
Serunai senja mengurai warna alunannya.
Mengutip bias bias jingga yg tersisa
Sebelum malam melajukan ku dalam keheningan semesta.
Dan malam memeluk aku dengan kesyahduan.
Hingga aku tak mampu lagi mendongakkan wajah ini.
Serunai-serunai berjelaga dilaman cakrawala.
Inilah aku sekedar berbincang indah dengan kembara yg menyapa.
Sebaris warna-warna pelangi yg kugenggam.
Bernaung mesra pada kemilaunya sang mentari.
Sejenak aku bermadah sebentar diambang senja ku ini.
Menyulam bait-bait sajak jiwa ku yg mengukir kita.
Tentang serangkai aksara yg menggelar irama kerinduan.
Nafas sanubari masih mampu menghela sebait senyuman utuh
Yang akan menyapa sang awan
Bertaburan rinai asmarakala pada sang surya.
Hingga kita berjabat erat bersama sang kembara senja.
Namun di atas segalanya yang tertuang.
__ADS_1
Kukatakan hanya padaNya dalam senyumku.
Disini selalu ada sebentuk kerinduan yang selalu menuntunku.
Menyusuri selasar hati di taman laman ini.
Menengadahkan tangan dan setunduk sujud lunglai di keharibanMu.
***
Tujuh tahun kemudian,
Siang menjelang sore itu terasa hangat menyapa bumi Negeri Pantai, kilauan matahari semerah tembaga mendekap sekumpulan awan yang berarak, nampak terlihat anak-anak kecil berlarian di sebuah Surau.
"Hai, anak-anak!"
"Ayo berhenti dulu mainnya."
"Sudah masuk waktu Asyar, kita sembahyang dulu."
"Baik, Pak Ustad!" jawab anak-anak kecil itu berbarengan sambil berlari memasuki Surau berwarna putih itu.
"Nduk, ayo sembahyang dulu."
"Taruh dulu alat tulismu."
"Pak Lik lihat sedari tadi kamu sibuk menulis."
"Menulis apa to, Nduk?" kembali lelaki itu berkata pada seorang gadis remaja berkerudung putih yang duduk di balai bengong Surau itu.
"iya, Pak Lik."
"Raya iseng saja belajar nulis." jawab gadis remaja itu singkat, terlihat wajahnya tersipu sambil meletakkan alat tulisnya.
__ADS_1
Gadis itu dengan menggunakan sebuah tongkat melangkah masuk ke dalam Surau dimana suara puji-pujian terdengar riuh di lantunkan oleh anak-anak kecil yang setiap sorenya selalu belajar mengaji di tempat itu.
Sepeninggal gadis remaja itu, lelaki bersurban hijau memungut beberapa carik kertas yang ditinggalkan oleh remaja yang tak lain Raya Suci keponakannya.
Dibacanya bait demi bait kalimat yang ditulis sang keponakan,
'Jiwaku sekuntum bunga kamboja
Dihempas angin, di dera hujan, disengat matahari, dicekam cerita dan aku kan mengingatnya.
Sebagai cinta yang memahami bagaimanapun akhir cerita kita.
Sekuntum jiwa yang tak letih menyerukan rindu
Pada Dia, pemilik semesta.
Seperti burung yang sedang membuat sarang dari rumput dan ilalang.
Ku susuri setiap keindahan di wajah-Mu, ku sematkan rindu.
Rindu adalah perjalanan mengurai waktu menjelma pertemuan demi pertemuan.
Catatannya tertulis di langit malam, di telaga dan diujung daun itu, rindu mengekal menyebut namaMu berulang-ulang.
Rindu mengekal menyebut namaMu berulang-ulang.'
Diujung bait terakhir tertulis sebuah nama 'Raya Suci'.
Muhibbin tersenyum dan meletakkan kembali kertas yang ada di tangannya ke tempat semula, lelaki itu bergumam dalam hati,
"Kau sudah besar sekarang, Nduk."
"Andai Emak dan Mbak Yu Cahaya masih ada, alangkah bahagianya mereka melihat Raya saat ini."
__ADS_1
Kini Raya Suci sudah berusia delapan belas tahun, tanpa terasa waktu terus melaju, Tatapan mata Muhibbin tertuju ke arah dua pusara yang ada di sebelah utara Surau itu, lelaki itu kemudian melangkah kearah Surau dimana murid-muridnya sudah menunggu.
*****