KAHANAN

KAHANAN
CH 83 - PRALAYA


__ADS_3

Kedua pemuda itu menuruni bukit dimana Griya Manuaba berada, dengan berhati-hati mereka melangkah melewati jalanan licin ditengah temaramnya malam.


"Sudah berapa lama andika berada di Griya Manuaba, Bli Arsana?" tanya Muhibbin pada teman seperjalanannya itu, keduanya masih berjalan menyusuri pematang sawah sebelum akhirnya sampai di jalan raya banjar Galuh.


"Saya sedari kecil sudah ikut Bapa Resi, Bli Ibbin."


"Beliau merawat saya sejak kedua orang tua saya meninggal akibat pagebluk di daerah ini." ujar Arsana pada kenalan barunya.


Panjang lebar pemuda itu bercerita mengenai Griya Manuaba khususnya Resi Giri Waja yang merupakan panutan bagi seluruh warga Galuh, sebagian besar warga wilayah banjar itu adalah Sisya sang Resi.


"Bagaimana dengan anda, Bli Ibbin?"


"Bila dilihat dari logat andika, Bli Ibbin bukanlah warga asli Negeri Pantai, apa benar dugaan saya?" tanya Arsana pada Muhibbin.


"Benar, Bli."


"Saya berasal dari Dauh Tukad, tepatnya Negeri Batu Ular, hampir satu dasa warsa saya sudah disini bekerja dan tinggal dengan Perbekel Desa Batubulan yang sudah menganggap saya sebagai anaknya."


"Berkat kebaikan beliaulah selama ini, saya memutuskan untuk menetap di Negeri Pantai." jawab Muhibbin pada pemuda disebelahnya.


Jalanan yang basah akibat guyuran hujan sejak sore tadi tak menyurutkan langkah keduanya untuk melanjutkan perjalanan. Terlihat Arsana menuju salah satu rumah dan tak selang berapa lama dia kembali dengan sebuah kereta angin yang dibawanya.


"Tadi saya meminjam kendaraan ini pada salah satu Sisya Bapa Resi,"


"Sepertinya akan lebih mempercepat perjalanan kita menuju Manguntur, Bli." seru Arsana pada Muhibbin, lelaki itu seolah tau apa yang ada dibenak kawan barunya ini. Muhibbin menganggukkan kepala sembari tersenyum mendengar penjelasan Arsana. Kembali keduanya menyusuri pekatnya jalanan menuju Manguntur.


***


Semburat kemerahan terlihat di timur langit Negeri Pantai, suasana muram nampak terasa menyelimuti balai banjar Manguntur dengan wajah kedukaan para warganya.


Orang-orang masih berkumpul mempersiapkan sebuah prosesi pemakaman, terlihat sebuah Joli berada di depan balai banjar dengan seorang pemangku agama melantunkan puja-puji doa dan ditangannya memegang sebuah genta yang berbunyi melengking namun terdengar menyayat hati memecah keheningan penghujung malam yang masih basah dengan sisa-sisa air hujan bercampur embun.


Sebuah kereta angin dengan kecepatan sedang terlihat mendekati banjar Manguntur, dua orang pemuda menyeruak di kegelapan malam bersama kendaraan besi itu.


Seorang diantara keduanya berkata,


"Kelihatannya ada orang meninggal, Bli." ujar salah seorang pemuda itu pada kawannya dan pemuda yang duduk di bagian belakang kereta angin itu pun menganggukkan kepala.


"Betul, Bli Arsana."


"Tumben semua warga terlihat berkumpul di balai banjar, perasaanku semakin tak enak."


"Ayo kita cepat mendekat, Bli!"


jawab sang pemuda di bagian belakang kereta angin itu.


Keduanya tak lain Muhibbin dan Arsana. Mereka menyandarkan kereta angin di sebuah pohon yang tak jauh dari tempat berkumpulnya para warga di balai banjar itu.


Beberapa warga menoleh ke arah kedua pemuda yang baru saja tiba, tatapan kesedihan terlihat dari wajah-wajah itu tatkala melihat keduanya semakin mendekat ke arah balai banjar, seorang anggota keamanan desa yang melihat kehadiran Muhibbin beserta temannya segera menghampiri.


"Mari ikut saya, Nak Bagus." ujar lelaki paruh baya itu pada Muhibbin dan temannya.


"Ada apa ini, paman?"


"Mengapa ramai sekali?"


"Aku lihat ada sebuah joli dan pemangku sedang Muput, siapa yang meninggal, paman?" tanya Muhibbin pada anggota keamanan desa itu.


"Nanti Nak Bagus akan tau sendiri."


"Biar Jero Pecalang yang menjelaskan situasinya." ujar lelaki itu pada kedua pemuda dibelakangnya.


