
"Wati, kemarilah. Tinggalkan semua pekerjaanmu, ikuti aku!" ujar tuan gubernur Timoti melihat Sariwati yang sedang sibuk membantu Jero Balian disebuah bangunan berwarna putih yang digunakan sebagai pusat pelayanan kesehatan Negeri Pantai.
Keduanya bergegas meninggalkan Jero Balian yang masih sibuk bersama cantrik-cantriknya. Sejurus kemudian tuan Timoti dan Wati menuju selasar sebuah bangunan berbentuk limas dengan ornamen ukiran khas Negeri Pantai. Terlihat tiang-tiang penyangga atau saka dari bangunan itu terukir motif bun berpatra welandi menambah kesan elegan dan klasik.
"Duduklah, ada yang perlu paman bahas dengan mu!" tuan Timoti mengambil posisi kursi yang menghadap ke kolam ikan, sedangkan Sariwati mengambil kursi yang tak jauh dari hadapannya.
"Wati, sudah hampir setahun kau tinggal bersama paman dan banyak membantu di pusat kesehatan bersama Jero Balian. Apakah kau betah di sini dan tak ada niatan dirimu kembali ke Negeri Banjir menemui kang mas Bendowo dan mbak yu Warika orang tua mu?" tanya sang gubernur, matanya terlihat menerawang jauh dengan sedikit gurat-gurat kecemasan diwajahnya.
"Kenapa tiba-tiba paman bertanya seperti itu?"
"Apakah paman tak menghendaki keberadaan ku disini?" tanya wati.
"Bukan begitu Wati, Paman hanya merasa prihatin dengan keadaan mu, walau bagaimana pun paman bisa merasakan bagaimana rasanya jauh dari orang tua dan lingkungan yang kita cintai. Walau keberadaan mu di negeri ini tak diketahui oleh orang tua mu namun lambat laun pasti kang mas Bendowo akan mengetahuinya juga."
"Kehadiran mu di negeri ini sedikit banyak telah membantu paman dan Jero Balian dalam pengembangan pusat kesehatan Negeri Pantai namun kau tau sendiri bagaimana statusmu dan masa hukuman mu belum berakhir." ujar lelaki itu berdiri, di ambilnya sejumput pelet dan ditebarkannya ke kolang ikan.
"Kondisimu sekarang lebih baik dari sebelum kamu bertemu paman, sisik-sisik di wajah dan kulit tubuhmu sudah mulai tak nampak, bukankah itu pertanda masa hukuman mu selama ini telah berakhir? ujar sang gubernur kembali.
Sariwati hanya terdiam mendengar perkataan pamannya, sudah hampir satu windu dia berkelana dan akhirnya menetap di Negeri Pantai. Pikiran wanita itu menerawang mengulik kembali kejadian demi kejadian yang dialaminya selama ini. Hal itu dimulai sejak kejadian memalukan yang ditimpakan kepadanya delapan tahun silam dimana dirinya menjadi tertuduh dari kejadian yang tak pernah dilakukannya sehingga sang ayah menjatuhkan hukuman dan mengusirnya dari Negeri Banjir.
"Tapi itu berpulang pada mu, Wati. Paman tak keberatan jika kau masih ingin menetap di negeri ini."
__ADS_1
"Toh juga paman tau bagaimana karakter orang tua mu, utamanya ayah mu. Keluarga besar kita lebih mementingkan harta dan kekuasaan dari pada ikatan pertalian darah"
"Iya paman, rasanya aku tak mungkin kembali ke rumah walaupun apa yang terjadi pada diriku dan kutukan itu telah menghilang. Aku ragu paman, apakah keluarga besar ku akan menerimaku kembali terutama papi dan kak Mecha." ujar gadis ayu itu.
Selama berada bersama tuan Timoti dan aktifitasnya membantu Jero Balian dalam melayani pengobatan dan kesehatan masyarakat Negeri Pantai tanpa disadari sisik-sisik di tubuh Sariwati menghilang sebagaimana tuah dari Giok Hujan yang dibawanya. Masih teringat jelas kata-kata sang ayah bahwa dirinya akan sembuh dari kutukan itu jika banyak melakukan kebaikan dan menyesali semua kesalahannya.
"Aku sudah merasa nyaman di negeri ini, Paman."
"Ku rasakan ketulusan orang-orang disekitar ku dan keramahan warga Negeri Pantai. Beda dengan yang ku alami di Negeri Banjir yang semua hanya kepalsuan karena kebanyakan mereka melihat aku salah satu cucu mendiang raja Harsuto."
"Apalagi keahlian ku dalam pengobatan bisa bermanfaat untuk masyarakat negeri ini, Paman." pungkas Sariwati.
"Aku lihat ada yang ingin paman sampaikan dan tak biasanya paman bertanya seperti itu dan terlihat gelisah," tanya Sariwati pada tuan Timoti.
"Kau benar! semalam paman mendapat kabar dari caraka yang paman tempatkan di Negeri Banjir,"
"Habsari telah pulang dari Benua Angin!" imbuh lelaki itu.
"Nawala yang ku dapatkan bahwa dia akan menggulingkan kekuasaan ayahmu!"
Serasa disambar petir Sariwati terkesiap mendengar berita dari tuan Timoti.
__ADS_1
"Bagaimana bisa paman, bukankah kakak adalah darah daging papi. Sangat tak masuk di akal jika kak Habsari bertindak jauh seperti itu," mata Sariwati penuh kecemasan.
"Aku harus segera kembali ke Negeri Banjir dan memperingatkan papi sebelum hal ini terjadi!" pekik Sariwati penuh emosi.
"Kau jangan bodoh! Diri mu tau bagaimana watak Habsari, Dia sanggup bertindak diluar yang pernah kita bayangkan. Apalagi menyangkut kekuasaan dan harta."
"Apalagi berita dari caraka ini ada kaitannya dengan mu dan Giok Hujan yang kau miliki, Paman tak ingin terjadi apa-apa pada mu."
"Lebih baik kau berada disini, jauh dari jangkauan mereka." ujar sang gubernur lugas.
"Tapi paman?"
"Tak ada tapi-tapian, untuk kali ini turuti nasehat paman!" pungkas tuan Timoti
****
--------------------------------------
*Motif Bun : ukiran berbentuk daun ketela rambat
*Patra welandi atau ulandi : jenis motif ukiran berasal dari eropa mengadopsi bentuk tumbuhan merambat dengan daun lebar maupun kecil dan bunga
__ADS_1