KAHANAN

KAHANAN
CH 92 - PENYELIDIKAN BHAYANGKARA PART II


__ADS_3

Sementara di lain tempat, di pinggiran kota Negeri Pantai, disebuah bangunan tua yang terlihat sunyi tak terurus, seorang berperawakan tinggi besar dengan wajah garang berkata pada anak buahnya,


"Benar yang kau katakan itu? bahwa pemuda dari Manguntur itu membawa adik Ni Mas Habsari ke banjar Galuh!" ujar seseorang berpakaian layaknya Bhayangkara Negeri Pantai pada lelaki bertubuh bogel didepannya.


"Betul ketua, saya sempat mengikuti mereka dari kejauhan dan mereka menuju ke Asram Resi Giri Waja di puncak bukit galah tepi sebelah timur banjar Galuh." ujar lelaki itu.


"Dan saya juga mengikuti murid dari Asram itu saat pengabenan Perbekel desa Batubulan, karena saya berbaur diantara para pelayat pada saat itu." ujar lelaki bogel itu dengan senyum liciknya.


"Saat itu anak angkat Perbekel Nengah Wirata di antar seorang murid Resi Giri Waja setelah dia meninggalkan dan menitipkan Ni Mas Wati di Griya Manuaba." imbuh lelaki itu kembali.


"Kerjamu bagus, Sanglir! Ni Mas Hasari pasti akan suka dengan kabar ini."


"Bagaimana dengan tugas terakhirmu untuk membuang tubuh wanita kakak dari pemuda itu, apakah semua berjalan lancar?" tanya lelaki berpakaian Bhayangkara itu kembali pada Sanglir.


Sanglir masih dengan senyum licik menjawab pertanyaan pimpinan Garuda Merah itu.


"Tuan Martin tak perlu khawatir, saya dan Sentot telah menjalankan tugas tanpa seorangpun tau." ujar Sanglir sambil melirik kearah lelaki yang bernama Sentot di sampingnya, Sentot yang juga berseragam Bhayangkara itu mendengus kesal dengan tatapan dingin ke arah Sanglir.


Lelaki itu masih ingat bagaimana kelakuan bejad Sanglir menganiaya dan menggagahi tubuh wanita yang disiksanya sebelum di buang di sungai.


"Bagus, kerja kalian sangat memuaskan, aku yakin saat ini para Bhayangkara akan kebingungan dan mendapat hujatan dari masyarakat."


"Ini sesuai dengan apa yang di rencanakan Ni Mas Habsari dan pasti saat ini tuan Timoti serta Prawira Utama Bhayangkara akan menjadi kambing hitam dari peristiwa ini." ujar lelaki berwajah garang yang berpakaian Bhayangkara yang tak lain adalah Martin pimpinan kelompok Garuda Merah kepercayaan Habsari Bonawati pewaris dinasti Harsuto.


Martin tersenyum dingin dan melemparkan setumpuk uang ke arah Sanglir, lelaki itu kembali berkata,


"Sekarang tugas kalian adalah membawa Ni Mas Sariwati ke hadapan ku dan Ni Mas Habsari, kalian tetap menggunakan atribut Bhayangkara untuk mengaburkan jejak aksi kita."


"Pergilah ke Asram Manuaba!"


"Ingat jangan sampai gagal dan kerjakan dengan bersih seperti biasa!" pungkas lelaki bernama Martin itu pada para anggotanya sebelum melangkah keluar meninggalkan bangunan tua itu.


"Baik ketua!" seru seluruh anggota Garuda Merah yang berada di bangunan tua itu bersamaan dan membubarkan diri menjalankan perintah pimpinannya.


***


Udara dingin terasa di bukit galah dimana Asram sekaligus Griya Manuaba berada, Sariwati masih duduk termangu di serambi bangunan utama dimana tempat Resi Giri Waja bermeditasi.


Terlihat keletihan di wajah gadis ayu itu, tangan lentiknya mainkan ujung kerudungnya menyiratkan kegelisahan yang di alaminya.


Tiba-tiba seorang pemuda datang menghampiri bangunan utama Griya Manuaba itu,


"Ni Mas Wati?"


"Mengapa andika berada disini, bukankah seharusnya andika beristirahat di balai Dauh?" ujar pemuda itu yang tak lain adalah Arsana murid kepercayaan Resi Giri Waja, pandangannya lekat mengarah pada Sariwati.


"Andika hendak kemana dengan buntalan yang andika bawa ini?" imbuh Arsana menelisik ke arah Sariwati dan buntalan kain berisi barang-barang gadis itu yang di pangkunya.


"Bli Arsana."


"Saya akan pulang ke rumah ayah, Bli."


"Saya akan meminta keadilan atas apa yang telah menimpa pada keluarga Muhibbin pada ayah."


"Saya sudah sampaikan pada Bapa Resi tadi." ujar Sariwati pada Arsana, wajahnya kini dihiasi air mata.


