
"Tuan ... tuan!"
"Anda sekalian di persilahkan masuk oleh Nyonya besar." ujar seorang wanita tua yang tak lain pelayan tuan Sirkun sambil tergopoh-gopoh keluar dari dalam kamar.
"Bagaimana keadaan anakku?"
"Mengapa kita tak mendengar suara tangisan bayi dari dalam kamar?" seru tuan Timoti pada Pelayan yang baru saja memberitahu mereka.
"Sebaiknya Tuan masuk saja, saya tak berani menyampaikan semuanya."
"Saya diperintahkan untuk manggil Balian gubernuran untuk datang kemari oleh Nyonya besar." jawab wanita tua itu sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa ini?"
"Mengapa perlu mendatangkan Balian gubernuran?"
"Apa yang terjadi dengan Wati dan anaknya?" kini tuan Bendowo ikut menyela, namun Pelayan itu diam tak menjawab.
Mendengar informasi dari Pelayan tua itu, tuan Bendowo bergegas menyeruak masuk ke dalam kamar bersama tuan Timoti dan tuan Sirkun. Wajah ketiganya tak bisa menutupi rasa kekhawatiran.
"Mami!"
"Apa yang terjadi dengan Wati dan bayinya?" seru tuan Bendowo pada sang istri, nampak nyonya Warika menangis tersedu di samping tubuh Sariwati yang tak sadarkan diri, sementara seorang bayi merah terbungkus kain berada disamping Sariwati yang masih tak siuman.
Wajah-wajah sedih bercampur cemas terpancar dari rona muka orang-orang yang ada didalam kamar itu, namun hanya seseorang yang dengan wajah dingin masih tak bergeming di sudut ranjang, wanita itu adalah Habsari.
Nampak terlihat wanita itu sesekali tersenyum sinis menyaksikan orang-orang disekitarnya.
"Apa yang terjadi dengan Wati, Mbak Yu?"
"Mengapa Wati tak sadarkan diri dan bayinya pun tak bergerak?" kini tuan Timoti bersuara, tatapannya nanar melihat putri dan bayi berselimut kain didepannya.
Nyonya Warika hanya terisak sambil tangannya mengusap kepala putrinya yang ada di pangkuannya. Istri tuan Bendowo itu sesenggukan tak menghiraukan pertanyaan kerabatnya.
"Ni sanak, ada apa ini?" kini wajah tuan Timoti tak bisa menutupi rasa kekhawatirannya.
Dengan menghela nafas, Paraji itu berkata,
"Ni Mas Wati banyak kehilangan darah saat persalinannya, Tuan."
"Proses persalinan bayi perempuan beliau sangat sulit."
"Bayinya sungsang dan ari-ari sang bayi melilit ditubuh serta lehernya, sehingga mempersulit proses kelahirannya." jawab Paraji yang membantu persalinan Sariwati tersebut lirih, wajahnya tertunduk penuh hormat pada orang dihadapannya.
"Maksudnya apa semua ini?"
"Mengapa Wati dan bayinya seperti ini?" kembali tuan Timoti memberondong pertanyaan pada sang Paraji.
"Ni Mas Wati saat ini kritis dan perlu penanganan Balian, Tuan."
"Sementara bayinya tak tertolong, Tuan" jawab Paraji tua itu lirih dengan wajah masih tertunduk.
"Saya tak bisa menolong bayi putri Tuan."
"Saya tak memiliki banyak kemampuan dalam pengobatan." imbuh Dukun wanita itu kembali.
"Tidak!"
"Tidak Mungkin." pekik tuan Timoti sambil beringsut mendekat ke arah putrinya yang terbaring.
Semua orang didalam kamar itu terpaku, sesekali terdengar isak tangis nyonya Warika.
Suasana hening bercampur sendu sangat terasa, tiba-tiba sebuah suara memecah suasana kamar tersebut,
"Untuk apa kalian tangisi semuanya?"
"Lebih baik anak itu mati daripada hanya menjadi aib keluarga besar Harsuto." ujar Habsari ketus, senyum sinis dan ekspresi kemenangan tersirat dari wajahnya.
"Jaga mulutmu, Habsari!" hardik tuan Bendowo pada anak sulungnya.
"Tak sepantasnya kau berkata seperti itu pada adik dan keponakan mu!" kini mata tuan Bendowo memerah penuh kegeraman pada Habsari.
"Ya, memang lebih baik begitu!"
"Daripada bayi itu menjadi aib keluarga!" sanggah Habsari pada ayahnya.
Susana panas dan tegang terjadi di ruangan itu, perdebatan Habsari dan tuan Bendowo semakin meruncing.