Ketiganya tak melalu pintu depan balai banjar, namun memutar kesamping balai banjar Manguntur langsung menuju ke ruangan dimana Jero Pecalang dan Prawira Utama Bhayangkara berada, terlihat juga Jero Balian Kanta dan beberapa pasukan Bhayangkara pun di ruangan itu.


Melihat kedatangan dua pemuda bersama salah seorang anggota keamanan desa, pandangan Jero Pecalang tercekat.


Lelaki berbadan kekar itu beranjak dari tempat duduknya dan memeluk tubuh salah seorang pemuda yang tak lain Muhibbin, nafasnya terasa berat dan matanya mulai berkaca-kaca menatap pemuda di hadapannya.

__ADS_1


"Paman!"


"Ada apa ini, paman?" tanya Muhibbin keheranan dengan sikap Jero Pecalang yang tak seperti biasanya. Lelaki yang biasanya terlihat tegas dan lugas itu masih dengan menahan rasa kesedihan membawa Muhibbin duduk disebelahnya.


"Jero Perbekel, Nak Bagus!"


"Jero Perbekel." ujar Jero Pecalang lirih, matanya tak kuasa memandang ke arah pemuda itu.


"Ada apa dengan Ajik, paman?"


"Katakan paman!"


"Jero Balian, tolong katakan apa yang terjadi?"


"Mengapa para warga berkumpul di balai banjar dan mengapa ada Joli di depan?" kini pandangan Muhibbin mengarah pada Jero Balian Kanta yang juga berada di sebelah Prawira Utama Bhayangkara.


Semua yang ada di ruangan balai banjar Manguntur itu terdiam seribu bahasa dan dengan wajah menahan kesedihan suasana malam menjelang pagi itu semakin pilu.


"Tabahkan hatimu, Nak Bagus."


"Sesuatu yang mengerikan telah terjadi pada seluruh keluargamu." ujar Jero Pecalang terbata-bata, lelaki itu terlihat menghela nafas dalam-dalam menahan apa yang dirasakannya.


"Kami mendapati kediaman Jero Mekel terbakar dan Ajik serta ibumu tak selamat."


"Ni Mas Sekar dan keponakanmu sekarang dalam keadaan kritis."


"Sementara kakakmu Cahaya tak kami temukan keberadaannya." jawab Jero Pecalang pada Muhibbin. Suara lirih kepala keamanan desa Batubulan itu terdengar bagaikan sambaran halilintar di telinga Muhibbin.


Lelaki itu menceritakan semua yang terjadi hingga dirinya dan para warga mendapati Jero Perbekel dan Sekar tergeletak dengan luka akibat senjata tajam dan dua orang yang terkurung di sebuah kamar dengan kondiri tubuh terbakar yang tak lain bu Suratmi dan Raya Suci.


"Tak mungkin, paman!"


"Tak mungkin!"


Pekik Muhibbin tak percaya sambil mengguncangkan pundak Jero Pecalang,


"Jero Balian, katakan ini tak benar!" kini Muhibbin bangkit menghampiri Balian Kanta dan kembali pemuda itu mengguncang-guncangkan bahu lelaki tua itu, kini air matanya tak terbendung lagi.


Pemuda itu histeris mendapati kenyataan yang menimpa seluruh keluarganya, bayangan seluruh keluarganya menyeruak dalam benak Muhibbin.


Semua yang ada diruangan itu merasa iba melihat pemandangan didepannya. Kejadian yang menimpa seluruh keluarga Jero Perbekel sangat melukai perasaan seluruh warga Manguntur.


"Dimana mereka, paman?" tanya Muhibbin pada Jero Pecalang, pemuda itu sesenggukan duduk bersimpuh di lantai dengan wajah tertunduk, sesekali dia terlihat menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Dia tak menyangka kepergiannya siang hari sebelumnya mengantar Sariwati ke kediaman Resi Giri Waja merupakan perjumpaan terakhir bersama orang-orang yang dicintainya.


"Bangunlah, Nak Bagus."


"Aku tau kejadian semua ini sangat berat bagimu, kami pun merasa kehilangan sepertimu."


"Mari, aku antar dirimu melihat seluruh keluargamu." ujar Jero Pecalang sambil merengkuh pundak pemuda yang bersimpuh di depannya.


Dengan langkah gontai Muhibbin mengikuti Jero Pecalang menuju ruangan tengah balai banjar Manguntur, semua yang berada di ruangan itu mengekor mengikuti keduanya.


Dua tubuh tertutup kain jarik terbujur kaku di balai bambu yang ada di tengah ruangan, beberapa lelaki berpakaian putih melantunkan puja-puji mantra mengitari jazad di depannya.


Rombongan Jero Pecalang dan Muhibbin memasuki ruangan tengah itu, Muhibbin bergegas berlari menyeruak diantara para pria berpakaian putih yang sedang melantunkan doa.


