KAHANAN

KAHANAN
CH 84 - PRALAYA PART II


__ADS_3

langit pun mulai benderang dengan gumpalan awan berarak diatasnya seolah-olah alam tau dan merasakan suasana banjar Manguntur yang sedang berduka, para warga dan juga tetua adat mengiringi prosesi kremasi Jero Perbekel Nengah Wirata.


Bunyi gamelan Blaganjur mengantarkan iring-iringan warga yang sedang memikul bade berbentuk sapi berwarna hitam yang diangkat beramai-ramai oleh para warga dan di dalamnya terdapat jazad pak Nengah sang pemimpin desa Batubulan itu, puja mantra dilantunkan oleh seorang pemangku dengan bunyi genta yang melenting di tangannya diikuti oleh suara-suara kidung doa para warga.


Tepat di perbatasan desa, bade yang dipikul oleh beberapa pria tersebut berputar-putar mengelilingi batas desa sembari seorang pemangku menaburkan beras kuning dan kepingan uang gobokan sebagai rangkaian prosesi Pitra Yadna kemudian melanjutkan kembali perjalanannya.


Sementara di bagian belakang iring-iringan pembawa bade berisi jenazah Jero Perbekel, nampak terlihat beberapa warga Manguntur menggotong keranda dengan penutup kain hijau diatasnya. Kedua iring-iringan itu menuju ke arah timur tepatnya Setra yang tak jauh dari pantai Purnama, seorang pemuda dengan wajah sayu terlihat di dampingi oleh beberapa pria yang diantaranya terdapat para Bhayangkara Negeri Pantai.


Tak selang berapa lama, kedua iring-iringan itu berhenti di tepian pantai dan salah satu iring-iringan pembawa keranda merangsek ke arah bukit dimana sebuah surau kecil berdiri anggun diatasnya, nampak terlihat beberapa orang mempersiapkan lubang pusara disamping surau itu. Beberapa pengusung keranda membawa jenazah bu Suratmi masuk ke dalam surau dan disholatkan dengan tuan Sirkun sebagai imamnya.


Haru-biru menggelayut diantara para pelayat tatkala jenazah bu Suratmi di makamkan. Nampak beberapa gadis mendampingi Muhibbin mengantarkan perjalanan terakhir sang ibu. Disya, Diera dan puan Rizza yang hadir ditempat itu tak kuasa menahan tangisnya.


Alangkah terpukul ketiganya tatkala mendengar kabar mengenaskan yang menimpa keluarga Muhubbin, mereka adalah para sahabat Sekar dan Muhibbin yang pada saat siang hari sebelum kejadian, ketiganya sempat menjenguk keadaan bu Suratmi yang sedang sakit namun perjumpaan disiang itu merupakan perjumpaan terakhir dengan mereka.


Jenazah wanita tua itu diturunkan ke liang lahat, terdengar suara adzan dan talqin mengantarkan perjalanan terakhir bu Suratmi.


Setelah prosesi pemakaman selesai, terlihat Jero Pecalang mendekat ke arah Muhibbin.


"Nak Mas, mari ikut paman."


"Sekarang saatnya menyempurnakan perjalan mendiang Jero Mekel."


"Proses kremasi untuk Jero Perbekel sudah siap dan hanya dirimu lah satu-satunya orang terdekat mendiang yang akan mengantarkan perjalanan terakhir beliau." bisik Jero Pecalang pada pemuda disebelahnya yang masih tertunduk dan sesekali menyeka air matanya menahan kesedihannya.


Muhibbin menganggukkan kepala dan meninggalkan pusara sang ibu yang berada di surau An Nur diikuti oleh para pelayat menuju ke pantai Purnama yang tak jauh dari tempat itu.


Jazad pak Nengah yang berada di dalam bade diletakkan di atas tumpukan kayu yang telah di persiapkan oleh para warga, masih terlihat seorang pemangku melantunkan puja mantra mengantarkan kepergian pemimpin desa Batubulan yang sangat dihormati para warganya.


Sebuah obor di serahkan kepada Muhibbin selaku keluarga terdekat pak Nengah Wirata, dengan isakan tangis pemuda itu menyulut tumpukan kayu dan mulai membakar bade yang ada di atasnya.


Lantunan kidung-kidung doa terus terdengar, kepulan asap membubung diantara teriknya matahari .


Setelah sekian lama melakukan rangkaian prosesi kremasi, akhirnya sampai dimana Muhibbin di dampingi para tetua adat Manguntur melarung dan menaburkan abu jenazah Jero Perbekel di laut sebagai puncak acara.


Sepasang mata diantara kerumunan para warga Manguntur terus mengamati apa yang dilakukan oleh Muhibbin sejak berada di balai banjar hingga semua prosesi pemakaman bu Suratmi dan kremasi Jero Perbekel dilakukan.


