
Sebuah kereta kuda sederhana memasuki halaman kediaman tuan gubernur, terlihat beberapa orang turun dan merangsek menuju kediaman sang gubernur. Seorang lelaki tua di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya melangkah menuju pintu bangunan megah itu.
"Om Swastiatu, selamat sore tuan gubernur." ujar lelaki tua itu masih berdiri di depan pintu sedangkan orang-orang yang mengikutinya berdiri berjajar di belakangnya.
"Mari Jero Mekel, silahkan masuk." ujar tuan Timoti menyambut tamunya yang baru saja datang dan mata orang-orang yang ada di dalam ruangan itu lekat memandang kedatangan para tamu di depannya. Sang gubernur melangkah kedepan pintu mempersilahkan setelah mengetahui siapa yang datang.
Rombongan pak Nengah memasuki ruangan dan terlihat orang-orang itu melepas alas kakinya sebelum masuk ke dalam, melihat kejadian itu tuan Bendowo dan tuan Haryo tersenyum sinis begitu pula yang lain yang berada di ruangan itu, kasak kusuk terjadi di dalam ruangan tamu.
"Tak perlu di lepas alas kaki kalian, pakai saja!" seru tuan Timoti pada pak Nengah dan rombongannya.
"Biarkan saja Tim, toh juga pelayanmu tak akan repot-repot membersihkan lantai yang di injak oleh mereka," sela seseorang dari dalam.
"Jadi ini para tamu yang akan kau pertemukan dengan kami, Tim?" ujar tuan Bendowo sinis setelah melihat kedatangan rombongan pak Nengah. Tuan gubernur hanya menganggukkan kepala dengan tatapan tak suka mendengar pertanyaan tuan Bendowo.
"Mari Jero, silahkan duduk." ujar tuan Timoti kembali.
Pak Nengah yang tak menyangka mendapat sambutan seperti itu berkata,
"Terimakasih tuan, namun apakah pakaian yang melekat di tubuh kami tak akan mengotori kursi milik tuan?" ujar pak Nengah pada sang gubernur membalas sindiran tuan Bendowo.
Walaupun dirinya tak menghendaki hubungan dekat Sariwati dan Muhibbin, namun sikap yang ditunjukkan tuan Bendowo membuatnya malu dihadapan pak Nengah dan rombongannya. Tuan Timoti yang tak enak hati pada tamunya atas perkataan tuan Bendowo, "Sudahlah, Kita sudah lama saling kenal, kau tak perlu sungkan, Jero." ujar sang gubernur pada Jero Mekel.
Akhirnya rombongan pak Nengah pun duduk di kursi dihadapan tuan Timoti dan keluarganya. Perasaan Muhibbin yang sedari perjalanan menuju kediaman sang gubernur sudah campur aduk membuat pemuda itu hanya tertunduk mendengar perkataan salah seorang yang duduk di sebelah tuan Timoti, sedangkan Suratmi dan Cahaya tak kalah terkejutnya atas sambutan keluarga tuan rumah hanya bisa terdiam.
"Perkenalkan Jero, yang di sebelahku ini adalah tuan Bendowo dan istri beliau nyonya Warika,"
"Kang Mas Bendowo dan Mbak yu Warika ini papi dan mami Sariwati, beliaulah yang merawat putriku sedari kecil."
"Sedangkan yang diujung itu adalah tuan Haryo dan nyonya Dewi serta putranya Seto Nugroho kerabat kami dari Negeri Tidar." ujar tuan Timoti memperkenalkan keluarganya.
Pak Nengah menatap satu persatu orang-orang yang dikenalkan oleh tuan gubernur namun ketika tatapannya mengarah pada tuan Bendowo, papi dari Sariwati itu memandangnya dengan sinis, sedangkan Muhibbin yang mendengar nama Bendowo disebut-sebut oleh tuan gubernur memberanikan diri mengangkat wajahnya, pemuda itu bergumam dalam hati,
"Jadi lelaki ini yang bernama tuan Bendowo, seperti yang di ceritakan Gus Aji Putra sang Balian tua dari banjar Gelumpang itu."
