
"Cinta itu seperti angin.
Engkau tidak mampu melihat.
Tetapi engkau mampu merasakannya.
Mungkin saja kau bisa temukan wajah seperti wajahku, bahkan lebih baik.
Tapi kau tak akan pernah menemukan hati seperti hatiku dalam mencintaimu.
Jangan tanyai mengapa ku mencintai mu, sebab aku tak punya pilihan.
Dalam kerinduan, tiadalah obatnya.
Dan engkaulah satu-satunya penyembuhnya.
Aku bukan tak kangen, kekasih.
Tapi telah lama rasa itu ku tenggelamkan di lautan airmata ku.
Agar lekas kau berlayar menuju ku.
Dalam jeda antara tiada dan hadirmu, ada yang retak yang tak akan kembali seperti semula.
Patah, sebelum pernah adalah aku.
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi."
***
Matahari siang mengintip dibalik mega, laksana dara pemalu ketika akan bertemu sang pujaan. Mendung menggelayut mengisyaratkan akan datangnya hujan namun ramai kicauan burung masih menahannya.
Terlihat seorang lelaki muda dengan gelungan rambut di kepala, terus sibuk oleh kertas dan pena seolah larut dalam samudra alam fikirannya. Badannya yang kurus terlihat tak berbaju, hanya balutan kain putih diantara ketiak dan rusuknya melingkar menutupi bekas luka memar dan kain sarong hijau menutupi bagian bawahnya.
"Duaarrr"
Sebuah suara mengagetkan sang pemuda. Dilihatnya empat orang dara sudah berada di sampingnya.
"Sekar!"
"Tak bisakah pakai salam dulu tanpa mengagetkan Bli," ujar lelaki itu menatap salah seorang yang baru saja datang, lelaki itu tak lain adalah Muhibbin.
"Ah, Bli aja yang tak dengar langkah kami, Aku sudah panggil dari depan namun Bli Ibbin asyik menulis, nulis apaan sih?" elak Sekar pada kakaknya.
"Ah kamu mau tau aja!" jawab Muhibbin singkat.
Siang itu ke empat dara datang ke Surau An Nur mengunjungi Muhibbin yang masih dalam proses penyembuhan akibat perkelahiannya dengan Yanto sebulan lalu. Ke empatnya adalah Sekar, Disya, Diera dan Puan Rizza.
__ADS_1
"Hi Bin, gimana keadaan mu?" tanya Disya.
Dia terlihat membawa sesuatu untuk Muhibbin dan di ulurkannya.
Muhibbin menerima buah tangan sahabatnya dan meletakkan di sebelah bale bambu yang didudukinya. Dia mengambil jarik yang tergeletak disampingnya dan memakainya menutupi badan bagian atasnya yang tak berbaju.
"Sudah lumayan baik, Dis." jawab Muhibbib sambil tersenyum.
Di tatapnya gadis itu penuh suka cita, karena sejak insiden penyerangan sebulan lalu yang menimpa Banjar Manguntur desa Batubulan tak pernah dijumpainya sahabatnya ini. Matanya pun mengarah pada kedua orang di samping Disya sambil menganggukkan kepala.
"Oh ya, silahkan duduk dulu!" pinta Muhibbin sambil menggeser duduknya.
"Gek, tolong ambilkan piring di dapur untuk wadah buah ini," pinta Muhibbin pada adiknya Sekar dan gadis itupun segera beranjak kebelakang Surau.
"Bagaimana luka-luka mu, Bin?" tanya Disya, terlihat kecemasan di wajahnya.
"Alhamdulillah, sudah membaik. Setiap hari Jero Balian maupun cantriknya datang kemari merawat ku." jawab Muhibbin.
"Tumben kalian bisa barengan kemari?" tanya Muhibbin kembali.
"Ya, tadi kami bertiga memang sudah ada rencana menjenguk mu, Kami sempat ke rumahmu namun kata Sekar, sejak kejadian malam itu dan saat proses penyembuhan, Kamu memintanya di Surau ini pada ayahmu. Emangnya kenapa Bin, kan bila kamu disana ada Sekar dan pak Nengah yang akan merawatmu."
"Gak apa Dis, Aku hanya tak ingin merepotkan mereka dan lagian Surau ini juga tak ada siapa-siapa lagi sejak Wati ikut di rumah tuan gubernur." jawab Muhibbin.
"Ini semua gara-gara perempuan itu!" muka Disya berubah masam ketika Muhibbin menyebut nama Sariwati didepannya.
"Ya gak gitu juga sih, Dis! namanya juga musibah tak terduga. Mana ada orang yang ingin semua ini terjadi." Muhibbin berusaha memberi pengertian pada Disya.
"Ayahku sudah cerita tentang siapa latar belakang wanita itu." ujar Disya kembali.
Kedua temannya pun ikut berkomentar.
"Iya, sebenarnya bagaimana kejadiannya sampai kamu terluka seperti ini, Bin?" tanya Diera.
"Ape tak ade ke orang bantu kau saat bergaduh dengan orang tu?" Puan Rizza pun ikut bertanya dengan logat Negeri Serumpun.