Melihat situasi seperti itu, tuan Sirkun berbisik pada tuan Timoti, sesaat kemudian Pengusaha dermawan tersebut memberikan isyarat pada Disya putrinya dan Paraji tua itu untuk keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal ketiganya, kembali terjadi perdebatan antara anak keturunan keluarga besar dinasti Garuda Emas itu.
"Habsari, jaga bicaramu!"
"Sikapmu tak mencerminkan martabat seorang ningrat!"
"Tutur perkataan mu seperti orang yang tak tau aturan!" kini tuan Timoti angkat bicara, nampak kegusaran di wajah pemimpin Negeri Pantai itu.
"Justru anakmu itu yang perlu kau ajari tata krama dan arti kehormatan!"
"Anak yang dilahirkannya itu adalah anak Lembu Peteng yang tak jelas asal usulnya!"
"Jadi kau yang harus mendidik anakmu itu etika dan moral!" jawab Habsari dengan suara meninggi pada tuan Timoti, wajah wanita itu kini memerah.
"Apa maksud perkataan mu itu, Habsari?" ujar tuan Timoti pada wanita yang ada di hadapannya.
"Ya, apa maksud perkataan mu itu, Habsari?" kini nyonya Warika ikut bersuara ditengah isak tangisnya, sementara tuan Bendowo terdiam menahan kegeramannya pada putri sulungnya.
"Kalian tanyakan sendiri nanti, setelah anak sialan itu tersadar." ujar Habsari ketus dan melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Tak selang berapa saat setelah kepergian Habsari, seorang Balian tua pimpinan pusat alkimia Negeri Pantai, kepercayaan tuan Timoti memasuki kamar bersama Paraji tua yang menolong persalinan Sariwati tadi.
Balian itu memberi hormat pada tuan Timoti dan keluarganya sesaat sebelum mendekati tubuh Sariwati dan memeriksa kondisi wanita itu beserta bayinya.
"Tolong selamatkan anak dan cucuku, Balian!" seru tuan Timoti pada lelaki tua itu.
"Aku tak ingin kehilangan keduanya." imbuh sang Gubernur penuh iba, kini air matanya tak dapat ditahannya.
"Mohon maaf, Tuan."
__ADS_1
"Sebaiknya anda bertiga meninggalkan ruangan ini."
"Biar saya di bantu Ni Sanak ini untuk menangani Ni Mas Wati dan bayinya." ujar Balian tersebut sambil memandang ke arah Dukun wanita di dekatnya.
Tuan Timoti memandang kearah Kang Mas dan Mbak Yu nya yang masih berada di samping Sariwati dan meminta persetujuan keduanya, dengan isyarat anggukan kepala, tuan Bendowo mengajak istri dan adiknya keluar dari ruangan tersebut.
Kegelisahan dan rasa cemas masih terpancar di wajah-wajah orang yang ada di ruangan Selasar Rumah Budaya, sementara hiruk pikuk keramaian pagelaran budaya di luar halaman sudah mulai sepi, nampak terlihat pelayan-pelayan dan para pegawai tuan Sirkun mulai mengemasi peralatan dan perlengkapan pertunjukan.
Hari hampir menjelang tengah malam, namun dari dalam kamar tak ada tanda-tanda sang Balian maupun sang Paraji keluar kamar.
Wajah tuan Timoti semakin kusut demikian pula dengan tuan Bendowo dan nyonya Warika.
Sang Gubernur Negeri Pantai tersebut terlihat hilir mudik di depan pintu kamar.
Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar jeritan tangis seorang bayi dan tak selang berapa lama Paraji tua keluar membuka pintu dengan wajah sumringah.
"Keajaiban, Tuan-Nyonya!"
"Cucu Tuan kembali bernafas."
"Dan putri tuan sudah mulai siuman."
"Mari ikut saya kedalam, tuan Balian menyuruh anda sekalian masuk." ujar Paraji tua itu penuh kegembiraan.
Mendengar kabar itu, sontak tuan Timoti bersujud di atas ubin sambil tak henti-hentinya mengucapkan syukur dan sesaat kemudian Pemimpin Negeri Pantai itu bergegas kedalam kamar mengikuti Paraji tersebut.
Sementara tangis penuh rasa suka cita nyonya Warika pun tak tertahan sambil memeluk tuan Bendowo suaminya.
"Anak dan cucu kita selamat, Pi!" pekik wanita paruh baya itu sambil berlinangan air mata.
"Iya, Mi."
"Ayo kita kedalam temui mereka." jawab tuan Bendowo dengan wajah berseri.
***
"Permisi ... Ni mas, Den Ayu!"
"Maaf Meme mengganggu sebentar." tiba-tiba Me Iluh sang pelayan setia memasuki kamar dimana Tiara dan Ibunya berada.