Dada Muhibbin berdegup kencang tatkala sorotan mata tajam tuan Bendowo mengarah padanya seolah-olah ingin menelannya mentah-mentah. Pemuda itupun menundukkan kepalanya kembali.
"Nah, sekarang sudah lengkap semua, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada yang hadir di sore ini." ujar tuan Timoti kembali. Orang-orang yang ada di ruangan itu terdiam tatkala sang gubernur memulai percakapan.
"Jadi pemuda ini yang bernama Muhibbin, Jero?" tanya tuan Timoti pada pak Nengah. Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk mendengar pertanyaan sang gubernur dan wajah Muhibbin semakin di tekuknya dalam-dalam.
"Aku ingat, pemuda ini yang menggagalkan ulah Setyanto dan menyelamatkan nyawa Sariwati saat kekacauan itu."
"Pertemuan pada sore ini akan membahas mengenai masa depan anak-anak kita, sebelum nanti kang mas Bendowo dan mbak yu Warika saya beri kesempatan berbicara, alangkah baiknya Jero Mekel Nengah Wirata memberikan sepatah dua patah kata." orang-orang yang hadir di ruangan itu masih menyimak apa yang di sampaikan sang gubernur Negeri Pantai.
__ADS_1
Dengan tenang, pak Nengah Wirata menghela nafas sebelum memulai sambutannya. Lelaki tua itu terlihat berbisik pada Suratmi yang duduk diantara Cahaya dan dirinya, Wanita itu mengangkat telapak tangannya mempersilahkan Jero Mekel mewakili niatan kehadirannya di kediaman tuan Timoti.
"Begini tuan gubernur dan para hadirin yang saya hormati."
"Kedatangan kami di sore hari ini mempunyai niatan sebagaimana yang telah saya sampaikan secara pribadi pada tuan gubernur kemarin siang." ujar pak nengah, semua masih terdiam menyimak apa yang disampaikan lelaki paruh baya itu.
"Sebelumnya saya perkenalkan rombongan kami ini." satu persatu pak Nengah memperkenalkan anggota rombongannya pada keluarga tuan Timoti, sang gubernur melontarkan senyum pada pak Nengah dan keluarga Muhibbin.
"Niat kami datang di sore ini sebagai kelanjutan pembicaraan saya dengan tuan gubernur selaku Congkog dari keluarga ibu Suratmi dan Nak Bagus Muhibbin yakni Ngembun Embun Esuk Anjejawah Sonten perihal apakah Tembung Tutur hubungan lebih lanjut antara Nak Bagus Muhibbin dan Ni Mas Sariwati di terima oleh keluarga besar disini?" ujar pak Nengah.
Dengan panjang lebar Jero Mekel Nengah Wirata selaku wali yang dipercaya oleh keluarga Muhibbin mengutarakan semua niatannya, mendengar penuturan kepala desa Batubulan itu sang gubernur selaku ayah biologis Sariwati berkata,
"Jero Mekel, sebelumnya saya mohon maaf. Memang benar saya ini adalah ayah kandung dari Sariwati namun semua ini telah kami musyawarahkan di dalam keluarga kami dan yang berhak menjawab niatan yang Jero sampaikan tadi adalah kang mas Bendowo dan mbak yu Wrika selaku papi dan mami yang merawat Sariwati sejak kecil."
Pandangan tuan Timoti tertuju pada tuan Bendowo dan nyonya Warika. Lelaki itu mempersilahkan pada tuan Bendowo memberi tanggapan atas niatan Muhibbin sekeluarga.
Sebelum bertanya, pandangan Bendowo menatap lekat-lekat pada Muhibbin yang ada di hadapannya.
"Jadi kau yang bernama Muhibbin?" tanya lelaki itu pada pemuda yang sedari tadi tertunduk dihadapannya.
"Betul, Tuan." jawab Muhibbin lirih.
"Sebelum aku menanggapi niatanmu terhadap putriku, aku ingin bertanya dan memastikan beberapa hal pada mu dan keluargamu." imbuh Bendowo dan Muhibbin hanya mengagguk pelan tanpa berani menatap wajah lelaki paruh baya di depannya.
"Saya bekerja membantu mengurus ternak ayah angkat saya,Tuan."
