KAHANAN

KAHANAN
CH 96 - TERKUAKNYA DALANG KERUSUHAN PART II


__ADS_3

"Keterlaluan kau, Habsari!" tangan tuan Bendowo melayang ke wajah putri sulungnya, dengan wajah merah padam penguasa Dinasti Garuda Emas itu tak bisa menahan emosinya.


Nyonya Warika yang menyaksikan sang suami bersitegang dengan putri sulungnya bangkit dan memekik,


"Papi!"


"Cukup!" teriak wanita tua itu sambil menarik lengan suaminya.


"Biarkan, Mi!"


"Anak ini lama-lama kurang ajar pada kita!" jawab tuan Bendowo dengan nafas tersengal-sengal.


Habsari meraba pipinya yang terasa panas, pandangannya menyalang ke arah kedua orang tuanya, matanya berkaca-kaca.


"Beginikah perlakuan Papi pada ku yang telah banyak berkorban untuk ambisinya?"


"Akan ku balas semua ketidak adilan ini!"


"Aku benci Papi!" teriak Habsari histeris sambil berlari keluar dari kediaman tuan Timoti.


Nyonya Warika berusaha mengejar langkah Habsari,


"Habsari, tunggu!" teriak wanita tua itu pada putri sulungnya sambil menangis, namun Habsari tak bergeming dan terus berlari keluar tak menghiraukan teriakan sang ibu.


"Mami!"


"Mami!"


"Papi, Mi! suara teriakan Sariwati dari dalam ruangan utama memanggil sang ibu.


Nyonya Warika bergegas kembali kedalam ruangan setelah mendengar teriakan Sariwati, dengan wajah sembab dan linangan air mata wanita tua itu menghampiri tubuh suaminya yang tergeletak pingsan di pangkuan Sariwati.


" Papi mu kenapa, Wati?"


"Papi, bangun Pi!" isak nyonya Warika mengguncang-guncangkan tubuh suaminya, namun tak ada reaksi dari tuan Bendowo.


"Wati, cepat tolong Papimu!"


"Cepat, Wati!" seru nyonya Warika pada sang putri.


Dengan linangan air mata, Sariwati memeriksa keadaan ayahnya, gadis itu berlari ke arah kamarnya meninggalkan tuan Bendowo yang masih pingsan dan kini berada di pangkuan ibunya. Tak berapa lama gadis itu kembali dengan membawa peralatan pengobatannya yang diambilnya didalam kamar.


Dengan hati-hati, Sariwati membakar jarum-jarum kecil yang diambilnya dari kotak peralatan, tangannya terlihat menusukkan jarum-jarum itu di beberapa titik di tubuh sang ayah.


Waktu pun terasa enggan berlalu dan melambat, hampir beberapa lama akhirnya tuan Bendowo tersadar dari pingsannya , terlihat kelopak mata tuan Bendowo terbuka perlahan, nafasnya tersengal-sengal, matanya memandang ke arah istri dan putrinya.


"Aaahhhh" erang tuan Bendowo meringis kesakitan sambil memegang dadanya.


"Mami tunggu disini, Wati akan cari bantuan Mi!" ujar Sariwati pada sang ibu, gadis itu kembali bergegas meninggalkan tuan Bendowo yang mulai tersadar di pangkuan nyonya Warika.

__ADS_1


Tak selang berapa saat, Sariwati kembali bersama dua orang penjaga, gadis itu meminta kedua penjaga di dekatnya untuk mengangkat tubuh tuan Bendowo ke dalam kamar.


"Tolong kalian angkat dan bawa Papi ke kamar!" ujar Sariwati.


Penjaga-penjaga itu membawa tuan Bendowo ke salah satu kamar yang ada di bangunan tersebut, nyonya Warika bersama Sariwati mengekor dibelakang sambil terus terisak.


"Penjaga, tolong kamu cari dan susul ayah Timoti untuk segera pulang!" perintah Sariwati pada kedua penjaga yang membantunya itu, keduanya segera berlalu dari kamar dimana tuan Bendowo masih tergeletak kesakitan.


"Wati, bagaimana keadaan Papimu?"


"Apa yang terjadi, Nak!" ujar nyonya Warika pada Sariwati yang masih memberikan pertolongan darurat pada sang ayah.


"Papi terkena serangan jantung, Mi."


"Wati akan berusaha sekuat tenaga untuk menolong Papi." jawab gadis itu tanpa menoleh pada sang ibu, tangan lentiknya masih menusukkan beberapa jarum ke tubuh sang ayah, nyonya Warika masih terisak dan sesekali wanita tua itu menyeka kening suaminya yang mulai berkeringat.