Lamunan wanita yang terbaring diranjang itu buyar dengan kehadiran Pelayan setianya.
"Ada apa, Me?" ujarnya kembali pada sang Pembantu, sementara Tiara putrinya melepaskan pelukannya dari Wanita yang terbaring itu.
"Di luar ada Tuan besar dan Nyonya besar."
"Beliau baru saja tiba menaiki otto." ujar Me Iluh sopan, wanita tua itu mendekat ke arah ranjang.
Mendengar kabar dari sang Pembantu, wajah Wanita yang terbaring itu terlihat ceria.
"Benarkah Me?"
"Dimana beliau sekarang?" ujarnya antusias. Tiara yang berada di samping sang Ibu hanya terdiam.
"Saat ini beliau berdua berada di ruang tengah." imbuh Me Iluh kembali.
Belum selesai Me Iluh melanjutkan perkataannya, nampak wanita dan pria tua memasuki kamar itu.
"Wati!"
"Apa kabarmu, Nak?" ucapnya sambil menciumi wajah putrinya.
Sementara Lelaki tua yang bersamanya mendekat ke arah Tiara dan menyapa gadis kecil itu.
"Ini pasti Tiara."
"Cucu eyang sudah besar sekarang, ya." ujarnya sambil berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan gadis kecil yang masih terlihat bingung di depannya.
"Tiara!"
"Salim sama Eyang Kakung dan Eyang Putri, Nak!" ujar wanita yang terbaring itu pada putrinya.
Tiara dengan malu-malu meraih tangan lelaki tua yang jongkok didepannya yang tak lain adalah tuan Bendowo, Gadis kecil itu kemudian mencium tangan sang Kakek.
Sesaat kemudian Tiara melangkah mengitari ranjang ke arah wanita tua yang tak lain nyonya Warika kemudian mencium tangannya pula.
Dengan mata berkaca-kaca, nyonya Warika meluk tubuh Tiara dan menciumi wajah cucunya itu.
"Kau tumbuh menjadi anak yang cantik seperti Bundamu, Nak." ujar Wanita bangsawan itu.
"Eyang sangat rindu padamu, Tiara." imbuhnya kembali.
"Sini, duduk di samping Eyang." pungkas nyonya Warika sambil menepuk pinggiran ranjang dimana dia duduk.
Dengan wajah malu-malu dan rasa kikuk, Gadis kecil itu duduk disamping sang Nenek yang masih terlihat mengelus kepala ibunya yang terbaring.
Wanita yang terbaring tersebut tak lain adalah Sariwati, dia memandang wajah putrinya, senyum tipis tersungging di bibirnya yang nampak pucat mengering.
"Nak, Beliau berdua ini adalah eyangmu."
"Mungkin Tiara tak ingat dan tak mengenal, karena Beliau berdua ini kembali ke Negeri Banjir saat Tiara masih berusia dua tahun." ujar Sariwati memberi penjelasan pada putri semata wayangnya.
Tak sepatah katapun terlontar dari Gadis kecil itu, Tiara hanya memandang ke arah kakek dan neneknya bergantian.
Tuan Bendowo dan nyonya Warika hanya tersenyum melihat tingkah cucunya itu.
"Iya, mungkin Tiara tak mengenal Eyang Kakung dan Eyang Putri."
"Karena saat itu Eyang harus kembali ke Negeri Banjir, menyelesaikan urusan di sana saat Tiara masih kecil." ujar tuan Bendowo menimpali.
Suasana kamar itu menjadi hangat dengan obrolan-obrolan ringan sekaligus melepas rasa rindu keempatnya.
"Bagaimana kabar kak Mecha, Mi?" tanya Sariwati pada sang Ibu.
Terlihat nyonya Warika menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Sariwati.
"Saat ini Mecha sudah bersuami kembali."
"Sejak perpisahan dengan Setyanto suaminya yang dulu, kakakmu menjalin hubungan dengan pengusaha dari Negeri Angin."
__ADS_1
"Dan saat ini kakakmu ikut suaminya." ujar nyonya Warika.
"Syukurlah, Mi."
"Wati berharap mereka berbahagia." ucap Sariwati pada sang Ibu.
"Oh ya, bagaimana perkembangan sakitmu, Wati?"
"Apa masih tak ada perkembangan baik?" tanya nyonya Warika sambil mengamati sekujur tubuh putrinya yang terbaring itu.
"Entahlah, Mi."
"Mungkin ini suratan takdir Wati." jawab Sariwati lirih, kini kembali terlihat matanya berkaca-kaca.
Nyonya Warika dan tuan Bendowo hanya bisa menghela nafas melihat keadaan putri terkasihnya.