"Dan selain itu saya membuat patung dan lukisan di sela-sela mengurus ternak dan mengurus surau." jawab Muhibbin terbata-bata.
Tersungging senyuman sinis di wajah Bendowo mendengar jawaban pemuda di hadapannya. Lelaki itu melanjutkan pertanyaannya,
"Lalu apa latar belakang orang tua kandung mu dan apa kegiatannya sehari-hari serta dari mana kalian berasal?" imbuhnya.
"Saya hanya janda tua yang tidak bekerja, Tuan."
"Almarhum ayah Muhibbin hanya buruh di sebuah perkebunan kopi milik keluarga besar kerajaan Zamrud."
"Kami berasal dari sebuah negeri di timur pulau jelai yaitu Negeri Batu Ular."
Suratmi pun angkat bicara mendengar pertanyaan tuan Bendowo.
"Lalu kalau tak bekerja dari mana kamu dan anakmu makan untuk sehari-harinya?" tanya Bendowo memandang sebelah mata.
"Alhamdulillah walaupun kami hidup sederhana, ada sepetak sawah dan kebun yang di kelola oleh saudara saya yang kebetulan juga di garap oleh santri-santri dari pesantren almarhum mertua saya, Tuan." jawab Suratmi kembali.
__ADS_1
"Dan dari hasil kerja anak saya Muhibbin yang dikirimkan pada kami setiap bulannya." imbuh wanita tua itu.
Panjang lebar Suratmi bercerita tentang latar belakang keluarganya, nyonya Warika dan tuan Timoti yang sedari tadi terdiam mendengarkan cerita ibu Muhibbin timbul perasaan kagum terhadap keluarga pemuda itu walaupun kehidupannya tak seglamor kehidupan keluarga dinasti Harsuto yang bergelimang harta dan kemudahan, sikap itu bertolak belakang dengan sikap Bendowo selaku pemegang dan pewaris kekuasaan dinasti Harsuto saat ini, lelaki itu terlihat angkuh dan sinis memandang sebelah mata orang-orang di depannya.
"Hanya sepetak sawah dan kebun serta penghasilan sebagai buruh angon ternak, kalian berani melamar putriku?"
"Mau di beri makan apa anakku?"
"Kalian tau siapa aku dan siapa Sariwati?" ujar Bendowo. suasana di ruangan itu semakin kaku dan lelaki paruh baya itu berkata kembali,
"Apa kalian tau siapa pemilik perkebunan kopi yang kalian sebut dari keluarga kerajaan Zamrud itu?"
"Itu semua milikku!"
"Kalian hidup selama ini, aku yang gaji!" suara Bendowo meninggi.
Semua yang berada di ruangan itu terdiam dan terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan tuan Bendowo terutama Muhibbin dan keluarganya, Jero Mekel selaku wali dari anak angkatnya merasa jengah dengan apa yang di dengarnya, lelaki tua itu berkata,
"Harta dan tahta tak bisa menjamin sebuah kebahagiaan bagi pemiliknya, Tuan."
"Kebanggaan orang kecil adalah tatkala bisa berlaku jujur dan menjunjung tinggi moral sebagai kehormatannya." ujar jero balian menimpali perkataan tuan Bendowo.
"Kita sebagai orang tua hanya bisa mengamini dan merestui cinta kasih anak-anak kita, Tuan." imbuhnya.
Tuan Bendowo yang mendengar sanggahan dan sindiran Jero Mekel semakin gusar dan naik pitam, sang penguasa dinasti Garuda Emas itu pun berkata dengan berapi-api,
"Jumawa!"
"Hidup tak hanya dengan cinta, tahta dan kekayaan juga sangat di perlukan."
"Moral mana yang tak bisa di beli dengan harta?"
"Kehormatan mana yang tak bisa diraih dengan tahta?"
"Dan kau pemuda!"
"Matamu masih bisa melihat dengan jelas, anak siapa yang hedak kau persunting?"
"Seharusnya kau bisa mengukur tingginya gunung serta dalamnya lautan kecuali penglihatanmu buta seperti orang tuamu itu!" pekik Bendowo.
*Ngembun embun Esok Anjejawah Sonten : memastikan kembali pembicaraan sebelumnya
__ADS_1