang dikendarai sepasang kekasih itu terus melaju menembus jalanan Manguntur menuju banjar Galuh kediaman Resi Giri waja.
******
*Bongok : sinonim kata 'bodoh' dalam bahasa pergaulan melayu malaysia.
Note:
Author terinspirasi dari salah satu sahabat GC Kopral234_TH yang sering mengumpat kata Bongok pada author. 🤭
Jangan lupa vote, rate dan likenya utk KAHANAN ya pren, kalau perlu tips nya 😃🙏 buat penyemangat penulis KAHANAN.
__ADS_1