"Kau harus sabar, Nak."
"Semua ini ujian Allah padamu."
"Namun kau tak perlu berputus asa, Papi dan Mami akan berusaha mencari Tabib terbaik untuk kesembuhan mu." ucap nyonya Warika kembali.
Kini suasana kamar itu menjadi hening, keempatnya larut dalam pikiran masing-masing, baik itu Sariwati, nyonya Warika dan tuan Bendowo, sementara Tiara hanya bisa tertegun tak mengerti arah pembicaraan sang Ibu dan Eyangnya.
Tatapan nyonya Warika mengarah pada jendela, pikiran Wanita tua itu kembali menerawang ke masa tujuh tahun lalu dimana sang putri baru menjalani persalinan.
***
"Jero Balian, bagaimana keadaan anak dan cucu kami." ujar tuan Timoti pada Tabib kepercayaannya tatkala berada dalam ruangan.
Sementara tuan Bendowo dan nyonya Warika larut dalam suka cita melihat sang putri dan cucunya dapat diselamatkan.
"Keadaan Ni Mas Wati sudah mulai stabil, Tuan."
"Namun ada yang perlu saya sampaikan, Tuan." ujar Balian tua itu ragu-ragu.
Tuan Timoti terlihat mengernyitkan dahinya, tatapan keturunan dinasti Harsuto itu lekat memandang sang Balian.
"Katakan, Jero." ujarnya singkat.
"kondisi tubuhnya akan mengalami kelumpuhan."
"Itu disebabkan karena Ni Mas banyak kehilangan darah dan ada pembuluh sarafnya di bagian tulang punggungnya mengalami kerusakan." Balian tua terlihat menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Entah itu disebabkan apa, saya juga belum tau pasti."
"Kejadian ini baru saya temukan bagi orang yang menjalankan persalinan."
"Biasanya yang paling umum adalah disebabkan benturan benda tumpul atau yang bersangkutan jatuh dengan posisi salah, sehingga mengganggu sarafnya." ujar Balian itu memberi penjelasan.
"Tidak!"
"Tidak mungkin."
"Itu tak mungkin terjadi pada anakku, Jero!"
"Tolong selamatkan anakku, Jero!" ujar tuan Timoti bercucuran air mata. Baru kali ini Pria yang biasanya tenang berwibawa terlihat menangis dan kehilangan percaya dirinya.
Penjelasan Balian tua itupun membuat rasa suka cita orang-orang didalam kamar tersebut berubah menjadi rasa duka kembali.
"Sabar, Tim."
"Sabar!" nampak tuan Bendowo menepuk pundak tuan Timoti.
"Kita akan berusaha maksimal dan terbaik demi Wati."
"Kang Mas akan mencari penawar sakitnya, kalau perlu Kang Mas akan buat sayembara demi kesembuhan Wati."
"Yang terpenting saat ini, dia dan bayinya tertolong." ujar tuan Bendowo menguatkan tuan Timoti.
Nyonya Warika menangis tersedu-sedu sambil menggendong bayi yang berselimut kain didalam dekapannya, sementara Sariwati yang mulai siuman nampak terisak tanpa berkata apa-apa.
***
"Mami ... Mami kenapa?" suara tuan Bendowo membuyarkan lamunan sang istri.
Nyonya Warika terlihat menyeka air matanya,
"Tak apa-apa, Pi."
"Mami hanya sedih, sudah tujuh tahun Wati terbaring seperti ini."
"Tak ada tanda-tanda kemajuan untuk kesehatannya."
"Mami tak tega melihat kondisi anak kita, Pi."
"Apalagi cucu kita, Tiara sudah mulai besar."
"Mami tak ingin Tiara tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh." ujar nyonya Warika tersedu, wanita tua itu memeluk tubuh Tiara dan sebelah tangannya menggenggam jemari Sariwati yang kini turut menangis.
"Papi paham apa yang Mami rasakan."
"Lalu apa keinginan Mami saat ini?" seru tuan Bendowo lirih pada sang istri.
"Mami ingin menetap di sini, Pi."
"Biarkan di akhir usia senja kita, kita rawat bersama-sama Wati dan Tiara."
"Tak tega rasanya meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini, Pi." sahut nyonya Warika.
Tuan Bendowo nampak manggut-manggut dan menghela nafas,
"Baiklah, jika itu untuk kebaikan Wati dan Tiara, Papi setuju kita menetap di Negeri Pantai ini." pungkasnya sambil mengulas senyum pada sang istri dan Sariwati serta Tiara cucunya.
*****
Note Author:
Lembu Peteng: anak yang lahir diluar pernikahan.
__ADS_1
Paraji: dukun beranak.