***


Sementara di pusat komando Bhayangkara Negeri Pantai,


Tuan Timoti melangkah meninggalkan ruangan penjara bawah tanah dimana Muhibbin masih berada di dalamnya, pimpinan Negeri Pantai itu menuju ke ruangan dimana Prawira Utama dirawat oleh tabib.


Seseorang menghampiri tuan Timoti , orang itu tak lain adalah Wakil Prawira Utama Bhayangkara.


"Selamat siang, Tuan."


Sorot mata tuan Timoti memandang tajam lelaki di depannya.


"Dari mana saja kau, hingga baru datang menemui ku?"


"Menurut laporan Bhayangkara yang lain, beberapa hari ini kau tak pernah terlihat bertugas."


"Dan saat penangkapan pemuda itu, kau pun tak terlihat di lokasi kejadian mendampingi Cokro dan yang lain."


"Apakah kau tak tau bahwa Cokro sedang terluka saat menjemput pemuda yang ada di tahanan bawah tanah itu?" tanya tuan Timoti pada Wakil Prawira Utama Bhayangkara tersebut.


"Maafkan saya, Tuan."


"Beberapa hari ini saya tak enak badan, sehingga tak pernah bertugas,Tuan." ujar Wakil Pimpinan Bhayangkara itu, wajahnya terlihat gelisah tatkala pandangan mata tuan Timoti menelisik dingin kearahnya.


Tuan Timoti melihat perubahan gestur tubuh Wakil Pimpinan Bhayangkara tersebut, dengan suara lirih namun terdengar tegas, tuan Timoti kembali bertanya,


"Saat insiden pembantaian dan pembakaran rumah yang dialami perbekel desa Batubulan sekeluarga, kau berada dimana?" kembali penguasa Negeri Pantai itu bertanya pada Wakil Prawira Utama Bhayangkara.


"Saat itu saya berada di rumah sanak saudara saya di luar kota, Tuan."


"Karena saudara saya meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahnya." jawab lelaki itu pada tuan Timoti yang terus memandangnya dengan dingin.


"Benar yang kau katakan itu?"

__ADS_1


"Apakah kau tak sedang menjalankan misi lain diluar tugas pasukan Bhayangkara?" tanya tuan Timoti pada Wakil Prawira Utama Bhayangkara.


mendapat pertanyaan tak terduga seperti itu, Wakil Pimpinan Bhayangkara Negeri Pantai tersebut tergagab dan suaranya bergetar menjawab,


"Be-betul, Tuan."


"Saya berada di kediaman saudara diluar kota dan saat itu kesehatan saya tidak memungkinkan untuk kembali dan bertugas, Tuan." ujar Wakil Pimpinan Bhayangkara.


"Kurang ajar!"


"Kau masih berkelit!"


"Semua laporan tentangmu beberapa hari ini sudah lengkap ditangan ku."


"Sebaiknya kau katakan yang sebenarnya, kemana saja kau beberapa hari ini?" suara tuan Timoti mulai meninggi.


"Betul, Tuan."


"Saya berkata apa adanya pada tuan." jawab Wakil Pimpinan Bhayangkara itu pada sang gubernur.


"Haram jadah!"


"Kau masih tidak mau berkata jujur padaku!" hardik tuan Timoti pada lelaki dihadapannya sambil menggebrak meja, wajah sang gubernur merah padam menahan amarahnya.


"Penjaga! bawa orang ini keruang tahanan, nanti aku sendiri yang akan interogasi sampai dia berkata jujur pada ku." teriak tuan Timoti pada Bhayangkara yang sedang bertugas.


Dua orang penjaga terlihat beringsut mendekat kearah Wakil Pimpinan Bhayangkara, namun lelaki itu menyurutkan langkahnya sambil berkata,


"Tunggu dulu, Tuan!"


"ini salah paham."


"Apa salah saya hingga akan dibawa ke ruang tahanan?" ujar wakil Prawira Utama pada tuan Timoti di hadapannya.


"Kau tak perlu banyak berkilah!"


"Aku sudah dapat laporannya semua tentang sepak terjang mu beberapa hari ini."


"Penjaga! cepat bawa orang ini ke dalam ruang tahanan." perintah tuan Timoti.


Kedua orang penjaga menggelandang Wakil Pimpinan Bhayangkara menuju ruang tahanan.


"Lepaskan saya!"


"Lepaskan!"


"Saya tak bersalah, Tuan!" teriak Wakil Pimpinan Bhayangkara sambil meronta diantara kedua penjaga yang mengapitnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2