KAHANAN

KAHANAN
CH 44 - HATI YANG GUNDAH PART II


__ADS_3

Terlihat Muhibbin menjalankan sembahyang magrib terpisah dengan Sariwati, tak selang berapa lama keduanya pun keluar dari surau yang ada di Villa Sandat kediaman Sariwati.


"Bin, apa kau sudah makan?"


"Aku persiapkan makan malam ya, untuk kita!" ujar Sariwati pada kekasihnya.


"Apa gak ngerepotin, Wati?"


"Tak usah lah, hari sudah petang. Tak baik nanti bila dilihat orang kita berduaan saja disini."


"Gak lah, Aku sudah masakin buatmu hari ini." jawab gadis itu berlalu.


Muhibbin hanya bisa diam termangu, sejurus kemudian Sariwati kembali keruangan tengah dengan masakan yang telah dia siapakannya.


"Ayo Bin, Kita makan malam dulu."


Keduanya pun makan malam bersama menikmati hidangan yang disiapkan Sariwati. Keheningan malam terasa dan tak sepatah katapun terujar diantara keduanya, tiba-tiba Sariwati memecahkan suasana keheningan malam.


"Bin, bagaimana rencana kedepannya tentang hubungan kita? apakah selamanya akan seperti ini?" ujar gadis ayu itu pada lelaki didepannya.


'Huk, huk'


Mendengar pertanyaan itu Muhibbin tersedak, buru-buru di ambilnya gelas berisi air yang ada didepannya dan meminumnya.


"Maksudmu gimana, Wati?" tanya lelaki itu.


Terlihat Sariwati menghela nafas dan menyelesaikan makan malamnya.


"Ya, hubungan kita akan di bawa kamana, Bin?"


"Apakah selamanya akan hanya seperti ini?" pungkas Sariwati.


Paras ayu gadis itu merona merah.


"Ya, Aku tau Wati."

__ADS_1


"Dirimu sendiri kan tau bagaimana keadaan ku. Disini aku hanya menumpang dan bekerja pada ayah angkat ku serta penghasilanku tak seberapa."


"Apalagi aku masih menanggung beban tanggung jawab keluarga ku di kampung, apakah kamu siap menerima keadaanku yang serba pas-pasan ini, Wati?" jawab Muhibbin, matanya lekat mandang wajah kekasihnya.


"Apakah itu hanya alasan klasik dirimu agar tak ingin menikahi ku, Bin?" jawab Sariwati ketus. Gadis itu terlihat bangkit dengan wajah masam merapikan bekas piring makanan dan membawanya ke arah belakang.


Muhibbin hanya menghela nafas melihat sikap Sariwati, "Hemm, salah lagi." gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia pun bangkit dan membawa piring-piring kotor ke arah belakang menyusul Sariwati.


Setelah beberapa saat, Muhibbin melangkah keluar ruangan tengah Villa Sandat menuju teras. Dia duduk di anak tangga sambil menghisap rokok yang di bawanya. Kepulan asap putih keluar berbarengan dengan helaan berat nafasnya.


"Sudah ku bilang, jangan merokok lagi! jaga kesehatanmu itu, Bin!" tiba-tiba Sariwati sudah berada dibelakangnya. Wanita ayu itu duduk di sebelah Muhibbin dengan wajah yang masih masam memendam kekesalan.


"Aku siap Bin, dengan keadaanmu. Rejeki itu Tuhan yang atur. Kita hanya bisa berusaha."


"Apalagi aku sendiri memiliki keahlian dan pamanku pun memberi upah pada jerih payahku di pusat kesehatan negeri ini."


"Lalu apalagi yang kamu risaukan, jika kita menikah?"


"Bukan begitu, Wati! pernikahan itu tak sesederhana pemikiranmu."


"Apakah keluargamu siap menerima diriku dan keluarga besarku?" tanya Muhibbin. Ditatapnya dalam-dalam gadis disampingnya.