"Sebenarnya setelah aku hantar Sekar pulang saat itu, Aku kembali ke Surau ini dan membersihkan puing-puing sengker akibat peledak dan amukan warga., setelah itu aku ke pantai menenangkan diri." jawab Muhibbin.
Lelaki itu menceritakan lengkap kejadian yang di alaminya, hingga perkelahiannya dengan saudagar Yanto dan anak buahnya serta aksi curang saudagar Yanto yang melemparkan pasir ke arah wajahnya.
"Untung saja kamu segera tertolong, jika ada apa-apa dengan mu, apa yang akan ku ceritakan pada Emak dan mbak yu Cahaya!" kata Disya penuh kegeraman pada Muhibbin.
"Sudahlah Dis, Aku gak apa-apa kok. Ini bukan salah Wati." jawab Muhibbin.
"Ya tapi karena dia dan sikap sok pahlawanmu itu hampir mencelakakan dirimu." jawab Disya kesal.
"Terus saja kamu bela dia, lama-lama ngelunjak si nenek sihir itu!" pungkasnya.
"Gak usah berdebat, kita kemari kan ingin lihat Ibbin," sela Diera pada Disya.
"Tapi sikap sembrononya ini Di, dari dulu anak ini kalau berbuat tanpa dipikir dulu!" jawab Diaya kembali.
__ADS_1
Muhibbin hanya terdiam mendengar kekesalan Disya padanya.
"Kite kemari ni kan nak tengok Ibbin, santai je lah, tak payah begaduh." nasehat Puan Rizza ikut menenangkan suasana.
"Iya ni kak, Disya kayaknya belum sarapan, kerjanya marah-marah terus." Muhibbin berusaha membuat Disya tersenyum.
"Sarapan gundulmu!" jawab Disya ketus.
Dari dulu sewaktu masih berada di perkebunan kopi di lereng Ijen, keduanya sudah akrab dan bersahabat. Sejak pertemuannya kembali di Negeri Pantai persahabatan antara Muhibbin dan Disya semakin erat.
Di sisi lain Disya sendiri merasa bersalah atas meninggalnya pak Ahmad ayah Muhibbin ketika dimintanya memetik buah kelapa hingga membuat orang tua itu terjatuh dan meninggal. Sejak saat itu Diaya berjanji akan selalu membantu Muhibbin dan keluarganya sebagai rasa penyesalan darinya.
"Hai-hai, kalian ini kenapa sih! sudah kayak kucing dan anjing selalu bertengkar. Minum dulu nih supaya setan di kepala kalian pergi!" Sekar datang membawa air di kendi dan piring berisi buah-buahan yang tadi di bawakan oleh sahabat-sahabatnya.
"Jika kalian masih gak mau ngalah salah satu, nanti aku laporin ke tuan Sirkun dan Ajik untuk nikahkan kalian berdua." ujar Sekar kembali mencairkan suasana.
"Nikah , nikah. Emangnya nikah itu gampang?" jawab Muhibbin pada adiknya.
"Ya gampang lah, tinggal datangkan penghulu dan seret kalian berdua masuk kamar, beres!" jawab Sekar sambil tertawa.
"Emangnya kayak ngawinin ayam," kini Disya mulai bisa tersenyum.
Suasana mulai mencair. Sekar memungut kertas yang tergeletak di samping kakaknya.
"Weiissa, dahsyat puisinya. untuk siapa ini Bli? untuk Disya atau yang lain?" goda Sekar pada kakaknya.
"Sekar, balikin!" Muhibbin berusaha merebut kertas bertuliskan puisinya dari tangan adiknya.
"Cobe aka tengok jap ye, bagi aka mari Sekar," pinta Puan Rizza.
Sekar yang berusaha menghindar dari Muhibbin menyerahkan kertas itu pada Puan Rizza. wanita Negeri Serumpun itu membaca tulisan Muhibbin ditemani Diera dan Disya.
"Adooiii, Elok sangat puisi kau ni Ibbin!" ujar Puan Rizza setelah membaca tulisan ditangannya.
"Ambil mase kau di Selasar lah, kite nanti bace sama-sama dengan tuan Umbu," imbuh wanita itu.
Disya yang penasaran meminta tulisan itu pada dari Puan Rizza. Dibacanya bait demi bait rangkaian kata buatan Muhibbin.
"Tumben, Kamu nulis seperti ini?" tanya Disya pada Muhibbin.
"Itu untuk Disya apa utuk Wati Bli?" goda Sekar kembali.
"Yang jelas bukan untuk kamu lah, Gek." jawab Muhibbin malu-malu.
Terlihat semua yang ada tertawa melihat tingkah Sekar menggoda kakaknya kecuali Disya, gadis itu terlihat tak senang mendengar nama Sariwati disebut-sebut dihadapannya.
"Awas kakakku di ambil orang lain, Dis!" kini Sekar menggoda Disya yang masih cemberut.
"Ah kau ini." pungkas Disya.
-----------------------------
__ADS_1