"Apakah tidak sebaiknya andika menunggu Bli Muhibbin datang untuk menjemput andika, Ni Mas?" ujar Arsana pada gadis yang duduk didepannya.


Bli Muhibbin menyampaikan pada saya, bahwa dia akan menjemput dan mengantarkan langsung andika pulang ke rumah orang tua andika."


"Apakah nanti tak akan timbul kesalah pahaman antara andika dan Bli Muhibbin, jika kepergian andika ini tanpa sepengetahuannya?" imbuh pemuda itu kembali.


Sariwati menggelengkan kepalanya,


"Aku sudah memberitahukan semuanya pada Bapa Resi, Bli."

__ADS_1


"Aku harap Ibbin mengerti dengan keputusanku ini."


"Ini juga demi keadilan yang harus ku perjuangkan untuk membela dirinya dan membongkar siapa dalang dibalik kekacauan ini." jawab Sariwati.


Arsana manggut-manggut dengan apa yang dikatakan Sariwati, pemuda itu menghela nafas mendengar penuturan wanita di hadapannya, dia pun duduk di kursi yang ada di hadapan Sariwati sambil menunggu sang guru menyelesaikan meditasinya.


Suasana hening terasa di sekitar bukit galah, baik Arsana maupun Sariwati tenggelam dalam lamunannya masing-masing.


Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara yang sangat dikenalnya dari dalam balai utama,


"Arsana, Ni Mas, masuklah!" ujar Resi Giri Waja dari dalam ruangan.


Sariwati dan Arsana berpandangan beberapa saat, pemuda itu menganggukkan kepalanya pada gadis rupawan itu dan mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan utama tempat dimana sang Nabe bermeditasi.


"Duduklah!" kata Resi Giri Waja kembali pada kedua orang di hadapannya.


Arsana menangkupkan kedua telapak tangannya di dada sebelum bersila di hadapan gurunya, sementara Sariwati menganggukkan kepala dan bersimpuh disamping Arsana.


"Ni Mas, jika memang keputusanmu sudah bulat untuk meninggalkan tempat ini dan kembali ke rumahmu, aku tak bisa melarangnya."


"Berhati-hatilah dan selalu ingat apa yang ku pesankan padamu."


"Setelah ini semuanya yang akan kau hadapi tidaklah mudah namun kau harus berpegangan pada keyakinan hati nurani mu." ujar lelaki tua berpakaian serba putih itu pada Sariwati. Gadis itu mengangguk tanpa suara mendengar apa yang di sampaikan Resi Giri Waja.


"Dan kau, Ning!"


"Temani Ni Mas Wati sampai di kota, setelah itu kau pergilah ke kediaman Gus Putra Narayana dan berikan surat ini padanya." seru sang Resi kembali dan mengulurkan sepucuk surat pada murid kesayangannya.


"Baik, Bapa Resi." jawab Arsana singkat, wajah pemuda itu menunduk sambil menerima surat yang di berikan oleh gurunya.


"Pergilah kalian sekarang dan jika di perjalanan ada sesuatu yang kalian temui, gunakanlah hati nurani kalian untuk memutuskan apa yang harus kalian lakukan." pungkas sang Resi sebelum membalikkan badan melanjutkan meditasinya dan memunggungi kedua muda mudi di hadapannya.


Sariwati dan Arsana beringsut meninggalkan Resi Giri Waja, keduanya pun melangkah keluar dari ruangan utama itu.


***


Kedua kereta angin itu terus membelah malam, tepat di perbatasan yang menghubungkan banjar Galuh dan Manguntur keduanya sedikit mengurangi laju kendaraan besi itu.


"Bli Arsana, kelihatannya didepan kita ada sebuah rombongan para Bhayangkara." ujar Sariwati pada Arsana.


Mendengar perkataan gadis ayu itu, Arsana mempercepat laju kereta anginnya dan mengimbangi di samping kereta angin yang dikendarai Sariwati.


"Betul, Ni Mas."


"Tumben malam-malam begini banyak pasukan Bhayangkara."


"Kelihatannya mereka hendak ke banjar Galuh, Ni Mas."


"Sebaiknya kita menepi dulu dan memberi jalan untuk mereka." ujar Arsana.


Keduanya pun berhenti dipinggir jalan dan membiarkan rombongan para Bhayangkara yang mengendarai kereta angin dan saling berboncengan itu yang menuju arah berlawanan dengan arah yang akan dituju Sariwati dan Arsana.


Tiba-tiba sebuah kereta angin kembali dan terlihat menuju pinggir jalan kearah Sariwati dan Arsana berada.


Seorang Bhayangkara bertubuh bogel terlihat menghampiri kedua muda mudi itu.


"Selamat malam, Ki Sanak dan Ni Sanak." ujar lelaki bogel itu.