***


Sementara di ruangan balai pengobatan banjar Manguntur, para cantrik Jero Balian Kanta terus mengamati perkembangan kondisi kedua tubuh yang terluka parah dan terbaring di atas sebuah balai bambu. Keduanya tak lain adalah Sekar dan Raya Suci.


Keadaan lengang terasa di balai pengobatan itu, hanya terlihat beberapa orang cantrik dan para Bhayangkara yang berjaga diluar sedangkan sebagian besar para warga dan tetua banjar Manguntur mengantar proses pemakaman bu Suratmi dan Jero Perbekel Nengah Wirata.


Tiba-tiba dari dalam ruangan pengobatan, seorang cantrik bergegas keluar menghampiri Jero Balian Kanta, dengan wajah sedikit menegang cantrik tersebut mengatur nafas sebelum berkata,


"Guru!"


"Guru, Ni Mas Sekar sudah mulai sadarkan diri." ujar cantrik itu masih terengah-engah, wajahnya terlihat berbinar antusias.


"Bagus, ayo kita tengok kedalam." jawab Jero Balian Kanta tak kalah girangnya. Keduanya memperlebar langkahnya memasuki ruangan pengobatan.


Beberapa cantrik terlihat sibuk memberikan perawatan pada kedua orang yang tergeletak di atas balai bambu itu. Jero Balian Kanta menyeruak diantara para cantriknya, dengan cekatan tangan tuanya memeriksa kondisi Sekar dan senyum kecil tersungging di bibir orang tua itu.


"Syukurlah, Ni Mas Sekar sudah melewati masa kritisnya."


"Kalian terus pantau perkembangannya dan setiap satu jam sekali ganti perban yang menutupi lukanya."

__ADS_1


"Dan borehkan ramuan ini di antara permukaan kulitnya yang terluka." ujar Balian Kanta pada cantriknya, lelaki itu mengambil sebuah bokor kecil dari balik tas yang dibawanya dan diserahkan pada sang cantrik.


"Lalu bagaimana dengan kondisi gadis kecil ini?" tanya Balian Kanta kembali, tatapannya beralih pada Raya Suci yang terbaring di sebelah Sekar.


"Saat ini keadaannya masih belum ada perkembangan, guru."


"Luka bakar di sekujur tubuhnya terlalu parah."


"Kami belum berani memberikan obat pada anak ini." ujar sang cantrik pada Balian Kanta.


Lelaki tua itu menghela nafas, tatapannya sayu melihat kondisi yang menimpa kedua orang di depannya.


"Terus awasi perkembangan luka bakar Raya Suci,"


"Jika luka di kulit yang terbakar sudah berwarna kecoklatan, itu tandanya kulit permukaannya sudah dingin, terus di kipas hingga kulit tubuhnya mulai terlihat berubah."


"Setelah itu baru kalian oles dengan ramuan ini." kembali Balian Kanta merogoh bokor kecil di tasnya dan di serahkan pada sang murid.


"Aku akan menemui pimpinan Bhayangkara dan Jero Pecalang."


"Aku rasa sebentar lagi mereka akan datang dari Setra." ujar lelaki tua itu pada murid-muridnya dan benar seperti perkiraan Balian Kanta, suasana diluar ruangan terdengar mulai ramai. Lelaki tua itu melangkah keluar meninggalkan para cantriknya yang masih terus mengawasi perkembangan Sekar dan Raya Suci.


"Bagaimana perkembangan kedua anak itu, Jero?" tanya Jero Pecalang ketika melihat Jero Balian keluar dari ruang pengobatan.


"Kondisi Ni Mas Sekar sudah mulai ada perkembangan."


"Namun keadaan gadis kecil itu masih kritis, Jero." ujar Balian Kanta, lelaki tua itu mendekat kearah Jero Pecalang.


Di ruangan tengah itu pimpinan Bhayangkara dan tuan Sirkun terlihat membicarakan hal serius, nampak wajah keduanya tegang dengan kerut-kerut di dahinya.


"Bagaimana keadaan keduanya, Jero?" tanya Prawira Utama Bhayangkara pada Balian Kanta.


"Untuk saat ini kita terus melakukan usaha terbaik, tuan."


"Sekar sudah melalui masa kritisnya namun untuk kondisi Raya masih tetap menghawatirkan."


"Lalu bagaimana proses upacara pemakaman dan kremasi tadi, tuan?"


"Dimana sekarang Nak Bagus Muhibbin?" kini Balian Kanta bertanya pada orang-orang di depannya.


"Pemuda itu masih berada di suarau An Nur bersama anakku dan kedua temannya."


"Mungkin sebentar lagi mereka pun akan tiba disini." jawab tuan Sirkun pada Balian Kanta. Lelaki tua itu menganggukkan kepala setelah mendengar penjelasan orang-orang di depannya.


"Tuan Prawira Utama, bagaimana dengan penyelidikan anda terhadap kasus ini dan tentang keberadaan Ni Mas Cahaya?" kini Jero Pecalang bertanya pada pimpinan Bhayangkara yang ada di hadapannya.