Tubuh pemuda itu bergetar tatkala mendekati kedua jazad orang yang sangat di kasihinya, tubuhnya terjatuh duduk bersimpuh dengan pandangan nanar kearah dua jazad di hadapannya.


Dengan pelan di bukanya kain jarik yang menutupi kedua jenazah itu, tubuh Muhibbin semakin bergetar dan histeris,


"Tidak!"


"Ajik, Emak!" pekiknya, tangisannya semakin menjadi melihat kondisi kedua tubuh didepannya. Jazad pak Nengah Wirata yang penuh luka dan bekas hunjaman senjata tajam di dadanya serta bu Suratmi yang kondisinya tak jauh beda dan mengenaskan dengan luka bakar hampir disekujur tubuhnya membuat siapapun yang melihat tak akan kuasa menahan kesedihan dan kegeraman.


"Tidak!"


"Ini tidak mungkin!"

__ADS_1


"Tidak!" teriak Muhibbin diantara tangisannya, dengan tangan mengepal pemuda itu terus menerus memukul lantai melampiaskan apa yang dirasakannya.


Jero Pecalang dan Balian Kanta menyeruak memegang tubuh Muhibbin yang mulai tak terkendali. Pemuda itu berusaha melepaskan diri dari dekapan Jero Pecalan dan Balian Kanta.


"Nak Bagus, sabar!"


"Iling, Nak Bagus!"


"Iling!" ujar Jero Pecalang menenangkan Muhibbin, akhirnya setelah berapa saat kedua orang tersebut dapat menenangkan Muhibbin dan sang pemuda kembali duduk bersimpuh sesenggukan.


"Kendalikan dirimu, Nak Mas."


"Aku tau ini tak mudah bagi dirimu."


"Untuk saat ini lebih baik kita mengurus jenazah Jero Mekel dan ibu mu."


"Serta merawat keadaan adik dan keponakan mu."


"Setelah itu kita cari dan pastikan pelakunya mendapatkan ganjaran setimpal."


"Aku tak akan biarkan ini berlalu begitu saja, kalian adalah keluarga besar Manguntur."


"Sakit yang kau alami adalah sakit kami pula, hutang darah di balas darah, hutang nyawa di balas nyawa." ujar Jero Pecalang pada Muhibbin. Lelaki itu terlihat memapah sang pemuda di bantu oleh Balian Kanta meninggalkan ruangan tengah balai banjar Manguntur.


"Dimana adik dan keponakan ku, paman?"


"Lalu dimana kakakku berada saat ini?" tanya Muhibbin lirih setelah sedikit menguasai suasana hatinya, matanya sembab menatap Jero Pecalang dan Balian Kanta.


"Mereka ada di kamar sebelah, Nak Bagus."


"Saat ini para Cantrik jero Balian merawat keduanya."


"Lebih baik kau tunggu diluar dulu bersamaku, biar Jero Balian dan Cantriknya yang merawat sampai masa kritis mereka lalui."


"Tentang keberadaan kakakmu Cahaya, para Bhayangkara dan keamanan desa sedang mencarinya." pungkas Jero Pecalang kembali.


"Betul yang dikatakan Jero Pecalang, Nak Bagus."


"Sebaiknya kau tunggu disini dulu, biarkan aku memeriksa kembali kondisi adik dan keponakanmu."


"Alangkah baiknya kau persiapkan prosesi pemakaman untuk ibumu, para warga akan membantu dan memenuhi apa yang kau perlukan untuk pemakaman bu Suratmi."


"Dan kau Jero Pecalang, bagai mana persiapan kremasi untuk Jero Mekel? apa semua sudah siap?" tanya Balian Kanta pada Jero Pecalang dan lelaki itu menganggukkan kepala,


"Sudah, Jero."


"Para warga sudah mempersiapkan semuanya." jawab pimpinan keamanan Desa Batubulan itu.


"Baiklah kalau begitu, kalian aku tinggal kedalam dulu."


"Aku akan memeriksa kembali keadaan Sekar dan Raya." pungkas Balian Kanta, lelaki tua itu terlihat menepuk pundak Muhibbin yang masih tertunduk disebelah Jero Pecalang dan berlalu meninggalkannya ke dalam ruangan kembali.


*****


Note :


Terimakasih saya sampaikan kepada para sahabat KAHANAN yang masih bersabar dan setia mengikuti perjalanan tulisan ini.


Suport kalian sangat berarti bagi saya pribadi, walaupun tulisan ini masih jauh dari kata 'bagus'.


Salam.


**************


Sisya : pengikut, abdi


Joli : Tandu pembawa jenazah

__ADS_1


Muput : Rentetan prosesi upacara keagaaman.


__ADS_2