"Siapa kalian malam-malam seperti ini masih berada di jalanan." ujarnya kembali.


Arsana dengan tenang menjawab pertanyaan lelaki dihadapannya.


"Kami hendak ke kota, Tuan."


"Kami warga banjar Galuh." ujar Arsana pada lelaki itu.

__ADS_1


"Tumben malam-malam seperti ini para Bhayangkara banyak sekali kami lihat, Tuan?" imbuh pemuda itu.


Prajurit Bhayangkara itu menjawab apa yang disampaikan Arsana.


"Betul Ki Sanak, kami hendak ke Asram Manuaba." ujarnya singkat.


Arsana sedikit mengernyitkan dahi mendengar apa yang dikatakan Bhayangkara di hadapannya.


"Mohon maaf, Tuan."


"Kalau boleh tau, ada kepentingan apa tuan-tuan hendak ke Griya?" tanya Arsana.


Pria berperawakan bogel itu menjawab apa yang ditanyakan Arsana.


"Kami ditugaskan oleh tuan gubernur untuk menjemput putrinya di Asram Bapa Resi, Ki Sanak." ujar lelaki itu.


Arsana dan Sariwati saling berpandangan mendengar jawaban prajurit Bhayangkara di depannya. Kini Sariwati menimpali percakapan yang sedari tadi terjadi antara Arsana dan salah seorang anggota Bhayangkara tersebut.


"Maaf, Tuan. Apa benar anda semua disuruh oleh ayah Timoti?" tanya Sariwati pada Bhayangkara itu.


Lelaki itu mengernyitkan dahinya dan bertanya kembali pada Sariwati.


"Apa maksud Ni Sanak memanggil tuan gubernur dengan panggilan ayah?"


"Jangan-jangan Ni Sanak ini adalah Ni Mas Wati?" ujar lelaki itu dengan mata berbinar memandang gadis ayu didepannya.


"Benar Tuan, saya Sariwati putri ayah Timoti." ujar Sariwati lirih.


"Kebetulan sekali, Ni Mas."


"Sentot, kau beri aba-aba pasukan kita agar kembali karena yang kita cari ada didepan mata kita." ujar Bhayangkara berperawakan bogel pada salah seorang temannya.


Tanpa berkata apapun, Bhayangkara yang bernama Sentot meniup pluit yang terikat tali dipundaknya. Suara peluit berulang kali di bunyikan oleh lelaki itu dan tak berapa lama rombongan para Bhayangkara yang terlebih dahulu melaju ke arah Galuh kembali dengan arahan peluit yang dibunyikan sentot. Para Bhayangkara berjejer rapi membentuk barisan.


"Dengarkan semua, kita akan kembali ke markas karena apa yang kita cari sudah ada di hadapan kita."


"Yang ada di samping pemuda ini adalah Ni Mas Wati, putri tuan gubernur." ujar lelaki berperawakan bogel itu pada para anggotanya. Semua mata tertuju pada Sariwati.


"Ni Mas, nama saya Sanglir."


"Mari ikut pulang dengan kami, karena Ni Mas sudah ditunggu oleh keluarga." ujar Sanglir dengan tatapan sedikit nakal dengan senyuman licik pada gadis ayu didepannya.


Arsana mengamati gerak gerik lelaki berperawakan bogel itu, tatapannya terlihat tak senang tatkala Sanglir menatap Sariwati. Pemuda itu membisikkan sesuatu pada Sariwati.


"Ni Mas, aku melihat gelagat tak wajar diperlihatkan oleh anggota Bhayangkara dihadapan kita ini."


ujar murid Asram Manuaba itu, namun Sariwati memberikan isyarat dengan gelengan kepala.


"Tak apa-apa, Bli Arsana."


"para Bhayangkara Negeri Pantai adalah anak buah ayahku dan mereka sangat patuh pada beliau."


"Mereka tak akan berbuat aneh-anek pada diriku."


"Atau nyawa mereka taruhannya, jika berani berbuat tak senonoh padaku." ujar gadis itu pada kawan seperjalanannya.


"Saya akan temani Ni Mas sampai ke kota, karena ini amanah Bapa Resi." ujar Arsana pada Sariwati.


"Tak perlu, Bli."


"Bli Arsana lanjutkan saja tugas yang lain dari Bapa Resi, aku akan ke kota bersama mereka." jawab Sariwati sambil mengarahkan pandangannya pada para Bhayangkara


"Baiklah Ni Mas, engkau harus hati-hati dan jaga diri." ujar Arsana dengan perasaan khawatir dan berat hati melepas gadis itu bersama para Bhayangkara.


Sariwati berlalu bersama para Bhayangkara yang menjemputnya meninggalkan Arsana seorang diri dan tak lama kemudian Arsana pun melanjutkan perjalanannya menuju banjar Gelumpang ke kediaman Ida Bagus Putra Narayana.

__ADS_1


*****


__ADS_2