"Untuk saat ini kami belum menemukan titik terang, kita hanya bisa menunggu kesaksian Sekar saja karena di tempat kejadian minim sekali bukti,"


"Kesimpulan sementara ini dilakukan oleh orang-orang terlatih yang biasa bekerja rapi,"


"Namun kita tak perlu patah semangat, karena selihai-lihai pelaku pasti meninggalkan petunjuk walaupun sedikit."


"Hal ini sudah menjadi perhatian utama tuan gubernur, bagaimanapun Jero Perbekel adalah kenalan baik beliau dan kejadian ini terjadi setelah pertemuan Jero Perbekel dan keluarganya dengan keluarga besar tuan gubernur." ujar Prawira Utama Bhayangkara.


"Apakah ini tak janggal, tuan?"

__ADS_1


"Apalagi seperti yang tuan katakan baru saja, bahwa Jero Mekel dan keluarga Muhibbin sempat berkunjung dan bertemu keluarga besar tuan gubernur?" tanya Jero Pecalang dengan tatapan tajam ke arah Prawira Utama.


Mendengar pertanyaan pimpinan keamanan desa Batubulan itu Prawira Utama terkesiap,


"Apa anda berfikir tuan Timoti ataupun keluarga besar beliau terlibat dalam kejadian ini?" jawab Prawira Utama lirih, tatapannya dingin mengarah ke Jero Pecalang didepannya.


"Jangan keterlaluan dan melalui batasan, tuan!"


"Saya secara pribadi sangat mengenal tuan gubernur dan saya selalu berada disampingnya." pungkas Prawira Utama pada Jero Pecalang.


"Bukankah kemungkinan sekecil apapun bisa terjadi, tuan?"


"Tak ada yang tak mungkin, apalagi saya mendengar kabar bahwa sebelum kejadian ini, tuan gubernur dan keluarga besarnya sempat memperlakukan Jero Perbekel dan keluarga Muhibbin dengan sangat buruk."


"Jika benar-benar mereka yang melakukan, aku pastikan seluruh warga Manguntur dan desa Batubulan akan membuat perhitungan dan meminta keadilan ditegakkan!" ujar Jero Pecalang tak kalah dingin, lelaki berbadan kelar itu terlihat menahan kemarahannya.


Suasana di ruangan itupun menjadi tegang, terjadi adu mulut dan saling tatap antara Prawira Utama dan Jero Pecalang.


"Sudah-sudah."


"Kita harus tahan diri dan berfikir jernih."


"Saat ini kita fokus ke kedua anak itu, bagaimanapun keselamatan Sekar dan Raya Suci akan membuka tabir dan menguak siapa pelaku semua ini." sela tuan Sirkun menengahi perdebatan antara Prawira Utama dan Jero Pecalang.


"Memang siang hari sebelum kejadian, Jero Perbekel berkunjung ke tempatku."


"Dan Almarhum memintaku untuk mencarikan solusi dan menjembatani antara tuan gubernur dan keluarga Muhibbin."


"Jero Nengah Wirata sangat menyayangkan sikap keluarga besar tuan Timoti padanya dan keluarga Muhibbin."


"Semua kemungkinan bisa terjadi seperti yang dikatakan Jero Pecalang."


"Namun kita perlu ingat pula, bahwa tuan Timoti bukan orang yang akan bertindak diluar hukum dan aturan,"


"Aku yakin ada pihak yang ingin mengambil keuntungan dari perseteruan tuan Timoti selaku gubernur Negeri Pantai dengan Jero Nengah Wirata yang tak lain adalah pimpinan desa Batubulan yang sangat dihormati."


"Dan pemicunya adalah hubungan antara Muhibbin dan Ni Mas Sariwati putri tuan gubernur." ujar tuan Sirkun menjelaskan gambaran besar tentang situasi yang terjadi saat ini.


Semua yang ada diruangan itu terdiam dan mencerna apa yang dikatakan saudagar dari Negeri Kelapa itu.


Tiba-tiba serombongan Bhayangkara dan Pecalang desa masuk ke dalam ruangan dengan membawa sesosok tubuh di atas sebuah tandu. Seorang Bhayangkara mendekat ke arah Prawira Utama dan membisikkan sesuatu pada lelaki itu, semua mata tertuju pada para Bhayangkara dan Pecalang desa.


Penuh keterkejutan Prawira Utama melangkah ke arah tubuh yang di tandu oleh anak buahnya, tuan Sirkun, Jero Pecalang dan Balian Kanta mengikuti dari belakang.


Alangkah terkejutnya Jero Balian Kanta ketika pandangannya mengenal tubuh yang terbaring di atas tandu itu,


"Ni Mas Cahaya?"


Semua yang ada ditempat itu tertegun melihat tubuh Cahaya penuh luka dan wajahnya lebam nyaris tak dikenali.


*****


Note :


*Pitra yadna : prosesi upacara kematian

__ADS_1


Setra : kuburan*


__ADS_2