"Kalau itu alasannya sampai kapanpun gak akan ketemu, Bin! apalagi statusku sudah dibuang dari keluarga besarku." jawab Sariwati ketus.


"Ya gak gitu juga, Wati! lambat laun pasti orang tua dan keluarga besarmu akan memahami dan menerima dirimu lagi."


"Apalagi dirimu seorang wanita, pernikahan mu harus di hadiri oleh walimu yaitu ayahmu atau saudara lelakimu, Kita kan tau aturan agama seperti apa, Wati? Kita menikah bukan menuruti hawa nafsu tapi semua kita lakukan karena lillah."


"Masak hanya karena ingin mewujudkan sesuatu keinginan, kita harus melanggar aturan agama?" kembali Muhibbin memberi pemahaman pada kekasihnya.


"Ya tapi kelamaan kalau mengikuti pola pikirmu, Bin! lebih enak menjadi orang awam agama sebenarnya, melakukan sesuatu tanpa banyak pertimbangan yang bertele-tele." ujar Sariwati kesal.


"Itu bukan pola pikirku, Wati. Itu aturan agama,"


"Aturan itu dibuat untuk memulyakan mu sebagai kaum wanita. Andai aturan itu gak ada, maka akan seenaknya lelaki mencampakkan wanita dan yang jelas menjadi korban adalah wanita itu sendiri."

__ADS_1


"Kalau aku sebagai lelaki asik-asik aja, Wati!"


"Itu yang harus kamu pahami tentang situasi kita ini." ujar Muhibbin.


"Ah sudahlah, masa bodoh dengan keadaan ini, Aku sudah jenuh dengan situasi ini." kini Sariwati mulai terisak.


"Ya sabar, Wati! ini ujian bagi cinta kita."


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk perjuangkan hubungan ini. Bila kita menikah, Aku ingin kita direstui oleh orang tua kita, Wati."


"Sabarlah, semua pasti ada jalan keluarnya." pungkas Muhibbin menghibur hati kekasihnya.


"Tapi aku takut, Bin. Aku takut kita tak akan bisa bersama." ujar Sariwati masih terisak.


"Kita pasrahkan saja pada sang pemilik kehidupan, Wati. Tujuan baik dengan jalan yang baik pasti akan berbuah baik pula." jawab Muhibbin.


"Kau tak tau bagaimana keluargaku, Bin. Mereka bisa melakukan apa saja untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan."


"Aku ingin jujur padamu, hubungan kita ini pasti tak akan direstui mereka. Apalagi kakak tertuaku saat ini berada di negeri ini dan keberadaan ku disini sudah diketahui keluargaku, Bin."


"Aku takut mereka memaksakan kehendaknya pada kita, Bin. Aku takut!"


Kini tangisan Sariwati tak bisa ditahan lagi. Di benaknya terbayang bagaimana bengis dan kejamnya kakak tertuanya Habsari jika menginginkan sesuatu dan yang di khawatirkan gadis itu tak lain adalah hal buruk akan menimpa Muhibbin kekasihnya.


"Kau tak perlu risau, Wati. Allah itu maha membolak-balikkan hati, kita hanya bisa bersandar dan mohon perlindunganNya dari segala sesuatu yang diluar kemampuan kita.


"Batu yang keras akan berlubang dan pecah oleh tetesan air yang terus menerus, begitupun sikap keluargamu pada dirimu."


"Modalku hanya tekad dan kesabaran, Wati."


"Memiliki dirimu dan menjadi kekasihmu saja bagaikan mimpi." ujar Mihibbin pada Sariwati.


Gadis disampingnya itu masih tak bergeming, buliran bening jatuh dari kelopak matanya yang terlihat sembab.


Keduanya terdiam seribu bahasa, hanya isakan tangis Sariwati sesekali terdengar berlomba dengan suara binatang malam disekitar Villa Sandat yang mulai di gelayuti pekatnya hari.

__ADS_1


 


__ADS_2